MasukLeo melangkah maju, menatap keduanya dengan pandangan yang seolah ingin membunuh. "Diam saja kalau tidak mau celaka. Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kami patahkan leher kalian satu per satu!"
Namun, Raga sama sekali tidak bergeming. Seolah tak mendengar ancaman mengerikan itu, ia berjalan santai melewati kedua preman yang berbadan besar itu, lalu duduk tenang di bangku kayu yang kosong. "Bu Mira, saya merasa sangat lapar. Tolong buatkan makanan seperti pesanan saya yang biasa ya," ucap Raga dengan nada suara yang sangat tenang dan ramah, seolah tak ada orang lain yang berbahaya di ruangan itu selain dirinya dan pemilik warung. Bu Mira yang sedari tadi diam ketakutan hanya bisa mengangguk gugup. "Ba... baik, Nak Raga. Sebentar ya, akan Ibu siapkan." BRAKKK!!! Leo menggebrak meja tepat di depan wajah Raga. Ia membungkukkan badannya, wajahnya mendekat hingga jaraknya hanya satu senti dari wajah Raga. Bau alkohol dan asap rokok yang menyengat keluar dari napasnya sangat mengganggu penciuman Raga. "Berani sekali kau mengabaikan kami, dasar anak kampungan! Kau tidak tahu siapa kami di sini?" geram Leo, matanya menyala penuh amarah. Raga tetap diam, menatap datar ke arah Leo tanpa sedikit pun menunduk atau memalingkan muka. "Jauhkan wajah jelek dan napas busukmu itu dari hadapanku," ucap Raga dengan nada yang dingin dan tegas. "Cih, berani kau melawan!" Leo meludah tepat mengenai pipi kiri Raga. Amarah Leo meluap-luap tak terkendali. "Kau benar-benar tidak tahu diri! Akan aku patahkan setiap tulang persendianmu sampai kau memohon ampun!" Bu Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan, ketakutan melihat situasi yang makin memanas dan berbahaya. PLAKK!!! Satu tamparan keras mendarat di pipi Raga. Suaranya nyaring memecah keheningan warung. Namun, Raga sama sekali tidak bergeming. Tubuhnya tegak lurus dan tak tergoyahkan sedikit pun, hanya rambut hitamnya yang sedikit berantakan terkena hembusan angin dari sapuan telapak tangan kasar itu. Tatapannya tetap kaku dan dingin, masih tertuju pada rak makanan di balik kaca. "Hei! Berani-beraninya kau menyakiti Raga!" seru Jaka yang tak terima melihat sahabatnya diperlakukan sewenang-wenang. WUSSS... BUUGHH!!! Tanpa aba-aba, Soni melayangkan tendangan keras tepat mengenai perut Jaka. Tubuh Jaka yang kurus terpental mundur dan jatuh terguling sampai ke luar warung, menahan rasa sakit yang luar biasa. "Kau juga cari masalah ya, bocah!" seru Soni bersiap maju lagi untuk menghajar. Namun saat itulah, suasana di sekitar Raga berubah drastis. Udara terasa tiba-tiba menjadi lebih dingin dan mencekam. Senyum tipis perlahan terukir di bibir Raga, namun bukan senyum biasa—itu adalah senyum mengerikan, senyum seorang pembunuh yang telah lama terlelap dan kini mulai bangun kembali. "Kalian... sudah membuatku kehilangan kesabaran," bisik Raga pelan, namun suaranya terdengar begitu berat dan menakutkan hingga membuat bulu kuduk kedua preman itu tiba-tiba meremang. Melihat sahabatnya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri luar biasa, sisa kesabaran di dalam diri Raga akhirnya habis sepenuhnya. Darahnya mendidih, amarah yang selama ini ia tahan akhirnya terpancing keluar. Raga berdiri tegak, manik matanya menatap tajam dan penuh ancaman ke arah Leo. Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, dan otot-otot lengannya terlihat menegang karena menahan emosi yang meluap. "Aku diam saja saat kalian menampar atau memukulku, aku terima semua itu... Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah aku maafkan: menyakiti temanku!" ucap Raga dengan suara rendah namun berat, terdengar mengerikan namun penuh ketegasan. "Leo! Sepertinya bocah ingusan ini memang mencari penyakit, dia juga ingin merasakan sakit yang sama!" seru Soni. Tanpa basa-basi, Soni langsung mencengkeram kuat kerah kaos dalam yang dikenakan Raga, lalu menyeretnya paksa keluar dari warung makan. "Ya Tuhan... bagaimana jadinya ini? Jangan sampai dua orang preman kejam itu menghabisi nyawa Raga dan Jaka..." gumam Bu Mira sambil menutup mulutnya, hatinya berdebar kencang penuh kekhawatiran melihat nasib kedua pemuda yang sering singgah di warungnya. Suasana di luar warung semakin memanas dan mencekam. Leo dan Soni bergantian melayangkan tamparan keras ke pipi Raga tanpa belas kasih. PLAKK... PLAKK!!! Kedua pipi Raga kini memerah dan bengkak. Rambut panjangnya yang hitam sedikit jatuh menutupi sebagian matanya, namun sorot pandangannya tetap tajam, dingin, dan tidak menampakkan rasa takut sedikit pun. Leo menggeram marah, lalu kembali bersiap menyerang. Kali ini ia melayangkan tinju kanan yang kuat, mengarah tepat ke ulu hati Raga untuk melumpuhkannya seketika. Namun—Raga jauh lebih cepat dari yang mereka duga. BRUAKK!!! Sebelum kepalan tangan Leo sempat menyentuh kulitnya, Raga lebih dulu mengayunkan kakinya. Sebuah tendangan keras mendarat tepat di dada Leo, membuat tubuh preman itu terlempar mundur dan jatuh tersungkur ke tanah berpasir dengan keras. Debu beterbangan saat punggung Leo membentur tanah. Melihat temannya dipukul jatuh, Soni semakin menyala amarahnya. Ia meraung lalu menerjang ke depan, melayangkan tinju kiri yang besar mengincar wajah Raga. WUGHHH!!! Dengan gerakan yang sangat lincah dan refleks yang luar biasa, Raga tidak menghindar. Ia justru mengangkat tangan kanannya, menahan kepalan tangan Soni tepat di depan wajahnya seolah menahan sepotong kayu saja. Raga menatap lekat-lekat mata Soni. Tatapan itu bukan milik manusia biasa, melainkan tatapan seekor serigala lapar yang sedang mengintai mangsanya—dingin, buas, dan mengerikan. KREKKK!!! Suara tulang bergesekan terdengar samar. Raga meremas kepalan tangan Soni dengan kekuatan penuh. "AAAAAA!!! Lepaskan! Lepaskan tanganku!" Soni berteriak kesakitan, wajahnya memucat menahan rasa nyeri yang tak tertahankan. Bukannya mundur atau berhenti, Soni justru nekat mencoba memukul lagi dengan tangan kanannya, mengincar sisi kepala Raga. SRETT...! Dengan gerakan secepat kilat, Raga menggeserkan kaki kanannya selangkah ke belakang hingga posisi tubuhnya berubah arah, menghindari pukulan itu dengan mudah. Di saat yang sama, tangan kiri Raga bergerak cepat mencengkeram kerah baju Soni dengan kuat. WUSSHH...! DAGGHGH!!! Tanpa usaha yang berarti, tubuh Soni yang berbadan gempal dan jauh lebih berat dari Raga, diangkat begitu saja dari tanah, lalu dibantingkan ke tanah sekuat tenaga. Jaka membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tubuh besar Soni yang biasanya ditakuti warga, kini tergeletak tak berdaya di bawah kaki sahabatnya seolah boneka kain. "KHEKKHH...!" Soni mengerang kesakitan, napasnya tersendat-sendat akibat benturan keras itu. Leo yang masih terkapar, kini terdiam kaku sambil memegangi pipinya yang terluka dan berdarah akibat gesekan dengan tanah berkerikil. Ia menatap Raga dengan pandangan tak percaya dan sedikit ketakutan. Masih dengan sorot mata tajam seperti serigala yang belum puas, Raga perlahan memalingkan wajahnya ke arah Leo. "Ingat baik-baik wajahku, dan ingat namaku: Raga," ucapnya pelan namun menusuk kalbu. "Suatu hari nanti, aku akan menjadi orang hebat yang akan memberantas orang-orang sampah dan tidak berguna seperti kalian di kota ini. Camkan itu baik-baik!" Setelah memberikan peringatan keras itu, Raga berbalik, memapah bahu Jaka untuk berdiri, lalu membawa sahabatnya itu pergi meninggalkan kedua preman yang kini sudah tak berdaya dan kehilangan keberanian.Sosok tuan muda tampan dan berkarisma memasuki gedung pencakar langit bersama dengan dua orang kepercayaannya."Paman Dave, kita menjamu mereka di lantai berapa?" Tanya Raga."Di lantai tiga, tempat kita melakukan rapat beberapa hari yang lalu." Jawab Dave.Raga melihat ke arah sekitarnya, ternyata gedung miliknya sudah cukup ramai."Apakah mereka para pegawai baru?" Tanya Raga yang baru melihat wajah orang-orang di gedungnya."Mereka semua memang para pegawai baru, selain menjadi pusat kantor dari tiga perusahaan milik Tuan Muda, gedung ini tentunya menjadi apartemen mewah bagi orang-orang kaya di Kota Valora, sudah banyak kamar yang terjual." Jelas Dave.Melihat kedatangan bos mereka, para pegawai di gedung tersebut bergegas mendekati Raga, Harry, dan Dave."Selamat datang Tuan Muda," Ucap mereka sambil menundukkan kepalanya."Terimakasih....... sekarang kembalilah ke pekerjaan kalian." Raga menjawab dengan ramah, tersenyum tulus ke arah para pegawainya.Benar-benar tidak disangka,
Setelah selesai memakan bakmi buatan Paman Mak yang begitu lezat, Raga lantas menanyakan sesuatu kepada Paman Mak."Maaf Paman, apakah pada saat Paman membereskan baju dan pakaian milik Raga, Paman menemukan sebuah kartu nama di dalam kantong celananya Raga?"Paman mencoba untuk mengingat-ngingat terlebih dahulu. "Hmmm,,, kartu nama? Sepertinya Paman tidak menemukan apapun selain pakaianmu.""Jadi... Paman Mak tidak melihat kartu nama itu." Raut wajah Raga nampak sedikit kecewa."Memangnya kartu nama siapa yang sedang kau cari?" Tanya balik Paman Mak."Kartu nama milik seseorang yang bernama Bayu Pratama," Jawab Raga."Sepertinya Paman pernah mendengar nama seseorang yang baru saja kau sebutkan! Bayu Pratama?" Kata Paman Mak."Paman tentu mengenalnya, Bayu Pratama merupakan salah satu pimpinan dari kelompok mafia Naga Langit, tangan kanannya Jack Draco." Tutur Raga."Iyaa..... Paman baru ingat, Bayu Pratama dan Jack Draco yang pernah menguasai wilayah barat Kota Valora."Awalnya Raga
"Raga, apakah itu kamu?" Tanya seorang wanita yang baru saja turun dari mobil, memanggil Raga dengan suara pelan.Secara spontan Raga langsung melihat ke arah belakang."Tante Tania!" Raga cukup terkejut dengan kemunculan sosok Tante Tania yang pernah menjadi bosnya."Raga! Ternyata benar kamu!" Tante Tania merasa sangat girang karena dugaannya benar.Tante Tania langsung memeluk Raga dengan sangat erat sampai membuat Raga sulit untuk bernapas."Tante sangat senang sekali bisa bertemu denganmu kembali, selama kamu tidak ada tante merasa sangat rindu sekali kepadamu.""Tante juga sangat mengkhawatirkan kondisimu ketika dibawa oleh para bajingan itu, sampai tante tidak bisa tidur."Tante Tania justru mencurahkan isi hatinya selama ditinggal oleh Raga."Uhuk..... Tante Tania, tolong lepaskan pelukannya, Tante....." Pinta Raga dengan nada lirih.Tante Tania langsung melepaskan pelukannya."Huuuup..... Haaaaah!!!" Raga langsung menarik napas dalam-dalam untuk melebarkan paru-parunya kembal
"Apakah kau mengenal pemuda yang barusan?" Tanya Raga menatap datar Elsa."Alex, namanya adalah Alex Tunder, ketua kelompok gengster Red Tunder, dia juga merupakan anak dari salah satu pengusaha terkaya di Kota Valora." Jawab Elsa langsung merasa salah tingkah ketika ditatap oleh Raga."Pantas saja sikapnya amat begitu sombong..... Tapi pemuda itu sepertinya sangat patuh dengan perkataanmu,""Hehe....." Elsa menundukkan kepalanya ke arah bawah, bertanya di dalam hatinya. "Huh..... kenapa aku malah jadi grogi seperti ini apabila bertatapan langsung dengannya?"Sementara itu Raga mengalihkan pandangannya ke arah mobilnya Elsa. "Mobil yang sama dengan yang aku lihat pada saat berada di pemakaman, jangan-jangan perempuan ini adalah........"Raga menyadari sesuatu kalau perempuan yang sedang berada di hadapannya adalah Elsa Lion yang sudah diceritakan oleh Harry."Sekali lagi terimakasih sudah membantuku mengusir berandalan itu dan menemukan kunci motorku, aku pergi dulu...." Ucap Raga ter
Orang-orang yang menyaksikan Alex terpental karena tinjunya Raga langsung merasa syok. Seorang pemuda biasa yang diremehkan oleh Alex justru bisa membuatnya terjatuh hanya dengan sekali pukulan. "Kurang ajar, kuat sekali pukulan pemuda itu, kedua lenganku sampai terasa linu." Ucap Alex sambil bangkit kembali. Lengan Alex yang terkena tinjunya Raga nampak memerah. "Sekarang kita sudah impas," Raga melebarkan kembali telapak tangannya. "Jangan bercanda, kau sudah berani memukulku itu artinya kau menantangku." Sahut Alex merasa tidak terima. "Baiklah kalau begitu aku akan melayanimu sampai kau puas," Raga membuka helmnya dan meletakkannya di atas jok motor. Setelah melihat wajah Raga seutuhnya, Alex merasa sangat terkejut. "Bukankah dia adalah seorang pemuda yang ada di dalam video itu?" Ternyata Alex juga melihat videonya Raga membuat gempar Kota Valora. "Rupanya perkiraanku salah kau bukanlah pemuda miskin, bukankah kau adalah seorang pemuda yang baru saja mendirikan
Di sebuah ruangan yang berada di lantai tiga, Raga dan semua orang yang berada di bawah kendalinya melakukan rapat pada meja bundar.Raga berdiri dengan gagah, pandangannya sangat-sangat berwibawa."Terimakasih sudah melakukan ini semua demi kebangkitan keluarga Wicaksono dan demi kebangkitan kelompok kita.""Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri tanpa dukungan dari kalian, pengetahuanku tentang bisnis tentu sangat tidak bisa diharapkan.""Tapi dengan adanya kalian, aku sangat yakin bisnis kita akan berjalan dengan sangat pesat dalam waktu yang cepat.""Kita akan membangun sebuah kekuatan yang tidak bisa terkalahkan, bukan karena aku haus kekuasaan, tapi karena ada tembok besar yang harus kita robohkan."Raga sedikit memberikan sambutan untuk menyemangati orang-orang yang berjuang bersamanya."Kita pasti bisa melakukannya, bendera dengan lambang Sembilan Matahari akan berkibar di setiap sudut Kota Valora." Sahut salah satu orang yang tergabung dalam lima puluh anggota pasukan khusu
Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.S
Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa ya
Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?"
Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisa







