공유

Bab 145. Sang Asal.

작가: RKamila
last update 게시일: 2026-10-19 13:58:37

“Kalian memberiku ribuan tahun untuk mempelajari ketakutan manusia! Setiap pengkhianatan, setiap peperangan dan setiap anak yang dibunuh atas nama keselamatan dunia yang telah memberiku kekuatan!” lanjutnya.

Naga Langit menggeram lebih keras, hingga raksasa bersisik itu berusaha menerjang Sang Asal, tetapi rantai hitam yang menghubungkannya dengan Sekar menarik tubuhnya kembali.

Untuk pertama kalinya, kemarahan di mata merahnya berubah menjadi kepanikan yang nyata.

“Lepaskan dia!” raung Naga
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 147. Darah yang Mengingat Asal-usulnya

    Jaya merasakan kehadiran Ratri dan untuk pertama kalinya sejak duel dimulai, gerakan Sang Pertama mulai melambat. Bukan karena kekuatannya berkurang, melainkan karena Jaya mulai melihat celah di antara setiap serangan. Sang Pertama selalu bergerak menuju titik yang paling ditakuti lawannya, seolah seluruh pertarungan merupakan permainan untuk memaksa Jaya menyerah kepada ketakutannya sendiri.Jaya berhenti menyerang.Sang Pertama mengernyit. “Apa yang kamu lakukan?”“Aku berhenti berusaha menjadi dirimu!” jawab Jaya menurunkan pedangnya sedikit.Lalu membiarkan cahaya Pedang Hening mengalir mengikuti napasnya, ia tidak lagi mencoba menandingi kecepatan lawan atau membuktikan bahwa darah Wiratama membuatnya lebih kuat. Ia hanya memperhatikan setiap gerakan, setiap perubahan napas dan setiap celah yang muncul ketika Sang Pertama menyerang dengan amarah.Ketika pedang berlumuran darah kembali menyambar, Jaya memutar tubuh dan menggeser bilah beningnya ke samping. Pedang mereka bersen

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 146.Lelaki yang Memiliki Wajah Sang Pewaris

    Pintu hitam itu terbuka semakin lebar, memperlihatkan ruangan luas yang dipenuhi rantai-rantai menggantung dari langit-langit. Di tengahnya berdiri seorang lelaki dengan wajah serupa Jaya Wiratama, tetapi matanya merah menyala dan rambutnya memutih hingga ke ujung. Pedang berlumuran darah berada di tangannya, sementara di belakang tubuhnya terbentang bayangan ribuan manusia yang seolah membeku dalam jeritan terakhir mereka. Sosok itu menatap Jaya dengan senyum tipis, seperti seorang ayah yang akhirnya bertemu anaknya setelah penantian panjang.“Jadi, inilah pewaris yang mereka banggakan,” katanya. “Kamu memiliki wajahku, darahku, bahkan pedang yang dahulu menjadi milikku! Sayang sekali,kamum masih terlalu lemah untuk memahami mengapa dunia ini harus dihancurkan!”Jaya tidak segera menjawab, ia merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya, bukan sekadar kekuatan yang bangkit. Melainkan kenangan yang bukan miliknya sendiri. Ia melihat kilasan medan perang, istana yang terbakar, serta

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 145. Sang Asal.

    “Kalian memberiku ribuan tahun untuk mempelajari ketakutan manusia! Setiap pengkhianatan, setiap peperangan dan setiap anak yang dibunuh atas nama keselamatan dunia yang telah memberiku kekuatan!” lanjutnya. Naga Langit menggeram lebih keras, hingga raksasa bersisik itu berusaha menerjang Sang Asal, tetapi rantai hitam yang menghubungkannya dengan Sekar menarik tubuhnya kembali. Untuk pertama kalinya, kemarahan di mata merahnya berubah menjadi kepanikan yang nyata.“Lepaskan dia!” raung Naga Langit. “Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan tubuh ibuku!”Sang Asal hanya menggerakkan satu jarinya dan membuat tubuh Naga Langit terhempas ke tanah, menghancurkan pilar-pilar batu di sekitar gerbang. Suara benturannya membuat seluruh lembah berguncang, Jaya menyadari bahwa kekuatan makhluk yang selama ini dianggap sebagai ancaman terbesar ternyata belum seberapa dibandingkan sosok yang kini menguasai Sekar.Namun, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi sesaat kemudian. Naga Langit tidak m

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 144. Iblis yang Bersembunyi di Balik Naga Langit

    "Tetapi ketika segel itu mulai terbuka, ikatan itu justru berbalik! Kini bukan hanya dia yang terancam! Jika aku mati sebelum ikatan ini diputus, seluruh kekuatan yang selama ini kutahan akan kembali kepadanya,” imbuh Sekar. Naga Langit menggeram, mencoba mundur, tetapi tubuhnya justru tertarik ke arah Sekar. Bayangan hitam di sekelilingnya berubah menjadi rantai-rantai yang melilit kedua tubuh mereka.Menyatukan ibu dan anak yang telah terpisah oleh kebohongan selama berabad-abad.Wiraga mengangkat Pedang Hening, tetapi wajahnya berubah serius.“Tidak ada waktu lagi,” katanya. “Jika ikatan itu mencapai inti segel, Naga Langit akan memperoleh kekuatan yang tidak pernah dimilikinya sebelumnya!”Jaya menatap Sekar, lalu memandang Naga Langit yang sedang berjuang melawan rantai-rantai tersebut. Ia akhirnya melihat jalan yang mungkin selama ini terlewatkan oleh para penjaga, yaitu mereka tidak harus membunuh makhluk itu atau mengorbankan seseorang untuk menggantikannya. Namun, memutus

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 143. Luka yang Diwariskan

    Air mata mengalir di wajah Sekar. Ia tidak membantah, sebab di balik kemarahan makhluk itu tersimpan kebenaran yang tidak dapat ia hapus dengan alasan apa pun. Ia memang pernah mencintai anaknya, tetapi ketika kekuatan gelap mulai menguasai jiwa pemuda itu, ia memilih menyelamatkan dunia dengan mengorbankannya.“Aku tidak akan pernah berhenti untuk mencintaimu, Jatmika,” bisik Sekar. “Hah? Cinta?” Naga Langit tertawa pahit. “Kamu menyebutnya cinta? Ketika kamu membiarkan mereka merantai tubuhku, merenggut namaku, lalu mengubahku menjadi monster yang ditakuti anak cucuku sendiri?”Jaya menggenggam Pedang Hening semakin erat, ia mulai memahami bahwa kebencian Naga Langit bukan lah sekadar keinginan untuk menguasai dunia. Karena di balik kehancuran yang dibawanya, terdapat luka yang diwariskan oleh seseorang yang pernah ia percayai sepenuh hati. Namun, memahami penderitaan bukan berarti membenarkan kehancuran yang telah ditimbulkannya.“Kalau kamu memang anak Nenek,” ujar Jaya, “meng

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 142. Dosa yang Dilahirkan Seorang Ibu

    Jaya segera memandang kekasihnya dan di balik kain yang robek, terlihat lambang bunga yang dikelilingi oleh tiga bilah pedang. Lambang itu kini berubah menjadi merah, sementara garis-garis hitam merambat dari pusatnya menuju leher Ratri. Jaya akhirnya memahami bahwa Ki Jagat tidak sekadar menarik Ratri ke dunia lain, ia sedang menjadikan perempuan itu sebagai penghubung antara kehendak Jaya dan segel terdalam.Berharap keduanya akan membuka pintu yang selama ini tidak dapat ditembus oleh Naga Langit.Jaya melangkah mendekat, mengangkat Pedang Hening.Ratri menggeleng ketika melihat bilah itu diarahkan ke lambang di dadanya. “Jaya, jangan! Kalau kamu salah menghitung kekuatannya, aku bisa…,”“Aku tahu,” potong Jaya lembut. “Aku tahu risikonya!”“Kalau begitu, jangan lakukan sesuatu hanya karena kamu takut kehilangan aku,” pinta Ratri. Jaya menatapnya lama, dalam tatapan itu terkandung seluruh kesedihan yang tidak pernah mampu ia ungkapkan.Juga janji yang telah mereka buat, ketika m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status