Share

Bab 12. Kenyataan

Author: Andrea_Wu
last update publish date: 2026-01-04 09:05:16

Beberapa hari telah berlalu sejak Lan Rui Hong menemukan Shen Lihua dalam keadaan mengenaskan.

Kini, tubuh Shen Lihua perlahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Demam tinggi yang sempat merenggut kesadarannya telah mereda. Luka di punggungnya mulai mengering, meski rasa perih masih kerap menyergap ketika ia bergerak terlalu cepat. Namun setidaknya, ia sudah mampu duduk lebih lama, dan berjalan perlahan tanpa harus sepenuhnya bersandar pada dinding.

Pagi itu, Shen Lihua melangkah keluar dari kamar bambu sederhana yang menjadi tempat perawatannya selama beberapa hari terakhir. Udara dingin menyentuh wajahnya, membawa aroma khas obat-obatan yang sedang dijemur di halaman.

Di sudut halaman, Luo Qingyu tampak sibuk menata ramuan kering di atas tampah bambu. Wajah gadis itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya, matanya sembab—jelas bekas tangis semalam karena terus memikirkan nasib nona mudanya.

"Qingyu, apa yang sedang kau lakukan?"

Luo Qingyu terkejut. Tangannya berhenti menata ramuan, lalu ia menoleh. Begitu melihat Shen Lihua sudah berdiri di luar kamar, wajahnya langsung pucat.

"Nona!" Ia segera meletakkan tampah dan berlari kecil menghampiri. "Kenapa Nona sudah keluar? Tubuh Nona belum pulih sepenuhnya."

"Aku tidak apa-apa," jawab Shen Lihua lembut. "Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar."

"Tapi tetap saja—" Luo Qingyu tampak cemas. "Hamba khawatir jika Nona memaksakan diri. Luka Nona bisa kambuh lagi."

Senyum tipis terukir di bibir plum Shen Lihua. Ia mengulurkan tangan dan mengelus kepala Luo Qingyu, seperti seorang kakak pada adiknya.

"Jangan terlalu dipikirkan. Oh ya, apakah kau melihat Lin Ru?" tanya Shen Lihua.

Sejak malam terakhir ketika dia bertemu Lin Ru, dirinya tak melihatnya lagi hingga pagi ini.

Dahi Luo Qingyu mengerut. "Kenapa Nona menanyakan pemuda aneh itu?"

"Aneh?" Shen Lihua terkekeh pelan. "Menurutku dia baik."

"Itu menurut Nona," sahut Luo Qingyu jujur. "Dia sering muncul dan menghilang entah ke mana. Kemarin hamba melihatnya duduk sendirian di belakang gubuk Guru Lan, membaca gulungan surat. Begitu menyadari hamba datang, ia langsung menyembunyikannya ke dalam bajunya. Dia bilang itu surat utang."

Shen Lihua tersenyum samar. Dia sama sekali tak menaruh curiga. "Jangan terlalu mencampuri urusan orang lain. Oh ya, apakah Guru Lan ada?"

Luo Qingyu segera mengangguk dan menunjuk bangunan sederhana di sisi utara halaman. Asap tipis mengepul dari tungku, membumbung melewati atap.

"Guru sedang meracik obat. Beliau baru saja kembali dari gunung membawa ginseng liar. Apakah Nona ingin hamba memanggilkan beliau?"

Shen Lihua melangkah pelan. Nyeri di punggungnya masih terasa, namun jauh lebih baik dibanding beberapa hari lalu.

"Tidak perlu. Aku akan ke sana sendiri."

Namun saat Shen Lihua mulai melangkah, Luo Qingyu tampak ragu. Gadis itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-katanya selalu tertelan kembali ke tenggorokan sebelum mencapai bibir.

Akan tetapi, jika ia terus menyembunyikannya, Luo Qingyu yakin Shen Lihua justru akan lebih terluka.

"Nona Shen."

Langkah Shen Lihua terhenti. Ia menoleh ke belakang. Luo Qingyu tampak menggigit bibirnya sendiri, jelas sekali jika gadis pelayan itu gugup.

"Katakan."

Luo Qingyu menarik napas dalam-dalam. Namun, ia tak cukup memiliki nyali.

"Qingyu, kenapa diam? Katakan padaku ada apa?"

Dengan keberanian yang hanya sedikit itu, ia memberanikan diri mendongak, dan bicara. "Nona… saat Nona tidak sadarkan diri, Guru Lan mengatakan sesuatu pada hamba. Tentang kondisi Nona."

Jantung Shen Lihua berdegup lebih cepat.

"Kondisi apa?"

Luo Qingyu mengangkat wajahnya. Matanya memerah, air mata menggenang di pelupuk mata.

"Guru Lan berkata… Nona sebenarnya tidak mandul."

Dunia Shen Lihua seolah berhenti berputar.

"Apa…?" Suaranya nyaris tak terdengar.

"Hamba mendengarnya sendiri," ujar Luo Qingyu tergesa, takut ucapannya dianggap kebohongan belaka. "Rahim Nona sehat. Hanya saja… seperti ada sesuatu yang terus menekannya dari dalam, membuat Nona tak bisa mengandung."

Tubuh Shen Lihua bergetar pelan.

Tiga tahun.

Tiga tahun ia menelan hinaan, memikul tuduhan, memohon restu langit—padahal tubuhnya tak pernah bermasalah.

"Qingyu," ucapnya pelan setelah lama terdiam. "Kenapa takdir tak pernah memihakku." Namun, dia tak ingin menjadi lemah lagi. Dia Shen Lihua—bukan wanita lemah yang akan terus menangis seperti dulu.

Dia mengingat sesuatu. "Aku masih menyimpan ramuan pahit itu."

Wajah Luo Qingyu seketika memucat.

"Ramuan yang selalu diberikan Jenderal Qu?"

Shen Lihua mengangguk. "Ia berkata itu ramuan penyubur kandungan. Sejak awal pernikahan, aku meminumnya tanpa curiga. Namun selama tiga tahun… aku tak pernah mengandung darahnya."

***

Kabar pernikahan Jenderal Qu dengan Su Minshan telah menyebar luas di ibu kota, hingga sampai ke telinga keluarga Shen.

Pernikahan itu akan berlangsung di musim semi dua bulan lagi. Bahkan keluarga Shen pun mendapat undangan sebagai tamu kehormatan.

"Benar-benar pembawa sial dan aib keluarga!" Patriark Shen hampir meremukkan gelas giok di tangannya ketika mendengar berita itu.

"Nenek moyang kita akan murka," sahut Nyonya Shen dingin. "Kita sudah memutuskan hubungan dengan perempuan itu. Jangan lagi menyebut namanya."

Pria tua itu terdiam. Amarah masih membara di matanya, namun jauh di lubuk hatinya, bayangan Shen Lihua—putri kandungnya dari istri yang telah lama meninggal—tetap menghantui.

"Mereka sengaja mengundang kita datang, apakah untuk mempermalukanku!" Patriack Shen menatap nyalang pada udara kosong di depan.

"Jangan marah, suamiku. Shen Lihua bukan lagi bagian dari keluarga Shen. Apa yang kau takutkan lagi. Bahkan jika mereka bertanya, kita bisa menjawabnya, jika Shen Lihua bukan putri keluarga Shen lagi."

Sakit.

Shen Mo merasakan dadanya nyeri seperti tertusuk jarum. Dia mencoba memikirkan lagi keputusannya.

Apakah perbuatannya sudah benar?

Nyonya Shen mengelus pundak suaminya dengan cukup sensual. "Kita masih memiliki Shen Jia Li. Putri kita itu akan membawa kejayaan keluarga Shen. Kau tahu, putra menteri akan segera melamarnya. Dia akan menjadi Nyonya muda di kediaman menteri Hong." Nyonya Shen melirik suaminya yang mulai melunak.

"Bukan seperti Shen Lihua, perempuan tidak berguna, yang bahkan bermimpi menjadi pejabat istana, sungguh aib. Perempuan hanya akan tunduk pada seorang pria, dan mengabdikan hidup pada suaminya. Bukan seperti Shen Lihua, pikiran kolotnya itu akan membawa dia pada kesengsaraan."

Tangan Shen Mo mengepal di atas paha. Mengambil napas dalam, meminum tehnya dalam cangkir giok dalam diam.

Dalam hatinya, mungkin keputusannya sudah benar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 185. Ending

    Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 184. Dilamar

    Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 183. Menyembuhkan

    Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 182. Membuat Kebangkitan Di Yaxia

    Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 181. Kena Mental

    Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 180. Pertarungan

    Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 82. Luka

    Tubuh Shen Lihua menegang seketika, saat sepasang tangan melingkar di perutnya. Aroma darah tipis bercampur wangi kayu pinus yang familiar menyusup ke inderanya—bau yang tak mungkin ia salah kenali, bahkan jika waktu telah berusaha menguburnya. Napasnya tercekat. Seluruh bulu kuduknya meremang.

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 87. Tabir

    Pagi hari itu, Pasar Yunglong telah berubah menjadi lautan manusia. Suara tawar-menawar bersahutan, lonceng toko beradu, dan teriakan pedagang membelah udara yang masih dingin. Aroma teh panas, daging panggang, dan kain baru bercampur menjadi satu, menciptakan hiruk-pikuk khas ibu kota. Di tenga

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 80. Rencana Licik.

    Su Minshan menyelinap memasuki Paviliun Timur di tengah malam buta. Cahaya obor yang redup memantulkan bayangannya di dinding koridor panjang, membuat siluet tubuhnya tampak meliuk seperti ular berbisa. Istana berada dalam keheningan mutlak. Hanya beberapa pengawal berjaga di gerbang utama, semen

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 76. Perlawanan

    Pengumuman kelulusan Shen Lihua sebagai Tabib Istana secara resmi menutup rangkaian ujian tabib tahun ini. Aula Medis Kekaisaran perlahan kembali hening, meski bisik-bisik penolakan masih terdengar di sudut-sudut ruangan. Banyak yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa seorang wanita berhasil mene

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status