LOGINPagi hari terasa menenangkan di dalam ruang latihan gedung agensi Holy Entertainment. Indra terduduk di lantai kayu yang mengilap, mengatur napasnya yang patah-patah setelah menyelesaikan sesi latihan vokal intensif demi menyongsong pergelaran konser tunggalnya yang kian dekat.Di hadapannya, Nabilla duduk menyilangkan kaki sembari menyodorkan sebuah paper bag berlogo khusus.Di dalamnya tersusun rapi wadah bekal berisi potongan buah segar, dada ayam rebus, dan sebotol air mineral dingin—perpaduan menu diet ketat yang sengaja dirancang Nabilla demi menjaga proporsi tubuh Indra agar tidak tampak berisi di atas panggung.Sejak kemarin, Andien tidak menunjukkan batang hidungnya di apartemen. Indra, yang terbiasa menyantap masakan rumahan wanita itu, terpaksa menikmati sarapannya di kantor agensi.Tekanan jadwal persiapan konser menuntutnya melatih vokal jauh lebih awal dari jam operasional normal.Tanpa banyak bicara, Indra menyambar paper bag tersebut dan mengurai isinya. Ia menyendokka
Sore menjelang malam menyelimuti rumah sakit daerah T-City, tepat dua jam setelah operasi Saifanny dinyatakan berjalan lancar.Di salah satu kamar perawatan VIP, Bima baru saja selesai diubah dan dibalut perban lukanya oleh seorang perawat."Terima kasih, Suster," ucap Andien pelan sembari menyunggingkan senyum tipis.Perawat itu mengangguk ramah. Namun, saat jemarinya hendak menarik dan menutup pintu rapat-rahat, suara Bima mendadak memotong dengan getaran samar yang tak mampu disembunyikan."Suster, tolong pintunya jangan ditutup," kata Bima, nada suaranya bergetar tipis akibat rasa trauma yang masih mencengkeram jiwanya.Perawat itu sedikit terkejut, namun dengan sigap memahami kondisi psikologis pasiennya."Baik, Pak." Ia melangkah pergi, membiarkan daun pintu kamar tetap terbuka setengah celah.Andien kembali mendudukkan diri di kursi kayu di samping ranjang."Bagaimana keadaan Saifanny?" Tanya Bima pelan, manik matanya menatap lurus ke arah Andien dengan pendar cemas.Andien ber
Suara derum sirine ambulans meraung-raung membelah pagi yang kian terik di T-City. Di dalam kabin medis yang melaju kencang menerobos kemacetan menuju Rumah Sakit Pusat T-City, suasana berubah mencekam.Petugas medis bergerak cepat membebat bahu kanan Saifanny yang tak henti-hentinya menumpahkan darah segar.Di samping tandu, Bima—dengan tubuh lemas, memar di parasnya, serta bekas jeratan rantai besi yang menghitam di pergelangan kakinya—terduduk bersandar dengan napas memburu.Manik matanya yang membendung air mata tak sanggup berpaling sedikit pun dari paras Saifanny yang kian pucat pasi. Jiwanya dihantam kecemasan hebat, merasa bersalah karena ketidakmampuannya telah mengorbankan keselamatan wanita itu.Kepolisian bergerak cepat menyergap vila pesisir pantai bukanlah tanpa alasan. Bara—yang posisinya bersama tim keamanan Utama Group masih terhadang jarak berjam-jam akibat jebakan mobil umpan di B-City—mengambil langkah paling rasional.Begitu menyadari posisi Ririn berada di pesisi
Di dalam kamar yang riuh oleh pecahan kaca, Saifanny berbalik menatap Bima dengan cemas. Selagi pengawal tadi belum kembali, rasa tidak aman menggelayuti batinnya.Naluri pertahanan dirinya bergejolak. Saifanny memungut kembali batu besar yang sempat ia jatuhkan, lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke arah rantai besi yang menjerat pergelangan kaki Bima.Brak! Brak!"Tidak ada gunanya, Saifanny. Rantainya terlalu tebal," kata Bima lemas, suaranya parau dan tanpa daya melihat usaha sia-sia wanita di hadapannya.DOR!Suara gema tembakan mendadak memecah udara dari arah luar ruangan. Saifanny dan Bima tersentak kaget.Jantung Saifanny berdegup kencang; pertanyaan liar menyeruak di benaknya tentang siapa yang baru saja melepaskan tembakan tersebut."Saifanny, Ririn gak akan nyerah... Dia pasti bakal ngelawan," ucap Bima penuh kekhawatiran yang membakar dadanya.DOR! DOR!Dua tembakan beruntun kembali bergema tajam, memutus hening pagi. Keresahan di hati mereka berdua kian memuncak, meneba
Pagi yang diliputi oleh kabut keresahan menyelimuti batin Saifanny. Ia duduk kaku di kursi penumpang dengan jemari yang meremas kencang sabuk pengaman, sementara kendaraan yang ditumpanginya melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.Waktu berlalu tanpa kompromi, hingga roda-roda mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah bangunan di area pesisir pantai pukul 9 pagi.Pengawal yang mengemudikan kendaraan melongokkan kepalanya ke luar jendela, dahinya berkerut dalam."Sepertinya ada acara, Bu..." Ucap pria itu dengan nada keheranan saat matanya menangkap untaian dekorasi bunga yang terpasang di depan pintu gerbang utama."Ibu yakin ini villanya? Mungkin ada villa lain di sekitar sini," lanjut pengawal meminta konfirmasi.Saifanny menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada villa lain di daerah ini. Semua bangunan yang ada di sekitar sini hanya pemukiman kecil milik para nelayan," kata Saifanny dengan suara rendah namun mantap.Klik!Saifanny menekan tombol dan melepaskan sabuk pe
Bara melirik jarum pergelangan tangannya; waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB.Seluruh pria yang menghuni kendaraan umpan telah berhasil dilumpuhkan, diringkus, dan diikat rapat secara bersamaan, siap untuk diserahkan ke penanganan aparat kepolisian setempat.Sementara itu, pria yang bertindak sebagai penyamar Bima masih berdiri tegak di dekat badan mobil.Parasnya melukiskan seringai mengejek, merasa telah berhasil mengelabui dan mengecoh sekawanan serigala pelacak.Bara yang geram atas gestur ejekan tersebut melangkah maju secara agresif. Satu tangannya dengan kilat menyambar cengkeraman pada leher pria itu, lalu mendorongnya paksa hingga tubuh penyamar itu terbentur keras ke lambung mobil."Ugh...!" Pria penyamar itu meringis kesakitan, tercekik oleh tekanan jemari Bara."Lu pikir semua ini lucu, hah?!" Teriak Bara dengan nada emosi yang meledak."Lu gak akan nganggap ini lucu lagi kalau lu sendiri yang jadi korban penculikan!" Lanjut Bara dengan rahang mengeras kencang.Bebera
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







