MasukCLAIMING HER A wrong hotel room. A stranger’s arms. A secret she swore to bury. For years, Fiona Mendez endured a loveless marriage built on betrayal and empty promises. She clung to the hope that Aries—the man she once loved—would finally choose her. But fate had other plans. One mistake. One night. One moment of weakness. A wrong hotel room led her to Nagi Fujiwara—a stranger whose touch made her forget her pain. But when morning came, so did the horrifying truth. The man she thought was her husband was someone else. Before she could even process what happened, Aries shattered what was left of their marriage—not because he found out, but because he had someone else. Discarded and humiliated, Fiona fled to Cebu. She was ready to start over—until two pink lines changed everything. She was pregnant. And the father? A man she barely remembered. For two years, she raised her daughter Lizha alone, determined to leave the past behind. But peace never lasts forever. Forced to return to Manila for work, Fiona braces herself for the ghosts of her past. What she doesn’t expect is to come face-to-face with the man she swore she’d never see again. Nagi Fujiwara The father of her child. Her new boss. The ruthless, powerful, and dangerously possessive. A man who always gets what he wants. And this time, he wants her. Fiona may have run from him once, but now that fate has brought her back into his world, there’s no escaping him. And Nagi will stop at nothing to claim what’s rightfully his.
Lihat lebih banyak“Nia, apa kamu udah gila ya?”
Suara Tiara terdengar melengking sampai ke telinga Aghnia hingga wanita itu tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah sang kakak.
Wajar saja Tiara melakukan hal itu karena niat awal Aghnia yang ingin membuat es kopi malah berhasil membuat dapurnya kebanjiran akibat air dari dispenser yang tumpah ruah dari gelas lalu berakhir menjadi genangan di lantai.
Dengan cepat Tiara melangkahkan kakinya mendekat ke arah sang adik karena air dari dispenser masih saja mengalir, walau ia sudah memberi peringatan kepada Aghnia tapi rasanya wanita itu belum sepenuhnya sadar akan kesalahannya.
Ketika Tiara berhasil menghentikan kekacauan tersebut barulah Aghnia sadar dengan genangan air yang sudah membasahi lantai. “Aduh maaf ya Kak, aku enggak sengaja bikin dapur Kakak jadi begini.”
“Iya enggak apa-apa tapi lebih baik kamu mandi terus ganti baju dulu deh,” titah Tiara yang melihat baju sang adik sudah setengah basah.
“Iya Kak tapi aku beresin ini dulu ya?” tawar Aghnia.
“Enggak usah biar Kakak aja, sekarang cepet mandi karena Kakak mau bicara sama kamu.”
Tanpa berdebat lagi, akhirnya Aghnia masuk ke dalam kamar untuk mandi dan mengganti pakaiannya sebelum semut menggerayangi tubuhnya yang sudah terasa lengket.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Aghnia melamun lebih tepatnya wanita itu masih terkejut dengan beberapa insiden yang terjadi di rumahnya kemarin malam.
Wanita itu pun memilih pergi dari rumah dan menginap di rumah sang kakak yang sudah menikah serta memiliki keluarga sendiri.
***
Satu hari sebelumnya.
Seorang pria paruh baya datang ke rumah dan mengakui sebagai sahabat dari mendiang kakek Thomas, kakek mereka. Dan bukan tanpa alasan beliau datang ke rumah.
Lebih tepatnya kakek Haris datang ingin menagih janji mendiang Thomas yang hendak menikahkan cucu mereka. Tapi karena Tiara sudah menikah dan memiliki anak jadi Aghnia-lah yang harus menikah dengan cucu dari kakek Haris.
Tentu saja Aghnia enggan menikah terlebih lagi wanita itu masih ingin hidup bebas dan tidak ingin dipaksa menikah dengan cara seperti itu.
Rasanya menikah dengan cara seperti itu adalah pemikiran yang sangat kolot!
Tapi hal yang mengejutkan bukan hanya itu saja melainkan ada hal besar yang selama ini tidak wanita itu ketahui.
Citra baru saja masuk ke dalam kamar putrinya dan duduk bersimpuh tepat di hadapan Aghnia yang masih menangis dengan tersedu-sedu.
“Mama mohon ya sama kamu tolong penuhi wasiat terakhir mendiang kakek Thomas,” pinta Citra dengan suaranya yang terdengar lirih.
Aghnia berhenti menangis dan menatap kedua manik mata sang mama yang bahkan rela berlutut di hadapannya hanya demi memintanya untuk menikahi cucu kakek Haris yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya.
Terasa getir memang kala orang yang Aghnia harapkan akan melindungi dirinya malah bersikap sebaliknya yang bertentangan dengan hatinya.
Hey, ayolah! Apakah ada hal lain yang sedang wanita paruh baya itu pikirkan sampai harus meminta putrinya menikah dengan orang asing?
“Tapi kenapa, Ma? Kenapa harus Aghnia yang menikah dengan pria itu?” tanya Aghnia yang histeris.
“Karena Tiara sudah menikah jadi kakek Haris terpaksa meminta kamu yang menggantikan menikah dengan cucunya.”
Ah! Seketika Aghnia ingat kalau sang kakak sudah menikah bahkan memiliki putri berusia lima tahun bernama Namira yang kini menjadi keponakan satu-satunya yang paling wanita itu sayangi.
Aghnia bahkan merasa tidak tega jika rumah tangga sang kakak hancur jika Tiara harus menikah dengan cucu dari kakek Haris.
Dasar wasiat sialan!
“Kalau begitu batalkan saja pernikahan ini, Ma,” mohon Aghnia dengan tangisnya yang kembali pecah.
Citra berusaha memeluk tubuh putrinya yang berkali-kali menolak pelukan darinya.
Atmosfer kamar itu seketika bertambah pilu dengan tangis keduanya yang seakan saling bersahutan.
“Mama hanya ingin kamu membantu Mama untuk menebus kesalahan Mama di masa lalu, Nak.”
Aghnia melepaskan pelukan mereka dengan dahinya yang berkerut, seolah ada tanda tanya besar di sana.
“Maksud Mama apa?”
“Sebenarnya kamu bukan anak kandung papa Sofyan melainkan….”
Citra memejamkan kedua matanya lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya membuangnya kembali secara perlahan.
Sementara Aghnia masih berusaha mencerna ucapan sang mama yang masih setengah kalimat itu.
“Bisa dibilang kamu anak hasil di luar nikah,” lanjut Citra yang membuat hati Aghnia kian sesak.
Anak panah yang sempat melesat serta tertancap di hati Aghnia sudah menjadi sebuah luka yang baru saja disiram oleh air garam hingga terasa sangat perih.
“Semua ini salah Mama karena dulu tidak bisa menjaga diri dengan benar sehingga kejadian nahas itu terjadi di hari di mana Mama diperkosa oleh anak pemilik perusahaan tempat Mama bekerja.”
Tidak hanya Aghnia yang merasa sakit tapi Citra pun sama bahkan wanita itu harus menanggung beban tersebut bersama sang suami yang senantiasa masih tetap berada di dekatnya dalam keadaan apa pun.
Berkat mendiang papa mertuanya rahasia itu tersimpan rapat sampai hari ini sehingga baik Aghnia dan juga Tiara tidak ada yang mengetahuinya.
***
“Kakak sudah dengar semuanya dari papa kalau kemarin kakek Haris datang dan meminta kamu untuk menikah dengan cucunya,” kata Tiara membuka obrolan di antara mereka.
Setelah bersih dan rapih, Aghnia langsung keluar dari kamar lalu menghampiri Tiara yang sudah menunggu dirinya di kitchen island. Bahkan sang kakak sudah menyediakan segelas kopi hangat untuknya.
Aghnia mengangkat kepalanya lalu menatap Tiara. Wanita yang duduk di hadapan langsung menggenggam tangannya erat.
“Papa bilang dia tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengan cucu kakek Haris jika kamu tidak mau,” lanjut Tiara.
“Apa?”
Aghnia begitu terkejut mendengar ucapan sang kakak selanjutnya. Ada rasa haru menyelimuti hatinya karena apa yang dilakukan oleh sang papa malah berbanding terbalik dengan mamanya yang jelas-jelas masih ada hubungan darah dengannya.
Tapi Aghnia tidak sepenuhnya menyalahkan sang mama karena beliau sendiri punya alasan di balik permintaannya. Hanya saja Aghnia terlihat bingung.
“Iya papa, aku dan juga mas Malik akan melindungi kamu dari wasiat sialan itu,” geram Tiara.
“Terima kasih, Kak.” Aghnia menggenggam tangan kakaknya sambil tersenyum tipis.
Bolehkah Aghnia saat ini menangis? Karena papa dan juga kakaknya sangatlah menyayanginya dan berpikir seolah tidak pernah terjadi hal apa pun sebelumnya.
Tapi Aghnia sendiri penasaran apakah kakaknya sudah tahu kalau dirinya bukan anak kandung dari sang papa?
“Kak, apakah papa atau mama memberitahukan rahasia tentang aku?”
Tiara mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti dengan pertanyaan adiknya tersebut.
“Ah, sepertinya kakak memang tidak tahu tentang hal itu.”
“Rahasia apa?”
Aghnia membalasnya dengan menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
“Oh ya Kak, di mana Namira dan mas Malik karena sejak tadi aku tidak melihat mereka?” Aghnia mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah bergaya minimalis.
“Mereka sedang lari pagi dan mungkin sebentar lagi akan pulang,” jawab Tiara.
Sebenarnya Tiara memang sengaja menyuruh suaminya untuk membawa putri mereka jalan-jalan pagi di sekitar komplek perumahan agar wanita itu bisa dengan leluasa bicara dengan adiknya.
Jujur saja semalam Tiara merasa sangat kesal setelah mendengar kabar mengenai adiknya tapi di sisi lain wanita itu merasa beruntung karena dirinya sudah lebih dulu bertemu dan menikah dengan pujaan hatinya.
Tapi setelah ini mereka berniat mencari jalan keluar untuk membantu Aghnia agar tidak menikah dengan cucu kakek Haris, apa dulu para kakek-kakek itu pikir akan terus tinggal di zaman Siti Nurbaya ya?
***
“Apa anak itu ada di sini?” tanya Haris kepada Cakra, asisten pribadinya.
Kini keduanya sedang berada di depan kamar hotel miliknya. Beliau berniat mencari cucunya yang sudah menghilang sejak kemarin sore.
“Iya, Tuan.”
“Kalau begitu cepat buka sekarang,” titah Haris.
Cakra pun membuka pintu kamar hotel dengan kartu akses multifungsi yang bisa membuka setiap kamar di hotel tersebut jika ada keadaan darurat. Kartu itu hanya dimiliki oleh beberapa orang penting dan bukan orang sembarangan.
“Aryan cepat bangun!” titah Haris dengan suaranya yang terdengar sangat lantang.
Dua manusia yang berlawanan kelamin itu segera membuka matanya serta merubah posisinya menjadi duduk. Sang wanita menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sementara Aryan menutupi tubuhnya yang sama polosnya dengan bantal.
“Kakek, kenapa ada di sini?”
“Apakah sekarang aku tidak boleh datang ke hotel milikku sendiri? Lagi pula seharusnya kau belajar memimpin perusahaanku dengan baik bukan malah memimpin permainan bersama wanita bayaranmu ini.”
Ucapan Haris terdengar sangat menohok hingga Aryan mati kutu dan terlihat semakin gugup karena harus disidak dadakan oleh sang kakek.
Tubuhnya mendadak mengeluarkan keringat dingin bahkan kantuk yang sempat dirasakannya seketika menghilang.
“Aryan, sekarang juga ikut Kakek pulang ke rumah.”
“Ba–baik, Kakek.”
“Cakra, pastikan wanita itu tidak mengandung anak dari cucuku apalagi sampai kembali menemui cucuku lagi,” titah Haris sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
Padahal Haris sangat berharap kalau Aryan dapat merubah sikap buruknya dan mulai belajar untuk mengurus semua bisnisnya kelak ketika dirinya sudah tiada.
Namun yang terjadi justru sebaliknya Aryan malah berbuat seenaknya dengan bergonta-ganti teman tidur hanya untuk memenuhi panggilan hasratnya sebagai seorang pria.
(Fiona’s POV)Pagdating ko sa bahay, halos matunaw ang pagod ko nang marinig ang malulutong na tawa ni Lizha. Nakatayo siya sa sofa habang kinakawayan ako, hawak ang stuffed toy niyang bunny.“Mommy!” she squealed, tumatakbo papalapit sa akin.Napangiti ako at agad siyang sinalubong, binuhat at niyakap nang mahigpit. “Kamusta ang baby ko?” I asked, inhaling her sweet baby scent.“Happy!” she giggled, pinulupot ang maliliit niyang braso sa leeg ko. “Si Ninang Marie po naglaro with me!”“Wow, buti naman at may silbi ‘yang Ninang mo,” biro ko, palihim na sinulyapan si Marie na kasalukuyang naka-upo sa carpet, nag-aayos ng mga stuffed toys.“She’s been bullying me the whole afternoon, just so you know,” reklamo ni Marie, pero halatang hindi seryoso. “Kanina lang, tinawag akong ‘bad’ kasi ayaw kong gumamit ng pink na teddy bear sa pretend tea party namin.”Lizha gasped dramatically. “Kasi po, Ninang, pink is cute! You don’t like pink?”Marie sighed, acting defeated. “Fine, next time I’ll b
Nagi’s POV: The Moment of RecognitionI wasn’t expecting it.Walking through the hallway, I was preoccupied with my own thoughts when—BAM!A sudden impact. A small gasp. A familiar scent.My hands instinctively reached out, steadying the person who had just collided with me. Napakunot ang noo ko, handa sanang pagalitan kung sino man ang hindi nakatingin sa dinaraanan. But the moment my eyes landed on her face—Everything stopped.Fiona.The name slammed into my mind like a thunderclap.I recognized her instantly. That face. Those lips. Those damn eyes that haunted me in ways I couldn’t explain.Fiona Mendez.Ang babaeng matagal ko nang hindi nakita, pero hindi kailanman nakalimutan.She stiffened in my hold, and I felt it—that tiny flicker of recognition in her eyes before she quickly masked it. Pero hindi niya ako maloloko. I saw the way her breath hitched, the way her fingers curled slightly, as if stopping herself from trembling.So, this is why.Bigla kong naalala kung paano siya
Kaya ko ‘to.Paulit-ulit kong sinasabi sa isip ko habang naglalakad pabalik sa opisina. Gusto kong kalimutan ang nangyari sa cafeteria kanina—lalo na ‘yung paglapit niya, ‘yung bulong niya.Damn it, Fiona. Stop thinking about it!Huminga ako nang malalim at nagpatuloy sa paglakad. Hindi ko siya dapat iniisip. Hindi ko dapat siya hinahayaan na guluhin ang buhay ko. He’s just my boss now. Nothing more.Pero sa malas ko, pagdating ko sa opisina, nandoon na siya. Nakahilig sa may desk ko, tila may hinihintay.Ako."You took your time," he said, his smirk already in place.Mabilis akong umatras at nagkunwaring may inayos sa bag ko. "Busy po kasi ako, sir."He chuckled, at hindi ko kailangang tingnan siya para malaman na nakatingin siya sa akin nang buo ang atensyon."Busy avoiding me?"Napatigil ako. Lumingon nang bahagya, at doon ko siya naabutan—that damn smirk.Hindi siya agad sumagot, pero naglakad siya palapit. Too close. Napaatras ako pero hindi naman ako makatakbo."Relax, Fiona." M
Hindi ko alam kung paano ko napagtagumpayan ang araw kahapon. Sa totoo lang, hindi ko alam kung paano ko pa itutuloy ang pagpapanggap na wala akong maalala. Dahil kung ganito na naman ang magiging takbo ng araw ko, baka hindi ko na kayanin.Nagi was relentless. At ang mas nakakainis? Nag-eenjoy siya.Pagkapasok ko pa lang sa opisina, parang nakaabang na siya. Nakapangalumbaba sa desk niya, nakatingin sa direksyon ko na para bang... may hinihintay.Ako.“Good morning, Miss Mendez,” he greeted, his voice laced with amusement.Napahinto ako sa harap ng desk ko. Napaka-aga pa, pero mukhang handa na naman siyang asarin ako. I straightened my posture, pretending I didn’t care. “Good morning po, sir,” I replied flatly.Pero imbes na bumalik sa ginagawa niya, tumayo siya at lumapit. Masyadong malapit.I felt the warmth of his presence even before he spoke.“You seem... tense,” he murmured, his gaze locked on mine. “Why so stiff, Fiona? Guilty of something?”I swallowed hard. No, Fiona. Don’t
Pagpasok ko sa building, halos tumakbo na ako papunta sa elevator. Nakita kong unti-unti nang nagsasara ang pinto kaya napabilis ang hakbang ko.“Sandali! Paki-hold!” hingal kong sigaw habang pilit na inabot ang panel.Sa awa ng Diyos, bumukas muli ang elevator at agad akong pumasok, habol ang hini
Pagkauwi ko sa apartment, pakiramdam ko parang sasabog ang ulo ko sa dami ng iniisip. Kanina sa opisina, halos mahulog ako sa kinauupuan ko nang makita ko siya—ang bagong director, ang lalaking hindi ko akalaing muli ko pang makikita. Siya. Ang lalaking minsan kong nakasama sa isang gabing puno n
Kinaumagahan, ramdam ko na naman ang kaba na parang palaging sumasabay sa bawat galaw ko. Wala pa ring katiyakan kung anong mangyayari kapag magkasama kami ni Nagi sa office, pero alam kong hindi na ako pwedeng magtago magpakailanman. Wala na akong ibang option kundi harapin siya.Pagpasok ko sa op
Habang naglalakad ako sa hallway, ramdam ko ang kabang patuloy na dumadaloy sa katawan ko. Hindi ko na kayang kontrolin ‘to. Para bang may kung anong kaba na hindi ko mapigilan. Alam ko, at ramdam ko na anytime, pwede ko siyang makita—si Nagi. Hindi ko siya maiiwasan, at wala akong plano na magtago












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ulasan-ulasan