LOGIN“Aahh … hmmh! Aku mau lagi!” Selvi mengigit selimut untuk menahan desahannya.
Saat Sri keluar dari kamar mandi, ia menyapu dan membersihkan kamar Selvi. Tapi majikannya itu tetap membungkus dirinya dengan selimut. Makanan di meja juga belum disentuhnya.Sri kemudian mendekat. “Nona, apa makanannya tidak sesuai selera?”“Tidak, aku akan makan bentar lagi. Hanya saja aku mau tidur sebentar!” teriaknya dari balik selimut dengan nafas tersengal.“Okedeh, kalo gKali ini Rara yang mengambil alih tapi melihat batang Bayu membuat pikiran lain muncul di benaknya.“Apa aku boleh melakukan ini?” Dengan kedua tangannya Rara menyentuh batang Bayu lalu menjilat ujungnya. “Yah … kalau begitu coba puasin aku!” tantang Bayu.Batang Bayu mulai dimasukkannya ke dalam mulut, Rara mengulumnya keluar masuk terus hingga masuk ke dalam tenggorokan. Sedangkan Bayu yang mulai merasa keenakan sampai mengeluarkan cairannya. Namun, karena kehabisan nafas Rara mengeluarkannya dengan cepat.“Hakk … haah, ahh!”Cairan muncrat di wajah Rara membuatnya merasakan lengket dan bau khas milik pria. Tapi dengan santai ia mengelapnya dengan tisu karena hal seperti ini sudah biasa terjadi padanya.Dulu beberapa kali para pria hidung belang selalu menyuruhnya melakukan sepong dan mereka kadang mengeluarkan di mulut atau di wajah. Tapi ada pula yang mengeluarkan cairannya di buah dada Rara yang montok.
Dengan menatap wajah atasannya ia berbicara dengan sangat yakin akan informasi yang didapatkannya. “Kamu yakin? Jadi di mana dia tinggal?” Wajah Farhat berubah, sorot matanya tampak tegang hampir tidak berkedip dan sesekali menelan ludah. “Wanita yang Bos temui di malam Anda sedang dalam pengaruh obat-obatan. Akhirnya saya menemukan identitas aslinya setelah beberapa tahun penyelidikan.” “Katakan!” Farhat sangat tidak sabar. “Namanya Sari dia tinggal di kawasan kumuh pinggir kota. Alasan kenapa kita tidak menemukannya karena banyak data orang yang tidak diketahui atau tidak lengkap jika tinggal di sana.” Lukas kembali melanjutkan, “Sari adalah seorang pelacur dari rumah bordil yang dimiliki oleh seorang mucikari licik bernama mami Riska. Katanya dia sempat menghilang selama satu Minggu dan setelah saya cocokkan waktu kejadiannya sama.” “Maksudmu dia menghilang pada saat yang sam
“Ohh … oke nggak apa jadi kami berdua saja yang pergi.” Teo ikut pergi bersama Joni. “Bayu, kamu nggak ikut keluar juga?” tanya Dion. Bayu bergeleng pelan. “Nggak ah, aku mau pergi ke tempat lain hari ini.” “Mungkin aja dia mau ketemuan sama pacarnya. Cowok setampan dan sekeren Bayu masa nggak pergi kencan?” caletuk Rian. “Kalian ini ikut campur banget hidup orang. Dah aku cabut duluan ya, mau ketemuan dulu sama Fitri.” Sandro berangkat pergi lebih dulu. “Heleh, Sandro mentang-mentang ganteng dan punya pacar tiap Minggu ketemuan terus,” gerutu Dion. Bayu berjalan ke pintu keluar. “Kalau gitu aku juga cabut ya.” “Iya, selamat bersenang-senang Bayu!” teriak Rian karena Bayu sudah sampai di luar. Kemudian Bayu meminjam mobil di bawah yang bisa dipakai oleh anggota. Sebenarnya di hari sebelumnya Bayu mendapatkan pesan dari Stevia yang menghubunginya secara diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya. Sementara Bayu tentu saja langsung setuju untuk menemuinya. Beberapa hari
“Untung saja aku bawa kamu masuk, aku tahu pasti tadi kamu mau duduk di sana dan nonton kan? Tapi aku yakin kamu nggak tertarik sama bola jadi pasti nggak enak juga cuma duduk aja.” Mendengar suara Teo di bawah ranjangnya membuat Bayu mengangguk karena apa yang dikatakan itu benar. “Iya juga, aku memang tidak terlalu mengerti apapun tentang bola. Jadi ….” “Heum, itu dia kamu pasti akan nggak enakan di sana. Makanya aku dorong kamu masuk,” sahut Teo. Bayu tidak lagi berbicara karena ia mulai memejamkan matanya bersiap untuk segera tidur. Begitu juga dengan Teo yang tidak lagi bersuara melainkan kini hanya suara dengkurannya yang terdengar. Malam berlalu … dan esok harinya Bayu berada diluar. Hari ini mereka tidak ada misi yang harus dijalankan. Di sore hari Bayu masih berada di luar bersama Teo. Mereka habis berjalan-jalan di sekitaran mall karena Teo lebih dulu mengajak Bayu. “Jadi apa tidak ada yang ingin kamu makan?” tanya Teo. “Tidak, aku sudah kenyang,” jawab Bayu.
“Jadi kamu curiga kemungkinan dia ada di sana?” Alex memajukan tubuhnya ke depan agak sedikit condong dengan tangan yang bertumpu di pahanya.“Itu benar, awalnya aku berpikir jika mereka tidak ditemukan di kawasan pemukiman peisir pantai. Bukankah ada kemungkinan penculik itu membawa korban sampai ke pulau terpencil itu? Belum lagi tempat itu sangat mendukung aksi kejahatannya,” jelas Bayu.Sambil memegang dagunya Alex mengangguk setuju. “Tapi bukankah ada kemungkinan juga mereka tidak akan kamu temukan di sana? Apa kamu bertindak mengikuti naluri?”Pandangan Lex masih menatap lekat Bayu. Ia mendengarkan setiap penjelasannya dengan seksama.“Ya, itu tentu saja. Aku mengikuti naluri karena bisa saja dia membawanya ke sana dan lagi jika tidak ada. Toh, tidak ada ruginya jika hanya mencari di sana jika tidak ada maka bisa cari di tempat lain.”Kemudian Bayu kembali berbicara, “Tadinya aku berniat pergi ke sana sendirian dan meminta Joni untu
Dian balas memeluk ayahnya. “Ya aku rasa ini memang salah ayah. Tapi bukan karena waspada.” Tiba-tiba Dian melepaskan pelukan sang ayah. “Itu karena kesalahan yang pernah ayah ambil di masa lalu!” Rudi mengerutkan alis, ia sama sekali tidak mengerti apa maksud putrinya. “Kesalahan-kesalahan di masa lalu?”“Benar karena kesalahan itu aku jadi menimpaku sekarang. Apa ayah ingat Danang? Dia mantan supir ayah kan?”“Itu benar, dan dia yang sudah menculikmu!” Kedua tangan Rudi mengepal, pandangannya yang tadinya lebur kini mengeras saat nama Danang diucapkan.“Itu karena ayah memanfaatkannya dengan melimpahkan kesalahan kak Erwin yang telah menabrak seseorang hingga tewas. Tapi ayah malah melimpahkan kesalahan itu pada Pak Danang!”Saat itulah Rudi akhirnya menyadari kesalahan besar yang pernah dilakukannya dulu. Karena kesalahan itu putrinya nyaris jadi korban balas dendam terhadap dirinya.“Ya … kamu benar itu a







