Accueil / Zaman Kuno / Balas Dendam Istri Jenderal Qu / Bab 13. Rasa Itu Telah Hilang Ditelan Badai

Partager

Bab 13. Rasa Itu Telah Hilang Ditelan Badai

Auteur: Andrea_Wu
last update Date de publication: 2026-01-04 15:12:32

Malam itu, hujan salju turun tanpa suara, menutup Kediaman Jenderal Qu dengan selimut putih yang dingin dan sunyi. Lentera-lentera bergoyang pelan tertiup angin, memantulkan cahaya kekuningan di atas jalan setapak yang basah dan licin.

Jenderal Qu Liang berdiri angkuhdi depan Paviliun Anggrek.

Paviliun itu gelap. Tak ada lagi cahaya lampu minyak di balik jendela. Tak ada aroma teh hangat, maupun aroma wewangian yang selalu tercium saat Shen Lihua masih berada di tempat ini.

Tak ada suara langkah pelan, atau tawa lembut dari sosok anggun Shen Lihua. Semuanya kosong—seperti hatinya sendiri.

Tangannya terulur, lalu berhenti di udara, seolah hendak mendorong pintu. Namun gengsi yang selama ini ia banggakan menahannya di tempat.

Ia tertawa kecil, teramat getir.

"Sudah pergi," gumamnya. "Untuk apa merindukan sesuatu yang telah memilih meninggalkan tempat ini. Dia yang menginginkan ini."

Namun ingatan tak pernah patuh pada logika.

Ia teringat sosok kurus Shen Lihua yang selalu patuh meski dipenuhi luka, dan hinaan setiap hari. Teringat caranya menunduk hormat, teringat bagaimana wanita itu melayaninya. Teringat bagaimana Paviliun Anggrek dulu selalu hangat, bahkan di malam bersalju seperti ini.

Jenderal meneguk arak dari kendi di tangannya. Cairan panas itu mengalir di tenggorokan, tapi tak mampu menghangatkan apa pun.

Semuanya terasa hampa.

"Aku tidak salah," katanya keras—entah pada siapa. "Aku hanya menjalankan tugasku sebagai kepala keluarga. Dia tak mampu memberiku keturunan. Sudah sepantasnya dia pergi."

Namun kata-kata itu terdengar rapuh, bahkan di telinganya sendiri.

Beberapa detik berlalu, hingga terdengar langkah kaki mendekat dari balik tirai salju.

"Jenderal." Suara itu manis, dibuat-buat dengan sedikit desahan lembut.

Su Minshan muncul dengan jubah tipis berwarna pucat, seolah tak merasakan dingin. Matanya memandang Jenderal Qu dengan tatapan menggoda, dan itu selalu berhasil.

"Kenapa Jenderal berdiri di sini?" tanyanya pelan. "Angin malam begitu kejam di luar. Paviliun Teratai lebih hangat."

Jenderal Qu mengerutkan kening. "Aku tidak memanggilmu. Siapa yang menyuruhmu datang?"

Su Minshan tersenyum, lalu melangkah lebih dekat. Tangannya meraih lengan sang jenderal, jemarinya dingin namun berani merapa dada Qu Liang. Begitu liar, hingga jenderal Qu sedikit mendesah tertahan.

"Tapi Minshan khawatir," katanya lembut. "Jenderal tampak… kesepian."

Kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira.

Arak telah membuat pikiran Jenderal Qu goyah. Ia membiarkan dirinya dituntun, meninggalkan Paviliun Anggrek yang sunyi menuju Paviliun Teratai.

Di dalam paviliun, lilin menyala terang. Aroma dupa memenuhi ruangan, menyamarkan bau arak yang menyengat. Su Minshan mendekat, bahkan terlalu dekat.

"Jenderal," bisiknya, jemarinya naik ke dada pria itu. "Biarkan Minshan menemani malam ini."

Jenderal Qu menatap wajah di hadapannya. Cantik, lembut, dan terlihat menggairahkan.. Semua yang seharusnya ia inginkan.

Namun entah mengapa, hatinya terasa kosong.

Ia menunduk, mencium bibir Su Minshan—tanpa gairah. Su Minshan membalas dengan penuh semangat, tangannya merangkul leher sang jenderal.

"Shen Lan."

Nama itu meluncur dari bibir Jenderal Qu tanpa sadar.

Tubuh Su Minshan menegang.

"Apa?" bisiknya, senyum di wajahnya membeku.

Jenderal Qu membuka mata. Pandangannya kabur, namun cukup jelas untuk menyadari kesalahan itu.

"Shen… Lihua," gumamnya lagi, lebih pelan.

Keheningan jatuh seperti salju di luar—dingin dan mematikan.

Su Minshan mundur selangkah. Wajahnya tetap tersenyum, tapi matanya mengeras, kilatan amarah berkelebat singkat sebelum kembali tertutup topeng kelembutan.

"Jenderal terlalu mabuk," katanya, suaranya lembut namun dingin. "Minshan akan memanggil pelayan."

Jenderal Qu tak menjawab. Ia menutup mata, dadanya terasa sesak.

Di luar, salju terus turun.

Dan untuk pertama kalinya, Jenderal Qu Liang menyadari—wanita yang ia singkirkan dengan tangannya sendiri, telah meninggalkan lubang yang tak bisa diisi oleh siapa pun.

***

Di ruang belakang rumahnya, Lan Rui Hong duduk di hadapan meja kayu tua. Di depannya terletak bungkusan kain lusuh berisi serbuk ramuan pahit yang diserahkan oleh Shen Lihua.

Ia mengambil sedikit serbuk itu, mencampurnya dengan cairan khusus, lalu menumbuknya perlahan.

Warna cairan langsung berubah.

Sorot mata Lan Rui Hong mengeras.

"Benar," ucapnya dingin. "Ini ramuan pencegah kehamilan. Diracik dengan teknik yang begitu teliti. Dosisnya halus—cukup untuk merusak tubuh perlahan tanpa menimbulkan kecurigaan."

Luo Qingyu langsung berlutut, tubuhnya gemetar. Dia tidak menyangka.

"Keji…!" Suaranya bergetar. "Mereka menyiksa Nona, lalu berani menuduh Nona mandul!"

Shen Lihua tidak menangis. Dia hanya diam, tatapan matanya kosong.

Apa salahnya? Hingga ada orang yang bersikap keji padanya.

Ia duduk tegak, jemarinya mengepal di balik lengan bajunya.

"Orang di balik ini," lanjut Lan Rui Hong, "Bukan orang sembarangan. Ramuan seperti ini hanya bisa diracik oleh tabib yang sudah berpengalaman."

"Maksud Guru Lan?" tanya Luo Qingyu karena Shen Lihua memilih diam. Tangannya masih mengepal, merasakan dadanya yang nyeri.

"Orang yang meraciknya bukan sembarang tabib. Orang ini sudah memiliki ilmu pengobatan tingkat tinggi, dan biasanya orang ini bekerja pada istana."

Shen Lihua menoleh, matanya membesar.

Bekerja pada istana?

"Mungkinkah?"

"Nona, Anda tahu siapa orangnya?"

Shen Lihua memilih diam, pandangannya kin8 jatuh pada sosok Lan Rui Hong. "Guru Lan," ucap Shen Lihua. "Berapa lama tubuhku bisa pulih sepenuhnya?"

"Enam bulan," jawab Lan Rui Hong jujur. "Jika kau sabar."

"Kalau begitu," Shen Lihua mengangkat wajahnya, matanya jernih dan dingin, "Aku akan menyiapkan jalan pulang. Aku ingin orang itu membayar segalanya."

Di sela percakapan mereka, Shen Lihua sempat melirik ke arah belakang gubuk Guru Lan.

Di sana, seorang pria berjubah abu-abu berdiri membelakangi mereka. Rambutnya diikat sederhana, pakaiannya tak berbeda dengan rakyat jelata. Namun caranya berdiri—punggung tegak, bahu lurus, langkah tenang tanpa ragu—tidak seperti orang biasa.

Lin Ru.

Ia sedang membaca gulungan surat, jemarinya bergerak cepat—secepat kilat. Ketika angin berembus, ujung lengan bajunya tersingkap sedikit, memperlihatkan kain dalam berwarna gelap dengan sulaman benang emas yang sangat halus.

Begitu menyadari ada yang menatapnya, Lin Ru langsung menggulung kertas itu dan menyelipkannya ke dalam dadanya. Gerakannya cepat, nyaris refleks.

Seolah telah terbiasa menyembunyikan sesuatu.

Shen Lihua hanya menatap sesaat, lalu mengalihkan pandangan.

Ia tak tahu mengapa, namun entah sejak kapan, kehadiran pria itu selalu memberi perasaan aneh.

"Siapa dia sebenarnya?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 185. Ending

    Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 184. Dilamar

    Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 183. Menyembuhkan

    Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 182. Membuat Kebangkitan Di Yaxia

    Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 181. Kena Mental

    Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 180. Pertarungan

    Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 74. Penjelasan

    Aula kembali hening. Semua pertanyaan berkecamuk di kepala masing-masing orang yang ada di aula Medis ini. Tabib Agung Gu Wenhai berdiri di hadapan tandu, lalu menoleh ke arah Shen Lihua. Meski dia yakin itu adalah teknik kuno yang telah lenyap. Teknik ciptaan tabib legendaris yang telah menghila

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-26
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 58. Ujian Tabib Yang Memukau.

    Genta berdentang dua kali, menandakan ujian tahap kedua dimulai. Tak peduli ttapan sinis dari anggota keluarga Shen, Shen Lihua tetap fokus pada ujiannya, meskipun dia satu-satunya peserta wanita di tempat itu. "Ujian tabib tahap kedua dimulai, semua peserta bersiap di tempat masing-masing!" Serua

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-24
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 135. Bayangan

    Kematian Su Minshan membawa banyak pertanyaan, tidak terkecuali di kediaman keluarga Shen, terutama bagi Shen Mo. Begitu kabar itu sampai ke telinganya, pria itu tidak bisa duduk diam. Ia segera datang ke kediaman keluarga Qu dengan wajah muram dan pikiran penuh kecurigaan. Bagaimanapun juga, k

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-05
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 131. Mengungkap Masa Lalu

    Masalah di istana datang silih berganti seperti gelombang pasang yang tak pernah benar-benar surut. Di dalam Aula Naga yang luas dan megah itu, Kaisar Lin Shue duduk di atas singgasana emasnya dengan tubuh tegak, namun kedua matanya terpejam erat seolah sedang menahan beban pikiran yang terlalu

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-05
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status