เข้าสู่ระบบ"Ba... baik, Tuan," jawabnya terbata-bata, lalu berjalan tergesa-gesa mengantar rombongan itu menuju ruang ICU. Sementara itu, Jaka masih duduk di depan ruangan dengan wajah cemas, tangannya terus meremas rambutnya seolah sedang dikejar utang. Derrr... derrr... Ia merasakan lantai di bawah kakinya bergetar pelan. "Kenapa lantai bergetar? Apa jangan-jangan gempa?" gumamnya sambil berdiri cepat. Matanya langsung terbelalak melihat sekelompok orang berjalan mendekat dengan langkah tegap dan serempak. Slebbb! Jaka menelan ludah dengan susah payah, matanya melotot tak percaya. "Sudah habis riwayatku! Mereka pasti kelompok yang menembak pria itu tadi!" Lututnya langsung lemas, tubuhnya terduduk di kursi dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang seolah akan meledak, giginya gemeretuk menahan rasa takut yang luar biasa. Mungkin ia masih berani melawan dua orang preman biasa, tapi kali ini ia berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih berb
Sesampainya di ujung gang, mata Raga tertuju pada sebuah bak sampah besar yang tertutup rapat di sudut ruangan. Dengan langkah cepat ia menghampiri benda itu. Mungkin dia bersembunyi di dalam sini, pikirnya. Raga langsung mengangkat dan membuka tutup bak sampah besar itu dengan tenaga penuh. Kedua matanya seketika membelalak lebar dan melotot kaget. Di dalam sana, di atas tumpukan sampah yang bau dan kotor, terbaring tubuh laki-laki paruh baya yang tadi dilihatnya. Kondisinya sangat mengenaskan, wajah dan pakaiannya penuh dengan darah segar yang mengering, tubuhnya diam tak bergerak sedikit pun. Raga segera mendekat, lalu menempelkan telinganya ke dada pria itu sekaligus meraba lehernya mencari denyut nadi. "Masih ada... dia masih bernafas lemah dan jantungnya masih berdetak!" seru Raga dengan perasaan lega luar biasa. Tanpa ragu sedikit pun, Raga langsung mengangkat tubuh pria itu keluar dari bak sampah. Otot-otot di lengan dan bahu Raga terlihat menonjol kuat saat ia membopong
Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap melaju dengan kecepatan sangat tinggi, lalu dengan keras menabrak tiang lampu jalan yang letaknya tak jauh dari tempat mereka duduk.Suara benturan yang sangat keras memekakkan telinga. Bagian depan mobil itu langsung penyok parah hingga hampir rata dengan mesin, uap panas dan asap putih mengepul keluar dari kap mobil yang pecah, sementara tiang lampu jalan itu tergoyang hebat hingga akhirnya roboh dan ambruk ke tanah.Pintu mobil terbuka paksa. Seorang laki-laki paruh baya berlari tergopoh-gopoh keluar dari dalam mobil tersebut. Darah segar mengalir deras membasahi wajahnya yang terlihat ketakutan luar biasa. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah koper kecil berwarna perak yang tampak kokoh dan mahal.Laki-laki itu tidak peduli dengan lukanya yang menganga di kepala, ia langsung berlari sekuat tenaga menuju sebuah gang sempit di dekat sana seolah sedang dikejar maut.Raga dan Jaka hanya bisa mematung dan melongo menatap k
Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.Sesampainya di sana, Jaka terlihat sedang duduk di depan gubuknya, sedang mengenakan sepatu bot karet yang sudah usang. Ia bersiap-siap hendak berangkat melakukan aktivitas sehari-hari, memungut barang bekas di tempat pembuangan akhir."Wah, Raga!" seru Jaka dengan mata terbelalak kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pagar rumahnya. "Aku sudah mendengar cerita heboh dari orang tuaku pagi-pagi buta ini! Katanya kamu berhasil mengusir dan mengalahkan seluruh anggota geng Kepala Ular sendirian? Bahkan ketuanya pun sampai menunduk padamu? Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak percaya!"Raga dengan sigap langsung melangkah mendekat dan dengan cepat menutup mulut Jaka menggunakan telap
Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Draxen gemetar ketakutan seperti itu? batin Raga bertanya-tanya dalam hati, dahinya sedikit berkerut penuh kebingungan. Aku tahu Draxen adalah petarung tangguh yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, tapi kenapa dia memilih untuk mundur dan kabur begitu saja saat berhadapan denganku?Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar, menatap debu yang beterbangan bekas kepergian ratusan motor besar itu yang tadinya menguasai wilayah kumuh tempat ia tinggal."Raga! Anakku! Kamu tidak kenapa-napa kan?" Bu Ratmi langsung merangkul tubuh Raga, tangannya yang keriput memeriksa seluruh bagian tubuh anak angkatnya dengan cemas, takut ada luka yang terlewatkan
Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?" tanya Draxen sambil menatap tajam ke atas, matanya menyala penuh amarah. WUSSHHH!!! Draxen dengan kasar mendorong dan melempar Bu Ratmi hingga jatuh terguling ke tanah. "IBUUU...!" Amarah Raga tak lagi terbendung. Aura dingin dan mengerikan seolah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, aura seekor binatang buas yang lama terkurung kini telah bangun. Di bawah sana, ada sekitar dua ratus lima puluh anggota kelompok Kepala Ular, semuanya menatap Raga dengan pandangan buas dan penuh ancaman. WUUGHHH!!! Raga melompat turun dari atas mobil setinggi itu, mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah kepungan para preman. "Tangkap anak itu! Buat dia menyesal seumur hidupnya sudah berani m







