로그인Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.
Lorong rumah sakit terasa seperti membeku. Lampu-lampu putih dingin menggantung di atas kepala, membuat bayangan panjang di dinding. Hujan yang sejak tadi deras kini hanya tersisa rintik lembut, menetes di jendela kaca besar di ujung lorong. Keluarga Levin masih menunggu di kursi panjang wajah lelah, mata sembab. Oma Rini berdoa dalam bisikan, jemarinya menggenggam erat hingga buku jarinya memutih. Nyonya Anisa dan Nyonya Mitha duduk di sebelahnya, menatap kosong ke lantai, sementara Tuan Fred dan Tuan Erlan berdiri dekat pintu ruang operasi, menatap jam tangannya untuk kesekian kali. Di depan pintu kaca, Asher berdiri tegak. Tubuhnya kaku, rahangnya mengeras, matanya tak pernah lepas dari tulisan merah, “Operation Room, Do Not Enter.” Sudah lebih dari tiga jam. Terlalu lama. “Mom,” Suara Ayin berkata pelan nyaris tak terdengar. “Kalau operasinya lama, itu pertanda baik atau buruk?” Nyonya Mitha menoleh perlahan, berusaha tersenyum, tapi air matanya jatuh juga. “Tanda jika para tim medis sedang berusaha keras, Sayang.” Ayin mengangguk pelan, tapi wajahnya pucat. “Aku takut, Mom.” Nyonya Mitha menarik putrinya ke dalam pelukannya. “Semua juga takut. Tapi kita harus kuat untuk Opa, ya.” Pintu ruang operasi tiba-tiba berbunyi keras, terbuka setengah. Semua langsung berdiri. Namun bukan dokter Paul yang keluar melainkan seorang perawat, wajahnya tegang, napasnya tersengal-sengal. “Asher segera maju. “Bagaimana suster? Bagaimana keadaan Opa saya?” Perawat menatap mereka dengan raut campur aduk antara lelah dan duka. “Saya … saya sangat minta maaf. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi ...” Suara itu pecah sebelum selesai. Oma Rini langsung menjerit, “Jangan bilang begitu! Jangan bilang Robi sudah pergi!” Perawat menunduk. “Pasien, tidak bisa diselamatkan. Kami kehilangan Beliau lima menit yang lalu.” Hening. Untuk sepersekian detik, dunia berhenti. Tak ada suara, dan napas yang berhembus. Hanya gema kata-kata itu yang menggantung di udara, “Tidak bisa diselamatkan.” Suara tangisan pecah seketika. Oma Rini jatuh berlutut di lantai, menangis tersedu-sedu. “Tidak! Tidak mungkin! Robi sudah janji akan merayakan ulang tahun pernikahan kami bulan depan!” Nyonya Anisa dan Nyonya Mitha langsung memeluk mertuanya, ikut menangis. “Oma, sabar ya, sabar. Kita semua kehilangan Opa.” Erlan berdiri terpaku, wajahnya kosong. Dia tak bisa bicara. Ayin menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya bergetar hebat. “Opa …” Elrod menangis tersedu-sedu di dalam pelukan ibunya, Nyonya Jane. Sementara Tuan Arjuna merangkul bahu Tuan Erlan dan Tuan Fred. Sementara Nyonya Biela Levin, saudara perempuan Tuan Erlan juga ikut menangis dalam pelukan suaminya, Tuan Lui. Seluruh anggota keluarga besar Levin menangis tersedu-sedu saat ini. Namun di antara semua tangisan itu, Asher tetap berdiri diam. Matanya menatap kosong ke arah pintu operasi yang kini terbuka lebar. Dia menatap ke dalam tubuh kakek buyutnya yang telah terbujur kaku di atas meja operasi, diselimuti kain putih, hanya sebagian wajahnya yang terlihat. Dokter dan perawat menunduk hormat sebelum menutup wajah itu sepenuhnya. Asher memejamkan mata. Air mata pertamanya jatuh. Lalu tiba-tiba, tubuhnya bergerak. Asher melangkah cepat ke depan, mendorong pintu operasi hingga terbuka penuh. “Asher!” panggil Nyonya Mitha, tapi dia tak peduli. Asher masuk ke ruang operasi, mendekati meja itu. “Opa …” Suaranya lirih, serak, dan gemetar. Dia menyentuh tangan dingin yang dulu sering menepuk bahunya dengan bangga. “Bangun, Opa. Aku sudah ada di sini. Aku nggak akan marah lagi soal bisnis, sungguh. Aku berjanji akan jadi cucu buyut yang baik,” Tak ada jawaban. Hanya suara mesin monitor yang sudah berhenti berdetak. Asher menggenggam tangan itu lebih keras. “Opa, tolong buka mata.” Suara tangisnya pecah. “Opa, jangan pergi! Aku masih butuh Opa!” Perawat mencoba mendekat, tapi Asher menepis tangan mereka. “Jangan sentuh Opa!” bentaknya. “Jangan!” Beberapa menit kemudian, dokter Paul akhirnya keluar dari ruang sterilisasi. Wajahnya basah oleh keringat, langkahnya pelan. Dia menatap Keluarga Levin dengan tatapan berat. “Dokter!” Erlan segera menghampirinya. “Tolong jelaskan, kenapa hal ini bisa terjadi? Bukankah tadi semuanya sudah stabil?” Dokter Paul menarik napas panjang. “Kami sudah berhasil memasang dua ring. Tapi pembuluh ketiga, yang paling kecil dan letaknya paling dalam dan pecah tiba-tiba. Kami sudah lakukan CPR selama dua puluh menit, tapi jantung pasien tak merespons lagi.” Nyonya Anisa dan Nyonya Mitha menangis histeris. “Berarti, semua sudah terlambat?” Dokter Paul menunduk dalam-dalam. “Saya minta maaf, Nyonya. Kami benar-benar sudah berusaha sekuat tenaga.” Hening terjadi lagi. Namun tiba-tiba Asher berdiri pelan dari sisi meja. Wajahnya merah, matanya basah, tapi sorotnya tajam. “Berusaha sekuat tenaga?” Suaranya pelan tapi tajam seperti pisau. “Itu saja yang bisa Anda katakan, dokter?” Dokter Paul menatapnya tenang. “Tuan Asher, saya mengerti rasa kehilangan Anda." “Tidak, Anda tidak akan mengerti!” Asher mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah. “Anda telah berjanji! Anda bilang Opa akan selamat! Anda sudah berjanji di depan kami semua tadi!” Dokter Paul tetap menatapnya tanpa gentar. “Saya bilang, saya akan berusaha. Tapi tidak ada dokter di dunia yang bisa menjamin hidup atau mati.” “Asal Anda tahu, Opa saya bukan pasien sembarangan!” Asher membentak. “Beliau Kepala Keluarga Levin! Anda tahu artinya itu? Anda seharusnya memanggil tim terbaik! Kenapa Anda biarkan Opa mati begitu saja?” “Asher, cukup!” tegur Tuan Erlan keras. Tapi Asher menepis tangan ayahnya. “Tidak, Daddy! Aku tidak akan diam! Ini sebuah kelalaian! Aku lihat sendiri tadi, lampu ruang operasi sempat padam lima detik sebelum perawat keluar! Itu artinya apa? Kenapa bisa mati lampu di ruang operasi jantung?” Dokter Paul terdiam sesaat, lalu menjawab tenang, “Kami memang mengalami gangguan daya sesaat, tapi generator otomatis langsung menyala kembali dalamwaktu dua detik. Tidak memengaruhi prosedur medis.” “Dua detik bisa membunuh seseorang, dokter!” seru Asher, matanya liar. “Kalian telah membunuh Opa aku!” Nyonya Mitha menangis lebih keras. “Asher, jangan bicara begitu!” Tapi Asher sudah terbakar emosi. Dia menunjuk dada dokter itu. “Aku akan menuntut Anda, dokter Paul! Aku akan pastikan seluruh dunia tahu bahwa dokter jantung paling terkenal di Jakarta gagal menyelamatkan satu nyawa Keluarga Levin!” Dokter Paul tidak membalas. Dia hanya bisa menunduk sedikit. “Kalau itu bisa meringankan duka Anda, lakukanlah, Tuan Asher. Tapi saya tidak pernah bermain-main dengan nyawa manusia.” “Asher!” Tuan Erlan menarik putranya menjauh. “Kendalikan dirimu! Ini bukan waktunya berdebat!” Asher menepis kasar. “Waktu apa yang tepat, Dad? Kita baru saja kehilangan orang paling penting di keluarga ini karena dokter yang ceroboh!” Oma Rini berteriak, “Cukup, Asher! Jangan menambah dosa di atas duka!” Asher menoleh, suaranya melemah. “Oma …” Air matanya jatuh lagi. “Aku cuma … aku cuma nggak siap kehilangan Opa.” Oma Rini memeluk cucu buyutnya erat. “Tidak ada seorang pun yang siap, Asher. Tapi kemarahan tidak akan membangunkan Opa kembali.” Asher jatuh berlutut, menangis di pangkuan nenek buyutnya seperti anak kecil. Suaranya serak, patah-patah. “Opa selalu bilang aku harus jadi pemimpin. Tapi gimana caranya aku memimpin, kalau aku bahkan nggak bisa menyelamatkan Opa.” Beberapa jam kemudian, tubuh Opa Robi dibawa ke ruang perawatan jenazah. Keluarga mengiringinya dengan langkah berat. Nyonya Mitha menggenggam tangan Tuan Erlan erat, sementara Ayin memeluk Asher dari belakang, berusaha menenangkan kakaknya. Langkah mereka juga diikuti oleh anggota keluarga lainnya. “Opa sudah tenang sekarang, Kak,” bisik Ayin. Asher hanya menatap lurus ke depan. “Tenang di mana? Di kotak dingin itu?” “Jangan ngomong begitu.” Ayin memohon. Asher menatap ke arah dokter Paul yang berdiri di ujung lorong, mengamatinya dari kejauhan. Wajah dokter itu tampak sendu, namun tetap tenang. Dia menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan terakhir. Namun Asher menatapnya dengan kebencian yang belum padam. “Lihat wajahnya,” gumamnya pelan. “Begitu tenang, seolah tak terjadi apa-apa.” Tuan Erlan menepuk bahu putranya. “Asher, lepaskan dulu emosimu. Kita urus pemakaman. Setelah itu baru kita bicara dengan kepala dingin.” Asher mendengus pelan. “Tidak, Daddy. Aku akan bicara sekarang. Aku mau melihat laporan lengkapnya malam ini. Setiap detik dari operasi itu. Dan kalau aku temukan satu kejanggalan saja!” Asher menatap lurus ke arah dokter Paul. “Aku akan pastikan izin prakteknya dicabut!” Dokter Paul menatapnya lama, lalu menjawab lembut, “Saya siap menjawab semua pertanyaan Anda, Tuan Asher. Tapi tidak malam ini. Malam ini, berdukalahlah dulu. Itu mungkin yang akan diinginkan Almarhum Tuan Robi.” Asher terdiam. Untuk pertama kalinya, matanya tidak lagi menyala karena marah tapi karena kosong, sepi, dan hancur. Pagi menjelang. Langit Jakarta perlahan berwarna abu-abu muda. Rumah sakit mulai ramai, tapi Keluarga Levin masih di lorong yang sama, masih dengan pakaian semalam. Nyonya Mitha memandangi peti pendingin tempat tubuh Opa Robi disimpan, lalu berbisik pada suaminya, “Opa pergi terlalu cepat, Lan.” Tuan Erlan mengangguk pelan. “Tapi Opa pergi dengan tenang. Tanpa menanggung rasa sakit lagi.” Nyonya Mitha menangis lagi, menutup wajah dengan tangan. Di seberang ruangan, Asher berdiri di depan jendela besar, memandangi hujan yang masih menetes pelan. Asher berbisik lirih, suaranya hampir tak terdengar, “Aku janji, Opa. Aku nggak akan biarkan nama Keluarga Besar Levin jatuh. Aku akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi malam ini, meski aku harus melawan dunia.” Dan di luar sana, langit pagi perlahan berubah cerah, tapi bagi keluarga Levin, terutama Asher hari itu akan selamanya menjadi pagi paling gelap dalam hidup mereka.Pagi Setelahnya.Matahari pagi menyelinap pelan dari balik tirai.Burung-burung berkicau lembut di taman, tapi di dalam kamar itu, udara masih berat, seolah waktu enggan bergerak.Sarah membuka mata perlahan. Kepalanya berat, tubuhnya terasa kaku. Dia memandang sekeliling kamar besar itu sunyi.Asher sudah tertidur di sisi ranjang, wajahnya tenang, seperti seseorang yang tak pernah melakukan dosa.Sarah menatapnya lama, lalu pelan-pelan duduk.Matanya kosong, tapi di balik itu ada sesuatu yang tumbuh bukan lagi hanya ketakutan, melainkan luka yang mulai berubah menjadi kekuatan kecil.Sarah berbisik lirih, hampir tak terdengar,“Asher, suatu hari nanti kamu akan tahu rasa sakit yang sama seperti yang kamu tanamkan padaku.”Air mata jatuh di pipinya. Sarah menyentuh cincin di jari manisnya, cincin yang kini terasa seperti rantai yang mengikatnya.Sang gadis berdiri, berjalan pelan menuju cermin besar di kamar itu.Wajah yang menatap balik dari sana bukan lagi Sarah yang polos dan lembu
Malam turun perlahan di atas mansion Asher Levin.Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di lantai dua, di dalam sebuah kamar Sarah merasakan hawa dingin seperti di dalam ruang hampa. Hanya suara jam berdetak dan napas pelan yang terdengar di antara bayangan.Sarah duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun putih sederhana namun elegan yang kini mulai kusut. Tangannya gemetar, memeluk dirinya sendiri. Dia tak tahu harus ke mana. Mansion ini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.Pintu kamar diketuk tiga kali.Sarah tersentak. Jantungnya berdetak keras.“Masuk …” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.Pintu terbuka, dan masuklah maid Sri membawa baki berisi air hangat, handuk, dan setelan pakaian tidur mini berwarna merah. Wajahnya tampak tegang, tapi tetap lembut seperti biasanya.“Selamat malam, Nona Sarah,” katanya pelan, menunduk.Sarah mencoba tersenyum, tapi hanya bibirnya yang bergerak, tanpa cahaya di matanya.“Ada
Fajar baru menyapa, namun sinar matahari enggan menembus tirai tebal kamar besar itu. Sarah duduk di kursi dekat jendela, matanya sembab. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap detik hanya diisi ketakutan, doa, dan bayangan wajah ibunya di rumah sakit.Ketika pintu kamar terbuka, suara langkah sepatu terdengar teratur. Asher masuk dengan setelan jas abu muda, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya ada map cokelat dan pena hitam.Sarah menatap map itu dengan hati berdebar.“Apa lagi yang kamu mau?” tanyanya pelan, suaranya lemah.Asher meletakkan map itu di meja. “Ini surat perjanjian pernikahan.”Sarah menatapnya tak percaya. “Pernikahan?”Gadis itu berdiri refleks, kursinya bergeser menimbulkan bunyi berderit. “Maksudmu apa? Kamu pasti sedang bercanda.”Asher menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak pernah bercanda, Sarah.”Asher membuka map itu perlahan, memperlihatkan selembar dokumen resmi bertuliskan,Perjanjian Pernikahan atas Kesepakatan Kedua Pihak.Nama mereka tercetak di atas
Malam itu hujan turun deras. Jakarta seperti tenggelam dalam gemuruh petir dan genangan air yang berkilat di bawah lampu jalan.Sarah melangkah cepat di trotoar sempit, tas kain ada di pelukannya. Dia baru saja selesai shift malam di kafe, tubuhnya lelah, mata berat, tapi pikirannya hanya tertuju pada ibunya di rumah sakit.Bus terakhir sudah lewat. Sarah pun memutuskan berjalan kaki menuju halte berikutnya. Jalanan sepi, hanya ada suara hujan yang seolah-olah sedang menampar aspal dan mobil-mobil yang melintas jauh di kejauhan.Tiba-tiba, suara mesin mobil mendekat perlahan dari belakang.Sarah menoleh. Ada sebuah mobil hitam tanpa plat depan berhenti tepat di sampingnya.“Maaf, Mbak ini arah ke Cempaka Putih, ya?” Suara pria dari dalam mobil.Sarah berbalik setengah, mencoba melihat wajahnya, tapi kaca mobil terlalu gelap. “Iya, lurus ke depan, belok kiri di lampu merah,” jawabnya sopan.Namun belum sempat Sarah melangkah lagi, suara pintu mobil terbuka, dan dalam hitungan detik dua
Pagi itu, langit Jakarta masih berkabut setelah hujan semalaman. Jalanan padat dengan motor dan mobil yang saling bersaing adu klakson. Di trotoar sempit kawasan Tebet, Sarah Noela berjalan cepat sambil membawa map berisi surat lamaran kerja. Napasnya sedikit memburu, tapi matanya menyala penuh semangat.Sarah baru saja keluar dari klinik tempatnya bekerja paruh waktu.Bayaran dari klinik itu tak cukup untuk menutupi biaya rumah sakit ibunya. Setiap malam dia memikirkan tagihan yang menumpuk di laci kecil dekat meja makan.“Kalau bukan aku yang cari tambahan, siapa lagi?”Begitu kalimat yang Sarah ulang setiap kali merasa lelah.Sebuah kafe kecil yang terletak di sudut jalan, dengan cat dinding krem dan aroma kopi yang lembut menyambut setiap pengunjung. Sarah berhenti di depan pintunya, membaca tulisan kecil di jendela.“Dicari : Pelayan paruh waktu, Shift Sore-Malam.”Sarah menatap iklan itu lama, lalu menatap ke dalam.Ada tiga meja kecil, seorang barista di balik mesin espresso, d
Jakarta, sore hari.Langit menggantung kelabu, hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu mobil yang berjejer di ruas Senopati. Di sebuah sedan hitam yang terparkir di seberang jalan, Asher Levin duduk diam, memandangi arah sebuah klinik kecil.Di pangkuannya, secangkir kopi sudah dingin. Asher menatap ke luar jendela dengan pandangan tajam, seperti sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.Dari balik kaca, tampak seorang gadis muda berseragam putih keluar dari klinik sambil menenteng tas kain. Rambutnya diikat rapi, langkahnya cepat tapi lembut. Dia berhenti sejenak di depan pintu klinik, membantu seorang nenek menyeberang jalan.Asher memperhatikan gerakan gadis itu lama.Ada sesuatu pada gadis itu, bukan hanya kecantikannya yang polos, tapi ketenangan yang terpancar dari wajahnya.Namun di benak Asher, wajah itu segera dikaitkan dengan satu nama yang telah dia hafal di luar kepala.Sarah Noela.Putri tunggal dari dokter Paul Subroto, pria yang telah mer







