BINAYARAN UPANG PAKASALAN ANG PILAY NA BILYONARYO

BINAYARAN UPANG PAKASALAN ANG PILAY NA BILYONARYO

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-10
Oleh:  hikariindarknest23Ongoing
Bahasa: Filipino
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
44Bab
2.7KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Sa isang lungsod na puno ng mga kontraste, dalawang tao mula sa magkaibang mundo ang nagtagpo. Si Hendry, isang sikat at makapangyarihang billionaire, ay nabubuhay sa mundo ng luho at tagumpay. Subalit, may isang bagay na nagpapaiba sa kanya sa iba pang mga mayayaman-siya ay pilay. Dahil sa isang aksidenteng hindi nya inaasahan, si Hendry ay gumagamit ng wheelchair, ngunit hindi ito naging hadlang sa kanya upang makamit ang mga pangarap at maging isa sa mga pinakamatagumpay na tao sa negosyo. Sa kabilang banda, si Sienna ay nagmula sa isang mahirap na pamilya. Lumaki siya sa isang maliit na baryo kung saan ang bawat sentimo ay mahalaga. Sa kabila ng mga pagsubok sa buhay, si Sienna ay matiyaga, matalino, at puno ng pangarap. Nagtrabaho siya nang husto upang makapag-aral at umahon sa kahirapan. Sa paglipas ng panahon, nagbago ang pagkikita nila mula sa isang simpleng pagkakataon tungo sa isang malalim na koneksyon. Sa gitna ng mga hamon ng kanilang magkaibang mga mundo, natutunan nilang magtulungan at magbigay inspirasyon sa isa't isa. Si Hendry ay nakita ang lakas at pag-asa sa hirap ng buhay ni Sienna, habang si Sienna naman ay natuto mula sa tapang at talino ni Hendry sa pagharap sa mga pagsubok.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Prologue

“Ahh, enak, Gus. Lebih keras lagi, Gus. Hnghh.…”

“Tante yakin? Mau lebih keras lagi?”

“Iya, Gus. Ahhh… makin keras makin enak… uhhh…”

Walaupun ragu, aku tetap menuruti permintaan Tante Miya. Aku tekan punggungnya lebih kuat dengan tangan kasarku yang biasa kerja kasar di desa.

Sebenarnya aku takut tenaga dalamku ini akan menyakitinya, tapi melihat Tante Miya yang malah makin mendesah keenakan, sepertinya dia sangat menikmati servis gratis ini.

Akhir-akhir ini Tante Miya memang sering mengeluh badannya gampang pegal. Sebagai keponakan yang menumpang hidup, aku cukup tahu diri. Menawarkan jasa pijat adalah bentuk balas budi paling minimal yang bisa kulakukan.

“Harusnya kamu buka jasa pijat aja, Gus. Soalnya pijatanmu enak banget. Bikin badan Tante yang awalnya tegang jadi rileks,” puji Tante Miya sambil tiba-tiba berbalik posisi, berbaring menghadapku.

Tante Miya baru saja selesai mandi. Tubuhnya hanya dibalut handuk putih yang lilitannya sengaja dilonggarkan— katanya sih, supaya kulitnya bisa bernapas. Tapi aku yang justru sesak napas melihat belahan dan gundukan yang menyembul di balik kain itu.

Aku menelan ludah susah payah melihat pemandangan ini.

Perlu kuakui, di usia 40 tahun, tubuh Tante Miya masih seperti gadis 20 tahunan. Semok, mulus, dan wangi bunga semerbak yang bikin otak mungilku ini mendadak korsleting.

Aku yakin pria manapun tidak akan sanggup menolak pesona Tante Miya.

“Saya nggak ahli mijet, Tan. Lagian kerjaan yang sekarang juga sudah enak, gajinya UMR. Lumayanlah buat ditabung,” balasku, berusaha mengalihkan pandangan agar pikiranku tidak makin liar. Tanganku mulai bergerak perlahan, memijati bahu Tante Miya yang kaku.

“Eh, jangan salah, Gus. Penghasilan jadi terapis pijat juga gak sedikit loh. Apalagi kalau pelanggan puas sama pelayanan kamu, kemungkinan bisa dapat tip banyak. Tapi ya terserah kamu saja, toh kamu yang menjalani.”

Minggu lalu, aku diterima jadi Office Boy di perusahaan ternama. Walaupun cuma jadi OB, gaji UMR Jakarta bagiku yang orang desa ini sudah terasa sangat tinggi.

Maklum, sejak lulus SMA aku cuma kerja serabutan di kampung. Orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat aku masih SMP, membuatku hidup tanpa dukungan materi.

Beruntung, Paman Karyo, saudara almarhum ayahku, mau menampungku di rumah mewahnya ini. Aku jadi bisa menghemat uang kos dan makan. Ditambah lagi, aku bisa masuk ke perusahaan itu berkat rekomendasi langsung Paman Karyo. Jalur orang dalam. Itulah sebabnya aku merasa sangat berutang budi padanya.

Dan di sinilah aku sekarang, duduk di pinggir kasur memijati istri pamanku sendiri.

Paman Karyo sedang di luar kota dan ketiga sepupuku juga ada urusan di luar. Rumah ini benar-benar sunyi, kecuali suara desahan Tante Miya yang makin lama makin terdengar aneh.

Saat aku sedang fokus memijat bahunya, tiba-tiba tangan lembut Tante Miya memegang tanganku, lalu menariknya ke atas bagian paling kenyal menawan tubuhnya.

“Ehh??”

Aku tersentak. Ini kali pertama aku memegang bukit wanita. Meski terhalang kain handuk, sensasi kenyalnya terasa sangat nyata di telapak tanganku.

“Pijat di bagian sini juga, Gus...” bisiknya serak. Tangannya menuntun tanganku untuk meremas bagian kenyal itu.

Aku benar-benar tak berkutik. Otakku mendadak lumpuh, dan tanganku bergerak mengikuti kemauan Tante Miya, mulai meremas bukit itu dengan perlahan.

‘Anjrit... kenyal banget woiii!’ batinku menjerit histeris.

Aku pun meremas untuk kedua kalinya, hendak memastikan bahwa ini bukan mimpi.

“Argus…” panggilnya lagi. Suaranya kian serak, sementara matanya yang sayu menatapku cukup dalam.

Aku bukan anak kecil lagi. Aku pria 25 tahun yang normal. Kalau dilihat dari tatapannya, Tante Miya mungkin ‘kepengen’ main denganku. Tapi aku buru-buru menepis pikiran jorok itu.

Aku menghormati Tante Miya sama seperti aku menghormati almarhum ibuku. Apalagi Paman Karyo sudah sangat baik. Tidak mungkin kan aku 'pagar makan tanaman'?

Buru-buru aku menarik tanganku.

“Kenapa, Gus? Capek?” tanya Tante Miya lembut.

“Eng-enggak, Tan... tapi anu... saya kebelet! Perut saya mendadak mules, permisi!” alibiku sambil ngibrit keluar kamar.

Aku kabur dari kamar itu seolah dikejar setan. Bisa gila aku kalau lama-lama di sana.

Di balik celana, 'adik kecilku' sudah bangun sepenuhnya, bahkan sudah di ujung tanduk.

“Aduh, duhhh, jangan keluar sekarang dong! Masa baru pegang yang kenyal-kenyal aja sudah mau muncrat!” bisikku pada diriku sendiri sambil memegangi selangkangan yang menegang hebat.

Aku memang punya penyakit aneh: burungku gampang sekali terangsang kalau melihat cewek cantik. Dan gara-gara memegang 'bukit' Tante Miya tadi, si LUKMAN— begitu kunamai burungku yang artinya LUcu, Kuat, dan MANja— sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

Aku harus mengeluarkannya sekarang juga!

Karena mengira para sepupuku masih di luar, aku tanpa ragu membuka ritsleting celana bahkan sebelum sampai di toilet belakang.

Sambil berjalan, tanganku sudah mulai bekerja mengelus-elus si Lukman.

Tepat di depan toilet, tanganku sudah siap membuka pintu. Namun, pintu itu terbuka sendiri sebelum sempat kusentuh. Seseorang membukanya dari dalam dengan cepat.

“Akhhh!!”

Aku teriak kaget, tapi orang di dalam jauh lebih kaget.

Mbak Masha, sepupuku berdiri di sana dengan wajah syok.

Dan si Lukman? Dia berdiri dengan gagah tepat di depan mata Mbak Masha yang membelalak sempurna.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.


Tidak ada komentar
44 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status