เข้าสู่ระบบLangkah kaki Sean terasa begitu mantap saat ia menyusuri kembali jalan setapak paving block menuju rumah kecil berplang Dapur Mama Liam. Angin pesisir sore itu berhembus lembut, seolah memberi restu atas keberanian yang baru saja ia kumpulkan. Namun, begitu ia mendorong pelan pintu pagar kayu dan melangkah masuk ke halaman kecil yang dipenuhi deretan tanaman hias, tubuhnya tiba-tiba membeku.Alih-alih langsung mengetuk pintu utama seperti niat awalnya, Sean mendadak terpaku di tempat. Kakinya tertahan di atas tanah berpasir halaman, dan seluruh otot di tubuhnya mendadak kaku. Pendengarannya menangkap suara lembut bercampur tawa renyah dari balik pintu kayu yang terbuka separuh, suara yang selama tiga tahun terakhir menjadi bayangan paling suci dalam hidupnya.Dari dalam rumah, suara Stella terdengar sedang membimbing putranya dengan penuh kelembutan."Liam sayang, lukisan perahu kertas ini bagus sekali. Tapi kenapa warna layarnya kamu beri gradasi ungu tua dan jingga? Bukankah laut
Begitu sampai di dekat mobil sedan hitam yang terparkir di ujung gang, Clarissa langsung mencekal lengan Sean sebelum pria itu sempat membuka pintu mobil. Napas Clarissa terengah-engah, menatap kakaknya dengan sorot mata jengkel dan tidak percaya."Kakak kenapa sih udah di depan rumah Kak Stella kenapa malah mundur?!" protes Clarissa dengan nada tinggi tertahan, meluapkan seluruh kebingungannya setelah harus berlari mengejar langkah lebar sang kakak.Sean bersandar pada badan mobil, kedua tangannya mencengkeram tepi pintu dengan buku-buku jari yang memutih. Dadanya naik turun dengan cepat, keringat dingin bercampur angin laut dingin membasahi pelipisnya."Ca, kasih aku napas dulu. Tidak mudah rasanya kakiku melangkah ke sana," ucap Sean dengan suara bergetar parau, mencoba menahan kepanikan yang mendadak melumpuhkan akal sehatnya.Clarissa mendengus keras, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap penampilan kakaknya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kak Sean, tiga tah
Deru mesin sedan hitam mewah yang dikemudikan pengemudi pribadi Clarissa membelah jalanan pesisir, lalu berhenti di ujung jalan kawasan perkampungan nelayan yang padat. Karena Sean tak ingin kehadirannya yang memang menggunakan mobil yang berbeda di antara penduduk kampung akan menarik perhatian warga. Untuk itu dia memarkirkan mobil sedikit lebih jauh dari posisi rumah, Sean dan Clarissa memutuskan untuk turun dan melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan kaki.Sean berdiri terpaku sejenak di tepi jalan setapak yang beraroma khas asin laut. Jemarinya secara refleks meraba janggut lebat dan rambut gondrong yang menutupi sebagian wajahnya. Tiba-tiba rasa gugup yang luar biasa mencengkeram dadanya. Pria itu menoleh ke arah sang adik dengan keraguan yang kentara di matanya."Apa aku harus ke barbershop dulu? Aku harus merapikan rambutku," tanya Sean ragu-ragu.Clarissa melirik kakaknya dari atas hingga bawah, lalu mendengus pelan sambil menggelengkan kepala. "Mana ada di sini barbers
"Maksudmu, pemilik katering Dapur Mama Liam itu adalah Kak Stella yang kita cari selama ini?" tanya Clarissa dengan suara bergetar nyaris tak percaya di dalam ruang praktek rumah sakit yang sunyi.Sean mengangguk tegas, sorot matanya berkilat tajam di balik janggut lebatnya. "Instingku mengatakan begitu. Aku akan lihat langsung dengan mataku agar aku lebih yakin.""Kakak akan ke rumahnya terus bilang kalau Kakak sudah menjadi orang gila yang keliling Indonesia demi mencarinya? Kakak pikir Kak Stella terima itu?" sanggah Clarissa cemas.Sean menelan ludah dengan susah payah, rahangnya mengeras. "Terserah dia mau menerima atau tidak, tapi yang jelas anakku harus diobati! Persetan dengan penilaian dan lain sebagainya, aku mau anakku sembuh!"Seketika, pertahanan fisik Sean runtuh. Pria berpostur tegap itu terduduk lemas di lantai, bersandarkan dinding rumah sakit yang dingin. Tangannya menggenggam erat kertas hasil tes DNA yang akurat, meremas lembaran itu hingga nyaris robek.Seketika
Malam mulai merayap menuruni langit kawasan pesisir, membawa serta hembusan angin laut yang terasa lebih dingin dari biasanya. Di dalam rumah sederhana Stella, suasana tampak kontras dengan keheningan di luar. Stella baru saja kembali dari pasar setelah menyelesaikan sisa pengiriman katering harian, dan kini ia tengah sibuk merapikan buku-buku gambar Liam di ruang tengah.Namun, ada perasaan tidak biasa yang menggelayut di benaknya sejak ia melangkah masuk tadi. Liam terlihat jauh lebih ceria dari hari-hari biasanya. Bocah tiga tahun itu bersenandung kecil sambil memeluk kuas kayu pemberian sang seniman di tempat tidurnya, seolah menyimpan sebuah rahasia besar yang membuat matanya berbinar-binar penuh semangat."Liam, sayang, kamu beneran tidak kecapekan seharian jalan-jalan sama orang baru?" tanya Stella lembut sambil merapikan selimut putranya.Liam menggeleng cepat, tersenyum lebar. "Nggak capek sama sekali, Mama! Tadi Liam seru banget. Om brewokan yang baik itu janji mau ajak L
"Om, beneran Mama tidak akan marah kalau Liam belum pulang?" tanya Liam dengan binar mata penuh harap yang menatap lurus ke wajah pria brewokan di hadapannya.Pria brewokan itu mengangguk pasti, berusaha menampilkan senyuman paling menenangkan di balik janggut lebatnya. "Beneran, jagoan. Nanti Om sendiri yang akan ngomong sama Mama kamu. Sekarang, Liam temani Onty Dokter sebentar ya, mau diambil sedikit darahnya biar cepat sembuh."Clarissa yang berdiri di samping brankar langsung menyiapkan peralatan medis dengan gerakan sigap namun hati-hati. Melihat pendekatan lembut dari sang kakak terhadap anak itu membuat Clarissa semakin diliputi rasa heran. Ada sisi protektif dan kelembutan luar biasa yang jarang sekali ia lihat dari sosok kakaknya selama ini.Setelah proses pengambilan sampel darah selesai tanpa ada tangisan dari Liam berkat bujukan sang seniman, bocah itu diajak bermain sebentar dengan beberapa mainan anak yang disediakan di ruang periksa untuk mengalihkan perhatiannya.Di







