Se connecterSuasana pagi itu terasa meriah, tidak banyak tamu yang diundang, setelah sepasang pengantin mencatat pernikahan di catatan sipil, mereka menuju sebuah kafe bintang 5, para tamu undangan telah hadir menyambut pasangan muda. Senyum selalu merekah di wajah Reymon, lain halnya dengan Nazha jiwanya berontak naluri psikologinya berpikir keras, menatap orang-orang yang hadir semuanya tak di kenalnya, kecuali sang ayah dan Laras ibu sambungnya, bahkan Sharen pun tak hadir dengan alasan shoting di luar kota tak bisa di cancel.
Nazha memasang senyum di wajahnya, wanita muda yang tak pernah punya teman akrab itu memang tak ada satupun teman yang diundang. Sementara Reymon menyapa para tamu yang hadir, sebagian besar partner bisnis dan klien bisinisnya.
Hingga menjelang sore acara selesai, setelah berpamitan pada kedua orang tuanya Nazha melangkah pergi.
“Pak Agung dan Bu Laras kami pergi,” pamit Reymon.
“Jagalah putriku,” jawab Agung dengan penuh permohonan, air matanya hampir tumpah menatap kepergian sang putri tapi ia berharap banyak jika Nazha akan bahagia dengan pernikahannya dan terlebih masalah finansial saat ini sudah selesai. Tepat di hari ini Reymon mengembalikan sertifikat rumah yang digadaikan di tempatnya.
“Heummm semua masalah kita teratasi, sekarang aku bisa tidur nyenyak di rumah,“ ucap Laras sambil mendorong kursi roda suaminya.
“Nazha akan bahagia ‘kan, dengan pernikahannya?” tanya ragu Agung.
“Tentu saja, mas…siapa sih wanita yang tak bahagia bersuamikan seorang pria tampan dan tajir tujuh turunan,” jawab Laras.
Senyum tersunging dari bibir wanita yang berstatus ibu sambung Nazha. Sementara itu Nazha masih berada di dalam mobil, di sebelahnya Reymon yang fokus menyetir.
“Kita akan kemana Rey?” tanya Nazha sambil melihat ke arah jendela mobil, karena mobil melaju ke arah luar kota.
“Kita akan menikmati malam pernikahan di vila,” jawab Reymon, menatap sekilas Nazha, tangan Reymon meraih tangan Nazha.
”Jangan tegang Naz…aku tahu kita baru saja saling mengenal, dan harus menjalani pernikahan ini, santai saja, jika kamu belum siap menjalani malam pernikahan, kita bisa tunda beberapa hari,” ucap Reymon lagi.
“Aku sudah siap menjalani kewajibanku sebagai istri,” jawab Nazha.
Reymon tersenyum, lalu kembali fokus menyetir, hujan rintik mewarni perjalanan ke daerah puncak, hingga hari mulai gelap mereka masih menyusuri jalan berliku menuju puncak, pemandangan kanan dan kiri Jalan hanya dipenuhi hutan pinus.
Mobil sedan hitam mulai melambat lalu berhenti di sebuah bangunan vila minimalis dua lantai, Reymon turun dari mobil untuk membuka pintu pagar.
“Apa tidak ada security?” tanya Nazha.
“Tidak ada, yang ada hanya pembantu paruh waktu di siang hari untuk membersihkan vila,tapi salama kita di sini aku meliburkannya, aku ingin hanya berdua denganmu,” jawab Reymon kembali menyertir mobil masuk ke dalam halaman vila yang cukup luas.
“Masuklah ke dalam, dulu, aku akan menutup pagar,” suruh Reymon.
Nazha mengangguk lalu keluar mobil berjalan menuju pintu, tapi pintu terkunci.
“Nomer kombinasi 0809,” teriak Reymon di depan pagar.
Nazha menekan nomer sandi yang disebut Reymon sambil mengingatnya, lalu pintu terbuka, sebuah ruang tamu yang bersih harum, memanjakan mata dan hidung Nazha, interior begitu berkelas dengan future yang minimalis namun elegan.
Nazha terus berjalan langkah demi langkah, ia menyusuri vila sambil mengedarkan pandangannya menyapu ruangan demi ruangan.
“Kamar kita ada di lantai dua, paling ujung,” ujar Reymon yang sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan menarik travel bag miliki Nazha.
Tanpa menjawab Nazha menaiki satu persatu anak tangga hingga berakhir di lantai dua, ada dua kamar dan kamar paling ujung memiliki pintu yang lebih basar dari satunya. Dengan pelan Nazha berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Kamar yang luas, dengan ranjang quen size di tengah, sprei putih bersih, tampak nyaman. Nazha membayangkan akan melakukan malam pernikahan yang sakral di ranjang itu, walau mungkin agak cangung, tapi sebagai pasangan suami istri hal itu harus dilakukan.
Reymon terlihat sudah di ambang pintu dan membawa travel bag milik Nazha.
“Naz…pindahkan semua bajumu di lemari, aku akan mandi dulu,” suruh Reymon.
“Baik,” jawab Nazha lalu meraih travel bagnya dan membukannya lalu memindahkan semua pakaian di lemari empat pintu itu. Setelah itu sambil menunggu Reymon membersihkan diri, Nazha turun ke lantai bawah menuju dapur, disana semua bahan masakan sudah tersedia lengkap, malam ini Nazha ingin membuat mie spageti saos pedas, dengan cekatan tangannya mulai sibuk di dapur dari memotong sayur dan daging dilakukannya, hingga tak butuh waktu lama, dua piring spageti sudah siap di meja makan, bertepatan dengan Reymon yang selesai mandi.
“Heumm aromanya membuat perutku lapar, kita makan dulu Naz, setelah itu membersihkan diri dan beristirahat,” ujar Reymon.
“Oke..” jawab Nazha singkat seraya duduk di kursi makan tepat dihadapan Reymon.
Sekitar satu jam mereka menikmati makan malam sederhana dan berbincang ringan mengenai kuliah Nazha.
“Kamu boleh melanjutkan kuliahmu setelah enam bulan kita menikah, kamu setuju ‘kan, ini untuk hubungan kita supaya lebih dekat dan saling mengenal, lebih dalam lagi,” ujar Reymon.
“Baiklah Rey aku setuju, aku juga sudah mengajukan cuti, satu semester,” jawab Nazha.
Malam semakin larut, keduanya tidur di satu ranjang tapi hanya diam, tidak ada aktivitas layaknya suami istri.
Dua minggu berlalu, kedua pasangan yang berstatus suami istri itu semakin akrab, di sela perbincangan mereka ada tawa renyah yang selalu mengiringi, bahkan dalam hati Nazha, ia akan sangat siap jika Reymon menjadikan pernikahannya sempurna tapi sebagai wanita ia malu mengatakannya, hingga malam itu Nazha bertekad akan membangkitkan rasa untuk bercinta, sebuah ligeire hadiah pernikahan dari Laras, di tatapnya, ada rasa malu ketika melihat baju bahan satin tipis, dengan lengan kecil tapi apa boleh buat , mungkin Reymon juga butuh sinyal atas kesiapannya melakukan hubungan layaknya suami istri, saat di luar hujan gerimis, dan lampu kamar sudah berubah redup, Nazha mengenakan baju haram yang tipis hingga lekuk tubuh semampainya terihat sangat jelas, warna kulit putih terlihat kontras dengan warna ligerie hitam, rambutnya tergerai alami, siapapun pria yang menatapnya pasti tergoda untuk memiliki tubuh yang putih dan wangi, aroma rose menguar keseluruh ruangan siap memanjakan dua insan lawan jenis.
Saat itu Reymon berada di kamar mandi, suara gemercik air terhenti, jantung Nazha juga terasa berhenti, karena di saat Reymon membuka pintu kamar mandi, ia pasti menatap Nazha.
Ceklek! Reymon keluar lalu ditatapnya dalam, tubuh Nazha yang terlihat seksi dari ujung kepala sampai ujung kaki, senyum hangat terlihat dari bibir Reymon.
“Kamu cantik sekali, tunggulah sebentar, aku akan memeriksa email pekerjaanku dulu,” ucap Reymon lalu berjalan keluar kamar. Nazha terdiam, ia pikir Reymon akan langsung memeluknya, tapi pria itu malah pergi meningalkannya di dalam kamar.
Akhir Nazha membaringkan tubuhnya di ranjang berharap Reymon akan segera menghampirinya, hingga tiba-tiba lampu menjadi padam, Nazha hanya memejamkan matanya, mungkin ada kerusakan listrik, dan ia tak berniat untuk mencari tahu, wanita muda itu justru memejamkan matanya.
Menit berlalu, suara pintu terbuka pelahan, lalu Nazha merasakan ada pergerakan di ranjang hingga sebuah tangan mulai menyentuh tubuhnya, aroma mint segar menguar, diiringi sentuhan yang semakin dalam dan semakin berani, Nazha, hanya pasrah, dan mulai menikmati sentuhan -sentuhan itu, hingga desahan kecil keluar dari bibirnya sambil tangan merekat kuat pada punggung yang telah bertelanjang, kulit yang halus, dan urat kekar dirasakan telapak tangan Nazha, permainan berlanjut tanpa jeda dan tanpa sepatah katapun keluar dari bibir keduanya, hanya desahan, kenikmatan surgawi, ketika tangan dan bibir saling bertaut , lebih dalam, masuk ke hubungan intim, suara hujan semakin deras, menambah sensasi yang luar biasa, hingga keduanya mencapai surga dunia yang diimpikan pasangan dua lawan jenis yang meneguk manisnya cinta diatas ranjang.
Sinar sang surya menghangatkan tubuh Nazha, yang masih telelap hingga ia terbangun dengan keadaan berantakan, lingrie yang dipakainya semalam sudah berpindah di lantai, sprei pun berubah tak beraturan, menandakan betapa liar semalam pertarungan dua insan, senyum kecil terukir dibibir Nazha, rasa bahagia menyelimuti dirinya, bahkan darah keperawaan,meninggalkan jejak terlihat di sprei putih, semalam adalah pengalaman pertama dan luar biasa bagi Nazha, lengkap sudah sebagai seorang wanita menyerahkan hal yang paling berharga miliknya pada sang suami.
Nazha mengeliat pelan, ia terkejut , karena Reymon tidak ada di sampingnya, waktu menujukkan pukul tujuh pagi, lalu Nazha pun beralih ke kamar mandi segera membersihkan diri, dan mengganti sprei dan merapikan kamar kembali, setelahnya, ia keluar kamar.
Nazha melihat Reymon sedang tertidur di sofa depan, mata Nazha memicing dan pelan membangunkan Reymon.
“Rey…”
Reymon menguap dan mengusap matanya. ”Hai Naz, maaf semalam listrik padam, dan nampaknya kamu marah, dan mengunci kamar, jadi aku putuskan tidur di sofa,” ucapan Reymon bagai petir yang menyambar telinga Nazha.
Pagi bersinar dengan cerah, Vidya dan Daniel kembai makan bersama pagi ini, keduanya mulai akrap“Hari ini aku akan mengajakmu ke kantorku, “ucap Daniel“Oke.”jawab Vidya tersenyum hangatSelesai makan pagi Daniel memenuhi janjinya membawa Vidya ke kantor, disana Vidya diperkenalkan dengan Frans“Vidya kenalkan ini papahku sekaligus pimpinan perusahaan.”“Vidya..”ucap Vidya“Frans,”sahut Frans. Lalu Vidya dan Frans saling berjabat tangan.“Untuk membicarakan bisnis aku harus melibatkankan Papahku, lagi pula aku belum pengalaman sama-sekali soal bisnis,”ujar Vidya“Oke, Vidya, tak perlu buru-buru, pikirkan secara matang kerja sama ini, “jawab Frans^^^Satu bulan setelah kejadian di Singapura….Hubungan Vidya dan Daniel semakin serius, keduanya sudah berkomitmen untuk menjalin cinta ditengah hubungan kerja sama perusahaan. Mahesapun merestui hubungan itu.“Baiklah Vidya sudah saatnya kamu menikah denagn pria yang mencintaimu, papah akan restui hubunganmu dengan Daniel, tapi kamu juga
Vidya menyambut uluran tangan Daniel.“Terima kasih Daniel, jika kamu bersedia, aku akan mentraktirmu makan malam,”ujar Vidya“Oke, aku tunggu undanganmu makan malam, ini nomer ponselku, “Daniel memperlihatkan nomer ponselnya kemudian Vidya meyimpan nomer DanielDaniel pun berpamitan pergi meninggalkan kamar Vidya. Ia menuju kamarnya. Deringan ponselnya berdering nyaring, Daniel menghela napas kesal, lalu mengangkat panggilan dari Frans“Dan, dimana kamu dua hari ini tidak masuk kantor, kmau tahu ‘kan akibat ulahmu, kita merugi dan kamu melarikan diri,”“Bukan melarikan diri Pah, aku pasti akan bertanggung jawab, papah ‘kan menyuruhku mencari istri, aku lagi berusaha pah, mencari istri seperti kiteria papah, anak seorang pengusaha, supaya bisa menyelamatkan usaha kita yang diambang kebangkrutan,”jawab DanielTanpa menunggu jawaban Frans, Daniel langsung menutup ponsel dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.Sementara itu di loby hotel, Nazha terlihat masih cemberut dan menunggu tak
“Pernikahanku dipertaruhkan,”Nazha berkata dengan tegas“Ini demi Bara, jika Devon tidak melakukannya maka akan sulit membawa Bara kembali, tolonglah Naz…redam amarahmu,”mohon Yuni“Ha..ha..Naz lihat saja, Devon pasti masuk perangkap pernikahan yang katanya hanya pura-pura, kamu telah dikhianati Devon,”timpal Reymon sambil tertawa puas“Rey…dia!”gertak YuniNazha menghala napas berat lalu melangkah cepat meninggalkan apartemen, Yuni pun mengejar tapi ia kehilangan Nazha ketika Nazha masuk ke liftReymon tertawa puas melihat Nazha yang terlihat frustasi“Ini baru permulaan aku belum puas jika belum melihatmu hancur,”gumam ReymonNazha terus berjalan ke jalan lalu menaiki taksi, sementara Yuni berusaha menghubungi Devon“Hallo Devon?”“Ada apa Tante?”“Nazha tahu jika kamu ke Singapura bersama Vidya, ia juga tahu tentang pernikahan puar-pura ini, tapi seperti yang aku duga dia sangat marah dan kecewa,”jelas Yuni“Aku akan meneleponnya Tente dan berusaha menjelaskannya,”jawab DevonDevo
“Lebih baik kamu keluar dari kamar ini, kamu tahu ‘kan kesehatan Nazha sedang tidak baik, seharusnya kamu jaga ucapanmu itu!”bentak Yuni dengan mata menajam kearah ReymonReymon terlihat kesal, lalu ia memungut pecahan ponselnya dari lantai dan pergi keluar kamar.Yuni menghela napas lega dan kembali menatap Nazha.“Naz..jangan berpikir yang buruk tentang Devon, Tante jamin, Devon adalah suami yang setia, dia sangat mencintaimu,”jelas Yuni“Jangan khawatir Tante, aku sudah tak percaya dengan ucapan Reymon, ia bilang Devon saat ini menikah, sungguh pernyataan penuh kebohongan,”jawab Nazha“Oke, Naz, aku ingin kamu diperiksa Dokter sebelum keluar dari rumah sakit,”Nazha mengangguk, lalu Yuni memanggil Dokter. Beberapa menit kemudian Nazha sudah diperiksa Dokter dan diizinkan untuk kembali ke rumah.Nazha dan Yuni sudah kembali ke rumah, Nazha bahagia dan tangis haru mewarnai rumah saat itu, Nazha memeluk Bara sambil menangis, sejak dilahirkan ini pertama kali Nazha memeluk anaknya.“Ba
Devon tampak masih cemas, menatap ke arah Yuni.”Benar , Tante akan menikah dengan pak Mahesa?”“Ha..ha..”Yuni tertawa kecil,”Tante akan bahagia Devon, Mahesa adalah satu-satunya pria yang aku cinta, dulu waktu remaja kami menjalin asmara, tapi sayang waktu itu Mahesa dijodohkan dan dia tak bisa menepati janjinya padaku, mungkin baru berjodoh disaat usia kami menjelang senja,”jawab yuni“Aku mencemaskan Tante.”“Jangan cemaskan aku, sekarang aku lega , kamu dapat menyelamatkan pernikahanmu dengan Nazha dan Bara akan kembali,”Yuni bernapas lega“Terima kasih Tante, lalu apa yang harus aku lakukan setelah pernikahan palsu?”“Bawa Vidya, ke Singapura, disana Mahesa sudah mengadakan janji dengan seorang Dokter jiwa, lakukan pemeriksaan, jika Vidya dinyatakan sehat , kamu boleh meninggalkannya.”Yuni menjelaskan rencananya pada Devon“Oke Tante, “jawab DevonSepanjang malam itu Devon tidak bisa tidur, matanya terus menatap langit-langit kamar, ‘semoga semuanya berjalan dengan baik, sesuai re
Yuni menghela napas dalam, gagal sudah rencananya, lalu ia pun berpamitan pergi, menjauh dari rumah Vidya. Sambil melamun Yuni berjalan menuju taksi yang menunggunya, baru saja ia melangkah keluar pagar sebuah mobil sedan berhenti, dan kaca jendela mobil terbuka“Yuni…kamu Yuni ‘kan?”“Mahes..”balas YuniMahesa langsung turun dari mobil mendekati Yuni.“Kamu datang ke rumahku ada apa?”“Ini rumahmu? aku kesini menemui Vidya,”jawab Yuni sambil terbengong“Kamu mengenal Vidya?”“Aku mengenalnya waktu dia berteman dengan Meira, aku juga Tante Devon.”Mahesa tertawa renyah.”Dunia sempit sekali Yun, kabar yang aku dengar terakhir kamu pindah ke Bali, sekarang tanpaku mencari, kamu datang ke rumahku, Vidya adalah putriku,”“Jadi Vidya putrimu,”Yuni terkejut menatap Mahesa“Yuni…bisakah kita berbicara aku ingin melepas rinduku padamu?”“Baik,”jawab Yuni dengan wajah bersemu merahMahesa membuka pintu mobil dan mempersilahkan Yuni masuk, setelah itu Mahesa duduk dan menyetir mobil,“Kita aka
“Ahh sudahlah Bu.. tak ada gunanya membahas ibu kandung Nazha, lebih baik kita focus dengan rencanaku, aku ingin sekali menyingkirkan Nazha dari apartemen ini, “ucap Sheren dahinya berkerut mulai memikirkan cara licik“Ahhh…susah sekali menyingkirkan gadis itu, “gumam Laras“Bu…lebih baik ibu pula
Pagi itu tak terlihat langit mendung, Devon sudah berangkat ke kantor,Nazha masih di dalam kamar demikian juga dengan Sheren. Hingga sebuah bel pintu membuat Nazha keluar kamar. Nazha melihat siapa yang datang, lalu ia membukakan pintu setelah tahu di luar pintu ada Andi.“Maaf Bu Nazha, saya ke s
Sheren memendam amarah atas perkataan Devon. “Aku mengandung anakmu, sedangkan Nazha mengandung anak pria misterius yang nggak jelas!”“Sheren aku tak mau berdebat denganmu, keluar dari kantorku, jangan kamu temui Nazha!”perintah Devon“Kamu harus bertangung jawab atas perbuatanmu, atau, aku sebark
Nazha terdiam di dalam kamarnya, menyakinkan dirinya jika Sheren memang merencanakan hal buruk.’Kamu berhasil Sheren, tapi aku tak menyerah, selama Devon menyangkalnya aku tak menyerah pada tipu muslihatmu, kamu mengunakan taktik yang sama seperti ibumu ,’batin NazhaSementara itu Devon menghubungi







