LOGINPlak! Sebuah pukulan mendarat cukup keras di dada bidang Reynard, membuat pria itu sedikit tersentak mundur. "Apa maksud Tuan Reynard, hah?!" bentak Alina dengan suara bergetar menahan amarah, matanya menatap tajam pria di hadapannya. "Pekerjaan aneh-aneh?! Jadi selama ini Tuan berpikiran seburuk itu tentang saya?!" Reynard memegang dadanya yang baru saja dipukul, menatap Alina dengan dahi berkerut dan napas yang masih berat. "Aku hanya bertanya, Alina! Bagaimana bisa kau yang dulunya begitu sederhana, polos, dan tidak pernah peduli riasan... tiba-tiba berubah total seperti ini dalam beberapa bulan saja? Pakaianmu, rambutmu... semua orang pasti heran!" Alina tertawa hambar, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap Reynard dengan pendar penuh kekecewaan. "Oh, jadi saya tidak boleh berubah? Saya tidak boleh mempercantik diri saya sendiri? Saya harus tetap jadi wanita lugu, kusam, dan meratapi nasib setelah diusir dari rumah keluarga Dirgantara?!" "Bukan begitu maksudku,
"Mari ikut saya ke ruang donor, Mbak. Kita harus bergerak cepat," ucap perawat seraya membimbing Alina berbelok ke lorong samping. "Baik, Suster. Tolong lakukan secepatnya," sahut Alina tanpa ragu sedikit pun. Reynard berdiri mematung di lorong, matanya menatap punggung Alina yang menghilang di balik pintu kaca. Ada rasa guncangan hebat di dadanya. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini dihina dan dianggap tidak pantas oleh keluarganya, justru memiliki golongan darah langka yang menjadi penentu hidup dan mati putranya? Di dalam ruang tindakan donor, aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Alina. Kenangan pahit saat dirinya terbaring tak berdaya di rumah sakit beberapa tahun lalu mendadak berkelebat, memicu gelombang trauma yang membuat tangannya dingin. Namun, saat melihat kantung darah kosong di atas meja, Alina menarik napas panjang dan menguatkan hatinya. "Agak sakit sedikit ya, Mbak," bisik perawat seraya mengoleskan alkohol dan menusukkan jarum donor ke pembu
"Suster! Tolong saya! Cepat, Suster!" jerit Alina histeris, berlari menerobos koridor rumah sakit seraya menggendong tubuh mungil Sean yang bersimbah darah. Beberapa perawat dengan sigap mendorong brankar ke arahnya. "Tenang, Mbak! Baringkan adiknya di sini! Mari masuk ke ruang tindakan!" Alina membaringkan tubuh Sean dengan tangan yang bergetar hebat. Ia hendak melangkah masuk mengikutinya, namun dada wanita itu segera ditahan oleh seorang dokter. "Mbak, tolong tunggu di luar ya. Kami akan melakukan tindakan medis darurat," ujar dokter itu tegas namun berusaha menenangkan. "Dokter, tolong selamatkan Sean! Tolong, Dok... saya mohon!" tangis Alina pecah, tangannya meremas jas putih sang dokter sebelum pintu ruang tindakan ditutup rapat di depan jalannya. Alina terduduk lemas di bangku panjang koridor. Gaun bagian depannya yang berwarna cerah kini ternoda bercak darah merah pekat milik Sean. Beberapa menit terasa seperti selamanya, Alina tidak bisa berpikir jernih. Bayangan ketakut
"Papa pergi kerja dulu ya, Jagoan. Belajar yang rajin, jangan jahil pada guru," ujar Reynard seraya berlutut sejenak, mengusap lembut puncak kepala Sean dengan tatapan penuh kehangatan. "Iya, Papa." jawab Sean pendek, berusaha tersenyum meski binar matanya tak selincah dulu. Ia melambaikan tangan kecilnya saat Reynard kembali masuk ke dalam mobil sport hitamnya dan melaju perlahan meninggalkan area sekolah. Di balik rimbunnya dedaunan beringin, Alina menahan napasnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Kaki-kakinya seolah berontak, ingin melangkah keluar, berlari menerobos jarak, dan memeluk pria yang amat sangat dirindukannya itu. Namun seketika, bayangan wajah dingin Tuan Richard dengan ancaman dan cacian penuh penghinaan kembali berkelebat di benaknya. Ketakutan itu seketika membekukan seluruh tubuh Alina. Ia mundur beberapa langkah, bersembunyi semakin dalam di balik bayangan pohon agar keberadaannya tak sampai tertangkap oleh spion mobil Reynard.
"Bagaimana bisa rekaman CCTV di tiga persimpangan jalan itu hilang bersamaan, Danu?! Kau bercanda padaku?!" bentak Reynard dengan suara menggelegar, memukul permukaan meja kerjanya hingga gelas kristal di atasnya bergetar nyaring. Danu menundukkan kepala dalam-dalam, raut wajahnya dipenuhi peluh dingin. "Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Reynard. Motor yang membawa Nyonya Alina berbelok ke jalan kecil tanpa pengawasan, dan saat kami melacak plat nomornya, ternyata itu plat nomor palsu. Seseorang tampaknya sengaja mengacak jejak mereka." "Sialan!" jerit Reynard seraya menjambak rambutnya sendiri secara kasar, lalu mengusap wajahnya yang terasa amat panas. Keberadaan Alina yang sempat tertangkap kamera beberapa malam lalu mendadak hilang kembali, seolah-olah wanita itu lenyap ditelan bumi untuk kedua kalinya. Ketidakpastian ini membuat akal sehat Reynard berangsur-angsur terkikis. Pikirannya keliaran ke mana-mana, membayangkan berbagai kemungkinan terburuk tentang peruba
"Di mana lokasi kafe itu?! Jawab aku sekarang, Danu!" seru Reynard setengah berteriak melalui sambungan telepon, bahkan sebelum nada dering ketiga selesai bergulir. Suara napas Danu di seberang telepon terdengar sedikit terkejut. "Tuan Reynard? Itu... Kafe Veranda di kawasan Kemang, Tuan. Foto itu diambil sekitar dua puluh menit yang lalu oleh orang lapangan saya." "Kirimkan lokasinya sekarang juga! Jangan biarkan orangmu lepas mengawasinya sampai aku tiba!" tegas Reynard tanpa memberi ruang untuk perdebatan. "Baik, Tuan. Segera saya kirimkan titik lokasinya," jawab Danu sigap sebelum sambungan terputus. Reynard tidak membuang waktu satu detik pun. Ia menyambar kunci mobil di atas meja kerja, mengabaikan botol alkohol yang masih terbuka serta sisa minuman yang membasahi sudut mejanya. Langkah kakinya lebar dan terburu-buru menerobos koridor kantor yang mulai sepi. Dalam pikirannya, hanya ada satu nama yang terus berputar bagai mantra yang membakar dada, Alina. Perjalanan mal







