Masuk“Aku percaya padamu. Sekarang aku akan mengantarmu ke kamar. Istirahatlah lebih awal. Aku akan rapat terakhir dengan para dewan.” Xylas kembali mengecup kening Lysandra. Xylas menemani Lysandra hingga ke depan pintu kamar mereka, sebuah ruangan yang sekarang benar-benar menjadi milik bersama, dengan buku-buku strategi dan teks sihir berbaur dengan jubah dan peta di atas meja. Suasana di dalam terasa seperti ruang komando, bukan tempat peristirahatan. Dia membuka pintu untuknya, tetapi tidak segera pergi. Tangannya yang kuat kembali menyentuh pipi Lysandra dengan lembut. “Tidurlah,” ucapnya, suaranya lebih rendah, penuh dengan kelembutan yang hanya dia perlihatkan di tempat tersembunyi seperti ini. “Jangan begadang mempelajari gulungan-gulungan itu. Besok akan menjadi hari yang panjang.” Lysandra menggenggam tangannya, mengecup telapaknya dengan cepat. “Jangan rapat terlalu larut,” bal
Persiapan dimulai dengan tempo perang. Pasukan dikumpulkan, persediaan disiapkan, dan para jenderal dipanggil. Xylas mengumumkan rencana untuk berbaris ke utara untuk menghadapi ancaman Ratu Utara yang bangkit kembali, secara resmi menyatakannya sebagai pengkhianat dan ancaman terhadap kerajaan. Dewan mendukung dengan suara bulat. Ancaman makhluk es dan kabut yang menculik terlalu mengerikan untuk diabaikan.Giselle, yang diberi tahu untuk tetap tinggal dan mengelola urusan dalam negeri bersama para penasihat lainnya di bawah pengawasan ketat Roland, menyimpan dendam pada Lysandra tetapi tidak berani protes.Malam sebelum latihan puncak, Xylas dan Lysandra berdiri sekali lagi di balkon mereka. Kali ini, tidak ada musik atau tarian. Hanya kesunyian yang tegang dari apa yang akan datang.“Kau takut?” tanya Xylas, memegangi pinggang Lysandra dari belakang, menatap ke arah utara di mana langit tampak lebih gelap.“Ya,” akunya Lysan
Paginya, Lysandra sedang sarapan bersama Xylas saat Giselle datang langsung ke kamar Xylas.Xylas meletakkan pisau makannya, tampak kesal dengan gangguan kecil itu. “Apa yang membawamu pagi buta seperti ini, Giselle? Apa kau bermain-main dengan ampunan dari Lyra?”“Ampun, Yang Mulia. Saya mendapat surat dari Duke utusan Kerajaan Utara,” Giselle mendekat, menyerahkan gulungan surat pada Xylas.“Eisen?” tanya Xylas.“Benar, Yang Mulia,” jawab Giselle.“Kau bisa pergi,” kata Xylas, mengusir Giselle secara tidak langsung.Giselle semula hendak menolak, tetapi tatapan tajam Xylas membuatnya mundur.“Saya pamit, Yang Mulia,” katanya lalu membungkuk sebelum beranjak pergi.Surat dari Duke Eisen, penguasa wilayah utara yang keras dan praktis yang berbatasan langsung dengan domain Ratu Utara, bukanlah sebuah ancaman terselubung seperti milik Duke Henrick. Isinya langsung dan suram.
“Dan kita juga masih harus mencari Ratu Utara. Dan ... Duke Henrick juga …” bisik Lysandra.“Kau benar. Tapi bukan berarti aku bisa menunda untuk menyatakan perasaan padamu,” balas Xylas.Lysandra berkedip. “Saya ... ingin menjadi lebih kuat, Yang Mulia. Tolong ajari saya lebih kuat.”“Tentu. Kau bebas mempelajari apa pun. Cara berkuda, memanah, berpedang, atau sihir.”Lysandra menarik diri dari pelukan Xulas, tatapannya mantap meski pipinya masih basah oleh air mata.“Semuanya,” katanya, dengan suara tegas. “Saya ingin mempelajari semuanya. Saya ingin menjadi seseorang yang tidak perlu selalu Anda selamatkan. Seseorang yang bisa berdiri di samping Anda bukan hanya sebagai penasihat di ruang takhta, tetapi sebagai sekutu di medan perang.”Kata-kata itu membangkitkan kebanggaan yang dalam di dada Xylas. Dia melihat tekad keberanian di mata wanita itu, tekad yang sama yang membuatnya bertahan dari kema
Lysandra kembali ke kamarnya. Kamar Kaisar. Namun malam itu, Lysandra tidak bisa tidur.Dia akhirnya berjalan ke arah balkon, berdiri di balkon kamar yang sekarang mereka bagi, menatap bulan yang tertutup awan. Pikirannya dipenuhi oleh labirin cermin, oleh suara Clara yang marah, dan oleh kenyataan bahwa dia sekarang memiliki kekuasaan tetapi juga tanggung jawab yang lebih besar.Dia mendengar langkah kaki di belakangnya, lalu merasakan kehangatan saat Xylas berdiri di sampingnya, menyandangkan selimut di bahunya. “Tidak bisa tidur?”“Ada banyak hal yang saya pikirkan, Yang Mulia,” sahutnya.Xylas berdiri di sampingnya, juga menatap kegelapan. “Aku juga.”Xylas terdiam sejenak. “Aku telah memerintahkan agar liontin asli milik Putri Mahkota Lysandra yang sudah tidak bersinar itu disimpan di ruang harta karun yang paling aman. Itu adalah miliknya. Suatu hari, mungkin aku bisa memberikan liontin itu pada pemiliknya lagi. Meskipun aku tahu, itu mungkin mustahil.”Lysandra tersentak. Xylas
Pelukan itu tidak seperti sebelumnya. Bukan pelukan posesif, bukan pelukan kemenangan yang penuh gairah. Pelukan itu adalah pelukan yang penuh dengan kelegaan yang begitu besar hingga hampir membuat tubuhnya lemas.Xylas merangkulnya dengan erat, wajahnya tertanam di lekuk lehernya, tubuhnya yang besar sedikit gemetar. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya memeluk, seolah-olah dengan kehangatan dan kekuatannya dia bisa menghapus semua ketakutan, semua kedinginan penjara bawah tanah, dan semua teror labirin cermin.Lysandra membeku sejenak, lalu merespons. Tangannya merangkul punggungnya yang luas, mencengkeram jubahnya yang kotor debu dan sesuatu yang lebih gelap. Di pelukannya, dia bisa merasakan ketegangan yang akhirnya mengendur, gemetar halus dari adrenalin yang surut, dan yang paling mengejutkan, dia merasakan kelembutan. Di sini, di tengah reruntuhan sihir yang hancur, Kaisar yang ditakuti itu terlihat seperti seorang pria biasa yang r






