Masuk“Jadi Mas Aksa nggak marah?”
“Nggak, Ta. Aku udah keringat dingin banget, takut langsung ditonjok. Ternyata nggak ada adegan berdarah-darah. Rasanya aku pengin langsung sujud syukur.”Bita tertawa dengan ponsel yang masih melekat di telinganya. Vino meneleponnya beberapa saat lalu dan menceritakan bahwa ia sudah mengatakan semuanya kepada Aksa.Bita sempat khawatir laki-laki itu akan babak belur, tetapi ternyata Aksa tidak marah. Mendengarnya, Bita merasa begitu legVino langsung tersadar begitu menyadari salah satu rekan kerja Bita sedang menatap ke arahnya. Dengan gerakan cepat, ia segera menarik kembali tubuhnya ke dalam kamar dan menutup pintu sebelum perempuan itu sempat memastikan apa yang baru saja dilihatnya. Di sisi lain, Dina mengerjapkan mata berkali-kali. Wajahnya tampak tidak percaya, seolah sedang berusaha memastikan bahwa penglihatannya barusan bukan sekadar khayalan. “Gue nggak tahu apa gue cuma halusinasi, tapi tadi gue barusan lihat Vino.” Ucapannya membuat Bita dan Felis yang sedang sibuk mengumpulkan pecahan cangkir serempak menoleh. Bita bahkan langsung membeku. “Di mana?” tanya Felis. “Di kamar Bita.” Felis sontak melepaskan tawanya. “Mana mungkin Vino ada di kamar Bita! Ngehalu pasti lo!”
“Bita—”Dina dan Felis baru saja hendak menyapanya ketika Bita buru-buru menutup pintu apartemen.Keduanya terdiam di luar.Sementara itu, Bita langsung berbalik dan bergegas menghampiri Vino yang masih berdiri di dekat meja dapur sambil menikmati kopinya.“Gawat!” serunya dengan napas sedikit memburu. “Ada Dina sama Felis!”Vino menurunkan cangkir dari bibirnya. Ia mengerjap, lalu menatap Bita dengan dahi berkerut. “Siapa mereka?”“Teman kantor aku. Sekaligus admin fanbase kamu! Kalau sampai mereka tahu kamu ada di apartemen aku, bisa langsung heboh se-Indonesia Raya!”Vino menahan senyum melihat kepanikan istrinya.Namun, Bita tidak punya waktu untuk memperhatikan itu. Ia segera merampas cangkir dari tangan Vino dan meletakkannya di atas pantry.“Maka dari itu, kamu harus sembunyi sekarang! Ayo!”Bita langsung menarik tangan Vino, membawanya mondar-mandir di area ruang tengah dan dapur. Semen
“Habis ini aku mau mandi, ah,” ucap Bita sembari mengipasi wajahnya dengan balaclava. Lantas perempuan itu teringat sesuatu. “Oh, ya, acara award kamu nanti jam berapa?” tanyanya sambil menoleh kepada Vino. Namun, pertanyaan itu tidak langsung mendapat jawaban. Bita justru mendapati laki-laki di sampingnya sedang menatapnya dengan pandangan setengah melamun. Alisnya bertaut heran. “Kenapa?” Belum sempat Bita mendapatkan jawaban, pintu lift sudah lebih dulu terbuka. Ia pun melangkah keluar, menoleh untuk memastikan Vino mengikutinya. Laki-laki itu masih saja memperhatikannya dengan mulut yang terkunci rapat. Bita hampir membuka mulut untuk bertanya lagi ketika mereka mulai menyusuri lorong menuju unit masing-masing, dengan Vino yang akhirnya menjawab, “Acara utamanya jam delapan. Tapi aku harus udah sampai di sana jam enam. Ada persiapan dulu.”
Bita sontak memberontak ketika salah seorang petugas mulai menarik lengannya untuk membawa mereka keluar dari lobi.“Pak, tunggu dulu! Kami bukan perampok!”Namun, petugas itu tidak menghiraukan protesnya. Genggamannya justru semakin erat hingga Bita sedikit tersentak ketika lengannya ditarik.Melihat perlakuan itu, Vino langsung melotot.“WOY! JANGAN KASAR SAMA ISTRI GUE!”Suaranya menggema di lobi, membuat beberapa penghuni yang semula mulai kembali beraktivitas menoleh lagi.“Lepasin istri gue!” Vino meronta, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman petugas lain yang menahannya dari belakang. “Gue bilang lepasin! Atau gue patahin leher lo sekarang!”“Mas! Tenang dulu!” bentak salah satu petugas.“Gimana gue mau tenang kalau kalian ngasarin istri gue?!”Vino terus berusaha melepaskan diri. Kedua petugas yang menahannya mulai kewalahan menghadapi tenaga laki-laki itu. Sampai akhirnya, dengan satu
Setelah prosesi akad selesai, Bita dan Vino menghabiskan waktu untuk berfoto bersama keluarga dan penghulu. Beberapa foto formal diambil, disusul foto-foto candid yang dipenuhi tawa dan keisengan Vino yang sesekali membuat Bita salah tingkah.Dari KUA, mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Vino. Clara dan Anggun sudah menyiapkan makan siang dengan bantuan Tante Sandra. Berbagai hidangan memenuhi meja makan, membuat suasana rumah terasa semakin hangat ketika kedua keluarga berkumpul untuk merayakan pernikahan mereka.Setelah makan, mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga. Obrolan ringan mengalir begitu saja, mulai dari kejadian selama akad hingga rencana kehidupan rumah tangga kedua pengantin baru itu. Sesekali, Bita dan Vino menjadi sasaran godaan keluarga, terutama ketika pembicaraan mulai menyinggung soal cucu.Bita berkali-kali dibuat salah tingkah, apalagi Vino justru menanggapinya dengan santai. Ketika ditanya berapa anak yang mereka inginkan, la
Bita menoleh, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Gombal.”Vino terkekeh kecil, tetapi tangannya tetap sibuk mengeringkan sisa air mata di pipi Bita. “Ya udah, jangan nangis. Nanti aku ikut nangis.”Bita tertawa lirih di sela isaknya. Dan benar saja, ketika ia melirik wajah Vino, mata laki-laki itu pun sudah mulai memerah.Pemandangan tersebut tidak luput dari perhatian Bram.Sejak awal, Bram tahu betapa besar perasaan Vino terhadap putrinya. Ia sudah melihat sendiri bagaimana laki-laki itu memperhatikan Bita, bagaimana Vino berusaha memahami keinginan dan kebutuhannya, serta bagaimana ia selalu berusaha membuat Bita merasa aman.Namun, Bram juga pernah meragukan kesungguhan laki-laki itu. Terutama ketika Vino mulai sering berganti pasangan.Bram tidak bisa mengabaikan kekhawatiran bahwa putrinya mungkin akan kembali terluka jika suatu hari nanti ia menyerahkan Bita kepada laki-laki yang belum benar-benar memahami arti sebuah k
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino







