Home / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 2 – Tamu yang Tidak Terdaftar

Share

CHAPTER 2 – Tamu yang Tidak Terdaftar

Author: Newa Lim
last update publish date: 2026-04-10 12:30:26

Raka membeku mematung tak mampu bergerak.  Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.

“Ini nggak lucu…” gumamnya pelan, tidak ada jawaban. Ia menelan ludah, lalu dengan gerakan cepat menutup pintu kamar mandi. Klik. Tangannya masih gemetar saat ia memutar kunci pengaman.

Raka langsung meraih ponselnya. Sinyal timbul tenggelam, namun tetap dicoba membuka aplikasi booking tempat mereka menginap tadi. Loading, lama. Kemudian error. Raka mengernyit lalu mengetik ulang nama hotel itu. Masih tidak muncul. Tiba-tiba ada notifikasi masuk. Raka langsung membukanya.

“SELAMAT DATANG KEMBALI.”

Belum sempat ia berpikir, kembali terdengar suara ketukan, kali ini dari pintu kamar.

“Raka! Buka! Cepat!” Suara Naya panik.

Raka langsung berlari ke pintu dan membukanya. Naya berdiri di sana dengan napas terengah.

“Kita harus pergi!” katanya cepat.

“Kenapa? Lo kenapa?” tanya Raka.

Naya menarik dan menyeret Raka masuk ke kamarnya disebelah dan langsung menutup pintu.

“Gue denger suara orang di kamar gue,” katanya. “Awalnya gue pikir lo, tapi...” Matanya melirik ke arah kamar mandi. “Lo juga denger, kan?” Raka mengangguk pelan. Naya menelan ludah, “Oke. Berarti bukan gue doang.”

“Suara apa?”

“Kayak… ada orang jalan. Di dalam kamar mandi. Tapi waktu gue cek, nggak ada siapa-siapa!”

Raka merasakan dingin menjalar di punggungnya.

“Ini tempat nggak beres,” lanjut Naya. “Kita cabut sekarang.”

Raka mengangguk cepat. “Gue setuju.”

Mereka bergerak cepat ke pintu lalu keluar.

Kini lorong lantai tiga terasa berbeda.Lebih gelap dan panjang.

Lampu yang tadi redup kini hampir mati.Berkedip seperti sekarat.

“Cepet,” bisik Naya.

Mereka berjalan cepat menuju tangga. Tiba tiba Raka berhenti mendadak.

“Nay…”

“Apa lagi?”

Raka menoleh ke belakang. “Lo denger?”

Langkah kaki, bukan hanya dua, ada yang lain dari sekedar suara langkah mereka saja, terus mengikuti.

Naya menahan napas. “Jangan nengok.”

“Tapi...”

“JANGAN!”

Mereka mempercepat langkah karena tangga sudah terlihat di depan beberapa meter lagi. Mendadak lampu lorong padam. Gelap. Naya refleks menggenggam tangan Raka. “Raka…”

“Gue di sini.”

Dalam gelap suara langkah itu semakin dekat, lebih banyak, seperti beberapa orang berlari kecil tepat di belakang mereka.

“TANGGA!” teriak Raka.

Mereka berlari menabrak pintu tangga lalu membukanya.

Tiba tiba lampu tangga menyala normal. Sunyi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara lagi. Naya bersandar ke dinding, napasnya kacau. “Gue… nggak kuat kalau kayak gini.”

“Kita keluar sekarang,” kata Raka tegas, kemudian mereka turun tangga cepat hingga tiba di lobi. Lobi terlihat sama seperti tadi, sepi dan redup. Meja resepsionis di depan. Dan pria tua itu masih disana menatap mereka, seolah tidak pernah bergerak sejak mereka datang. Raka mendekat cepat. “Kami mau check-out.”

Pria itu tersenyum tipis. “Belum waktunya.”

“Apaan sih?” Naya langsung naik emosi. “Kami bayar, kami mau keluar sekarang!”

Pria itu tidak marah, hanya menatap mereka dengan mata kosong. “Kalian baru saja check-in, dan malam belum selesai.”

Raka menahan emosi. “Kami nggak peduli. Tolong buka pintu.”

Pria itu hanya mengangkat tangannya perlahan, menunjuk ke arah pintu utama. Terbuka.

Naya langsung menarik Raka. “Udah, nggak usah diladenin. Kita keluar.” Mereka berjalan bergegas menuju pintu. Langkah demi langkah semakin dekat. Hanya tinggal satu langkah lagi, Raka berhenti. Perasaan itu muncul lagi. Aneh. Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya pria tua itu masih duduk. Tapi sekarang ia tersenyum lebih lebar.

“Raka,” bisik Naya. “Ayo!”

Raka mengangguk dan mereka melangkah keluar disambut guyuran hujan. Mobil mereka masih ada di parkiran.

“Masuk!” teriak Naya.

Mereka berlari, lantas masuk mobil. Raka langsung menyalakan mesin. Nyala.

“Gas!” kata Naya.

Mobil bergerak cepat keluar dari halaman hotel. Beberapa saat kemudian, Raka mengerutkan kening.

“Ini…”

“Apa?”

“Jalannya sama.”

Naya menoleh ke depan dan membeku. Di depan mereka tampak hotel itu lagi. Sama persis seolah mereka tidak pernah pergi. “Belok!” teriakan Naya membuat Raka membanting setir, masuk ke jalan lain yang lebih sempit dan gelap. Mereka melaju cepat. Dan beberapa menit kemudian, tampak hotel itu lagi didepan mereka.

Naya semakin panik. “Ini nggak mungkin!”

Raka mengatupkan rahang. “Kita coba sekali lagi.” Ia memutar mobil, lalu menginjak gas penuh keluar dari area itu dan mencoba ke jalan yang berbeda. Sepertinya kearah hutan kosong. Hingga beberapa menit berlalu masih tidak ada penampakan hotel lagi.

Naya menghela napas lega. “Kita berhasil…”

Raka tidak menjawab. Tangannya mencengkeram setir lebih erat.

“Nay…”

“Apa?”

“Lo lihat kaca spion.”

Naya perlahan menoleh dan terhenyak. Di kaca spion, tampaklah hotel itu seperti mengikuti mereka.Terlalu dekat seolah tidak pernah tertinggal.

“RAKA!” teriak Naya.

Raka menginjak rem mendadak. Mobil pun berhenti. Ia menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa, hanya jalan kosong. Hotel itu hilang.

Naya gemetar. “Ini… ini apa sih?”

Raka mencoba berpikir. Logika. Semua harus ada penjelasan, seperti halusinasi misalnya. “Balik,” katanya tiba-tiba.

Naya menatapnya. “Lo gila?”

“Kita nggak bisa keluar,” jawab Raka. “Apapun ini… kita harus hadapi di dalam.”

Naya ingin membantah, tapi urung, karena jauh di dalam dirinya dia tahu jika Raka benar.

Mereka pun kembali dan seperti dejavu, hotel itu muncul lagi di depan mereka, Seakan memang menunggu. Mobil pun berhenti di halaman. Hujan masih turun tapi sekarang terasa lebih pelan seperti waktu terasa ikut melambat. Mereka turun dan melangkah masuk. Pintu terbuka sendiri lagi. Lobi masih sama persis dengan sebelumnya. Pria tua itu masih di tempatnya seolah tahu mereka akan kembali.

“Selamat datang kembali,” katanya.

Naya tidak bicara, begitu juga Raka. Mereka hanya berdiri dalam keadaan basah oleh hujan.

Pria itu perlahan membuka buku tamu hingga berhenti disatu halaman dan mendorongnya ke arah mereka. “Silakan periksa,”

Raka menatap halaman itu. Kosong. Hanya dua nama. Raka dan Naya. Tidak ada nama lain. “Katanya ada tamu lain,” Protes Raka.

Pria itu tersenyum. “Ada.”

“Mana?”

Pria itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah belakang mereka.

Raka dan Naya menoleh. Lorong kosong. Tidak ada siapa-siapa. “Tuh kan...” Naya mulai bicara. , lalu berhenti. Pandangannya mengarah ke ujung lorong, tampak seseorang bertubuh kecil dan berambut panjang berdiri membelakangi mereka.

“Nay?” bisik Raka.

“Iya…, gue lihat.”

Sosok itu perlahan menoleh. Dan saat wajahnya terlihat, Naya terdiam dengan napas tercekat. Karena yang berdiri di sana adalah dirinya sendiri, tersenyum dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh manusia biasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Booking Terakhir   Chapter 74 : Yang Keluar Dari Cermin

    Cahaya putih sangat terang memenuhi Kamar Nol, memaksa Raka menutup wajah dengan kedua tangannya. Di sekelilingnya terdengar suara kaca pecah, orang-orang berteriak, dan sesuatu yang berat menghantam lantai.Kemudian…, sunyi, seolah seluruh dunia baru saja dimatikan.Raka perlahan membuka mata dan menyaksikan Kamar Nol yang telah berubah.Cermin di tengah ruangan hancur berkeping-keping dan anak laki-laki yang tadi berada di dalam cermin menghilang begitu saja."Di mana dia?" Suara Naya terdengar dari belakang.Raka menoleh melihat Naya masih berdiri bersama yang lainnya. Namun para anggota Pemutus yang tadi memenuhi tangga sudah menghilang tanpa satu pun tersisa.Raka mengerutkan kening. "Kemana mereka?"Kustodian tidak menjawab, malah ia menatap lantai yang ternyata terdapat sesuatu diantara pecahan kaca. Sepasang sepatu kecil anak anak.Lantas Kustodian berjongkok dan menyentuhnya dengan tangan gemetar. "Dia keluar."Raka menatapnya."Keluar ke mana?"Kustodian mengangkat wajah. "K

  • Booking Terakhir   Chapter 73 : Jalan Ketiga

    Raka menuruni tangga selangkah demi selangkah, sedangkan di belakangnya terdengar suara benturan pada pintu Kamar Nol yang semakin keras.DUANG! DUANG!Tampaknya seseorang berusaha keras untuk masuk ke dalam.Sementara itu, Ayah Raka berdiri beberapa anak tangga di belakangnya. "Jangan berhenti."Raka tidak menoleh karena masih merasa bingung. "Ke mana tangga ini?""Ke tempat yang tidak pernah masuk blueprint.""Ke tempat apa?""Ke pusat Kamar Nol."Raka berhenti. "Bukankah kita sudah berada di Kamar Nol?"Ayahnya menggeleng. "Ruangan tadi hanya pintunya."Kemudian Raka menatap ke bawah, memperhatikan tangga yang terus turun dan tidak terlihat ujungnya sama sekali. Dinding di kiri dan kanan terbuat dari beton tua yang dipenuhi goresan. Namun semakin jauh mereka turun, semakin banyak gambar dan foto yang muncul di dinding.Gambar dan foto anak-anak, rumah, pohon, wajah, pintu dan ada sebuah gambar yang sama tapi dalam jumlah sangat banyak. Gambar seorang anak sedang berdiri di depan se

  • Booking Terakhir   Chapter 72 : Ingatan Yang Dikunci

    Raka tidak langsung menjawab, sedangkan pria di hadapannya masih berdiri di ambang Kamar Nol."Ayah...," Kata itu keluar begitu saja, membuat pria tersebut tersenyum mendengar kata yang sudah ditunggunya selama puluhan tahun.Lalu Raka mundur selangkah. "Kalau kau ayahku, kenapa aku tidak pernah mengenalmu?""Karena aku yang membuatmu melupakanku." Jawabnya tenang."Kenapa?""Karena kalau kau mengingatku, maka mereka akan menemukanmu.""Siapa?""Aku."Raka mengernyit. "Aku tidak mengerti."Lantas pria itu mulai menjelaskan," Tolong dengarkan." Kemudian ia mengambil sebuah kotak logam dari bawah meja serta langsung membukanya. Raka melihat puluhan benda kecil di dalamnya, seperti kancing, foto, potongan kain, pensil, gelang anak-anak, dan juga sebuah mobil-mobilan merah. Ia mengenali benda itu lalu mengulurkan tangannya."Aku punya ini ketika berumur tujuh tahun." Raka mengambil mobil-mobilan itu.Sebuah kenangan muncul tentang seorang anak laki-laki duduk di lantai yang sedang memper

  • Booking Terakhir   Chapter 71 : Kamar Nol 2

    Setelah sempat terdiam beberapa saat, Kustodian akhirnya menjawab dengan sedikit agak terpaksa, "Orang yang memerintahkan Proyek Kamar Nol.""Siapa yang memerintahkan Proyek Kamar Nol yang sebenarnya?"Kustodian tampak hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun sebelum satu kata pun keluar, Anak itu berteriak dengan suara histeris, "JANGAN!"Seketika itu juga, seluruh ruangan berguncang hebat dan Mesin ketik langsung menyala kembali, disertai oleh tuts yang lagi lagi bergerak sendiri.Tak…! Tak…! Tak…!Selembar kertas baru saja keluar dari sana dan memunculkan satu kalimat baru bertuliskan:KUSTODIAN TIDAK BOLEH MENYEBUT NAMANYA.Akhirnya Kustodian pasrah dan memejamkan mata karena mulai menyerah.Raka bertanya dengan kesal bercampur dengan rasa penasaran, " Sebenarnya siapa yang menulis itu?"Anak itu menjawab. "Dia.""Siapa dia sebenarnya yang dimaksud?"Lalu Anak itu menunjuk ke langit-langit. "Bukan Kustodian, bukan Direktorat, dan juga bukan Pemutus.""Lalu siapa dia?" Suara R

  • Booking Terakhir   Chapter 70 : Kamar Nol 1

    Anak itu tersenyum dengan senyum yang sama persis. Itu wajah Raka yang selama ini hanya pernah ia lihat dalam foto-foto masa kanak-kanak, namun sekarang wajah itu hanya berdiri beberapa meter di depannya."Kamu terlambat," ulang anak itu.Tetapi Raka masih tidak menjawab karena seluruh tubuhnya seperti sudah lupa akan bagaimana caranya bergerak."Siapa kamu?" Akhirnya Raka bersuara.Anak tersebut memiringkan kepala. "Pertanyaan yang salah.""Lalu apa pertanyaan yang benar?""Kenapa kamu keluar?" Ujarnya ketus.Raka mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti."Kemudian anak itu menunjuk dadanya sendiri. "Karena aku tidak pernah keluar." Lalu ia menunjuk Raka. "Kamu yang keluar."Bima tampak terkejut bukan kepalang. "Ini tidak mungkin."Sementara itu, Surya memandang anak itu dengan wajah pucat. "Kamar Nol..."Kustodian langsung mengangkat tangan. "Jangan mendekat."Raka menoleh dengan ekspresi penuh tanda tanya, "Kenapa?""Karena kita belum tahu mana yang asli." Sahut Kustodian cepat.Ana

  • Booking Terakhir   Chapter 69 : Anak Yang Seharusnya Mati

    Tba tiba foto itu jatuh dari tangan Raka.Hanya terdengar bunyi kecil kertas yang menyentuh lantai beton, namun rasanya seperti seluruh ruangan baru saja kehilangan udara.12 Mei 1987 adalah tanggal lahirnya dan wajah anak laki-laki dalam foto itu, tidak lain adalah wajahnya juga. Sama persis identik, bahkan hingga bekas luka kecil di dekat alis kanan.Lantas Raka menyentuh alisnya sendiri yang menyimpan bekas luka yang sudah ada sejak kecil. Selama bertahun-tahun ia mengira luka tersebut akibat jatuh dari sepeda, tapi kini ia tidak yakin lagi.Lalu Naya mengambil foto itu dengan tangan gemetar. "Raka...""Aku tahu.""Tapi ini tidak mungkin.""Aku juga tahu."Sementara itu, Alia berdiri beberapa meter dari mereka dengan wajah terlihat pucat. Dia sendiri tampak seperti seseorang yang baru saja menemukan bahwa ingatan yang selama ini dipercayainya ternyata menyimpan kebohongan. "Aku tidak pernah tahu siapa anak itu," katanya. "Tapi aku pernah melihat foto ini.""Di mana?""Di rumah sak

  • Booking Terakhir   CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

    TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A

  • Booking Terakhir   CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

    “Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,

  • Booking Terakhir   CHAPTER 5 – Kamu yang Membunuh Kami

    “Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J

  • Booking Terakhir   CHAPTER 4 – Satu yang Hilang

    Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status