Share

Balas Dendam Putra Mafia Terkuat
Balas Dendam Putra Mafia Terkuat
Penulis: Raden Arya

Mimpi Buruk

Penulis: Raden Arya
last update Tanggal publikasi: 2026-05-19 15:41:31

Kilatan petir menyambar tiada henti, menerangi langit kelam seolah sedang meluapkan kemarahan. Hujan rintik-rintik membasahi bumi, seakan alam pun turut mengutuk peristiwa mengerikan yang baru saja terjadi. Di dalam sebuah rumah mewah yang megah, lantai marmer yang mengilap kini berubah menjadi lautan darah.

Seorang sosok berbalut kain hitam berdiri tegak di tengah genangan darah. Di tangannya, sepasang pedang masih meneteskan cairan merah segar. Ia baru saja menyelesaikan tugas kejamnya—membunuh seluruh penghuni rumah itu tanpa ampun sedikit pun.

Di luar sana, nama Dario Wicaksono sangat disegani dan ditakuti. Ia adalah ketua mafia besar, penguasa wilayah yang memegang kendali penuh atas segala urusan di dunia bawah tanah. Namun malam itu, kekuasaan dan harta bendanya sama sekali tidak mampu menyelamatkan nyawanya beserta seluruh anggota keluarganya.

Di sudut ruangan yang luas itu, seorang anak laki-laki berusia dua tahun duduk tergolek di lantai dingin. Ia menangis sekeras-kerasnya, matanya yang bening menatap tak percaya pada kedua orang tuanya yang kini terkapar diam bersimbah darah. Di tengah isak tangis yang menyayat hati itu, bocah kecil itu hanya mampu berteriak memanggil nama ayah dan ibunya, panggilan yang tak akan pernah lagi terjawab.

 

"AYAH! IBUUU!!!"

Raga terbangun dengan napas yang memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuh dan kaos dalam putihnya yang tipis. Ia duduk bersandar di dinding gubuk, di atas alas tidur sederhana dari anyaman bambu tanpa kasur. Wajahnya basah oleh keringat, dan tangannya mencengkeram kuat bagian dada kirinya yang terasa sesak.

"Lagi... lagi-lagi aku memimpikan kejadian itu," gumamnya pelan sambil mengusap wajah dengan kasar. Bayangan pembunuhan itu terasa begitu nyata, seolah kejadian itu baru saja berlangsung kemarin sore.

"Raga? Nak, kamu tidak apa-apa?"

Pintu gubuk terbuka perlahan, masuklah seorang wanita tua berwajah teduh namun penuh kerutan, saksi beratnya perjalanan hidup yang ia lalui. Itu adalah Bu Ratmi, ibu angkat Raga. Ia bergegas mendekat dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.

"Aku baik-baik saja, Bu. Hanya mimpi buruk biasa," jawab Raga berusaha tersenyum tenang, meski sorot matanya masih menyimpan sisa ketakutan dari mimpi tadi.

Raga adalah anak yang ditemukan Bu Ratmi lima belas tahun silam di kawasan pembuangan sampah pinggiran kota. Saat itu, Bu Ratmi mengira karung berat yang ia temukan berisi barang bekas berharga, namun ternyata isinya adalah seorang bayi laki-laki yang berpakaian rapi dan bersih. Di lengan kiri anak itu terpasang sebuah gelang hitam berukir nama Raga dengan huruf emas yang berkilau. Tanpa pikir panjang, Bu Ratmi mengasuh dan membesarkannya hingga saat ini.

Kini, Raga tumbuh menjadi pemuda yang tegap, berparas tampan, dan memiliki tatapan mata yang tajam—sangat kontras dengan kehidupan mereka yang serba kekurangan. Tanpa berganti pakaian, Raga beranjak keluar gubuk menuju tempat cuci di halaman depan, yang hanya tertutup terpal dan spanduk bekas. Di sana terdapat sumur tua dengan ember yang diikat tali panjang.

Raga menimba air, lalu langsung membasuh wajahnya dengan air dingin itu.

"Segar sekali...," bisiknya, memejamkan mata sejenak sambil mengibaskan rambut hitam ikalnya yang sedikit membasahi bahu.

Tanpa ia sadari, beberapa wanita muda dan ibu-ibu tetangga di sekitar sana diam-diam memperhatikannya dari kejauhan. Pesona alami dan ketegasan raut wajah Raga membuat banyak wanita tak berkedip memandangnya.

"Ganteng sekali... andai saja dia mau menjadi kekasihku, aku pasti akan sangat bahagia," gumam salah satu dari mereka sambil tersenyum malu-malu dan berkhayal.

Setelah selesai membersihkan diri, Raga mengenakan topi lebar yang sudah usang, lalu menggendong keranjang besar dari anyaman bambu di punggungnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam tongkat kayu berujung besi melengkung—alat utama untuk memilah sampah.

Bersama warga lain yang memiliki nasib sama, Raga berjalan menuju tumpukan sampah besar untuk mencari barang bekas yang masih bernilai jual.

"Raga!"

Sebuah suara memecah kesunyian pagi. Dari kejauhan, seorang pemuda berbadan kekar melambaikan tangan riang ke arahnya. Itu Jaka, sahabat karib Raga yang juga bekerja sebagai pemulung. Mereka berdua selalu berjalan beriringan, berbagi suka dan duka dalam hidup yang keras ini.

"Pagi, Ka!" balas Raga sambil tersenyum tipis.

Jaka berjalan mendekat dengan santai, keranjang di punggungnya sudah mulai terisi penuh oleh botol plastik dan barang rongsokan lainnya.

"Pasti bangun kesiangan lagi ya?" tebak Jaka sambil tertawa kecil.

Raga berhenti sejenak dari kegiatannya, lalu menoleh sambil menyeringai. "Kamu memang tahu saja kebiasaanku. Iya, seperti biasa aku kesiangan."

"Dan kurasa... kamu bermimpi buruk lagi, kan?" sambung Jaka lagi.

"Haha, kamu memang jago menebak. Iya, mimpi itu datang lagi," jawab Raga sambil kembali memungut botol bekas.

"Sudah kuduga. Kalau begitu, nanti siang aku yang traktir makan! Janji!" seru Jaka sambil menepuk bahu sahabatnya itu dengan penuh semangat.

Raga hanya menggeleng sambil tersenyum sinis. "Dasar kamu, tiap kali bilang mau traktir, ujung-ujungnya pasti ngutang dan aku yang harus bayar. Sudah biasa aku kena tipu kamu."

"Kali ini serius, sumpah! Aku yang bayar lunas," jawab Jaka dengan wajah berusaha meyakinkan, padahal sorot matanya justru mengarah ke tempat lain seolah sedang menyembunyikan sesuatu.

"Iya, iya. Terserah kau saja," jawab Raga santai, tidak terlalu percaya namun tetap menuruti ajakan sahabatnya itu.

 

Siang hari pun tiba. Matahari bersinar terik menyengat kulit. Raga dan Jaka berjalan beriringan menuju sebuah warung makan kecil yang terletak tak jauh dari lokasi pembuangan sampah, jaraknya hanya sekitar seratus meter. Warung sederhana milik Bu Mira, wanita paruh baya yang selalu ramah melayani warga sekitar.

Namun, baru saja keduanya melangkah masuk...

BRAKKK!!!

Suara gebrakan meja yang keras menggema di seluruh ruangan. Gelas di atas meja terguling dan pecah berkeping-keping di lantai.

Dua sosok pemuda berbadan besar dengan penampilan berantakan dan penuh tato sedang berdiri mengancam Bu Mira. Mereka adalah Leo dan Soni, dua preman yang sangat dikenal suka memalak warga dan membuat keonaran di wilayah itu.

"Ada apa ini?" gumam Raga pelan, sorot matanya berubah menjadi tajam dan serius, senyum santai di wajahnya pun hilang seketika.

"Lihat siapa yang datang... dua bocah ingusan yang bau sampah," ujar Soni dengan nada mengejek dan sinis. Tato gambar kalajengking melilit lehernya, dan kedua telinganya penuh dengan tindik besi. Ia menatap tajam ke arah Raga dan Jaka seolah memandang hama.

"Ra... sepertinya selera makanku langsung hilang melihat mereka," bisik Jaka sambil mengerutkan hidung, berniat berbalik badan untuk pergi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Apartemen Mewah Tuan Muda Raga

    Sosok tuan muda tampan dan berkarisma memasuki gedung pencakar langit bersama dengan dua orang kepercayaannya."Paman Dave, kita menjamu mereka di lantai berapa?" Tanya Raga."Di lantai tiga, tempat kita melakukan rapat beberapa hari yang lalu." Jawab Dave.Raga melihat ke arah sekitarnya, ternyata gedung miliknya sudah cukup ramai."Apakah mereka para pegawai baru?" Tanya Raga yang baru melihat wajah orang-orang di gedungnya."Mereka semua memang para pegawai baru, selain menjadi pusat kantor dari tiga perusahaan milik Tuan Muda, gedung ini tentunya menjadi apartemen mewah bagi orang-orang kaya di Kota Valora, sudah banyak kamar yang terjual." Jelas Dave.Melihat kedatangan bos mereka, para pegawai di gedung tersebut bergegas mendekati Raga, Harry, dan Dave."Selamat datang Tuan Muda," Ucap mereka sambil menundukkan kepalanya."Terimakasih....... sekarang kembalilah ke pekerjaan kalian." Raga menjawab dengan ramah, tersenyum tulus ke arah para pegawainya.Benar-benar tidak disangka,

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Mencari Kartu Nama Panglima Naga Langit

    Setelah selesai memakan bakmi buatan Paman Mak yang begitu lezat, Raga lantas menanyakan sesuatu kepada Paman Mak."Maaf Paman, apakah pada saat Paman membereskan baju dan pakaian milik Raga, Paman menemukan sebuah kartu nama di dalam kantong celananya Raga?"Paman mencoba untuk mengingat-ngingat terlebih dahulu. "Hmmm,,, kartu nama? Sepertinya Paman tidak menemukan apapun selain pakaianmu.""Jadi... Paman Mak tidak melihat kartu nama itu." Raut wajah Raga nampak sedikit kecewa."Memangnya kartu nama siapa yang sedang kau cari?" Tanya balik Paman Mak."Kartu nama milik seseorang yang bernama Bayu Pratama," Jawab Raga."Sepertinya Paman pernah mendengar nama seseorang yang baru saja kau sebutkan! Bayu Pratama?" Kata Paman Mak."Paman tentu mengenalnya, Bayu Pratama merupakan salah satu pimpinan dari kelompok mafia Naga Langit, tangan kanannya Jack Draco." Tutur Raga."Iyaa..... Paman baru ingat, Bayu Pratama dan Jack Draco yang pernah menguasai wilayah barat Kota Valora."Awalnya Raga

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Raga menjadi Viral

    "Raga, apakah itu kamu?" Tanya seorang wanita yang baru saja turun dari mobil, memanggil Raga dengan suara pelan.Secara spontan Raga langsung melihat ke arah belakang."Tante Tania!" Raga cukup terkejut dengan kemunculan sosok Tante Tania yang pernah menjadi bosnya."Raga! Ternyata benar kamu!" Tante Tania merasa sangat girang karena dugaannya benar.Tante Tania langsung memeluk Raga dengan sangat erat sampai membuat Raga sulit untuk bernapas."Tante sangat senang sekali bisa bertemu denganmu kembali, selama kamu tidak ada tante merasa sangat rindu sekali kepadamu.""Tante juga sangat mengkhawatirkan kondisimu ketika dibawa oleh para bajingan itu, sampai tante tidak bisa tidur."Tante Tania justru mencurahkan isi hatinya selama ditinggal oleh Raga."Uhuk..... Tante Tania, tolong lepaskan pelukannya, Tante....." Pinta Raga dengan nada lirih.Tante Tania langsung melepaskan pelukannya."Huuuup..... Haaaaah!!!" Raga langsung menarik napas dalam-dalam untuk melebarkan paru-parunya kembal

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Anak Orang Kaya

    "Apakah kau mengenal pemuda yang barusan?" Tanya Raga menatap datar Elsa."Alex, namanya adalah Alex Tunder, ketua kelompok gengster Red Tunder, dia juga merupakan anak dari salah satu pengusaha terkaya di Kota Valora." Jawab Elsa langsung merasa salah tingkah ketika ditatap oleh Raga."Pantas saja sikapnya amat begitu sombong..... Tapi pemuda itu sepertinya sangat patuh dengan perkataanmu,""Hehe....." Elsa menundukkan kepalanya ke arah bawah, bertanya di dalam hatinya. "Huh..... kenapa aku malah jadi grogi seperti ini apabila bertatapan langsung dengannya?"Sementara itu Raga mengalihkan pandangannya ke arah mobilnya Elsa. "Mobil yang sama dengan yang aku lihat pada saat berada di pemakaman, jangan-jangan perempuan ini adalah........"Raga menyadari sesuatu kalau perempuan yang sedang berada di hadapannya adalah Elsa Lion yang sudah diceritakan oleh Harry."Sekali lagi terimakasih sudah membantuku mengusir berandalan itu dan menemukan kunci motorku, aku pergi dulu...." Ucap Raga ter

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Jangan Meremehkan Pemuda Yang Terlihat Biasa Dari Luar

    Orang-orang yang menyaksikan Alex terpental karena tinjunya Raga langsung merasa syok. Seorang pemuda biasa yang diremehkan oleh Alex justru bisa membuatnya terjatuh hanya dengan sekali pukulan. "Kurang ajar, kuat sekali pukulan pemuda itu, kedua lenganku sampai terasa linu." Ucap Alex sambil bangkit kembali. Lengan Alex yang terkena tinjunya Raga nampak memerah. "Sekarang kita sudah impas," Raga melebarkan kembali telapak tangannya. "Jangan bercanda, kau sudah berani memukulku itu artinya kau menantangku." Sahut Alex merasa tidak terima. "Baiklah kalau begitu aku akan melayanimu sampai kau puas," Raga membuka helmnya dan meletakkannya di atas jok motor. Setelah melihat wajah Raga seutuhnya, Alex merasa sangat terkejut. "Bukankah dia adalah seorang pemuda yang ada di dalam video itu?" Ternyata Alex juga melihat videonya Raga membuat gempar Kota Valora. "Rupanya perkiraanku salah kau bukanlah pemuda miskin, bukankah kau adalah seorang pemuda yang baru saja mendirikan

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Memulai Kebangkitan Keluarga Wicaksono

    Di sebuah ruangan yang berada di lantai tiga, Raga dan semua orang yang berada di bawah kendalinya melakukan rapat pada meja bundar.Raga berdiri dengan gagah, pandangannya sangat-sangat berwibawa."Terimakasih sudah melakukan ini semua demi kebangkitan keluarga Wicaksono dan demi kebangkitan kelompok kita.""Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri tanpa dukungan dari kalian, pengetahuanku tentang bisnis tentu sangat tidak bisa diharapkan.""Tapi dengan adanya kalian, aku sangat yakin bisnis kita akan berjalan dengan sangat pesat dalam waktu yang cepat.""Kita akan membangun sebuah kekuatan yang tidak bisa terkalahkan, bukan karena aku haus kekuasaan, tapi karena ada tembok besar yang harus kita robohkan."Raga sedikit memberikan sambutan untuk menyemangati orang-orang yang berjuang bersamanya."Kita pasti bisa melakukannya, bendera dengan lambang Sembilan Matahari akan berkibar di setiap sudut Kota Valora." Sahut salah satu orang yang tergabung dalam lima puluh anggota pasukan khusu

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Tembakan Kematian

    Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.S

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Gelang Hitam Misterius

    Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa ya

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Kekuatan Raja Serigala

    Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?"

  • Balas Dendam Putra Mafia Terkuat   Membangunkan Serigala Yang Tertidur

    Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status