ログインBu Venia akhirnya menepi di depan sebuah warung. Ia mematikan mesin mobil. Hujan masih turun. Ia menatap Bu Lidya, menatap seorang ibu yang sudah tidak punya apa-apa, tetapi masih punya cinta yang besar, walaupun cinta itu pernah salah arah.
Bu Venia menghela napas, menggenggam tangan Bu Lidya yang dingin dan keriput itu dengan kedua tangannya.
“Bu Lidya...” katanya pelan, dengan suara yang bergetar karena menahan haru. “Terima kasih sudah jujur sama saya, Bu.
“Tawaran yang mana ya? Tawaran jadi model sambal? Tawaran jadi admin Shopee? Atau tawaran jadi tukang petik cabai?”Azalea langsung mencubit lengan Arsen, mukanya merah padam.“Ihh Mas Arsen! Jangan pura-pura lupa deh! Tawaran yang... yang itu...”Arsen mendekatkan wajahnya, senyumnya jahil sekali, senyum dokter yang jarang dilihat pasiennya.“Yang itu yang mana, Zel? Mas lupa. Coba diulang kalimatnya gimana? Mas kan sudah tua, gampang lupa.”Azalea dengan malu-malu berkata tentang tawaran pernikahan, suaranya hampir tidak terdengar, hanya seperti bisikan.“Tawaran... tawaran pernikahan... yang Mas bilang mau nikahin Azalea.”Wajahnya merah seperti cabai rawit. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tidak berani menatap Arsen.Melihat Azalea seperti itu, Arsen langsung tersenyum. Senyum yang lebar, tulus, senyum yang sudah ia tahan sejak pertama kali ia jatuh cinta pada janda penjual sambal ya
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vanessa. Tidak keras sampai jatuh, tetapi cukup keras untuk membuat pipinya yang tirus itu memerah dan membuat semua orang di gerbang rutan menoleh.Bu Lidya menampar Vanessa. Untuk pertama kalinya seumur hidupnya.Tangannya sendiri bergetar hebat setelah menampar.“DIAM!” Bu Lidya memarahi Vanessa dengan air mata bercucuran. “Kamu harus banyak bersyukur, Vanessa! Kamu bisa keluar dari penjara ini karena kebaikan Bu Lily dan Azalea! Kamu bisa bernapas bebas karena Arsen mencabut laporan! Kalau bukan karena mereka, kamu masih di dalam dengan kepala berdarah itu! Kenapa kamu tidak pernah bersyukur? Kenapa kamu selalu merasa kurang? Mama yang dulu ajarkan kamu seperti ini, ya? Mama yang salah, Van... Mama yang salah...”Vanessa memegang pipinya yang perih, menatap ibunya dengan tatapan kaget, marah, dan benci. Ia marah dan kesal karena ditampar oleh mamanya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah ditam
“Sebutkan, Nak! Sebutkan! Apa saja Tante lakukan!” kata Bu Lidya sambil masih bersujud.Arsen menatap tajam dari layar ponsel.“Syaratnya satu, Bu Lidya. Vanessa harus mengakui semua perbuatannya di depan polisi, di depan hakim, tanpa berbohong lagi. Dia harus minta maaf langsung kepada saya dan kepada Azalea, bukan lewat video, tapi langsung tatap muka. Dan setelah keluar dari rutan, Vanessa dan Bu Lidya harus pindah dari Jakarta. Jangan pernah muncul lagi di depan saya, di depan Azalea, dan di depan keluarga saya. Saya tidak mau dendam ini berlanjut. Kalau Ibu dan Vanessa setuju, besok pagi saya akan ke kantor polisi cabut laporan penganiayaan. Tapi laporan percobaan pemberian obat tetap jalan, karena itu sudah masuk berkas jaksa. Itu yang paling ringan yang bisa saya lakukan, Bu.”Taman itu hening. Hanya suara tangis Bu Lidya yang tertahan.Bu Lidya mengangguk berkali-kali, mencium layar ponsel Bu Lily yang menampilkan wajah Ars
Bu Venia akhirnya menepi di depan sebuah warung. Ia mematikan mesin mobil. Hujan masih turun. Ia menatap Bu Lidya, menatap seorang ibu yang sudah tidak punya apa-apa, tetapi masih punya cinta yang besar, walaupun cinta itu pernah salah arah.Bu Venia menghela napas, menggenggam tangan Bu Lidya yang dingin dan keriput itu dengan kedua tangannya.“Bu Lidya...” katanya pelan, dengan suara yang bergetar karena menahan haru. “Terima kasih sudah jujur sama saya, Bu. Ini yang saya butuhkan. Kejujuran Ibu ini justru bisa membantu Vanessa.”Bu Lidya mengangkat wajahnya, ada harapan kecil.“Pengakuan Ibu tidak bisa membuat Ibu menggantikan Vanessa di penjara, Bu. Hukum tidak seperti itu. Tidak bisa tukar badan. Tapi pengakuan Ibu ini bisa jadi bukti bahwa Vanessa tidak merencanakan ini sendirian. Bahwa ada tekanan dari Ibu, ada doktrin yang salah sejak kecil, ada faktor ekonomi keluarga yang terpuruk. Itu bisa jadi hal yang meringankan
Mobil Avanza putih milik Bu Venia melaju pelan membelah hujan sore Jakarta. Wiper bergerak cepat, menyapu air yang terus turun. Di dalamnya, AC menyala pelan, tetapi hawa di dalam mobil tetap terasa dingin bukan karena AC, melainkan karena cerita yang akan keluar dari mulut seorang ibu yang sudah hancur.Bu Lidya masuk ke dalam mobil Bu Venia dengan tubuh masih basah kuyup. Bu Venia telah memberikan jaketnya dan menyalakan penghangat. Bu Lidya duduk di kursi penumpang depan, memeluk kantong plastik berisi roti hancur itu seperti memeluk bayi. Tangannya masih gemetar.Bu Venia tidak langsung menyalakan mobil tadi. Ia biarkan Bu Lidya mengatur napas dulu. Setelah beberapa menit, ia baru menjalankan mobil, mengantarkan Bu Lidya ke kontrakannya yang sempit di daerah Rawamangun.Di perjalanan, suasana hening untuk waktu yang lama. Hanya suara hujan dan suara mesin mobil.Akhirnya, Bu Venia membuka percakapan dengan suara yang sangat lembut, tidak seperti penga
Hujan belum berhenti ketika Bu Lidya keluar dari gerbang Rutan.Jam menunjukkan pukul empat lewat sepuluh sore. Langit Jakarta berwarna abu-abu kotor, sama kotornya dengan selokan di depan rutan. Para pembesuk lain berlari-lari kecil mencari ojek payung, mencari angkot, menelepon keluarga untuk dijemput. Tidak ada yang peduli pada seorang perempuan tua berkerudung hitam pudar yang berdiri mematung di bawah hujan, tanpa payung, tanpa tas, hanya memeluk kantong plastik bening kosong yang di dalamnya tadi ada roti sobek untuk Vanessa.Roti itu tidak jadi diberikan. Petugas bilang roti dari luar tidak boleh masuk karena takut diselipkan narkoba. Roti itu sekarang hancur di dalam plastik, terkena hujan, menjadi bubur.Bu Lidya membiarkan tubuhnya basah kuyup. Air hujan menetes dari ujung kerudungnya, masuk ke matanya yang sembab, bercampur dengan air mata yang tidak pernah berhenti sejak satu bulan terakhir. Ia tidak merasakan dingin. Sejak kematian Pak Hasan, sejak
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







