LOGINAngel Lee memiliki segalanya, hidup yang sempurna bak putri raja. Hanya ada satu hal yang tidak bisa ia miliki yaitu hati Jaydan Kim--lelaki yang menolak cinta dan menghadiahi luka mendalam pada Angel. Anehnya, ketika kemalangan melanda hidup Angel, lelaki itu justru mendekat. Mengulurkan tangan dan memberi senyum yang tak pernah dia berikan sebelumnya. Angel tidak tahu apa alasan di balik perubahan sikap Jaydan itu. Apakah Jaydan benar-benar mengerti dirinya sesuai dengan apa yang ia harapkan atau hanya sekadar tebusan untuk rasa bersalah yang lelaki itu rasakan. Who knows.
View MoreZACH
People think being alone makes you tough.
It doesn’t. It just makes you hollow. Makes you echo. And I’ve been echoing my entire life.
I don’t remember my parents. Not really. Just pieces.
A laugh. A scream. A lullaby that never had an ending.
Everything else came from the system.
Group homes. Foster dads who drank too much. Foster moms who pretended I was furniture. Friends who lasted two weeks before we got reassigned.
You learn not to get attached when everything you love gets taken.
You learn to keep your bag half-packed. And you learn really fast that nobody’s coming to save you.
I’m nineteen now. Legally an adult. Technically free. But I’ve got no blood ties, no inheritance, no safety net.
What I do have?
A board. A beat-up pair of Vans. And a record that’s just clean enough to keep me out of jail but dirty enough to keep cops watching.
I work under the table for a mechanic named Mags who pays in cash and lets me crash in the garage when it rains.
When it doesn’t, I sleep wherever I can.
A train yard. The roof of a liquor store. Sometimes under the skatepark bleachers if I’m lucky. Most nights, I’m not.
Tonight, I’m posted up behind a liquor store off 9th Street, the buzz of neon flickering like a warning sign.
It’s cold. Too early in the season for it, but then again, the weather doesn’t care if you’ve got nowhere to be.
I’ve got my hoodie pulled low, backpack as a pillow, hoodie strings tangled in my fingers. And I’m staring at the stars like they owe me an explanation.
Why me?
Why the hell am I still here?
A car pulls up. Not a cop car. Not junk either. Something sleek. Low to the ground. Quiet. Too quiet for this part of town.
I don’t move, but my hand slides toward my pocket. I’ve got a blade. Not much, but enough to make someone think twice.
A door opens. A girl steps out.
She doesn’t see me at first.
She’s in heels. Not hooker heels, just… expensive. Dress like silk. Hair loose and light — dirty blonde, catching the streetlight like it’s trying to make her glow.
She walks into the store like she owns it.
Doesn’t even glance around.
Which means she’s either stupid… Or dangerous.
I sit up. Not sure why. Something about her feels off. Not in a bad way.
Just… unreal. Like she doesn’t belong here — and maybe that’s the point.
Five minutes later, she walks out with a brown paper bag and a candy bar. No receipt.
I catch a better look at her face as she walks back to her car.
Big blue eyes. Not cold, just unreadable.
Skin that isn’t pale but isn’t tan either. That smooth, sun-kissed kind of soft you only see in magazines.
She opens her door, hesitates. Looks my way. Sees me. Our eyes lock. And everything in my chest tightens.
She doesn’t scream. Doesn’t flinch. Just… watches me. Like she knows me. Like somehow, in some other world, we’ve done this before.
Then she smirks. The tiniest curl of her lip. And gets in the car. Drives off.
I’m left staring at the street like a punch just landed in my ribs.
What the hell was that?
I should forget her. People like that don’t remember people like me. But I already know I won’t.
Something about her feels like a glitch in the universe.
Like maybe… for a second… I wasn’t invisible.
I don’t sleep that night. Can’t. I keep thinking about the way she looked at me. Not scared. Not curious.
Just… knowing.
And it makes me wonder if maybe she’s hollow too. Maybe she echoes like I do.
And if that’s true? God help me.
Because I think I just saw the girl who’s gonna wreck whatever’s left of me.
The next morning, Mags has me unloading tires behind the shop. Sweat sticks to my shirt, my hands are coated in grease, and my muscles ache in that way I’ve come to like, because pain is better than numb.
“Payday’s Friday,” he grunts. “Don’t ask early.”
“Wasn’t gonna.”
He tosses me a water bottle anyway.
“You good, kid?”
I pause. Then nod. Because what else am I gonna say?
I saw a girl last night who looked like a fever dream and now I can’t stop thinking about the way her mouth curved like she knew how I’d die?
Yeah. No thanks.
After work, I head to the park. Board under one arm, smoke tucked behind my ear.
It’s quiet. Too early for the high school crowd, too late for the morning joggers.
Perfect.
I drop into the bowl and start to move - fast, sharp, all edges and instinct.
Skating’s the only place I feel weightless. Like I can outrun whatever’s chasing me. The noise in my head. The itch under my skin. The way I still wake up hoping someone’s gonna say, “Come home.”
But there’s no home. Just pavement. And pain.
I’m mid-air when I see her again. Leaning against the fence. Watching. Same eyes. Same smirk.
My heart trips.
I land hard. Roll out. Catch my balance. Walk toward her like I’m not about to come undone.
“Stalking me now?” I ask, voice low.
She shrugs. “You looked like you knew what you were doing.”
“I do.”
“That’s rare.”
I blink. “What’s rare?”
“Someone who knows anything.”
She walks closer. Stops just outside touching distance.
“You’re not from here,” I say.
She smiles. “Neither are you.”
And she’s right.
Because I don’t belong anywhere.
But something about her… It makes me want to.
We don’t trade names. We don’t ask questions.
We just sit on the concrete, share a cigarette, and talk about nothing.
But the space between us? It’s loud with something. I don’t know what. Not yet. But I’ll figure it out. Because I’ve never met someone who looks like a doll and talks like a ghost. And I need to know if she’s hollow too.
Because if she is?
Maybe we’re not so different.
Maybe we break the same.
Semuanya masih terasa seperti mimpi bagi Angel. Ujian hidupnya sungguh berat dan dia takjub pada dirinya sendiri karena bisa kuat dan bertahan sampai detik ini. Detik di mana ia bisa mengulang semua adegan demi adegan kehidupannya yang tak menyenangkan hanya dalam ingatan dan kenangan. Mendapat penolakan Jaydan di awal cerita, kehilangan sang ayah, dibenci semesta, berseteru dengan sahabat dan keluarga, bahkan sampai mendapat teror pembunuhan oleh dua orang gila yang dibutakan obsesi dan dendam kesumat.Ujian-ujian itu sungguh berat ketika dijalani namun ketika Angel berhasil melewatinya hanya tersisa perasaan lega terlepas dari hasilnya yang baik atau sebaliknya Angel tidak peduli. Dari semua kejadian yang menimpanya, Angel belajar banyak hal baru. Tentang rasa saling menghargai, pentingnya mempercayai seseorang, persahabatan yang tulus, pentingnya dukungan keluarga. Hal-hal sederhana yang tanpa sadar mampu menjadi penangkal berbagai masalah buruk dalam hidup.Memang
Tubuh Angel menghantam lemari sampai bergetar. Punggungnya terluka terkena pecahan kaca. Gerry terus melakukan serangan bahkan ketika Angel sudah tak berdaya karena lemas. Darah keluar sari telapak tangannya yang tersayat pecahan kaca.“Mati kau Angel Lee!” teriak Gerry siap menginjak bagian dada Angel.Sayang, sebelum aksinya berhasil sebuah tendangan mendarat di punggungnya dan Gerry pun tersungkur. Jaydan pelakunya, dia datang di momen yang tepat.“Angel,” cicit Jaydan khawatir, ia membantu kekasihnya untuk berdiri.Sementara Karel langsung melepaskan jaketnya dan menutupi bagian atas Alessa yang compang-camping. Amarah Karel mendidih, dia ingin melenyapkan Gerry dengan segera namun sekarang yang terpenting adalah Alessa. Lelaki itu ingin memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk sang kekasih.“Kamu tunggu di sini,” kata Jaydan lagi setelah menyisihkan Angel ke tempat yang aman.Tatapan nyalang tak ter
Di tangan Naina ada sebuah boneka beruang yang cukup lucu. Ia mendekati Angel seraya memamerkan senyum mengerikan ala psikopat yang ada di film-film thriler. Tangan satunya lagi memegang belati yang masih berlumuran darah Moca. Darah Angel mendidih detik itu juga, ia ingin berontak tapi waswas Naina menyerangnya dengan benda tajam itu."Kak Angel, kau mau tahu tidak bagaimana caraku menganiaya kucing kesayanganmu?" tanya Naina dengan suara dibuat seramah mungkin."Pertama, aku tangkap dia seperti ini," katanya sambil mencekik leher boneka beruang."Lalu dia mengeong kesakitan, aku yakin kau pasti menangis guling-guling kalau melihatnya. Setelah itu, aku sayat lehernya begini!"Sret!Suara robekan terdengar begitu nyata, Angel membayangkan boneka itu adalah Moca. Napasnya tiba-tiba sesak, dia tidak sanggup mendengar kelanjutan cerita Naina."Setelah itu aku tusuk bagian perutnya sampai seluruh jeroannya keluar seperti ini."Naina mengh
Tangan kanan Gerry menangkup pipi Angel sekuat mungkin, “Tidak usah berlaga bodoh, Angel Lee. Aku muak melihatnya! Ayo jawab, di mana kau melihat Antonio mati, hm?”“Apa urusanmu? Kenapa kau ingin tahu hal itu?”“Aku? Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang anak malang yang harus kehilangan ayah terkasihnya karena monster kejam seperti ibumu. Antonio itu ayahku, Angel Lee, dan ibumu merenggut nyawanya dengan sadis tepat di depan matamu. Kau ingat sekarang, hah?!”Gerry mendorong kepala Angel sampai membentur lantai, Alessa memekik—ingin membantunya tapi tak bisa karena kedua tangannya terikat. Alhasil Alessa hanya bisa menangis sambil memohon ampun pada Gerry.“Kau dan ibumu sama-sama perempuan monster, Angel Lee! Kenapa kau masih hidup, hah? Akan lebih baik jika orang-orang seperti keluargamu mati cepat dan berkumpul di neraka! Tebus semua dosa kalian selamanya!”Angel menangis, dia ingat kejadian
“Tidak usah bangun, kamu berbaring saja,” titah Alessa saat Angel berusaha menyambut kawan baiknya itu. “Iya, kondisimu masih lemah. Tidak kusangka
“Apa ini, kampungan sekali,” ejek salah seorang teman tongkrongan Karel ketika mereka menghabiskan waktu weekend bersama. “Ck, jangan pegang-pegang! Gelang ini mahal asal kalian tahu.”
Jaydan tidak main-main dengan kasus upaya pembunuhan yang menimpa kekasihnya. Laporan itu terus diusut hingga tuntas sampai satu fakta mengejutkan terkuak. Pelaku pengiriman makanan beracun berhasil ditemukan, mereka adalah orang terdekat Angel yang dulu sempat mengklaim diri mereka sebagai teman
Angel sedang duduk di tempat favoritnya di kampus ini, Green Roof, suasana di sana agak panas karena ini memang jamnya makan siang. Matahari sedang ada di puncak langit dan memang Angel yang gila karena memilih tempat itu dari sekian banyak tempat yang bisa ia kunjungi sekarang. Angel mera






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore