LOGINNaya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama persis dengan Naya yang berdiri di sampingnya sekarang. Tidak ada perbedaan kecuali satu hal. Senyumnya terlalu lebar dan kaku. Seakan dipaksa tersenyum oleh sesuatu yang bukan manusia.
“Nay.” bisik Raka pelan, “jangan mendekat.”
“Aku nggak…” Naya menggeleng cepat.
Tapi sosok itu bergerak satu langkah ke depan. Suara langkahnya tidak terdengar seolah dia tidak menyentuh lantai.
Raka refleks menarik tangan Naya mundur. “Balik ke kamar. Sekarang.”
“Tapi...”
“SEKARANG!”
Mereka berlari menelusuri lorong yang terasa lebih panjang. Dan di belakang mereka tidak terdengar suara langkah. Tapi Raka tahu jika sosok itu masih mengikuti, bahkan lebih cepat dari sebelumnya, hingga akhirnya sampai di kamar 306. Mereka masuk dan langsung menutup dan menguncinya.
Naya bersandar di pintu, napasnya kacau. “Itu… itu gue, Rak… itu gue…”
“Bukan,” jawab Raka cepat. “Itu bukan lo.”
“Tapi mukanya.”
“Bukan lo!” Raka menatapnya tegas walau dalam hatinya… ia tidak yakin.
Beberapa detik pun berlalu tanpa suara dari luar.
Naya perlahan menjauh dari pintu. Matanya masih liar, mencari-cari sesuatu yang tidak ada. “Kita harus ngerti ini apa,” katanya. “Kalau kita panik terus, kita mati di sini.”
Raka mengangguk perlahan. Jika terus panik membabi buta maka kemungkinan besar riwayat mereka akan tamat hari itu juga tanpa mendapatkan jawaban dari misteri yang sedang dihadapi sekarang.
“Ada sesuatu yang nyamar,” lanjut Naya pelan, “sesuatu itu tahu akan kita.” Kalimat itu menggantung di udara.
“Coba cek lagi,” kata Raka tiba-tiba.
“Apa?”
“Aplikasi. Atau apapun. Mungkin sekarang berubah lagi.”
Naya langsung meraih ponselnya.
Layar menyala. Aplikasi booking terbuka otomatis tanpa dia tekan apa pun. Loading lalu muncul satu tampilan. Bukan halaman hotel, tapi daftar tamu yang terisi hanya dua nama, Raka dan Naya. Di bawahnya ada satu baris kosong seperti menunggu diisi.
“Ini baru, tadinya nggak ada,” bisik Naya.
Raka mendekat. “Coba scroll.”
Naya menggeser layar dan terhenyak. Di bawah nama mereka muncul tulisan baru seolah diketik saat itu juga huruf demi huruf : Naya (2). Naya langsung menjatuhkan ponselnya. “Enggak mungkin!”
Tiba-tiba lampu kamar mati. Naya menjerit kecil, “Raka!”
“Gue di sini!” Raka meraba-raba dinding, mencoba mencari saklar. Tapi sebelum ia menemukannya, lampu mengerdip menyala lagi. Sekejap Raka melihat sesuatu dicermin seberang kamar. Ada tiga orang: Dia, Naya, dan seseorang berdiri tepat di belakang mereka. Saat lampu stabil, cermin hanya memantulkan dua orang. Raka langsung berbalik, tidak ada siapa-siapa. “Nay, lo lihat?”
“Apa?”
“Cermin?”
Naya perlahan menoleh dan menatap cermin itu. “Cuma kita berdua…”
Raka menggeleng pelan. “Barusan ada tiga.”
Naya tidak menjawab. Tapi wajahnya mengatakan satu hal: dia percaya. “Dengerin,” kata Naya tiba-tiba. “Kalau itu bisa nyamar, berarti kita nggak bisa percaya apa pun.”
Raka mengangguk. “Termasuk…” Ia berhenti seraya menatap Naya.“… satu sama lain,” lanjutnya pelan. Kalimat itu menusuk tapi benar. “Aku mau tanya sesuatu,”
“Apa?”
“Sesuatu yang cuma gue yang tahu. Kalau lo bisa jawab, berarti lo… lo.”
Naya menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Oke. Tanya.”
Raka berpikir cepat. “Waktu kita pertama ketemu, lo pakai baju apa?”
Naya langsung menjawab. “Hoodie abu-abu. Ada noda kopi di lengan kanan. Lo ketawain gue.”
Raka menghela napas. Benar.
Sekarang giliran Naya. “Lo punya bekas luka di mana?”
“Di lutut kiri. Jatuh waktu SMP.”
Naya mengangguk.
Tapi di dalam hati mereka keraguan itu tidak hilang. Karena jika sesuatu bisa meniru wajah, Apa yang membuatnya tidak bisa meniru ingatan?
TOK.
Mereka langsung diam. Suara itu lagi, dari kamar mandi.
Naya menggenggam lengan Raka. “Jangan dibuka…”
Raka tidak bergerak. Matanya terpaku ke pintu kamar mandi. Pegangan pintunya bergerak sendiri. Lalu pintu terbuka sedikit. Dan dari celah itu keluar suara. Suara Naya berteriak minta tolong.
Naya yang asli langsung mundur, “Itu bukan gue!”
Suara itu terdengar lagi lebih jelas. “Raka! Aku di sini!”
Raka menggertakkan gigi. Ini jebakan. Tapi bagaimana kalau bukan?
“JANGAN!” teriak Naya.
Tapi terlambat. Raka sudah melangkah mendekat. Tangannya menyentuh pintu, Membukanya lebih lebar. Gelap, kosong. Hanya kamar mandi saja. Raka menghela napas. “Lihat? Nggak ada apa apa.” Ia berhenti karena di cermin kamar mandi ada penampakan. Ada seseorang berdiri di belakangnya, Naya tersenyum lebih lebar dan menyeramkan. Raka langsung berbalik. Kosong. Ia mundur cepat keluar kamar mandi dan menutup pintu keras keras.
Naya menatapnya panik. “Apa?”
“Dia ada di belakang gue tadi!”
Naya menutup mulutnya, “Kita nggak bisa di sini…”
Raka mengangguk, “Kita keluar lagi. Cari cara lain.”
“Kalau nggak bisa keluar?”
Raka diam sejenak, “Berarti kita cari jawabannya di sini.”
Mereka pun membuka pintu kamar perlahan. Lorong sepi, tapi ada sesuatu yang berbeda. Pintu-pintu kamar lain sedikit terbuka, seakan ada yang mengintip dari dalam.
Raka menelan ludah. “Kita turun,” katanya. Mereka bergegas bergerak. Lorong terasa lebih sempit dan lebih panjang. Dan dari dalam kamar-kamar, samar terdengar suara bisikan.
“Jangan lihat ke dalam,” bisik Raka yang dibalas anggukan Naya.
Mereka mempercepat langkah. Tiba tiba, Naya berhenti ditengah lorong. “Raka…”
“Apa lagi?”
Suara Naya gemetar. “Kalau itu bisa jadi gue…” kalimatnya terhenti sesaat.
Raka menatapnya. “Terus?”
Naya menelan ludah. “…gimana kalau yang sekarang bareng lo…, bukan gue?”
Raka membeku. Dunia seolah berhenti. Pertanyaan itu lebih mengerikan dari semua yang terjadi. Pertanyaan yang membuat dirinya menjadi tidak yakin lagi dengan keaslian Naya disampingnya.“Nay…”
“Jawab, Rak…”
Raka membuka mulut. Tidak ada kata yang keluar. Karena tepat saat itu lampu lorong mati. Kemudian dari dalam kegelapan muncul suara berbisik di antara mereka.
“Kalian berdua bukan yang asli!”
Raka menjerit tertahan. Ia membuka mata. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Sunyi. Lampu terang dan keadaan kamar normal. Ia duduk cepat, menatap sekeliling.
Tidak ada Naya, tidak ada lorong, tidak ada apa-apa. Ponselnya di samping dengan notifikasi menyala. Raka mengambil dengan tangan gemetar. Layar menampilkan aplikasi booking dengan satu pesan ditengah, “SELAMAT DATANG.”
Raka menahan napas, menoleh ke arah pintu kamar dan melihat koper miliknya. Masih tertutup, terlihat sama sekali belum dibuka, Seperti baru saja datang.
Dari luar kamar mendadak terdengar suara Naya, ceria dan normal. “Rak! Buruan! Kita check in dulu!”
Raka membeku. Perlahan Ia berbisik pada diri sendiri. “…ulang lagi?”
“…kali ini, gue yang cari lo.”Langkah Raka berhenti tepat di ambang pintu hotel. Udara di dalam berbeda menjadi lebih dingin dan lebih berat, seolah tempat itu sadar bahwa ia kembali. Pintu di belakangnya menutup cepat dan mengunci sendiri.KLIK.Raka tidak menoleh. Tidak lagi ada kebimbangan. Karena sekarang ia bukan tamu, melainkan pemburu.Lobi mulai meredup dan pria tua di resepsionis sudah tidak terlihat lagi. Tapi, buku tamu seakan dibiarkan terbuka untuk dibaca.Raka berjalan mendekat dengan perasaan bercampur aduk. Matanya langsung tertuju pada halaman itu, meneliti dengan seksama. Nama nama, ada banyak. Tidak hanya namanya. Tidak hanya nama Naya. Tetapi ada puluhan, mungkin juga ratusan. Sebagian dicoret, sebagian lagi diberi tanda:CHECK-INCHECK-OUTHILANGRaka menggertakkan gigi saat menyadari jika selama ini ternyata ia tidak sendirian. Bahkan sepertinya tidak pernah sendirian sepanjang waktu. Tangannya bergerak dengan cekatan membolak balik halaman, sampai berhenti pada
“Kenapa kamu tinggalin aku, Kak?” Suara anak kecil itu tidak keras, tidak pula menuduh, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Raka terasa membatu.Raka masih berlutut di lantai empat dengan napas berat disertai kepala berdenyut seperti ada sesuatu yang dipaksa masuk kembali ke dalam pikirannya. Perlahan, Raka mengangkat kepala, memandang ke ujung Lorong dimana anak itu berdiri. Anak itu kecil, kurus dan berbaju lusuh dengan mata tanpa getaran emosional sedikitpun, hanya kosong. Tidak marah, tidak sedih, terlihat hampa.“Siapa lo?” suara Raka memecahkan suasana.Anak itu tidak langsung menjawab, hanya melangkah satu langkah ke depan tanpa suara, seolah tidak menapak lantai.“Kakak lupa lagi?” katanya pelan.Jantung Raka berdetak keras, “Kakak? Siapa yang sebenarnya lo maksud?””Anak itu memiringkan kepala. Persis seperti makhluk “Naya” tadi. Tapi ini terasa lebih mengganggu, karena gerakannya terlalu janggal.“Kakak yang janji mau balik,” kata sang anak lagi.Tiba tiba potongan memori
“NAYA?!”Suara Raka menggema di lobi.Tidak ada jawaban, tidak ada langkah kaki, tidak ada tanda-tanda kalau Naya pernah berdiri di sana. Hanya lantai kosong…, dan bayangan tubuhnya sendiri saja yang tersisa.Raka berdiri terpaku. Tangannya masih terulur ke udara, seperti mencoba menggenggam sesuatu yang sudah tidak ada. “…enggak…”, Napasnya bergetar. “Enggak. Enggak. Enggak,” sangkalnya berulang. Ia berbalik cepat dengan matanya menyapu seluruh ruangan.“NAYA!” Teriaknya lagi. Sunyi. Hotel itu kembali diam. Seolah baru saja memakan sesuatu… dan puas karena sudah kenyang.Raka perlahan melangkah mundur. Satu langkah, dua langkah, lalu ia tertawa kecil sendiri. “Bagus,” gumamnya pada diri sendiri, “Sekarang gue sendirian lagi.”Raka merasakan seluruh emosi dan logikanya berguncang dan berkecamuk dengan hebat. Karena sekarang ia berkesimpulan bahwa tidak ada lagi yang bisa dia percaya. Tidak ada lagi yang bisa dia lindungi. Dan mungkin yang paling buruk adalah karena tidak ada lagi ya
TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “Apa pun yang terjadi, jangan buka.” Bujuk Naya penuh kecemasan.Raka tidak langsung menjawab. Kepalanya dipenuhi dengan suara batinnya sendiri. Tentang aturan, loop, kamar 307, dan kalimat itu, “Besok… giliran kamu yang hilang.” Dan kalau dia tidak membuka..., apa itu berarti dia menolak “gilirannya”? Atau bahkan justru mempercepatnya?“Kalau ini bagian dari aturan…” gumam Raka pelan, “berarti gue nggak bisa cuma diam.”“Lo mau buka?” suara Naya naik terdorong rasa panik.Raka menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Naya. Bukan cuma takut, tapi memohon.“Rak, jangan,” kata Naya pelan. “Gue baru inget lo…, gue nggak mau lo hilang.”
“Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya, berputar seperti jarum rusak yang tidak bisa berhenti, bagai piringan hitam macet yang terus mengulang nada tak henti.“Giliran kamu yang hilang.” Suara itu pun terdengar lagi.“Enggak…” bisik Raka pelan. “Enggak mungkin…” Tapi bahkan saat ia menyangkal, seolah tubuhnya tahu bahwa ada sesuatu yang berubah. Dan perubahan itu tidak akan bisa dibatalkan.Lantas Raka berjalan cepat menjauh dari kamar 307. Lorong terasa lebih panjang dari sebelumnya. Lampu berkedip tidak beraturan. Karpet di bawah kakinya terasa lembap. Seperti… basah. Ia menunduk sekilas dan langsung berhenti. Ada jejak kaki yang basah dan sudah pasti bukan miliknya. Jejak itu muncul dari arah kamar 307, dan mengarah ke ujung lo
“Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “Jangan mendekat!,” katanya tegas. “Aku nggak kenal kamu.”“Nay, dengerin baik baik, kita tadi bareng. Kita datang ke sini. Kita...”“Aku datang sendiri,” potong Naya cepat.Raka menggeleng. “Nggak. Itu nggak mungkin. Kita...” Ia berhenti saat menyadari bila Naya sungguh sungguh tidak ingat.“Coba lihat ini,” kata Raka cepat, meraih ponselnya lalu membuka aplikasi booking, kemudian menunjukkannya pada Naya.“Ini nama kita!” Kalimatnya terhenti.Layar itu berubah. Daftar tamu hanya menampilkan satu nama.RakaTidak ada Naya.Raka menatap layar itu dengan napas tercekat. “Tadi ada,” bisiknya. “Tadi ada nama lo!”Naya menggeleng pelan, “Kamu aneh,” katanya. “Aku nggak suka ini.”Raka mengangkat t







