LOGINSuara itu terdengar lebih lembut, tetapi Selena tetap diam dan hanya menatap pria di hadapannya dengan waspada.Carsein sendiri merasa ada sesuatu yang familiar dari wanita itu. Saat menatap matanya, ingatan samar tentang hutan, darah, anak panah, dan seorang wanita yang berdiri di hadapannya kembali muncul. Carsein terdiam, menyadari bahwa mungkin wanita inilah yang selama ini ia cari.Sementara Selena tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah Kaisar yang pernah ia selamatkan. Tanpa mereka sadari, pertemuan yang direncanakan Laticia akhirnya terjadi di sebuah jalan kecil di desa tempat Selena merasa aman.Suasana di jalan sempit itu perlahan mulai tenang setelah para pengawal Carsein berhasil menguasai keadaan. Orang-orang yang sejak tadi mengejar Selena dan Emili tidak lagi memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Satu per satu mereka dijatuhkan dan ditangkap, kemudian tangan mereka dibelenggu sebelum dibawa menjauh dari tempat itu.Emili masih berdiri di samping Selena dengan nap
Hari-hari berlalu setelah pertemuan Selena dengan Laticia, dan setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, Selena mulai merasakan sesuatu yang hampir tidak pernah ia miliki sebelumnya.Ketenangan.Desa tempat Laticia menyembunyikannya berada cukup jauh dari ibu kota. Tempat itu tidak terlalu besar, hanya terdiri dari deretan rumah sederhana, ladang yang membentang di belakang pemukiman, serta jalan utama yang setiap pagi dipenuhi para petani dan pedagang kecil. Tidak ada bangsawan yang tinggal di sana, tidak ada penjaga istana yang mondar-mandir, dan tidak ada orang yang peduli dengan siapa Selena sebenarnya.Bagi Selena, tempat itu terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda.Rumah yang disediakan Laticia untuknya juga sederhana, tetapi nyaman. Tidak mewah seperti tempat tinggal para bangsawan yang pernah ia lihat, tetapi cukup untuk membuatnya merasa aman. Ada halaman kecil di depan rumah, beberapa pohon buah di belakang, dan jendela yang setiap pagi membiarkan cahaya matahari m
“Baik.”Han membungkuk dalam-dalam. “Saya akan melaksanakan perintah Anda.”Setelah itu, ia meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Laticia kembali sendirian. Ia belum melanjutkan pekerjaannya dan hanya memandang ke arah jendela sambil memikirkan keadaan di ibu kota.Pricilla pasti sedang mencari cara untuk menyelamatkan dirinya. Laticia sudah menduganya. Ia hanya ingin tahu seberapa jauh wanita itu akan bertindak. Jika Pricilla mencari bantuan dari orang biasa, itu tidak terlalu berarti. Namun jika ada pihak lain yang mampu memberikan informasi dan menemukan Selena, keadaan akan menjadi lebih menarik.Laticia tersenyum tipis. Ia tidak takut Pricilla bergerak. Justru sebaliknya, ia ingin membiarkannya bertindak. Semakin takut Pricilla, semakin besar kemungkinan ia membuat kesalahan dan membuka rahasianya sendiri. Laticia hanya perlu memastikan ada orang yang mengawasi setiap langkahnya.Ia akhirnya mengambil pena dan kembali membaca dokumen. Untuk saat ini, tidak ada yang perlu ia lak
Jawaban itu sederhana, tetapi justru membuat Ema semakin sadar bahwa Laticia tidak pernah benar-benar bergantung pada satu kemungkinan.Bagi Laticia, sebuah rencana bukanlah sesuatu yang harus berjalan persis seperti yang diinginkan. Yang terpenting adalah setiap kemungkinan sudah diperhitungkan dan setiap orang tetap berada di dalam permainan yang ia bangun.Laticia kemudian kembali menundukkan kepalanya pada dokumen di hadapannya."Jadi jangan khawatir."Ema akhirnya mengangguk."Baik, Yang Mulia."Ia membungkuk dan bersiap meninggalkan ruangan, sebelum Ema benar-benar keluar, Laticia kembali berbicara."Dan satu hal lagi."Ema berhenti dan menoleh."Jangan hentikan Pricilla."Mata Ema sedikit melebar."Biarkan dia mencari jalan keluar."Laticia menatap dokumen di tangannya dengan senyum yang sangat tipis."Karena terkadang, jalan yang dipilih seseorang untuk melarikan diri justru menjadi jalan yang membawanya tepat ke tempat yang kita inginkan."Ema tidak mengatakan apa pun lagi. I
Laticia tidak langsung menjawab. Ia tahu apa yang sebenarnya ingin dikatakan Carsein. Hanya saja, pria itu terlalu keras kepala untuk mengatakannya secara terus terang."Aku juga menyadari banyak hal ketika seseorang tidak berada di istana," jawab Laticia akhirnya. "Itu bukan berarti semuanya memiliki arti seperti yang kau pikirkan."Carsein menatapnya lama."Kalau begitu, jangan terlalu dekat dengannya."Laticia mengangkat alis."Kau bilang kau tidak cemburu.""Aku memang tidak cemburu.""Namun kau memintaku menjauh darinya."Carsein terdiam. Laticia tersenyum kecil melihatnya."Carsein, terkadang tindakan seseorang lebih jujur daripada perkataannya.""Aku hanya tidak suka melihatnya terlalu dekat denganmu."Jawaban itu keluar begitu saja. Carsein sendiri tampak menyadari bahwa ia telah berbicara terlalu jujur. Namun kali ini ia tidak menarik kembali perkataannya.Laticia hanya menatapnya beberapa saat."Sayangnya," katanya tenang, "kau tidak bisa menentukan dengan siapa aku boleh de
Pricilla membeku. Ia hanya menatap ayahnya dari balik jeruji tanpa mampu berkata apa-apa. Dari cara Count Seymour berbicara, ia tahu pria itu tidak berniat membawa Selena kembali hanya untuk memberikan kesaksian kepada Kaisar.Jika Selena ditemukan, Count Seymour pasti memiliki rencana lain untuk membungkamnya sebelum semua rahasia mereka terbongkar.“Bawa dia kepadaku,” ulang Count Seymour dengan suara rendah. “Apa pun caranya.”Pricilla menatap bros yang masih berada di tangannya. Benda itu terlihat sederhana, hanya memiliki lambang aneh di permukaannya. Namun setelah mendengar penjelasan ayahnya, ia mulai melihatnya berbeda. Mungkin benda kecil itu adalah satu-satunya jalan keluar yang mereka miliki.Ia mengangguk perlahan. “Baik.”Pricilla segera menyelipkan bros itu ke dalam pakaiannya agar tidak terlihat. Setelah itu, ia berbalik dan meninggalkan lorong penjara. Langkahnya pelan, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai hal.Baru beberapa langkah, suara Count Seymour kembali terdenga
Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamk
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d







