INICIAR SESIÓNKeesokan harinya, Harris dan Sera tiba bersama di Universitas Arcapura.Kedatangan Harris kali ini memiliki dua tujuan. Pertama, mengantar Sera ke kampus seperti biasa. Kedua, memenuhi janjinya kepada Nadira untuk menghadiri pertarungan antarklub bela diri yang akan digelar hari itu.Namun, ada satu hal yang tidak diketahui Harris. Dalam beberapa hari terakhir, namanya telah menjadi topik paling panas di seluruh Universitas Arcapura.Kisah tentang sang tuan muda yang bangkit dari keterpurukan menyebar dengan kecepatan luar biasa. Mulai dari keberhasilannya menghancurkan Sentra Bela Diri Arkana, menekan seorang master peringkat sembilan dari dunia bela diri, hingga perubahan dirinya yang membuat banyak orang sulit percaya bahwa ia adalah Harris yang dulu.Ditambah lagi, penampilannya yang sekarang jauh lebih menarik dibanding sebelumnya. Semua itu membuat namanya terus dibicarakan di berbagai sudut kampus. Baik saat berada di kantin, perpustakaan, area olahraga, maupun forum kampus, to
Satrio langsung menundukkan kepala lebih dalam. Punggungnya basah oleh keringat dingin, tetapi ia tidak berani membela diri sedikit pun.Apa yang ia lihat di Kota Arcapura masih terpatri jelas di dalam pikirannya hingga sekarang. Bahkan mengingat kembali sosok Harris saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat.Melihat tidak ada yang berani menjawab, pria paruh baya itu semakin murka dan hendak melanjutkan amarahnya. Namun sebelum kata-kata berikutnya keluar, lelaki tua yang duduk di kursi utama perlahan mengangkat tangan.Gerakan itu langsung membuat aula kembali sunyi."Sudah cukup."Nada suaranya tenang, tetapi mengandung wibawa yang tidak memungkinkan siapa pun untuk membantah."Evander sudah mati. Memarahi mereka sekarang tidak akan mengubah kenyataan." Ia berhenti sejenak, lalu menatap putranya dengan sorot mata dingin. "Sebagai kakeknya maupun sebagai ayahnya, hal terpenting yang harus kita pikirkan saat ini bukanlah mencari kambing hitam, melainkan bagaimana memba
Di sisi lain, Arkana berjalan mendekat bersama putranya serta menantunya. Begitu tiba di hadapan Harris, ketiganya langsung menjatuhkan lutut ke tanah.Bruk!Suara benturan lutut dengan permukaan tanah terdengar jelas.Arman menundukkan kepala dengan ekspresi penuh rasa hormat sebelum berkata perlahan namun tegas, "Tuan Muda Harris, Anda telah menyelamatkan seluruh Keluarga Arkana hari ini. Mulai sekarang, selama Anda membutuhkan kami, Keluarga Arkana akan mengikuti perintah Anda tanpa ragu, bahkan jika kami harus menembus lautan api atau menghadapi bahaya apa pun."Nada bicaranya mantap dan tidak mengandung sedikit pun keraguan.Di sampingnya, Rendra dan Elvina juga mengangguk berulang kali. Mata mereka dipenuhi rasa syukur saat menatap Harris."Tuan Muda Harris, terima kasih.""Jika bukan karena Anda, kami mungkin sudah kehilangan segalanya hari ini."Harris memandang mereka bertiga sejenak sebelum menganggukkan kepala sambil memperlihatkan senyum tipis. Sejak awal, alasan ia memban
Namun Harris bahkan tidak meliriknya. Tatapannya bergeser lurus ke arah Satrio. Lalu, dengan nada datar yang tidak mengandung emosi sedikit pun, ia mengucapkan satu kata. "Pergi."Suasana langsung membeku.Satu kata sederhana itu terdengar biasa saja, tetapi ketika keluar dari mulut Harris, tekanan yang dibawanya terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman mana pun.Jantung para anggota Keluarga Viresta yang masih berdiri di lokasi langsung berdegup kencang.Satrio sendiri merasakan bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya yang sudah tegang sejak tadi kembali bergetar tanpa sadar.Pada saat yang sama, sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benaknya. Ada sesuatu yang terasa janggal. Dengan kekuatan yang dimiliki Harris, membunuh mereka semua seharusnya bukan perkara sulit. Jika pemuda itu benar-benar ingin menghabisi mereka, tidak seorang pun di tempat ini yang mampu melarikan diri.Lalu mengapa mereka justru dibiarkan pergi?Apakah Harris takut pada pembalasan Keluarga Viresta?Atau mungkin ia
"Benar! Aku pasti sedang bermimpi!" teriaknya sambil menunjuk Harris dengan tangan gemetar. "Ini pasti mimpi! Bocah sepertimu tidak mungkin memiliki kekuatan seperti ini!"Ucapan itu membuat banyak orang tanpa sadar melirik ke arahnya dengan tatapan aneh, seolah sedang melihat seseorang yang kehilangan akal sehat.Harris perlahan menoleh. Sorot matanya dingin dan tenang tanpa sedikit pun emosi. Lalu, ia mulai melangkah menuju Bambang.Tap. Tap. Tap.Setiap langkah terdengar jelas di tengah suasana yang sunyi mencekam.Seketika orang-orang di sekitarnya buru-buru menyingkir. Kerumunan terbelah seperti air yang menghindari batu besar, meninggalkan Bambang berdiri sendirian tanpa siapa pun di sisinya. Rasa takut yang sebelumnya ia tekan akhirnya meledak sepenuhnya.Saat Harris semakin mendekat, Bambang tanpa sadar mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat pasi, sementara suaranya terdengar keras tetapi tidak mampu menyembunyikan kepanikan yang menguasai dirinya."Apa... apa yang ingin kau
Namun, di dalam jangkauan pandangan Harris, eksistensi para kultivator dunia sekuler ini tidak memiliki nilai apa pun jika dibandingkan dengan para tentara bayaran tadi. Lemah dan terlalu ringkih untuk dihancurkan.Satu pukulan tangan kiri Harris melayang, satu kultivator kehilangan struktur dadanya dan mati. Satu tebasan Pedang Palung Merah mengayun, satu nyawa kultivator merosot menjadi jasad tak berjiwa. Tidak ada satu pun dari belasan petarung elit itu yang memiliki kelayakan untuk bertahan hidup setelah menerima lebih dari satu serangan dari Harris.Satu per satu, tubuh para kultivator berjatuhan. Bau anyir dan darah menggenang luas, memenuhi halaman vila keluarga Arkana dengan nuansa kematian yang pekat.Jeritan kesakitan bergaung bersahut-sahutan di mana-mana.Sampai akhirnya, setelah lebih dari enam puluh tentara bayaran elit dan empat kultivator tangguh dieksekusi mati secara brutal, sisa pasukan keluarga Viresta yang masih bernapas akhirnya mengalami keruntuhan mental secara
“Lihat makhluk itu, dia berubah!” Suara Liora terdengar tegang, nyaris tenggelam oleh dengungan medan yang kembali hidup. Cahaya biru berkedip tak stabil, seperti denyut nadi yang dipaksa bekerja di luar batas.Harris berdiri di tengah ruang rawat, matanya tajam. “Apakah dia sedang berusaha meniru?
Namun saat itu, telinganya menangkap suara sangat pelan dari arah kamar mandi.Ia tersenyum miring. “Ah… jadi masih ada satu lagi.”Ia menatap Reno dengan mata dingin. “Kalau kau tak patuh, aku akan membunuh orang tuamu. Dan adikmu yang bersembunyi di kamar mandi.”Ia tertawa pelan. “Berapa umurnya
Namun Kayla tetap berdiri di tempatnya. “Aku tidak akan membiarkanmu maju.”Sikap keras kepala Kayla membuat kepala Harris Gunawan terasa berdenyut. Ia tahu gadis itu tidak bermaksud buruk. Bahkan, mereka pernah menghabiskan waktu bersama. Justru karena itulah Harris berada dalam dilema, ia tak mun
Harris mengangkat tangannya, menghentikan langkah Liora sebelum wanita itu benar-benar berbalik. “Liora.” Suaranya datar, namun mengandung perintah yang sulit diabaikan. “Jangan sentuh Sera.”Liora menatap tangannya sendiri yang terhenti sebelum menaikkan wajah, ia menatap Harris dengan tatapan pen







