LOGIN"Kamu ganteng banget ..." ucap Mayang tampak mengagumi Gilang.Gilang tersenyum mendengarnya. Wajah ganteng ini jelas kontribusi besar dari ayahnya. Keluarga Mahendra memang memiliki bibit yang bagus dalam hal kecantikan dan ketampanan. Terbukti saat kemarin Gilang bertemu dengan saudara-saudara kandung ayahnya, membuat dia seakan berada di pertemuan yang berisi artis-artis terkenal."Kamu juga cantik banget, Mayang. Bagian itu apalagi..." Gilang menunjuk dada Mayang. "Kalau nggak cantik dan seksi, Gilang Pratama nggak akan tergila-gila sama Mayang Sari Indriani.""Eeh, awas ya, kalau nanti pas ijab kamu sebut nama aku pakai 'Indriani', nggak sah itu, Lang."Gilang tergelak.Kemudian, ia mendaratkan ciuman di bibir Mayang. Melumatnya lembut dengan segenap perasaan sayang. Namun, keintiman itu terhenti oleh suara klakson mobil yang berbunyi di depan rumah Mayang. Lekas mereka turun ke lantai bawah dan mendapati rumah yang masih sepi karena kemungkinan ibu masih tidur di kamarnya."Pagi
Malam itu, Gilang dan Mayang berpeluh nafsu atas cinta yang telah direstui. Pertiwi bermimpi indah setelah pertemuannya dengan Hendro. Irawan dan Dahlia juga berbahagia karena diterima kembali oleh keluarga Mahendra. Serta hal bahagia lainnya yang telah memenuhi hati banyak orang.Akan tetapi, di tempat lain seorang pria masih belum bisa hidup dengan tenang. Cipto terduduk di sofa ruang keluarga dengan gelisah. Tatapannya tertuju dingin ke layar ponsel yang masih menyala.Beberapa saat yang lalu dia baru saja mendapatkan telepon masuk dari nomor tak dikenal yang ternyata seorang debt collector bersuara sangar.Nampaknya orang tua Risma dengan sengaja mengalihkan nomor ponsel penagihan ke ponselnya. Awalnya Cipto mengabaikan bentakan-bentakan penagih hutang itu. Namun saat sebuah ancaman yang dapat membahayakan pekerjaan dan nyawanya, meluncur dari mulut pria sangar tersebut, seketika itu juga Cipto menjadi kalap."Kamu mau apa, Cipto?" tanya Gayatri ketika putra kebanggaannya itu mene
Selama bumi masih berputar, sinar mentari masih menyinari bumi, selama itulah kisah cinta anak manusia akan terus ada. Kisah cinta yang terkadang membuat kita merenung sambil mengupas kulit kuaci dan menggumamkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan mengandalkan logika."Kok bisa sih mereka begitu? Nggak cocok banget.""Kurang pas deh. Mending juga dia sama yang itu saja.""Payah! Padahal masih ada yang lebih baik. Sudah buta kali ya?"Tetapi ingat satu hal, kawan! Kehidupan kita tidak ditentukan dari ucapan mulut-mulut tak bertanggung jawab. Yang bahkan menangisnya kita saja mereka tidak tahu dan marahnya kita saja mereka tidak mau peduli.Dan satu hal lagi yang perlu diingat, bahwa usia hanyalah soal angka. Bukan penghalang untuk mewujudkan mimpi, apalagi untuk meraih kebahagiaan.***Hasrat yang membara telah menyedot seluruh keromantisan dunia dan merasuki tubuh Gilang dan Mayang, dengan erotis dan menuntut. Gilang sibuk menunduk di antara lipatan kaki Mayang
"Lang, aku nemu kaos dan celana tidur Mas Surya di lemari. Kok bisa ya, kita lupa bawa baju tidur kamu yang ada di rumah?" ucap Mayang sembari meletakkan setelan piyama tidur di atas ranjang.Gilang baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di kamar Mayang. Pemuda itu hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Seharian sibuk dengan keluarga Mayang sedikit banyak membuat otot-ototnya menegang. Karena itu Gilang sengaja belama-lama mengguyur tubuhnya di bawah pancuran."Makasih, Mayang sayang..." ujar Gilang.Ia mengambil pakaian yang diberikan Mayang, lalu-tanpa canggung sedikit pun-melepas handuk yang melilit pinggangnya tepat di depan wanita itu.Senyum jahil langsung mengembang di wajahnya saat melihat tatapan Mayang yang spontan meluncur... tepat ke arah kejantanannya."Lang...""Apa?" Gilang terkekeh geli.Dengan langkah santai yang sengaja dibuat menggoda, ia mendekati Mayang yang kini terlihat salah tingkah menghadapi ketelanjangannya."Pakai bajunya, Lang..." ujar Mayang sambil b
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, Mayang dan Nia berdiri berdempetan di balik dinding, diam-diam menguping pembicaraan kedua orang tua itu.Nia tampak paling serius. Di tangannya ada ponsel yang terbuka pada aplikasi catatan. Setiap makanan yang disebutkan Hendro langsung ia ketik dengan cepat."Kamu mau dibuatkan pisang goreng, Mas?" tanya Pertiwi."Pisang goreng..." gumam Nia, buru-buru mencatatnya, lalu berbisik kepada Mayang.Bisikan itu segera diteruskan kepada Gilang dan Surya yang bertugas mengecek persediaan bahan makanan di dapur."Boleh. Bakwan udang juga boleh," jawab Hendro santai."Bakwan udang..." bisik Nia lagi.Mayang segera menoleh ke arah Gilang dan berbisik cepat."Keluarkan udang dari freezer, Lang. Pindahkan ke panci, terus cuci sampai bersih.""Siap, Bos..." bisik Gilang sambil memberi hormat kecil, lalu langsung bergerak menuju lemari pendingin.Mayang dan Nia kembali mengintip.Terlihat Hendro mengeratkan genggaman tangannya, seolah ingin menyalurkan rasa ri
"Kamu sehat, Pertiwi?" tanya Hendro pelan.Saat itu anak-anak mereka tengah sibuk di dapur, menyiapkan makan malam yang mendadak diusulkan oleh Nia. Alasannya sederhana, karena malam itu setelah sekian lama, aknirnya formasi keluarga mereka bisa lengkap.Teh melati hangat yang disajikan Mayang di meja ruang keluarga perlahan mencairkan suasana canggung yang sempat mengendap di antara kedua orang tua itu.Pertiwi duduk dengan sikap tenang, sesekali mengusap pahanya perlahan, seolah merasa sedikit tidak nyaman. Namun wanita yang tadi mengatakan ingin beristirahat itu tetap bertahan di ruang keluarga, tak jua meminta diantarkan ke kamar."Aku sehat," jawabnya singkat. Lalu ia menatap Hendro sekilas. "Mas sendiri? Sudah tidak merokok lagi, kan?"Hendro merangkum wajah Pertiwi yang masih menyiratkan kecantikan masa lalu yang dulu membuatnya jatuh cinta. Hati kecilnya tak dapat berbohong kalau dia merindukan saat-saat mengobrol berdua dengan Pertiwi, mendengarkan curhatan wanita itu tentang
Kelopak mata Mayang menutup serapat mungkin. Berusaha menikmati perjalanan kesekian kalinya bersama Gilang. Namun dalam hati Mayang meringis menyesali tamparan yang dilakukan kepada pemuda itu."Tangan bodoh ..." batinnya merintih.Padahal, kenyataannya, Gigolo kampus itu telah membuat hatinya begi
"Sopan sedikit sama suami kamu, Mayang!" Nada suara Cipto tak kalah tinggi."Amit-amit! Ngaca dulu kamu kalau mau nyuruh saya sopan. Oh, apa di rumah ibu kamu nggak ada kaca, ya? Mau saya kirimin pake kargo?" sindir Mayang."Sialan kamu, Mayang! Sejak kapan kamu belajar melawan suami? Ingat ya, May
Mayang terdiam sejenak, berusaha mencerna kata-kata Gilang terlebih dulu sebelum menjawabnya. Jujur saja, keberadaan Gilang sudah menjadi kekuatan baru baginya. Tanpa kehadiran pemuda itu mungkin saat ini ia masih terlena pasrah dengan pernikahannya yang terombang-ambing seperti perahu di tengah ba
Tangisan bayi yang belum genap sebulan menggema dari dinding kamar Cipto di lantai dua rumah ibunya. Rumah yang dulu hanya memiliki dua kamar tidur sempit, satu kamar mandi bersama, dan ruang tamu kecil berisi satu sofa, kini telah direnovasi menjadi rumah dua lantai yang lebih layak huni. Empat ka







