Share

Problem

Author: Jagad
last update publish date: 2026-08-21 23:44:39

"Carla pingsan, kemungkinan dia overdosis penambah gairah," ucap Dirga dengan suara dingin, namun panggilan langsung dimatikan dari ujung sana. Ia hanya bisa menghela nafas panjang, niatnya segera pergi dari hotel namun petugas medis menahannya. "Pak, Sebaiknya ikut kami ke rumah sakit. Harus ada pendamping sebelum kami lakukan penanganan."

"Hah?! Aku hanya teman kencannya, kenapa minta aku ikut?"

"Bapak tahu semua kronologisnya, kami membutuhkan data secara lengkap tentang beberapa aktivitas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Ganguan Preman

    Dirga tau arah pembicaraan Antoni, namun dia hanya pura-pura. "Apakah yang kamu tawarkan sepadan dengan apa yang aku dapat nanti? Aku cuma orang desa, kebetulan memiliki ilmu diri yang jarang dipelajari orang-orang di kota. Sedangkan di desaku hal semacam ini sudah biasa," jawab Dirga dengan tetap rendah hati. "Hahaha! Sudah kelihatan kalau kamu itu dari desa, tapi kemampuanmu itu sangat jarang dimiliki orang kota seperti kami. Aku memiliki usaha yang berkaitan dengan distribusi barang, terkadang harus berurusan dengan preman, mafia dan oknum penegak hukum. Jadi aku tidak membutuhkan seseorang yang mampu bergerak cepat, berpikir taktis dan bisa melindungiku kapan saja. Aku menawarkan gaji sepuluh juta sebulan," lanjut Antoni percaya diri, dia yakin uang itu akan membuat Dirga bersedia bekerja padanya. Siang hari, Antoni pergi ke bidan desa untuk melihat perkembangan lukanya. Dia tetap berbohong pada orang-orang jika ada luka itu disebabkan oleh peluru. Di rumah, Dirga menghabiskan w

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Tawaran

    Di kamarnya Antoni menyuntikkan sebuah obat pereda anti nyeri, dampaknya di atas tidur dengan pulas sambil sesekali mengigau. Dirga nyaris tidak bisa tidur karena suara Antoni yang mendengkur cukup keras. Udara malam itu begitu pengap, Dirga yang baru tiba di sana belum sempat mandi. Dia memutuskan untuk menuju kamar mandi yang terletak di samping rumah, suara gemericik air terdekat di dalam. Namun terlambat bagi Dirga mundur sebab di depannya seorang perempuan cantik sedang mandi dengan membasuhkan sabun di sekujur badan. "Aaawh!" Mira berteriak, namun Dirga sudah terlanjur melihat lekuk tubuh perempuan itu. "Aku tidak sengaja, maaf. Tadinya aku mengira kamar mandi sedang kosong," buru-buru Dirga mengalihkan pandangannya lalu menjauh dari kamar mandi untuk menunggu beberapa menit sampai Mira selesai. "Cantik juga, iya benar benar deh gadis desa yang masih natural tanpa riasan tebal di bagian wajah," Dirga bicara sendiri, lalu karena menunggu cukup lama ya akhirnya kembali ke kama

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Menolong Mafia

    "sebentar lagi sampai, apa kalian yakin akan turun di tempat itu?" tanya kondektur bus. "Tentu saja kami yakin," jawab Antoni. Lima menit kemudian bus benar-benar berhenti, anehnya berhenti di tepi sebuah jalan setapak yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon besar yang berdaun lebat. "Kenapa berhenti di sini?" tanya Dirga. "Kita mau pergi ke tempat nenekku, untuk sementara waktu kita tinggal di sana. Aku takut orang-orang Bastian masih mengejarku," jawab Antoni, dalam keadaan seperti ini tak terlihat jika dia merupakan kepala kelompok kartel yang berbahaya. Dirga dengan mudah membedakan jika orang yang dia temui saat ini memiliki karakter yang berubah-ubah dibalik sekamnya yang psikopat.Mereka berjalan kaki di kegelapan malam tanpa penerangan sama sekali dan hanya mengandalkan sinar rembulan, Dirga bingung apakah dia akan mengetahui lokasi selanjutnya seperti yang pernah diceritakan oleh Kirana tempo hari. "Apa masih jauh?""Desa nenek berada di belakang bukit ini, paling seki

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Menyelamatkan Bos Kartel

    Suara tembakan senapan mesin terdengar memekakkan terdengar, satu persatu anak buah Antoni tumbang bersimbah darah. Pria yang merupakan pemimpin kartel itu ketakutan, ia membungkuk bersembunyi dari peluru yang berterbangan. Namun hanya dalam beberapa saat tidak lagi terdengar suara tembakan, ia mengintip dari celah mobil ada orang asing yang sedang berdebat dengan musuhnya. "Minggir kamu! Aku sedang mengejar seseorang!" Bentak Bastian. "Seharusnya kamu yang minggir, aku sedang buru-buru!" Dirga tak kalah gahar, ia membentak dengan tangan terkepal. "Kalau itu pilihanmu, jangan salahkan kamu jika kamu korban selanjutnya!" Bastian mulai mengarahkan senapannya ke arah Dirga, ratusan suara tembakan terdengar dalam hitungan menit, Dirga berlari dan menghindar dari tembakan tersebut dari satu mobil ke mobil lain yang berada di lantai dasar.Tanpa sengaja dia bertemu dengan Antoni yang sedang bersembunyi di salah satu mobil, Dirga pura-pura tidak mengetahui siapa pria yang ada di dekatnya

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Memulai Penyamaran

    Perempuan mana yang tidak bisa luluh oleh pesona Dirga, jika di masa lalunya ia mendapatkan julukan sebagai perjaka tua maka sekarang dia adalah idaman banyak perempuan. Wajahnya yang tampan, postur tubuhnya yang tinggi berotot serta gaya bicaranya yang lemah lembut menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang berinteraksi dengannya, siapa sangka jika pria itu dulunya memiliki masalah bau badan, penyakit kulit, postur tubuh yang kerempeng dan dianggap sebagai beban bagi semua orang di desa. "Kamu harus masuk ke kelompok Antoni melalui istrinya. Yang aku tahu, ia memiliki seorang Istri cantik. Yang aneh dalam hubungan pernikahan itu, sang istri sama sekali tidak tahu apa pekerjaan Antoni sebenarnya, dia sosok yang sempurna untuk kamu memulai penyamaran," ucap Kirana sambil memberikan selembar foto berisi gambar perempuan muda yang cantik berambut ikal, serta hidung yang mancung. "Dia cantik untuk ukuran istri seorang mafia," gumam Dirga sambil mengamati foto itu secara detail, ja

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Misi Khusus Di Ranjang

    Hanya dalam sekali tekan, pusaka Dirga tenggelam sepenuhnya. Mata Kirana terpejam, dia begitu menikmati gesekan yang terjadi antar kulit. "Apakah ukuran mempengaruhi daya tahan? Aku memang bukan perempuan yang baik, pria semacam kamu pasti diinginkan banyak perempuan yang ingin kepuasan dalam bercumbu," rancau Kirana, dia bergerak dengan lembut naik turun dengan kedua tangan yang merangkul leher Dirga. "Kita lihat saja nanti, apakah kamu bisa membuatku menyerah," ucap Dirga santai, dia duduk bersandar dengan posisi lebih rileks dari sebelumnya. Tangan Dirga menggapai melon kembar milik Kirana yang berguncang mengikuti pergerakan tubuhnya, bagi Kirana sendiri pengalaman Dirga akan membuatnya merasa sebagai perempuan yang sempurna. Gerakan itu semakin lama semakin kencang, Kirana mengayunkan pinggulnya maju mundur. Terkadang dia berhenti sejenak, cairan yang keluar semakin lama semakin banyak. "Kamu masih terlihat bugar, padahal biasanya tidak ada pria yang tahan dengan posisi semacam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status