Se connecterJika di Fakultas Hukum Erlangga ada Anggara Adiraja yang terkenal dengan pesona sedingin es, maka di SMA Internasional Pelita Bangsa, nama Jibran Adiraja adalah persamaan dari kata 'bencana tapi menawan'.
Pagi itu, jam dinding di kelas XI-IPA 1 baru menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Guru jam pertama belum masuk, yang berarti kelas masih berada dalam mode zona bebas hambatan. Di tengah kebisingan itu, Ibran tengah duduk santai di atas meja guru. Kaki panjangnya yang dibalut celana seragam abu-abu berayun pelan. Tangan kanannya memegang sebuah spidol papan tulis yang ia gunakan sebagai microphone jadi-jadian, sementara tangan kirinya sibuk mengacak-acak rambut ikalnya yang memang sengaja dibiarkan sedikit memanjang. "Terus, Pak Supri yang lagi nyetir langsung ngerem mendadak, Bro! Kucingnya selamat, tapi muka gue nyium jok depan! Sumpah, kalau bokap gue tahu, tuh kucing pasti udah dituntut ganti rugi pakai pasal kelalaian merusak aset wajah keluarga Adiraja!" cerita Ibran dengan suara lantang, mengundang tawa meledak dari teman-teman cowok yang mengerumuninya. Di sudut lain kelas, sekumpulan siswi perempuan tampak berbisik-bisik sambil mencuri pandang ke arah Ibran. Tidak bisa dimungkiri, genetik Sadewa Adiraja dan Natasha Zealina benar-benar bekerja maksimal pada anak bungsu mereka. Ibran memiliki postur tinggi tegap khas atlet basket, kulit putih bersih, dan senyum miring super jahil yang justru membuat pesonanya berkali-kali lipat lebih mematikan dari pada sang Kakak. Ia adalah bad boy kesayangan guru. Sering dihukum karena menjahili teman, tapi langganan ranking satu di kelas, menyumbang piala kejuaraan basket dan debat bahasa Inggris untuk sekolah juga menjadi juara umum Pelita Bangsa. "Gila ya, Ibran makin hari makin ganteng aja. Sayang kelakuannya kayak reog," bisik salah satu siswi sambil menopang dagu. "Tapi justru itu yang bikin gemes! Bayangin kalau dia tiba-tiba bucin, pasti—" Ucapan siswi itu terpotong secara tiba-tiba. Pintu kelas yang tadinya setengah tertutup, tiba-tiba didorong terbuka. Seorang gadis cantik melangkah masuk. Ia mengenakan seragam yang disetrika luar biasa licin, dipadukan dengan cardigan rajut berwarna baby pink yang kebesaran, menutupi telapak tangannya. Rambut sebahunya dijepit rapi menggunakan jepit mutiara yang berkilau. Sebuah tas punggung MCM berukuran mini bertengger manis di bahunya. Wajah gadis itu sangat imut dan cantik, dengan pipi chubby yang merona alami dan bibir mungil yang sedang mengerucut sebal. Namanya Ghea Callista. Tuan Putri dari keluarga Varesa, pemilik jaringan hotel mewah, yang manjanya tidak kalah dari Zivanna Adiraja. Begitu ujung sepatu Mary Jane milik Ghea menginjak lantai kelas, sebuah fenomena gaib langsung terjadi di depan kelas. Suara tawa Ibran yang tadinya paling keras dan menggelegar, mendadak lenyap ditelan bumi. Pemuda jahil yang detik lalu masih bertingkah layaknya preman pasar itu, tiba-tiba melompat turun dari meja guru dengan gerakan secepat kilat meraih minuman yang sengaja ia beli di kafe sekolah. Dalam waktu kurang dari tiga detik, Ibran langsung mengancingkan kerah seragamnya yang tadinya terbuka, merapikan rambutnya dengan sebelah tangan, dan membuang spidol ke dalam kotak pensil. Tubuhnya berdiri tegak kaku, dan wajah jahilnya seketika berubah menjadi sok kalem, ramah, dan sangat... alim. Bagas, teman sebangku Ibran, hanya bisa menepuk jidat melihat perubahan wujud super-kilat itu. "Mulai deh... anjing doberman berubah jadi poodle," gumam Bagas miris. Ghea berjalan melewati deretan meja dengan wajah ditekuk. Gadis itu sama sekali tidak melirik ke arah gerombolan Ibran. Ia meletakkan tas mininya di meja barisan kedua, menarik kursi, lalu mengeluarkan hand sanitizer dan menyemprotkannya ke telapak tangan dengan gaya yang sangat anggun dan higienis. Ibran, yang seolah memiliki magnet di tubuhnya, perlahan berjalan menghampiri meja Ghea. Langkahnya dibuat sepelan dan sekeren mungkin. "Pagi, Ghea," sapa Ibran dengan suara bariton yang sengaja direndahkan, meniru gaya cool kakak sulungnya, Angga. Ghea berhenti mengusap tangannya. Ia mendongak, menatap Ibran dengan dahi berkerut halus. Bukannya tersipu atau salah tingkah seperti gadis-gadis lain saat didekati Ibran, Ghea justru menatap pemuda itu dengan tatapan menilai. "Pagi," balas Ghea pendek. Suaranya melengking manja dan lucu. "Ngapain lo di situ? Ngalangin sirkulasi AC, tahu nggak. Gue kepanasan." Bagas dan beberapa teman cowok di belakang langsung membekap mulut, menahan tawa yang nyaris meledak. Hanya Ghea Callista, satu-satunya perempuan di muka bumi, selain Zea dan Ziva, yang bisa mengusir seorang Jibran Adiraja hanya karena alasan sirkulasi AC. Ibran meringis, aura cool-nya langsung runtuh. Ia buru-buru bergeser satu langkah ke kanan. "Maaf, maaf. Udah kena kan AC-nya?" tanya Ibran cemas, lalu dengan cepat mengeluarkan sebuah botol minuman dingin berwarna ungu pastel dari goodie bag kecil yang ia bawa. "Nih," Ibran meletakkan botol itu di atas meja Ghea dengan senyum manis yang bisa membuat siswi lain pingsan berdiri. "Taro Milk Tea dari kafe depan. Gue pesen khusus less ice, less sugar, sama persis kayak yang lo suka waktu kita nggak sengaja ketemu di mal minggu lalu." Ghea melirik botol itu, lalu melirik Ibran. Bibir mungilnya semakin mengerucut. "Ibran, gue kan udah bilang. Gue lagi program kurangin dairy product dari dokter kulit mami gue biar nggak jerawatan. Lo mau pipi gue breakout?" omel Ghea dengan gaya manjanya yang khas. Ia lalu mengeluarkan botol tumbler kelinci dari dalam laci mejanya. "Gue udah bawa jus kale campur apel dari rumah. Thanks, tapi Taro-nya buat lo aja." Tawa anak-anak cowok di belakang kelas akhirnya pecah. "Mampus! Ditolak lagi, Bos!" ledek Bagas kegirangan. Ibran menoleh ke belakang, memberikan tatapan membunuh persis seperti Dewa pada teman-temannya agar mereka diam. Ia kembali menatap Ghea, yang kini sedang mengelap ujung mejanya dengan tisu basah antibakteri. Pemuda yang tidak pernah kehabisan akal jahil itu kini justru kehabisan kata-kata. Ibran, yang bisa merayu guru killer agar tidak memberikan PR, mendadak berubah menjadi orang idiot jika berhadapan dengan kemanjaan Ghea. "Ya udah, Taro-nya gue simpan. Lo... udah ngerjain PR Fisika belum?" Ibran mencoba mencari topik lain. Pemuda itu bertumpu pada meja Ghea, mencoba memajukan wajahnya sedikit. "Ghea, lo tahu nggak bedanya lo sama Undang-Undang Dasar?" Ghea menghentikan aktivitasnya mengelap meja. Ia menatap Ibran dengan tatapan super malas. "Nggak tahu. Dan gue nggak mau tahu. Pasti gombalan receh kan?" "Bukan!" sergah Ibran cepat, masih mempertahankan senyumnya. "Kalau UUD itu dasar negara, kalau lo... dasar dari segala kebahagiaan dan masa depan gue." Hening. Angin AC berembus pelan. Ghea berkedip dua kali. Gadis itu lalu menarik napas panjang, menatap Ibran dengan raut wajah sangat lelah. "Ibran," panggil Ghea dengan suara manjanya, "Lo tahu bedanya lo sama nyamuk demam berdarah?" Mata Ibran langsung berbinar cerah, merasa pancingannya berhasil. "Sama-sama bikin lo demam ya karena kangen?" "Bukan," jawab Ghea datar, namun dengan suara meninggi. "Sama-sama berisik dan harus di-fogging biar jauh-jauh dari gue." Seisi kelas langsung meledak dalam tawa yang luar biasa heboh. Beberapa anak bahkan sampai memukul-mukul meja. "GILA! SAVAGE BANGET TUAN PUTRI KITA!" teriak Bagas sambil memegangi perutnya yang kram. Wajah tampan Ibran seketika memerah, antara malu dan salah tingkah. Egonya sebagai cowok paling populer di sekolah baru saja diinjak-injak dengan sangat estetik oleh seorang gadis imut ber-cardigan pink. "Ghea, lo sadis banget sih. Gue kan cuma mau make sure pagi lo indah," gerutu Ibran, suaranya mendadak berubah menjadi rengekan pelan yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. Ghea merapikan alat tulisnya yang berwarna-warni, lalu menatap Ibran dengan pipi menggembung lucu. "Pagi gue bakal indah kalau lo duduk anteng di bangku lo, nggak teriak-teriak kayak tarzan, dan nggak gangguin gue, Jibran," omel Ghea. "Gue tuh nggak suka cowok yang pecicilan dan berisik. Gue suka cowok yang tenang, elegan, dan nggak suka cari masalah. Kayak Kak Angga tuh, kakak lo! Dia aja bisa kalem, kenapa lo hyperactive banget sih?" Mendengar nama kakaknya disebut sebagai standar pria idaman gadis pujaannya, Ibran langsung menepuk jidat. Sialan, rutuk Ibran dalam hati. Kenapa dari miliaran manusia di bumi, Ghea harus menjadikan kulkas dua pintu berjalan itu sebagai cowok idealnya?! "Kak Angga mah bukan kalem, Ghea, dia tuh mati rasa! Kalau lo pacaran sama Kak Angga, berasa lagi kencan sama patung lilin Madame Tussauds! Beda sama gue, gue ini dinamis, asyik, dan..." Ibran mencoba membela diri. "Duduk, Ibran. Pak Yoyo udah datang," potong Ghea cepat, mengarahkan dagunya ke arah pintu. Benar saja, guru Matematika mereka sudah berdiri di ambang pintu kelas. Ibran menghela napas pasrah. Dengan gontai dan bahu merosot, bad boy penakluk sekolah itu berjalan kembali ke bangkunya, menerima kekalahannya pagi ini. Dari bangkunya, Ibran menatap punggung kecil Ghea. Pemuda itu mengusap wajahnya kasar. Kini, ia mulai memahami kalimat yang sering diucapkan Papanya saat sedang uring-uringan menghadapi kemauan aneh Mamanya. Kutukan keluarga Adiraja itu nyata. Mereka, para laki-laki Adiraja, diciptakan dengan kesempurnaan fisik dan otak yang brilian, namun sayangnya, mereka selalu dijatuhkan oleh perempuan-perempuan keras kepala yang sama sekali tidak mempan dengan pesona mereka. Dan Jibran Adiraja, si bungsu yang jahil dan pecicilan itu, tampaknya telah menemukan 'kutukan' pribadinya dalam wujud seorang gadis pencinta warna merah muda bernama Ghea Callista. "Lihat aja, kalau udah lulus kuliah nanti, bakal gue seret ke pelaminan!" gerutunya mengeluarkan buku matematika dari dalam tas tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung gadis sang pujaan hati.Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. "Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. "Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men
Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un
Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa
"Assalamualaikum." Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. "Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. "Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men
"JIBRANNN!" Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. "Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa
Suasana kelas XI-IPA 1 mendadak hening begitu Pak Yoyo, guru Matematika paling disiplin seantero SMA Internasional Pelita Bangsa, mulai menggoreskan spidol hitamnya di papan tulis. Deretan rumus logaritma yang terlihat seperti bahasa alien mulai memenuhi papan putih itu. Bagas, yang duduk di barisan belakang, mencuri pandang ke sebelah kirinya. Matanya membulat tak percaya melihat Jibran masih duduk tegak di dalam kelas. Pasalnya, Jibran itu sudah diangkat jadi ketua Osis tahun ini, dan diluar sana adik-adik kelas yang cantik dan ganteng sudah menunggu pidatonya untuk membuka acara Orientasi siswa baru. Tangan Ibran justru masih memegang pena, matanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah sok serius dan penuh konsentrasi. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, tatapan Ibran sama sekali tidak tertuju pada rumus logaritma di papan tulis. Fokus sepasang mata elang pemuda itu terkunci rapat pada punggung kecil berbalut cardigan pink yang duduk tepat di barisan depannya. Ghea Cal







