LOGINNazha hampir tak percaya dengan ucapan Reymon, jika Reymon memang tidak masuk ke kamar , lalu siapa pria yang semalam bercinta dengannya, pikirannya mulai berkecamuk dan menatap Reymon yang berjalan menaiki tangga lantai dua.
Nazha merasakan tubuhnya tak bertulang membayangkan betapa liarnya permainan semalam bahkan ia menikmati setiap sentuhan cinta. Nazha melangkah mengikuti Reymon memasuki kamar, lalu duduk di kursi sudut kamar, menunggu sang suami keluar dari kamar mandi.
Ceklek, Reymon keluar kamar mandi, sebuah handuk sebatas pinggang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Mata Nazha menatap dada Reymon, dan ia semakin yakin jika memang bukan suaminya yang semalam di atas ranjang bergelut menikmati nikmat surga dunia, karena Nazha ingat dengan pasti ia meninggalkan kecupan di sebuah dada bidang semalam.
“Naz..aku meliburkan asisten paruh waktu, jika kamu ingin membersihkan baju kotor lebih baik kita ke jasa laundry saja,” ucap Reymon.
“Aku akan mencuci sendiri,” Nazha segera bangkit menuju kamar mandi, membawa ember yang berisi sprei dan pakaian kotornya lalu bergegas turun, menunju ruang laundry room yang berdekatan dengan dapur.
“Naz…aku akan pergi ke kantor, ada meeting dengan staf, yang tak bisa aku tunda, mungkin malam aku kembali,” pamit Reymon.
“Baik Rey,” jawab Nazha singkat dengan nada datar.
Wanita muda itu tampak frustasi dengan kejadian semalam, berjalan pelan, sambil membawa ember yang berisi pakaian kotor, hatinya mulai berkecamuk tidak tenang, hanya satu pertanyaan yang muncul di benaknya, siapa pria yang bersamanya semalam. Air mata menetes di pipi, rasa marah bercampur sedih jadi satu, apalagi bekas darah keperawanannya tampak jelas di sprei putih membuat Nazha hancur -sehancurnya.
Nazha menekuk kedua kakinya bersandar di dinding dan menenggelamkan kepalanya di antara lututnya kedua tangan memeluk kaki, air mata meleleh dengan derasnya, suasana vila sepi dan sunyi, perlahan Nazha mendongakkan kepalanya lalu menatap semua sudut rungan mencari letak cctv tapi ia tak mendapatkan satupun cctv di dalam vila.
Langkah kaki berlanjut keluar vila, halaman yang cukup luas dengan di tumbuhi beberapa pohon mangga di setiap pinggir pagar, di luar pun tak ada cctv, dengan cepat Nazha keluar pagar menatap ke arah depan hanya ada hutan pinus, dan sekitar jarak 100 meter juga ada vila. Nazha melanjutkan langkahnya menuju vila yang berjarak 100 meter dari vilanya, sampai di depan pagar ia menatap sebuah cctv yang terpasang.
Nazha memberanikan diri membunyikan bel pintu pagar, jantungnya berdetak, ia melihat sekeliling vila, yang sepi, jalanannya pun terlihat sepi dari tadi tidak ada kendaraan yang lewat.
Dengan tangan gemetar akhirnya ia membunyikan bel dan berharap ada pemilik vila
Tak berselang lama dibukanya pintu pagar telihat sesosok pria berwajah teduh dengan tubuhnya yang tegap menatap Nazha.
“Siapa kamu, ada perlu apa?”
“Aku tinggal di villa sebelah, bisakah aku minta tolong padamu?” tanya Nazha ragu.
“Minta tolong apa?”
“Bolehkan aku melihat cctv mu?”
Pria itu terdiam sebentar menatap dalam wanita muda yang berdiri dengan tangan meremas ujung kemejanya, wajahnya tampak memohon penuh harap, matanya sedikit sembab terlihat jelas jika habis menangis.
“Masuklah,” ajak pria dengan kaos oblong putih dan celana jeansnya.
Nazha mengikuti langkah sang pria yang tak dikenalnya itu menuju ke dalam vila, tampaknya pria itu tinggal sendirian , lalu Nazha diminta untuk duduk, tak lama pria dengan rambut lurus itu datang membawa sebuah laptop dan menyalakannya, sebuah vidio rekaman cctv terlihat
“Aku ingin melihat rekaman semalam antara pukul sepuluh sampai jam lima pagi?” pinta Nazha.
Sebuah rekaman pun dinyalakan, dan hasilnya cctv yang terpasang ternyata tidak menjangkau depan villa Reymon.
Nazha tampak putus asa, harapan ia bisa melihat sesuatu kini sia-sia.
“Apa kamu sudah selesai melihat rekaman cctv?”
“Sudah, terima kasih,” jawab Nazha lalu melangkah keluar, dengan sedih karena apa yang diharapkannya dapat mencari petunjuk nihil.
Nazha tak tahu apa yang terjadi semalam, jejak pria misterius itu menghilang, semua Jendela masih tertutup rapat, bagian belakang vila, juga dibatasi pagar yang tinggi, dan ada kawat berduri, mustahil bagi penyusup untuk masuk, lagi pula pintu depan juga menggunakan kode untuk membukanya.
Nazha mulai pening memikirkan apa yang terjadi semalam, meskipun ia menikmati setiap sentuhan yang membuat dirinya terbuai, tapi tetap saja itu menjijikan karena ternyata pria itu bukan Reymon, dan itu membuat dirinya bersalah pada pria yang berstatus suami,
Direbahkan tubuh semampainya di atas sofa depan, mencoba menutup mata, tapi lagi-lagi bayangan tubuh pria misterius terus mengusiknya.
“Aku bisa gila jika terus memikirkannya, haruskah aku berbicara pada Reymon tentang semalam?” gumam Nazha mengacak rambutnya lalu beralih duduk.
Sebuah bunyi bel pintu depan terdengar, lalu Nazha berjalan arah jendela, mengintip siapa yang datang, ternyata pria yang tinggal di sebelahnya sudah berdiri di ambang pintu.
Ceklek,! “Anda..”
“Gelangmu jatuh di depan pagarku,“ ucap pria itu sambil menyerahkan sebuah gelang rantai.
Bahkan Nazha tidak menyadari jika gelang kesayangannya jatuh,
“Terima kasih,“ jawab Nazha tersenyum tipis.
”Jika boleh tahu siapa nama Anda, aku sudah meropotkan Anda sepanjang pagi ini,” lanjut Nazha.
Sang pria mengulurkan tangannya.”Namaku Dimas,” ucapnya.
“Nazha,” balas Nazha menyambut uluran tangan pria tampan di depannya
Setelah perkenalan itu Dimas pun berpamitan pergi, tapi langkahnya terhenti. ”Naz..jika kamu sendirian di vila, sampai malam, pastikan semua pintu jendela terkunci,” saran Dimas.
“Oke, aku harap suamiku akan pulang lebih awal,” jawab Nazha.
Sementara itu Reymon tampak serius berbincang di seberang ponsel.
“Oke, bagaimana apa kamu mau bermain lagi dengannya, aku bisa atur waktunya.”
“Oke, kita sepakat, aku menginginkannya lagi,” suara pria bernada tegas.
“Aku ingin uang cash, untuk permainan kedua, aku turunkan harga,” jawab Reymon dengan tawa renyah di seberang ponsel.
“Oke ..deal.”
Pagi bersinar dengan cerah, Vidya dan Daniel kembai makan bersama pagi ini, keduanya mulai akrap“Hari ini aku akan mengajakmu ke kantorku, “ucap Daniel“Oke.”jawab Vidya tersenyum hangatSelesai makan pagi Daniel memenuhi janjinya membawa Vidya ke kantor, disana Vidya diperkenalkan dengan Frans“Vidya kenalkan ini papahku sekaligus pimpinan perusahaan.”“Vidya..”ucap Vidya“Frans,”sahut Frans. Lalu Vidya dan Frans saling berjabat tangan.“Untuk membicarakan bisnis aku harus melibatkankan Papahku, lagi pula aku belum pengalaman sama-sekali soal bisnis,”ujar Vidya“Oke, Vidya, tak perlu buru-buru, pikirkan secara matang kerja sama ini, “jawab Frans^^^Satu bulan setelah kejadian di Singapura….Hubungan Vidya dan Daniel semakin serius, keduanya sudah berkomitmen untuk menjalin cinta ditengah hubungan kerja sama perusahaan. Mahesapun merestui hubungan itu.“Baiklah Vidya sudah saatnya kamu menikah denagn pria yang mencintaimu, papah akan restui hubunganmu dengan Daniel, tapi kamu juga
Vidya menyambut uluran tangan Daniel.“Terima kasih Daniel, jika kamu bersedia, aku akan mentraktirmu makan malam,”ujar Vidya“Oke, aku tunggu undanganmu makan malam, ini nomer ponselku, “Daniel memperlihatkan nomer ponselnya kemudian Vidya meyimpan nomer DanielDaniel pun berpamitan pergi meninggalkan kamar Vidya. Ia menuju kamarnya. Deringan ponselnya berdering nyaring, Daniel menghela napas kesal, lalu mengangkat panggilan dari Frans“Dan, dimana kamu dua hari ini tidak masuk kantor, kmau tahu ‘kan akibat ulahmu, kita merugi dan kamu melarikan diri,”“Bukan melarikan diri Pah, aku pasti akan bertanggung jawab, papah ‘kan menyuruhku mencari istri, aku lagi berusaha pah, mencari istri seperti kiteria papah, anak seorang pengusaha, supaya bisa menyelamatkan usaha kita yang diambang kebangkrutan,”jawab DanielTanpa menunggu jawaban Frans, Daniel langsung menutup ponsel dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.Sementara itu di loby hotel, Nazha terlihat masih cemberut dan menunggu tak
“Pernikahanku dipertaruhkan,”Nazha berkata dengan tegas“Ini demi Bara, jika Devon tidak melakukannya maka akan sulit membawa Bara kembali, tolonglah Naz…redam amarahmu,”mohon Yuni“Ha..ha..Naz lihat saja, Devon pasti masuk perangkap pernikahan yang katanya hanya pura-pura, kamu telah dikhianati Devon,”timpal Reymon sambil tertawa puas“Rey…dia!”gertak YuniNazha menghala napas berat lalu melangkah cepat meninggalkan apartemen, Yuni pun mengejar tapi ia kehilangan Nazha ketika Nazha masuk ke liftReymon tertawa puas melihat Nazha yang terlihat frustasi“Ini baru permulaan aku belum puas jika belum melihatmu hancur,”gumam ReymonNazha terus berjalan ke jalan lalu menaiki taksi, sementara Yuni berusaha menghubungi Devon“Hallo Devon?”“Ada apa Tante?”“Nazha tahu jika kamu ke Singapura bersama Vidya, ia juga tahu tentang pernikahan puar-pura ini, tapi seperti yang aku duga dia sangat marah dan kecewa,”jelas Yuni“Aku akan meneleponnya Tente dan berusaha menjelaskannya,”jawab DevonDevo
“Lebih baik kamu keluar dari kamar ini, kamu tahu ‘kan kesehatan Nazha sedang tidak baik, seharusnya kamu jaga ucapanmu itu!”bentak Yuni dengan mata menajam kearah ReymonReymon terlihat kesal, lalu ia memungut pecahan ponselnya dari lantai dan pergi keluar kamar.Yuni menghela napas lega dan kembali menatap Nazha.“Naz..jangan berpikir yang buruk tentang Devon, Tante jamin, Devon adalah suami yang setia, dia sangat mencintaimu,”jelas Yuni“Jangan khawatir Tante, aku sudah tak percaya dengan ucapan Reymon, ia bilang Devon saat ini menikah, sungguh pernyataan penuh kebohongan,”jawab Nazha“Oke, Naz, aku ingin kamu diperiksa Dokter sebelum keluar dari rumah sakit,”Nazha mengangguk, lalu Yuni memanggil Dokter. Beberapa menit kemudian Nazha sudah diperiksa Dokter dan diizinkan untuk kembali ke rumah.Nazha dan Yuni sudah kembali ke rumah, Nazha bahagia dan tangis haru mewarnai rumah saat itu, Nazha memeluk Bara sambil menangis, sejak dilahirkan ini pertama kali Nazha memeluk anaknya.“Ba
Devon tampak masih cemas, menatap ke arah Yuni.”Benar , Tante akan menikah dengan pak Mahesa?”“Ha..ha..”Yuni tertawa kecil,”Tante akan bahagia Devon, Mahesa adalah satu-satunya pria yang aku cinta, dulu waktu remaja kami menjalin asmara, tapi sayang waktu itu Mahesa dijodohkan dan dia tak bisa menepati janjinya padaku, mungkin baru berjodoh disaat usia kami menjelang senja,”jawab yuni“Aku mencemaskan Tante.”“Jangan cemaskan aku, sekarang aku lega , kamu dapat menyelamatkan pernikahanmu dengan Nazha dan Bara akan kembali,”Yuni bernapas lega“Terima kasih Tante, lalu apa yang harus aku lakukan setelah pernikahan palsu?”“Bawa Vidya, ke Singapura, disana Mahesa sudah mengadakan janji dengan seorang Dokter jiwa, lakukan pemeriksaan, jika Vidya dinyatakan sehat , kamu boleh meninggalkannya.”Yuni menjelaskan rencananya pada Devon“Oke Tante, “jawab DevonSepanjang malam itu Devon tidak bisa tidur, matanya terus menatap langit-langit kamar, ‘semoga semuanya berjalan dengan baik, sesuai re
Yuni menghela napas dalam, gagal sudah rencananya, lalu ia pun berpamitan pergi, menjauh dari rumah Vidya. Sambil melamun Yuni berjalan menuju taksi yang menunggunya, baru saja ia melangkah keluar pagar sebuah mobil sedan berhenti, dan kaca jendela mobil terbuka“Yuni…kamu Yuni ‘kan?”“Mahes..”balas YuniMahesa langsung turun dari mobil mendekati Yuni.“Kamu datang ke rumahku ada apa?”“Ini rumahmu? aku kesini menemui Vidya,”jawab Yuni sambil terbengong“Kamu mengenal Vidya?”“Aku mengenalnya waktu dia berteman dengan Meira, aku juga Tante Devon.”Mahesa tertawa renyah.”Dunia sempit sekali Yun, kabar yang aku dengar terakhir kamu pindah ke Bali, sekarang tanpaku mencari, kamu datang ke rumahku, Vidya adalah putriku,”“Jadi Vidya putrimu,”Yuni terkejut menatap Mahesa“Yuni…bisakah kita berbicara aku ingin melepas rinduku padamu?”“Baik,”jawab Yuni dengan wajah bersemu merahMahesa membuka pintu mobil dan mempersilahkan Yuni masuk, setelah itu Mahesa duduk dan menyetir mobil,“Kita aka
Tarikan napas keluar dari bibir Salma di hadapannya Dimas memperlihatkan berkas pengambilalihan kepemilikan S’kontruksi atas namanya beralih atas nama Nazha.“Anda tanda tangan di berkas ini Bu Salma, aku sudah berbicara dengan Nazha, tentu saja dengan dalih pendirian yayasan dan dia setuju,”jelas
“Boleh aku masuk “pinta NazhaWanita renta dengan daster yang kusut dan sedikit berlubang sesaat terlihat bingung, ada gurat rasa cemas di wajah tuanya.“Heumm lebih baik kamu segera pergi dari sini, tidak ada yang bisa kami bicarakan tentang kejadian delapan tahun yang lalu,”jawabnya menolak kehad
Pagi masih berselimut kabut, suasana disekitar apartemen masih sepi, beberapa penghuni apartemen berjalan -jalan menyusuri taman dan saat ini Nazha juga jalan santai di sekitaran taman, sebuah panggilan yang tak asing suaranya terdengar di telinga Nazha, dengan malas Ia membalikan badannya“Nazha
Suara bel pintu membuat keduanya menghentikan sarapan dan saling tatap“Siapa yang datang sepagi ini?”Devon bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, waktu dibukanya terlihat kurir membawakan parcel buahKurir memberikannya pada Devon.”Ada paket untuk Nazha .”ucapnyaDevon meraihnya dan kem







