Masuk"Benar, benar."Kebetulan, Arvin masuk bersama istrinya dan mendengar semua pembicaraan itu. Dia meletakkan tangan yang dikepal di depan bibir, lalu berdeham pelan.Renee sengaja mendongak menatapnya. "Aku rasa mereka benar, menikah dengan pria sepertimu memang terlalu membosankan.""Kenapa? Nyesal?" Arvin mendekat ke telinganya dan berbisik, "Nyonya Suryana, sudah terlambat untuk menyesal."Renee tentu saja tidak menyesal. Namun, dia sengaja menggoda, "Gimana kalau kamu juga desain satu set perhiasan untukku? Biar aku nggak ditertawakan karena nikah dengan tuan muda sepertimu.""Oke." Arvin langsung mengangguk setuju. "Besok aku ikut kelas, mulai dari belajar menggambar.""Sudahlah.""Kenapa? Meremehkanku?""Cuma bercanda." Renee mendongak, melingkarkan tangan di leher Arvin. "Suamiku sudah cukup sibuk, jangan dipaksakan lagi. Kita tukar saja, aku yang desain baju untukmu, dari kepala sampai kaki. Itu juga manis kok.""Kamu benar-benar merasa itu manis?""Tentu saja." Renee tersenyum
Renee berseru pelan. Kedua tangannya langsung melingkari leher Arvin erat-erat. "Turunkan aku.""Nggak mau." Arvin menggendongnya sambil melangkah lebar menuju kamar utama, lalu langsung masuk ke kamar mandi.Menyadari apa yang ingin dia lakukan, Renee secara naluriah ingin meronta. Namun, ketika teringat Nessy sudah menemukan pasangan lain, sisa ganjalan di hatinya pun lenyap.Lantas, apa lagi yang perlu dia jaga? Suami istri mandi bersama itu hal yang wajar.Arvin merasakan perubahan sikapnya. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Setelah menaruh Renee di atas wastafel, dia menatapnya dengan penuh perasaan dan berkata pelan, "Sayang, bantu aku lepas baju."Renee benar-benar patuh. Jari-jarinya yang ramping bergerak ke dada pria itu. Sambil tersenyum, dia membuka kancingnya satu per satu.Otot dada yang kencang dan seksi perlahan terlihat seiring gerakannya. Renee menelan ludah pelan, lalu membungkuk, dengan hati-hati menempelkan bibirnya di dada pria itu. Ini pertama kalinya dia seaktif
Dalam situasi seperti ini, Renee biasanya langsung mengiakan tanpa ragu.Arvin seperti biasa, langsung mengernyit. "Anak kecil ini kenapa merepotkan sekali sih? Cepat atau lambat harus kukirim kembali ke rumah lama.""Nggak boleh!" Renee langsung menolak. "Arvin, kalau kamu berani kirim Renji ke sana, aku akan kabur dari rumah.""Hm? Bukankah kita sudah sepakat apa pun yang terjadi, kamu nggak boleh kabur dari rumah lagi?""Ini masalah besar!"Melihat Renee benar-benar panik, Arvin tersenyum, lalu mengusap kepalanya untuk menenangkan. "Aku cuma bercanda, masa aku berani mengirim anak kesayanganmu pergi?""Memang harus begitu." Renee akhirnya lega, lalu bertanya lagi, "Oh ya, gimana dengan ibumu?""Mau gimana lagi? Putri Keluarga Saswita yang dia inginkan untuk dijadikan menantu sudah punya pilihan lain. Masa mau rebut pengantin orang? Kalaupun aku rebut, melihat perasaan Nessy pada Mike, aku juga nggak mungkin berhasil.""Tapi Bu Juwita nggak menyukaiku, juga nggak menerimaku.""Kamu h
Nessy benar-benar bersama pengawalnya. Bukan hanya para tamu yang tidak percaya, bahkan Renee pun sulit memercayainya.Dia diam-diam menarik ujung baju Arvin. "Arvin, menurutmu apa yang dikatakan Nessy itu benar?""Aku rasa benar.""Kenapa?""Mungkin karena ... aku cukup mengenal mereka berdua.""Mengenal mereka berdua?""Tadi kamu nggak dengar apa yang Nessy katakan? Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Mike membantunya belajar dan melindunginya. Orang lain mungkin hanya mendengarnya sekilas, tapi aku melihatnya sendiri.""Meskipun Mike adalah anak sopir Keluarga Saswita, dia adalah mahasiswa teladan yang sangat pintar. Dia sebenarnya satu tingkat di atas Nessy, tapi demi membantu Nessy masuk universitas unggulan, di tahun terakhir SMA dia rela melepaskan gelar juara umum dan mengulang satu tahun, lalu mengajak Nessy masuk ke universitas top di dalam negeri.""Setelah itu, demi bisa secara sah berada di sisi Nessy, dia belajar bela diri dan menjadi pengawalnya."Hanya dengan mendengar p
Nessy maju satu langkah. Jari-jarinya yang ramping menyentuh wajah tampan Mike. Mungkin ini pertama kalinya dia melakukan tindakan seintim itu padanya, Mike tanpa sadar mundur setengah langkah.Nessy mengikuti langkahnya. Jarinya perlahan turun ke kerah bajunya, lalu membuka bagian dalam jasnya. "Mike, lihat ini apa?"Tatapan Mike mengikuti arah pandangnya. Dia melihat di bagian dalam jas terdapat sulaman inisial nama Nessy yang sedikit miring. Wajahnya kembali menunjukkan keterkejutan.Baju itu diberikan oleh kepala pelayan dan kepala pelayan tidak mengatakan dari mana asalnya, hanya menyuruhnya harus mengenakan ini hari ini. Saat itu, dia tidak banyak berpikir, juga tidak memperhatikan dan langsung memakainya.Tak disangka di dalamnya tersulam nama Nessy. Seketika, dia merasa pakaian itu menjadi sangat berharga."Mike, aku nggak pernah belajar desain dan juga nggak sehebat kamu yang bisa merancang cincin sendiri, tapi aku bisa menyulam nama. Menurutmu sulamanku bagus nggak? Ada ketul
"Aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk melamar pria yang kucintai."Begitu kata-kata itu dilontarkan, terdengar seruan kaget di seluruh ruangan. Tak lama kemudian, semua orang mulai berbisik-bisik, menebak siapa pria yang dicintai Nessy.Pada akhirnya, semua pandangan serempak tertuju pada Arvin.Hubungan Nessy dan Arvin dulu sudah menjadi rahasia umum di kalangan mereka, bahkan semua orang tahu kedua keluarga sempat berencana menjodohkan mereka. Kalau bukan karena kecelakaan yang dialami Nessy, mereka mungkin sudah menikah dan punya anak sejak lama.Bahkan Renee tanpa sadar ikut menoleh ke arah Arvin di sampingnya, sementara kedua tangannya yang tersembunyi di lipatan rok perlahan mengepal erat.Dia tak berani membayangkan, jika Nessy benar-benar melamar Arvin di depan umum, betapa hebohnya suasana dan bagaimana dia harus bersikap.Arvin memang orang yang sudah berpengalaman menghadapi berbagai situasi. Menghadapi keadaan seperti ini pun dia tetap terlihat tenang.Tak lama kemud
Nissa diam-diam mengangkat sudut bibirnya. Namun, air matanya malah mengalir semakin deras."Bibi, menurutku Bu Renee sudah membenciku sampai kehilangan akal sehat. Itulah sebabnya dia bertingkah seperti anjing gila, terus menggigitku tanpa henti. Sudahlah, melihat Renji baik-baik saja aku sudah ten
Dia hanya bisa melihat mulut Renji membuka dan menutup. Dari gerak bibirnya, jelas anak itu sedang berteriak, "Nggak mau Mama."Renee meraba telinganya yang kini kosong dengan canggung, lalu semakin panik merangkak mencari alat bantu dengarnya di lantai. Alat itu ternyata terjatuh ke bawah sofa. Dia
Renee menatap kembali Nissa di depannya.Dengan kemeja berenda yang rapi, rok panjang bermotif bunga, wajah cantik yang tersenyum sopan .... Meskipun dia berusaha keras untuk terlihat polos, aura genit yang melekat sejak lahir tetap tak bisa disembunyikan.Sebuah kalimat muncul di benak Renee, "gaga
Tidak ada apa pun yang bisa ditemukan di internet.Malam semakin larut. Arvin kembali ke kamar utama setelah keluar dari kamar anak. Renee menatapnya masuk, ragu-ragu ingin berbicara. Dia ingin bertanya siapa Nessy sebenarnya, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Mengintip privasi orang lai







