หน้าหลัก / Romansa / Bukan Pasangan Pilihan / 001. Sebuah Awal yang Menggoda

แชร์

Bukan Pasangan Pilihan
Bukan Pasangan Pilihan
ผู้แต่ง: Renko

001. Sebuah Awal yang Menggoda

ผู้เขียน: Renko
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-06 21:29:02

    Dasha menatap jam di ponsel. Sore itu seharusnya cepat berlalu, tapi waktu berjalan lambat, dan dia tak tahu bahwa satu pertemuan sederhana akan mengubah ritme harinya. Kalau saja Ellen tak bersikeras, mungkin dia sudah pergi, jauh sebelum alunan musik klasik lembut di bar ini sempat menenangkan pikirannya.

    Dari ekor matanya, Dasha menangkap sosok seseorang yang duduk di sampingnya. Dia tak memutar kepala lebih jauh, hanya meneguk minuman sambil menghitung waktu. Lima menit lagi. Jika pasangan kencan Ellen masih belum muncul, dia akan benar-benar pergi.

    Tiba-tiba, sebuah gelas digeser ke arahnya. Gelas itu masih penuh, aroma kopi bercampur dengan sedikit rasa cokelat menyelimuti udara di sekitarnya. Sebelum dia menyadari keberadaan seseorang di sampingnya, dia sempat mendengarnya memesan minuman. Kalau tak salah ... mocha.

    Dasha menoleh, dan pandangannya bertemu dengan seorang pria. Senyumnya tipis, dan ada sesuatu di matanya yang membuat Dasha menahan napas.

    “Aku lihat gelasmu hampir kosong. Boleh aku isi?” pria itu menatapnya ramah.

    “Terima kasih, tapi tak perlu. Aku sebentar lagi pergi,” Dasha menjawab, suaranya tetap tenang meski hatinya sedikit waswas.

    “Sayang sekali. Kalau begitu aku akan kehilangan teman minum."

    “Teman minum?” Dasha menahan tawa kecil, geli bercampur heran.

    “Aku menunggu seseorang di sini, tapi sepertinya dia tak datang,” kata pria itu, menoleh sebentar ke pintu bar.

    “Oh? Aku juga menunggu seseorang,” Dasha mengangkat alis, penasaran.

    “Benarkah?”

    “Ya. Seharusnya dia datang sejak tadi.” Dasha menghela napas pendek, sedikit frustrasi.

    Pria itu menahan senyum. “Kelihatan jelas kau kesal.”

    “Memang. Banyak pekerjaan tertunda karena harus menunggu,” jawab Dasha, memijat pangkal hidung.

    Pria itu tertawa ringan. “Sepertinya kau orang yang pekerja keras.”

    “Pekerja keras?" Dasha tersenyum pahit. "Lebih tepatnya, aku bekerja demi menyambung hidup."

    “Aku menyambung hidup sebagai patissier,” pria itu menambahkan.

    “Patissier? Menarik.” Dasha menatapnya, terkesan tapi tetap menjaga jarak.

    “Kenapa? Tak terlihat seperti itu?” Pria itu menyipitkan mata, menantang.

    Dasha memandangi pria itu dari atas sampai bawah. Rambutnya tertata rapi, jas gelapnya pas di badan, sepatu mengilap, dan setiap geraknya seolah terukur secara profesional, tapi tidak kaku. Ada aura percaya diri yang terpancar darinya.

    “Tadinya aku kira kau pemilik perusahaan yang merasa bosan, datang ke sini sekadar mengisi waktu,” Dasha menimpali, nada bercampur main-main dan serius.

    “Apa aku mengecewakanmu?” Pria itu mencondongkan tubuh sedikit, seolah mencari jawaban lebih dari sekadar kata-kata.

    “Apa aku harus kecewa?” Dasha menatap balik, senyum tipis menghiasi wajahnya.

    Udara di antara mereka terasa berat sekaligus hangat. Jantung Dasha berdetak sedikit lebih cepat, dan dia sadar, pria di hadapannya juga memandang dengan fokus yang sama tajamnya.

    Pria itu terdiam sebentar, seolah menimbang kata-kata. Lalu, dengan gerakan tenang tapi penuh arti, dia mengulurkan tangan. “Aku Kent. Bolehkah aku tahu namamu?”

    “Kent?” Dasha sedikit terkejut, meskipun tetap menjabat tangan pria itu.

    “Kita belum saling mengenalkan diri,” jawab Kent, senyum tipis tetap tersungging.

    “Aku … Dasha,” katanya, suaranya pelan tapi jelas.

    Kent menyapu dagunya dengan jari. “Dasha.”

    Entah kenapa, cara Kent menyebut namanya membuat jantung Dasha makin berdetak tak karuan. Dia tak menyangka pertemuan pertama bisa terasa ... seperti ini.

    Dasha menggeleng cepat, mencoba menenangkan diri. “Kent … ternyata kau orangnya!” ujarnya, nada setengah tertawa.

    Kent mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

    “Ellen memintaku menemuimu,” jelasnya, setengah tersenyum.

    “Oh ....” Kent terdengar ragu, matanya menelusuri ekspresi Dasha.

    “Dia sudah berbaikan dengan pasangannya dan memutuskan tak datang. Aku minta maaf mewakili Ellen. Seharusnya dia yang menjelaskan, bukan menyerahkan pada orang lain,” nada suara Dasha ringan tapi tegas, sedikit menenangkan ketidakpastian di suasana itu.

    Dasha tahu situasinya jauh dari ideal. Dia bisa membayangkan kekecewaan Kent, siapa pun pasti kesal mengetahui pasangan kencannya hanya ingin menjadikannya sebagai tempat pelampiasan.

    “Aku tahu kau pasti kecewa,” katanya pelan.

    Kent menggeleng pelan. “Tidak.”

    “Tidak?” Dasha memiringkan kepala, tak yakin dia mendengar dengan benar.

    “Maksudku,” Kent tersenyum kecil, “hal seperti ini cukup umum bagi orang yang pakai aplikasi kencan.”

    “Oh,” Dasha mengerjap. “Jadi kalian kenal lewat aplikasi?”

    “Ya. Temanku yang menyarankan. Katanya, kita bisa dapat pasangan kencan yang lumayan di situ.”

    “Maafkan aku,” ucap Dasha spontan.

    Kent mengangkat alis, bingung. “Kenapa kau minta maaf? Ini bukan masalah besar. Kita bisa lanjutkan kencan.”

    “Kita?” Dasha menunjuk dirinya sendiri, setengah tak percaya.

    “Sudah jauh-jauh datang,” Kent berkata santai, tapi matanya tak bisa menyembunyikan keseriusan halus di baliknya, “dan aku dapat kabar buruk soal kencanku.”

    “Tadi kau bilang tak kecewa,” Dasha mengingatkan.

    “Benar.” Kent menatapnya, tak mundur sedetik pun. “Tapi kalau kau pergi, aku akan kecewa.”

    Dasha terdiam sejenak. Perlahan, dia menyadari pikirannya sudah berubah. Tak ada salahnya tinggal sebentar—Kent tampan, dan menyenangkan untuk diajak bicara.

    “Baiklah,” katanya akhirnya.

    Kent tersenyum puas, matanya berkilau seperti anak anjing yang baru mendapat perhatian. “Ingin pindah tempat?”

    Dasha menatap sekeliling. Dia tak suka keramaian, tapi tempat ini terasa pas. Hangat, tenang, cukup nyaman untuk mengobrol.

    “Tetap di sini tak masalah,” jawabnya.

    Percakapan mereka mengalir dengan mudah. Pikiran Dasha tentang pergi lenyap begitu saja. Kent sudah mencuri perhatiannya. Mungkin, dia membayangkan, Kent pun merasakan hal yang sama.

    “Jadi, kau seorang veterinarian?” Kent menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

    Dasha mengangguk. “Ya, satu tempat dengan Ellen.”

    “Pekerjaan yang mengejutkan,” ujarnya, nada bercampur kagum.

    “Apa aku mengecewakanmu?”

    Kent tertawa ringan, karena Dasha meniru kata-katanya, membuat pria itu tersenyum lebih lebar.

    “Aku punya hewan peliharaan di rumah,” katanya, nada santai tapi hangat.

    “Benarkah?” Dasha menatapnya, penasaran.

    “Kucing, namanya Molly. Mau lihat dia? Pasti Molly senang bertemu denganmu.”

    Dasha menatap Kent, sedikit ragu. Pertemuan pertama, dan diajak ke rumah seorang pria, apakah itu ide yang baik?

    Kent cepat-cepat menambahkan, “Maksudku ... Molly agak lesu, dan aku pikir lebih baik diperiksa. Kebetulan kau veterinarian, mungkin bisa membantu. Tentu saja aku bisa bawa ke klinik, tapi .…”

    Dasha tersenyum tipis, menatapnya dengan pandangan penuh pertimbangan. “Begitu. Tentu masalah biaya jadi pertimbangan. Membawa hewan ke klinik memang tak mudah, bahkan bisa lebih mahal dari kebutuhan hidup pemiliknya.”

    Kent menyadari fokus Dasha padanya tampak lebih besar daripada apa pun di sekitarnya. Dia ingin menjelaskan bahwa biaya bukan masalah, tapi wanita ini sudah mencuri seluruh perhatiannya.

    Dasha menggeleng ringan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Kalau Molly sakit ringan, kadang cukup periksa di rumah saja. Aku sering menyarankan pemilik hewan peliharaan memperhatikan pola makan dan aktivitas, jadi banyak kasus ringan bisa diatasi tanpa harus ke klinik langsung.”

    Dasha tiba-tiba tersadar, tatapan Kent yang tak lepas darinya membuat dia gugup.

    “Ke-kenapa menatapku begitu?” suaranya tercekat, setengah malu, setengah penasaran.

    Kent menggeleng pelan. "Kita pergi lihat Molly sekarang?"

    Apa aku siap? pikir Dasha.

    Tapi … dia tak ingin menolak. Entah kenapa, ada rasa ingin tahu yang kuat, dia ingin tahu lebih banyak tentang pria ini.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bukan Pasangan Pilihan   008. Di Antara Dua Tatapan

    Ada banyak hal yang menggantung di benak Dasha saat tatapan mereka bertemu. Tentang bagaimana dia harus bersikap di hadapan pria yang membuatnya gelisah sejak pulang dari pantai. Tentang bagaimana dia harus menjelaskan pada Ellen bahwa pria yang dia ceritakan adalah Kent.Dan yang paling membuatnya kesal pada diri sendiri, bagaimana semua pertahanan yang susah payah dia bangun sejak pagi runtuh begitu saja hanya karena kehadiran sosok itu, tiba-tiba berdiri di depan klinik.“Bukankah …?” Ellen menyipitkan mata, menatap Kent dengan ragu, seperti sedang menarik paksa ingatannya. “Aku pernah melihatmu, ya?”Kent menatap mereka satu per satu. Senyum singkat terbit di wajahnya sebelum pandangannya berhenti pada Ellen. “Kenneth Ruize,” katanya tenang. “Kau ingat, kan, Ellen?”Mata Ellen melebar. Dia menepuk tangannya sendiri. “Oh! Benar! Ya, kau pria dari aplikasi kencan itu!”Vincent mengerutkan dahi, jelas kebingungan, tapi memilih diam. Matanya bergantian mengamati Ellen dan Kent, mencob

  • Bukan Pasangan Pilihan   007. Sore yang Tak Terduga

    Dasha mengentakkan jemarinya pelan di atas meja. Sekali. Dua kali. Ritmenya tak teratur, sejalan dengan pikirannya yang berlarian ke mana-mana. Fokusnya terus kembali pada tas di samping kursinya, pada ponsel yang sengaja dia silent. Ada dorongan kuat untuk meraihnya. Barangkali ada pesan dari Kent. Barangkali kali ini perasaannya keliru. Namun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Tak menunggu. Meski begitu, kejujuran terasa pahit. Beberapa kali sejak pagi dia sudah membuka ponsel itu dengan dalih mencari informasi, mengecek jadwal, apa saja, asal masuk akal. Hasilnya tetap sama, tak ada nama Kent di layar. Tak satu pun pesan. Entakan jemarinya berhenti. Dasha mengembuskan napas pendek, lalu tangannya mulai bergerak ke arah tas, menyerah pada dorongan yang makin sulit ditahan. Tepat sebelum jemarinya menyentuh ritsleting, suara pintu klinik terbuka. Dasha refleks mengangkat kepala. Vincent berdiri di ambang pintu, baru saja kembali. Entah kenapa gerakannya

  • Bukan Pasangan Pilihan   006. Tak Lagi Menunggu

    Mesin mobil berhenti di depan gedung apartemen Dasha. Kesunyian yang canggung seketika menggantung di udara. Kent menatap jalanan sepi, sementara Dasha menunduk, tangan masih tergenggam di paha. Ingatan tentang ciuman di pantai tiba-tiba menyeruak, detik-detik bibir mereka bersentuhan, hangatnya tangan Kent di pinggangnya, dan getaran jantung yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dasha menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, tapi kilas balik itu membuat wajahnya memanas lagi. Kent juga tak bisa lepas dari bayangan itu. Diam mereka terasa berat, penuh kata-kata yang belum terucap, pertanyaan yang tak berani diajukan, dan rasa penasaran yang terus berputar di antara mereka. Kent berdeham ringan, suara itu memecah keheningan. Dasha ikut bergerak, menyesuaikan posisi di kursi. “Kita … sudah sampai,” ujar Kent pelan, meski mereka sebenarnya sudah berada di depan apartemen Dasha lima belas menit yang lalu. Dasha menatap Kent sebentar, lalu cepat mengalihkan pan

  • Bukan Pasangan Pilihan   005. Tak Pernah Seperti Ini

    Senyum cerah tak lepas dari wajah Dasha. Hubungan mereka memang belum sejauh itu, tapi hari ini terasa seperti sebuah kencan, terlebih karena Kent setuju bertemu untuk urusan pribadi. “Bagaimana harimu di klinik?” tanyanya, nada santai tapi penuh perhatian. Dasha tersenyum kecil sebelum menjawab, “Cukup sibuk, tapi menyenangkan. Ada satu orang yang membuatku kesal hari ini ...” Dia menolehkan pandangan dari jendela dan tersenyum, "Tapi itu cerita sepele. Lupakan saja. Bagaimana denganmu?" Kent mengangkat alis, sedikit penasaran, tapi tak menekan. “Semua berjalan baik sejauh ini.” Suasana seketika hening, hanya suara kendaraan di luar yang terdengar, menambah kecanggungan di antara mereka. “Ngomong-ngomong,” Kent melirik ke kursi belakang lewat cermin tengah, “Apa yang kau bawa dalam keranjang itu?” Dasha segera menoleh ke belakang. “Ah, ya! Aku membawakan lauk untukmu. Bisa kau simpan di kulkas, lalu hangatkan ketika akan makan.” Tangannya menggenggam

  • Bukan Pasangan Pilihan   004. Bisikan Rasa

    Dasha terdiam kaku, seolah seluruh garis waktunya baru saja pecah. Dari awal pertemuan di bar sampai kepanikannya soal biaya Molly, semuanya tiba-tiba terasa konyol. “Kau … pemilik toko kue ini?” suaranya keluar lebih pelan dari yang dia inginkan. Kent mengangguk santai. “Ya. Termasuk gedungnya.” Kalimat itu seketika menjadi tombol reset di kepala Dasha. Suasana hangat yang tadi ada langsung berubah kikuk. Dia turun dari meja perlahan, setiap gerakan terasa seperti peluang mempermalukan dirinya lebih parah lagi. “A-aku jadi sangat malu,” ucap Dasha, menunduk. Kent memiringkan kepala. “Malu? Kenapa?” Dasha menarik napas panjang, mencoba merapikan pikirannya. “Aku mengira kau kesulitan biaya. Mengira kau cuma pegawai biasa, bahkan aku menahanmu supaya tak meladeni aku waktu jam kerja. Padahal bosnya … yah … kau sendiri.” Kent menganalisis sejenak, lalu tersenyum dan tertawa ringan. “Kau tak perlu malu. Itu juga salahku yang tak mengoreksi lebih cepat.”

  • Bukan Pasangan Pilihan   003. Sentuhan dan Tatapan

    Dasha akhirnya tiba di depan toko kue itu. Aroma gula karamel bercampur wangi kopi tercium dari deretan kafe di sepanjang trotoar. Di jendela toko, pantulan cahaya jingga membuat deretan kue tampak seperti rangkaian permata. Suasananya ramai tapi hangat Sabtu sore itu. Beberapa anak keluar sambil menenteng kotak cake ulang tahun, sementara pasangan muda memilih pastry sambil berdiskusi soal topping favorit. Dasha menarik napas pendek, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan, lalu masuk ke toko kue. Dengan langkah ragu tapi mantap, dia memesan satu slice red velvet dan segelas lemon tea, lalu memilih kursi kosong di sudut. Tempat itu jauh dari keramaian, cukup dekat dengan jendela. Dia menyalakan ponsel. Jemarinya mengetik 'Kent' tanpa berpikir panjang. Nama itu muncul, tapi dia hanya menatapnya. Dia merasa terlalu tak profesional jika menghubunginya sekarang, mengingat Kent mungkin sedang jungkir-balik di dapur. Jadi dia menunggu saja.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status