แชร์

Bab 130

ผู้เขียน: Martimbul siregar
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-02 15:37:26

Panji Sanjaya, mencari keberadaan perguruan kelelawar dan tiba di perguruan itu saat sore sudah datang.

"Apa ini perguruan kelelawar?" teriak Panji saat tiba di perguruan ini.

"Iya, apa yang kau inginkan anak muda?"

"Aku ingin bertemu dengan ketua kalian!"

"Apa kau pikir bisa semuda itu datang, dan ingin bertemu dengan ketua Palka?"

"Suruh saja dia keluar, atau kalian semua akan mati!" desis Panji.

"Keparat, kau pikir kau siapa?"

Teriakan keras itu menarik perhatian ketua Palka, dan ia dat
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 150

    Dua hari telah berlalu, dan jika rencana Panji berjalan lancar, maka semua tahanan yang ada di dalam penjara akan mendapatkan semua kekuatan mereka yang terkunci oleh totokan Ki Ganda, ketua perguruan kalajengking hitam. "Sanjaya, kenapa kau menatap ke arah bangunan itu?" tanya Satia."Tidak ada, aku merasa kalau bangunan itu sangat bagus!" jawab Panji."Hahah, disanalah ketua besar berada Sanjaya, dan mungkin mustahil bagi murid seperti kita untuk masuk ke bangunan itu!" kata Satia. "Memangnya siapa yang boleh masuk ke bangunan itu?" tanya Panji."Hanya para guru, dan murid-murid perguruan yang memiliki bakat tinggi!" kata Satia. "Begitu ya!" kata Panji."Iya," jawab Satia.Namun bukan itu yang Panji pikirkan, Panji hanya memikirkan bagaimana caranya masuk ke dalam bangunan itu, tanpa ada yang tahu. "Saat Ki Pamungkas dan para tahanan buat masalah, pasti akan terjadi kekacauan dan harapanku, ketua besar perguruan ini akan ikut turun tangan!" kata Panji Sanjaya dalam hatinya."Bai

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 149

    Di dalam ruangan penjara bawah tanah perguruan kalajengking hitam, Panji Sanjaya, Satia dan Cukita berada disana, untuk berjaga dan akan digantikan saat pagi datang di lusa besok.Namun, bagi Panji, itu adalah sebuah keberuntungan yang tak terduga. Dia awalnya akan kesulitan menemukan dimana keberadaan penjara, namun kini ia malah dikirimkan ke dalam penjara itu.Bersama dengan Satia dan Cukita, Panji membagikan makanan untuk para tahanan, dan tatapan mata mereka sudah mulai kosong karena terlalu lama di dalam tahanan itu."Kasihan ya," kata Panji pada Cukita. "Iya, tapi meskipun kita kasihan, mereka adalah musuh perguruan ini. Mereka musuh ketua besar kita, Ki Ganda!" kata Cukita."Iya, jangan coba-coba kasihan pada mereka, Sanjaya. Kita akan berada dalam masalah!" kata Satia pada Panji."Aku tahu, aku tahu apa yang akan aku lakukan? Tak mungkin aku akan melakukan hal yang buruk. Itu akan membuat kita bertiga dalam masalah!" kata Panji."Ternyata kau paham juga!" kata Satia dengan n

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 148

    Wakil Sabak menatap Panji saat masuk ke dalam rumah panggung, dan tatapannya menyiratkan kalau ia sangat inginkan Panji Sanjaya jadi muridnya."Masalah dengan guru Japra akan aku urus nanti, mendapatkan bocah itu yang paling utama!" kata wakil Sabak."Apa lagi yang kalian tunggu, permainan sudah selesai, bubar!" teriak wakil Sabak pada semua orang. "Baik, wakil ketua!""Teruskan latihan kalian!" teriak wakil Sabak lagi. Meskipun ingin tahu apa lagi yang akan terjadi selanjutnya, pada akhirnya orang-orang memilih untuk pergi dan tinggalkan halaman rumah panggung guru Saha."Aku akan dapatkan bocah itu!" kata wakil Sabak.Setelah itu ia berjalan ke arah rumah panggung yang ditinggali oleh guru Saha dan tiga muridnya.Wakil Sabak berjalan ke rumah panggung guru Saha, dan masuk tanpa permisi."Wakil Sabak," kata guru Saha dan berikan hormat. Namun perhatian wakil Sabak tertuju pada Panji, yang mana tangannya saat ini sedang di perban oleh guru Saha. "Bagaimana keadaan tulangnya?" tany

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 147

    Satu hari di perguruan Kalajengking hitam, Panji masih berusaha untuk melihat keadaan, tanpa mencoba untuk langsung bergerak. "Aku harus tenang, jika tidak masalah akan datang padaku!" ucap Panji.Panji pun sadari akan hal itu. Jadi ia harus bergerak pelan-pelan, dan tak mau terburu-buru. "Selama aku tahu nenek masih hidup, maka aku akan bawa nenek keluar dari perguruan ini!" ucap Panji.Hingga, hari kedua."Sanjaya, aku bawa pakaian perguruan untukmu, kau harus kenakan ini!" kata guru Saha, dan berikan pakaian berwarna hitam itu pada Panji.Dengan berat hati, Panji menerima pakaian kebesaran perguruan kalajengking hitam itu. "Maafkan aku guru!" gumam Panji dalam hatinya. Meskipun merasa berat hati, tapi Panji tetap gunakan pakaian itu. Dan kini Panji sudah jadi murid perguruan kalajengking hitam."Kita mulai latihan dasar!" kata guru Saha. "Baik!" kata Panji dan dua murid perguruan itu. Haaa!!Mereka berteriak bersama, dan mulai latihan dasar dari perguruan kalajengking hitam.

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 146

    Tuan Barkah dan Panji Sanjaya diterima oleh salah satu wakil ketua di perguruan kalajengking hitam, wakil Sadak, namanya. "Maksudnya, putramu akan belajar ilmu kanuragan disini, tuan Barkah?" tanya wakil Sadak."Iya, tuan Sadak. Aku yakin putraku akan baik-baik saja jika berada di perguruan ini!" kata tuan Barkah."Sudah jelas di akan baik-baik saja. Tapi tuan Barkah tahu bukan kalau semua ini tak gratis?" "Jelas aku tahu tuan Sadak!" kata tuan Barkah dan letakkan dua kantong koin emas di atas meja.Mata tuan Sadak terbuka lebar, dan ia menerima dua kantong koin emas itu, yang mana dia simpan di dalam lacinya."Dengan ini, putra tuan Barkah sudah kami terima di perguruan ini!" kata wakil Sadak. "Benarkah itu?" "Iya, tuan Barkah!""Kau lihat Sanjaya, kau diterima di perguruan ini!" kata tuan Barkah. "Iya, ayah! Aku senang sekali!" kata Panji Sanjaya."Kalau begitu, aku akan pergi, aku percayakan putraku pada perguruan ini!" kata tuan Barkah. "Iya, tuan Barkah!" kata wakil Sadak.

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 145

    Huppp!!Panji melesat dari rumah Ki Samara, dan langsung awasi perguruan kalajengking hitam dari jauh. "Perguruan ini sangat ketat, dan tak mungkin bagiku masuk dengan mudah ke dalam perguruan ini!" ucap Panji.Panji melihat dari segala arah, namun ia tak menemukan satu pun celah untuk masuk dengan mudah ke dalam perguruan itu. Apalagi Panji belum tahu seluk beluk dari perguruan itu. Itu jelas akan menyulitkan Panji. Salah sedikit, malah Panji akan ditangkap, dan itu akan membahayakan nyawa neneknya. Itu tak mungkin Panji inginkan. "Bagaimana cara masuk ke dalam perguruan itu?" gumam Panji bingung. Merasa tidak memiliki cara untuk masuk, Panji melesat tinggalkan area itu, dan menuju ke perguruan Teratai Salju. "Ketua Saban, aku ada diluar, apa kita bisa bicara?" ucap Panji lewat suara dan kekuatan bathin tepat pada Ki Saban. Setelah itu, Panji menunggu di belakang perguruan Teratai Salju, dan ia yakin kalau ketua perguruan itu akan datang. Tak berapa lama, satu tubuh melayang d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status