Home / Romansa / CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2 / BAB 3 : KITA PUTUS!

Share

BAB 3 : KITA PUTUS!

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-10-07 12:30:54

Namun, sebelum tangan Sena sempat bergerak, gadis itu sudah lebih dulu memalingkan wajahnya. Ia menganggap perdebatan tidak logis dengan Sena telah selesai, dan ia tidak punya waktu untuk meladeninya.

​Saat itulah, arah pandangan gadis itu beralih, dan tanpa sengaja bertabrakan langsung dengan mata Angga yang berdiri diam di belakang Sena dan melepaskan kacamata hitamnya perlahan.

​Di detik yang sama, isi dalam kepala Anggara Adiraja seolah berhenti berputar. Korslet total.

​Waktu terasa lambat. Angga menatap tepat ke dalam sepasang manik mata kelam di balik lensa kacamata itu. Gadis itu menatapnya. Bertatapan langsung dengan pangeran Fakultas Hukum Universitas Erlangga yang dipuja dan digilai oleh banyak wanita. Laki-laki tampan, kaya raya, dingin, cerdas dan nyaris sempurna.

​Normalnya, perempuan mana pun yang ditatap oleh Angga dengan jarak sedekat ini akan merona merah, salah tingkah, menunduk malu, atau minimal terpesona hingga kehilangan kata-kata.

​Tapi gadis ini?

​Gadis itu menatap wajah rupawan Angga hanya selama dua detik, dengan ekspresi yang sama datarnya saat ia menatap tembok koridor. Tidak ada tatapan kekaguman. Tidak ada rona merah di pipi. Tidak ada getar ketertarikan sedikit pun. Di mata gadis itu, hanya terlihat kosong.

Sedetik kemudian, gadis itu memutus kontak mata mereka, memutar tubuhnya, dan melangkah pergi menyusuri lorong menuju kelas, meninggalkan Sena yang masih menganga dan Angga yang mematung di tempatnya.

​Angga membeku. Matanya tak mampu menyembunyikan rasa terkejut yang baru saja menghantamnya.

​Jantungnya yang selama ini selalu berdetak stabil dan ia yakini kebal terhadap hormon romansa murahan, tiba-tiba memompa darah dengan kecepatan yang sangat tidak normal. Berdetak hebat hingga membuat ujung jari Angga terasa dingin.

​Ia baru saja diabaikan. Kehadirannya baru saja dilewati begitu saja oleh seorang gadis aneh berkemeja flanel tanpa make up, yang entah kenapa... justru membuat seluruh ego dan pikiran Angga runtuh seketika.

​"Angga! Kamu lihat kan?! Dasar cewek gila! Awas aja, aku bakal cari tahu siapa namanya dan bikin dia nyesel!" rengek Sena histeris, menggoyangkan lengan Angga.

​Namun Angga tidak mendengar ocehan kekasihnya. Matanya tak berkedip menatap punggung gadis berkemeja flanel itu yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan lorong.

***

Suasana di Alice's Tea Room, sebuah kafe berkonsep vintage ala Eropa di kawasan Senopati, siang itu cukup ramai. Di salah satu meja bundar yang terletak di sudut dekat jendela kaca, sekelompok gadis remaja yang baru saja lulus SMA tengah menikmati brunch perpisahan mereka.

​Namun, dari empat gadis di meja itu, semua mata kini tertuju pada satu orang dengan tatapan tak percaya.

​"Lo serius udah putus sama Farhan?!" cecar Nana, sahabat terdekat Ziva, dengan mata membelalak lebar. Garpu berisi potongan waffle di tangannya sampai menggantung di udara.

​"Hmm," sahut Ziva singkat, sama sekali tanpa beban.

​Gadis bergaun peach pastel itu justru tampak jauh lebih tertarik mengaduk smoothie stroberi kesukaannya. Ia menyesap minuman dingin itu pelan melalui sedotan kaca, sangat berhati-hati agar tidak merusak pulasan lipstik Dior Rosewood yang tadi pagi ia perjuangkan mati-matian dari kejahilan Ibran.

​"Lo gila, Ziv?!" pekik sahabatnya yang lain, Keshia. "Farhan tuh kapten basket, lolos masuk FKUI, dan pewaris tunggal rumah sakit swasta elit! Cowok seganteng dan setajir dia lo putusin gitu aja?!"

​Ziva meletakkan gelasnya, lalu mengangkat bahu dengan elegan. Sepasang mata bulatnya yang mewarisi pesona mematikan sang ibu menatap teman-temannya dengan tenang.

​"Ganteng dan kaya doang buat apa kalau tukang ngatur?" balas Ziva santai. "Gue anak Pengacara dan Hakim, Na. Seumur hidup gue udah kenyang dijaga dan diatur ketat sama nyokap bokap gue sendiri. Masa iya gue harus nyari pacar yang kelakuannya persis kayak satpam rumah? Kemarin lusa dia ngelarang gue ikut farewell party angkatan cuma gara-gara bajunya kurang panjang menurut dia. Sorry ya, gue butuh pacar, bukan bodyguard tambahan."

​"Lagian," tambah Ziva sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan anggun, "Tujuan kita udah beda. Dia maksa gue buat ambil kampus swasta di Jakarta aja biar bisa terus sama dia. Padahal gue udah diterima di UGM, impian gue dari dulu. Jelas aja gue pilih Jogja."

​Nana dan teman-temannya yang lain hanya bisa saling pandang, menelan ludah. Mereka lupa bahwa Ziva, meski terlihat sangat manja dan kekanak-kanakan saat bersama ayahnya, memiliki sifat keras kepala yang diwariskan langsung dari keluarga hukum paling ditakuti di ibu kota.

​"Tapi Ziv, lo mutusin dia cuma lewat chat semalam kan?" tanya Nana sedikit meringis. "Lo nggak takut dia bakal—"

​Tring!

​Suara lonceng di atas pintu masuk kafe berbunyi, memotong ucapan Nana.

​Percakapan di meja itu mendadak hening. Mata Nana, Keshia, dan Rara seketika membesar saat melihat siapa sosok jangkung yang baru saja melangkah masuk.

​Laki-laki itu mengenakan jaket denim, kaus putih polos, dan celana jeans hitam. Wajahnya memang luar biasa tampan, remaja idola sekolah. Namun saat ini, rahang laki-laki itu mengeras, matanya menyusuri seluruh ruangan kafe dengan amarah yang tertahan, hingga akhirnya tatapannya terkunci pada meja di sudut jendela.

​"Panjang umur," bisik Nana ngeri, merunduk sedikit. "Ziv, cowok lo datang."

​Ziva tidak menoleh. Ia tetap duduk tegak, bahkan menyilangkan kakinya dengan tenang saat mendengar derap langkah sepatu sneakers yang mendekat dengan cepat ke arah mejanya.

​"Zivanna."

​Suara berat dan tegas itu terdengar tepat di sebelah meja mereka. Farhan berdiri di sana, menatap Ziva dengan napas sedikit memburu. Tiga sahabat Ziva langsung kicep, tak berani ikut campur.

​Ziva mendongak perlahan. Ia menatap mantan kekasihnya itu dengan ekspresi datar yang luar biasa tenang.

​"Ada apa, Han? Kalau lo lupa, ini acara brunch girls only. Dan seingat gue, nama lo nggak ada di daftar guest list gue hari ini," ucap Ziva halus, namun kata-katanya setajam silet.

​Farhan mengusap wajahnya kasar, berusaha menekan egonya. "Kita perlu bicara, Ziv. Berdua. Nggak lewat pesan, nggak dengan cara kekanak-kanakan kayak semalam. Kamu mutusin aku gitu aja tanpa ngasih kesempatan aku ngomong?"

​"Keputusan gue udah bulat," jawab Ziva, menekan kata 'gue' untuk menegaskan batasan bahwa mereka bukan lagi pasangan. "Nggak ada yang perlu dibahas lagi."

​"Ada!" potong Farhan, nada suaranya mulai naik, menarik perhatian beberapa meja di sebelah mereka. Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya, menatap Ziva dengan kesal. "Ini gara-gara UGM kan? Kamu keras kepala banget sih, Ziv! Kamu pikir gampang hidup merantau di Jogja? Jauh dari keluarga, jauh dari aku? Di sana kamu bakal sendirian. Ujung-ujungnya kamu pasti bakal nangis minta pulang ke Jakarta!"

​Mendengar kemampuan bertahan hidupnya diremehkan, darah Ziva mendidih. Wajah cantiknya seketika mengeras. Ia memang Tuan Putri di rumahnya, tapi ia sama sekali bukan gadis lemah.

​Ziva bangkit berdiri. Meski tubuhnya jauh lebih kecil dari Farhan, auranya saat marah benar-benar merupakan duplikat dari sang Nyonya Hakim, Natasha Zealina.

​"Pertama," ucap Ziva, menatap lurus tepat di manik mata Farhan tanpa gentar sedikit pun. "Gue ke Jogja untuk jadi dokter, bukan untuk liburan atau main-main. Kedua, kakek gue ada di sana, jadi gue nggak sendirian."

​Ziva memajukan wajahnya sedikit, menatap jijik pada Farhan. "Dan ketiga... ini alasan utama kenapa gue muak sama lo, Han. Lo selalu meremehkan gue. Lo pikir tanpa lo dan tanpa bokap gue, gue nggak bisa apa-apa? Lo pacaran sama gue atau lagi cosplay jadi bodyguard gue?"

​Wajah Farhan memerah, egonya tersentil di depan teman-teman Ziva. Merasa kehilangan kendali atas gadis yang biasanya selalu menurut padanya, tangan Farhan secara refleks bergerak maju dan mencengkeram pergelangan tangan Ziva cukup keras.

​"Ikut aku keluar, Ziv! Kita belum selesai!" paksa Farhan, mencoba menarik gadis itu.

​"Lepas!" desis Ziva tajam, meronta.

​Nana dan Keshia mulai panik, berniat memanggil pelayan. Namun, sebelum suasana menjadi semakin kacau, Ziva menatap tangan Farhan yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap wajah laki-laki itu dengan sorot mata penuh amarah.

​"Lepaskan tangan lo dalam tiga detik, Farhan," ancam Ziva dengan suara rendah. "Atau detik ini juga gue telepon bokap gue buat seret lo keluar dari kafe ini, dan gue pastikan bokap gue akan mengirim surat somasi ke rumah sakit bokap lo atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan dan kekerasan."

​Mendengar nama ayah Ziva yang adalah pengacara nomor satu di Kota ini, Sadewa Adiraja, nyali Farhan seketika ciut. Cengkeramannya mengendur. Pemuda yang terbiasa hidup di atas angin itu akhirnya sadar, bahwa gadis di depannya ini bukanlah perempuan sembarangan yang bisa ia paksa sesuka hati.

​Farhan melepaskan tangan Ziva, melangkah mundur dengan raut wajah menahan malu yang luar biasa.

"Aku telepon kamu setelah di rumah." Ia lalu berbalik pergi meninggalkan kafe.

​Begitu pintu kafe tertutup rapat, suasana di meja itu kembali hening. Nana, Keshia, dan Rara menatap Ziva dengan mulut setengah menganga, takjub melihat aksi elegan dari sahabat mereka.

​Ziva menghela napas panjang, mengusap pergelangan tangannya yang sedikit merah. Ia lalu merapikan gaunnya, kembali duduk dengan anggun, dan mengambil gelas smoothie-nya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

​"Nah," ucap Ziva sambil tersenyum manis ke arah teman-temannya yang masih mematung, lipstik Dior Rosewood-nya masih melekat sempurna. "Sampai di mana kita tadi? Oh iya, soal kos-kosan elit di deket UGM."

​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 10 : KEKASIH YANG POSESIF

    Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. ​"Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" ​Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. ​"Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 9 : KEDATANGAN MANTAN

    Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. ​Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." ​Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 8 : KETENANGAN LIANA

    Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. ​Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. ​Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. ​Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 7 : SIAPA DIA?

    "Assalamualaikum." ​Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. ​"Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. ​Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. ​"Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 6 : GEN ADIRAJA

    "JIBRANNN!" ​Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. ​Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. ​"Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." ​Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 5 : DITOLAK LAGI

    Suasana kelas XI-IPA 1 mendadak hening begitu Pak Yoyo, guru Matematika paling disiplin seantero SMA Internasional Pelita Bangsa, mulai menggoreskan spidol hitamnya di papan tulis. Deretan rumus logaritma yang terlihat seperti bahasa alien mulai memenuhi papan putih itu. ​Bagas, yang duduk di barisan belakang, mencuri pandang ke sebelah kirinya. Matanya membulat tak percaya melihat Jibran masih duduk tegak di dalam kelas. Pasalnya, Jibran itu sudah diangkat jadi ketua Osis tahun ini, dan diluar sana adik-adik kelas yang cantik dan ganteng sudah menunggu pidatonya untuk membuka acara Orientasi siswa baru. Tangan Ibran justru masih memegang pena, matanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah sok serius dan penuh konsentrasi. ​Namun, jika diperhatikan lebih teliti, tatapan Ibran sama sekali tidak tertuju pada rumus logaritma di papan tulis. Fokus sepasang mata elang pemuda itu terkunci rapat pada punggung kecil berbalut cardigan pink yang duduk tepat di barisan depannya. Ghea Cal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status