Home / Romansa / Cinta Dalam Bayangan Dendam / Chapter 4 - Makan Malam Bersama

Share

Chapter 4 - Makan Malam Bersama

last update Petsa ng paglalathala: 2025-08-16 13:16:33

Minggu sore itu terasa tenang bagi Vivienne. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia bisa bangun tanpa alarm, bersantai di tempat tidur sambil menonton serial favorit, dan menikmati secangkir teh hangat dari balkon apartemennya. Namun ketenangan itu tak bertahan lama.

tiba-tiba

BRRRRTT... BRRRRTT...

Ponselnya bergetar di atas meja. Saat melihat nama yang tertera di layar, matanya langsung membulat.

Xavier bosnya menelponnya. Dengan cepat ia mengangkat.

"Halo, Pak?"

"Vivienne, maaf mengganggu hari liburmu. Aku butuh laporan keuangan yang terakhir.

Ada beberapa dokumen yang tertinggal di kantor. Tolong buat laporannya dan antar ke rumahku secepatnya, ya. Sangat penting untuk meeting besok pagi." ucap Xavier ditelpon.

"Baik, Pak..." Vivienne menjawab, meski dalam hati sedikit kaget. Bukan karena harus bekerja di hari Minggu, tapi karena ini pertama kalinya dia harus ke rumah bosnya.

Dengan cepat ia segera bangkit dari tempat tidur, cepat-cepat mandi, berdandan seadanya, dan memeriksa ulang isi map yang berisi laporan penting. Tepat saat ia hendak memesan taksi online, suara klakson terdengar dari luar.

Dia membuka tirai dan matanya membelalak. Sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan apartemennya.

Dengan ragu, Vivienne turun ke lobi. Saat pintu terbuka, seorang pria berseragam sopan turun dari kursi kemudi dan membungkuk sedikit.

"Anda Vivienn, ya? Pak Xavier menyuruh saya menjemput Anda." tanyanya kepada Vivienne

Vivienne mengangguk, agak tertegun dan menjawab "O-oh... iya, saya Vivienne."

"Silakan masuk," kata sang sopir sambil membukakan pintu mobil dengan sopan.

**

Sepanjang perjalanan, Vivienne tak henti bertanya-tanya. Kenapa harus dijemput? Memangnya sepenting apa sih dokumen ini? Atau... bosnya memang selalu seperti ini?

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah besar yang berdiri megah dan sunyi. Tangannya agak gemetar saat membawa map itu ke depan pintu. Dengan sedikit gugup, ia menekan bel.

Pintu dibuka. Di hadapannya berdiri Pak Xavier, kali ini mengenakan kaos hitam sederhana dan celana training. Rambutnya sedikit berantakan, membuatnya terlihat jauh lebih santai dibanding di kantor.

"Selamat Sore, Pak. Ini berkasnya-"

BRAKK!

Kakinya tersandung ujung karpet di depan pintu. Dalam sekejap, tubuhnya kehilangan kendali dan jatuh tepat ke arah Pak Xavier yang masih memegang secangkir kopi.

Kopi tumpah, dokumen hampir terbang, dan mereka terjatuh-berpelukan dalam posisi yang sangat tidak direncanakan. Beberapa detik, Vivienne membeku, karena wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Maaf, Pak... saya nggak sengaja..."

Pak Xavier terkekeh kecil

"Kamu selalu datang dengan cara yang mengejutkan, ya?"

Vivienne yang mendengar Xavier yang tertawa kacil langsung tertunduk diam dengan gugup.

***

POV Vivienne

Ruangan itu sunyi. Aku duduk di ujung sofa berwarna abu lembut yang ada di sudut ruang kerja Pak Xavier.

Ruangannya besar, rapi, dan terkesan tenang-ada rak buku tinggi, meja kerja dari kayu gelap, dan aroma kopi yang samar-samar masih terasa di udara. Tapi kepalaku terlalu penuh untuk memperhatikan detail itu.

Baru aja jatuh ke pelukan bos sendiri. Di hari Minggu. Di rumahnya.

Aku menggenggam jemariku sendiri, gugup.

Jantungku belum stabil. Dari tadi aku hanya menunduk, tak beVivienne menatap ke arah meja kerja tempat Pak Xavier duduk.

Tiba-tiba, suara tenang itu memecah keheningan.

"Vivienne... Apa rencana kau hari ini?" tanya Xavier.

Aku mendongak sedikit. Mataku bertemu pandangannya sebentar sebelum buru-buru menunduk lagi.

"Aku... nggak ada rencana, Pak."

Suara sendiri pun terdengar aneh di telingaku-pelan dan ragu.

Pak Xavier terkekeh pelan.

"Jadi kamu mau jadi koala hari ini? Tidur-tiduran aja seharian di rumah?"

Aku langsung mengangkat kepala sedikit, spontan membantah,

"Enggak kok! Aku sebenarnya mau olahraga, terus jalan-jalan keliling kota... menikmati hari aja gitu."

Suaraku terdengar terlalu semangat. Baru sadar setelah melihat ekspresi terhiburnya. Ia tertawa kecil melihat responku yang tiba-tiba ceria.

Aku langsung diam dan menunduk lagi. Astaga, kenapa jawabnya kayak ngobrol sama temen, bukan bos sendiri?!

Tapi ketika aku melirik lagi, dia tidak marah. Justru... matanya menatapku dalam.

Aku bingung. Detak jantungku makin tidak karuan.

Dan tiba-tiba, dengan suara tegas dan sedikit berbeda, ia berkata

"Kalau begitu ikut aku jalan-jalan hari ini. Anggap saja kamu tetap kerja. Agenda kamu hari ini adalah... menemaniku."

Aku refleks menatapnya, mataku membulat.

"A-apa, Pak? Ini... serius?"

Tapi sebelum aku bisa berpikir lebih jauh, dia bangkit dari kursinya, berjalan santai mendekatiku.

Aku belum sempat bangun dari sofa saat tangannya menarik tanganku-lembut, tapi mantap.

"Ayo, cepat. Cuaca hari ini bagus."

Aku seperti kehilangan kendali atas tubuhku. Langkahku mengikuti tarikannya secara otomatis, masih bingung, masih syok. Ini beneran kejadian?

Pintu rumah terbuka. Aku dibimbing masuk ke dalam mobil yang tadi menjemputku sore ini.

Pintu mobil ditutup, dan aku hanya bisa duduk diam, jantungku berdetak cepat, sementara Pak Xavier duduk di samping, menyunggingkan senyum kecil yang entah kenapa... bikin aku makin gugup.

POV Vivienne End

***

Langit mulai gelap saat mobil hitam itu melaju tenang di jalanan kota. Di dalamnya, Vivienne duduk dengan tubuh kaku. Tangannya menggenggam tas kecil di pangkuannya, dan tatapannya kosong menembus kaca jendela.

Ia masih syok-tiba-tiba saja bosnya, Xavier, menariknya keluar rumah dan membawanya masuk mobil.

"Kenapa harus aku? Kenapa dia ngajak makan? Ini aneh. Aneh banget..."

Vivienne dalam hati

Selama perjalanan, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Hening. Canggung. Xavier hanya fokus menyetir, seolah ini hal biasa baginya.

Setelah beberapa waktu, mobil berhenti di depan restoran mewah berlampu keemasan.

Vivienne berbisik pelan "Pak, ini... kita mau makan di sini?"

Sahut Xavier "Iya. Ayo, ikut saja."

Mau tak mau, Vivienne turun dan mengikuti langkah bosnya masuk ke dalam.

Vivienne takjub melihat Interior restoran itu sungguh elegan dan mewah. meja-meja berlapis kain putih, lampu gantung kristal, dan musik klasik mengalun lembut. Mereka duduk di meja sudut dekat jendela besar.

"Selamat malam, Pak, Bu. Ini menu spesial malam ini."

Pelayan datang membawakan manu kepada mereka.

Vivienne mengambil menu dengan tangan kaku, matanya menyapu daftar harga yang membuat jantungnya nyaris berhenti.

Tapi sebenarnya, bukan harga yang paling membuatnya tidak nyaman.

Situasi saat ini dia duduk satu meja berdua dengan atasannya dalam restoran seperti ini membuat gugup dan tidak tenang.

Vivienne berbisik "Pak... saya nggak biasa makan seperti ini. Mungkin kita sebaiknya cari tempat yang lebih santai..."

Xavier tetap tenang, tidak terkejut. Ia hanya melirik menu sebentar lalu menutupnya.

"Kamu nggak perlu merasa tertekan. Tenang aja. Aku cuma pengen makan malam santai setelah hari yang panjang. Dan aku butuh teman makan yang bisa dipercaya." Ucap Xavier

Ia memanggil pelayan.

"Saya pesan salmon grill, risotto truffle, sup krim jamur, dan tiramisu. Minumannya wine putih."

"Baik, Pak. Akan segera kami siapkan."

"Pak, maaf, tapi... saya nggak akan bisa bayar semua ini. Saya benar-benar nggak enak..." ucap Vivienne dengan rasa gelisah

Xavier tersenyum dengan nadanya santai. Menjawab

"Vivienne, kamu cuma perlu makan dan temani aku malam ini. Nggak usah mikirin uang. Aku yang ajak, jadi aku yang tanggung. Santai aja, ya?"

Vivienne hanya bisa mengangguk kecil, dengan kaku. Tapi sedikit demi sedikit, hatinya mulai tenang. Mungkin... ini memang cuma makan malam jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun.

Makanan mulai datang satu per satu, diantar dengan penuh kehati-hatian oleh para pelayan. Aroma hidangan hangat menyebar di meja mereka.

Vivienne makan pelan-pelan, masih agak canggung, tapi suasana restoran yang tenang sedikit membantu menenangkan pikirannya.

Xavier menyuap sedikit sup, lalu tanpa menatapnya, bertanya dengan nada datar namun dalam.

"Sudah berapa lama kamu tinggal di apartemen kecil itu?"

Tanya Xavier

Vivienne berhenti sejenak, lalu menoleh pelan.

"Tiga tahun, Pak. Sejak saya diterima kerja di perusahaan Bapak... saya pindah ke sana. Lebih dekat ke kantor." Vivienne menjawab

"Sendirian?" tanya Xavier lagi

Vivienne mengangguk.

"Iya. Orang tua saya sudah lama meninggal. Jadi... ya, sendiri."

Xavier mengangguk pelan, tatapannya tetap pada piringnya. Ia terlihat berpikir sejenak, lalu bertanya lagi.

"Lalu siapa pria yang jemput kamu kemarin sore? Di depan kantor."

Vivienne sempat terdiam, merasa aneh dengan arah percakapan ini. Tapi akhirnya menjawab.

"Itu... pacar saya."

Xavier berhenti menyuap makanannya. Ekspresinya tak berubah, tapi Vivienne merasakan sesuatu yang aneh dalam diamnya.

Tak ada respons, hanya sunyi, lalu ia melanjutkan makannya perlahan.

Mencoba mengalihkan kegelisahan, Vivienne akhirnya berkata pelan.

"Pak, saya ke toilet sebentar ya."

Xavier hanya mengangguk.

Vivienne berdiri dan berjalan menyusuri lorong menuju toilet. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok dari kejauhan.

Punggung seorang pria. Ia merasa kenal-terlalu kenal.

Perlahan, ia mendekat, bersembunyi di balik tiang dekorasi.

Matanya membelalak. Itu memang pacarnya, Julian. duduk satu meja dengan orang tua Vivienne sendiri dan di seberangnya, ada wanita lain, bersama dua orang yang sepertinya adalah orang tua dari wanita itu.

Mereka semua tertawa dan berbincang hangat. Wanita itu sesekali tersipu malu, senyumannya tulus. Sementara pacarnya, duduk diam dengan wajah datar, tapi tidak berkata apa-apa.

"Jadi kita sepakat ya, setelah pertunangan bulan depan, langsung lanjut ke pernikahan.

Mumpung semuanya sudah cocok, tinggal formalitas saja." Ibu wanita berucap dengan nada semangat

"Iya, kami senang dengan keluarga anda. Anak kita juga sepertinya cocok sekali." Ayah Julian menjawab

Wanita itu tersenyum malu

"Aku juga nggak nyangka secepat ini... tapi aku senang, kok."

Vivienne berdiri kaku. Matanya mulai berkaca-kaca, nafasnya tercekat. Pacarnya tidak menolak. Tidak satu kata pun keluar untuk menyangkal rencana itu.

Vivienne bertanya dalam hati "Kenapa kamu diam aja...? Kenapa...?"

Dengan langkah berat dan mata memerah, ia menjauh dari meja itu. Menahan isak, ia berjalan kembali ke meja tempat Xavier duduk, mencoba bersikap biasa, meski hatinya hancur.

**

Langkah Vivienne kembali ke meja terasa berat. Matanya memerah, bibirnya tertutup rapat menahan emosi yang hampir meledak.

Tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk terlihat normal. Xavier, yang sejak tadi duduk tenang sambil mengaduk sisa kopi di cangkirnya, langsung menoleh saat melihat Vivienne datang.

Xavier betanya pelan "Kamu kenapa?"

Vivienne menggeleng cepat, tersenyum tipis yang jelas dipaksakan.

Vivienne menjawab "Nggak, Pak. Nggak apa-apa... cuma... kecapekan aja."

Xavier menatapnya dalam diam, jelas tak percaya begitu saja. Tapi ia tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mengangkat tangan memanggil pelayan.

"Bill-nya, tolong." mintanya kepada pelayan

Tak lama kemudian, semua dibayar. Mereka keluar dari restoran tanpa banyak kata.

***

Di dalam mobil, suasana kembali sunyi seperti di awal. Tapi kali ini, diamnya berbeda.

Lebih berat seperti ada sesuatu yang telah terjadi.

Mobil akhirnya berhenti di depan apartemen kecil tempat Vivienne tinggal. Vivienne membuka pintu, lalu menoleh ke Xavier dengan senyum sopan yang hampir tak terbentuk.

"Terima kasih untuk hari ini, Pak. Makanan dan semuanya. Saya pamit masuk dulu." Ucap Vivienne

Xavier hanya mengangguk, matanya tidak berpaling sedikit pun dari wajah Vivienne saat ia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu apartemen.

Ia berdiri sebentar di sana, membuka pintu, lalu masuk tanpa menoleh lagi.

Xavier masih diam di balik kemudi.

Tatapannya kosong, lurus ke arah pintu apartemen yang kini tertutup rapat. Tangannya menggenggam setir, tapi tidak bergerak.

Wajahnya datar, tak menunjukkan emosi. Tapi ada sesuatu di matanya-seperti menimbang, seperti bertanya-tanya atau mungkin hanya menahan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.

Beberapa menit kemudian, tanpa satu kata pun, ia menginjak gas perlahan dan meninggalkan apartemen itu... membawa pulang pikirannya yang penuh tanya.

.

.

.

To Be Continued

Thank you for reading. If you enjoyed this, please consider giving a like. Any feedback or suggestions are welcome; feel free to leave your comments. ₍^. .^₎⟆ ₊˚⊹ ᰔ

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Chapter 28 - Diantara Dua Pilihan

    Beberapa hari kemudian.Situasi mulai terlihat lebih tenang di permukaan. Tidak ada lagi ancaman langsung, tidak ada kejadian mencurigakan. Tapi Vivienne tahu, itu bukan berarti semuanya benar-benar selesai.Pagi itu, ia duduk di ruang tamu, membaca sesuatu di tablet. Fokusnya setengah-setengah seperti biasa. Langkah kaki terdengar.Vivienne tidak langsung menoleh. "Kamu pulang lebih cepat hari ini."Xavier tidak langsung menjawab. Ia berhenti beberapa langkah dari Vivienne. "Aku sengaja."Vivienne mengangkat pandangan. "Kenapa?"Xavier menatapnya sebentar, lalu berkata tanpa basa-basi, "Kita keluar malam ini."Vivienne mengernyit. "Keluar?""Kencan." Satu kata, langsung membuat Vivienne benar-benar berhenti bergerak. "Apa?"Xavier tetap tenang. "Kencan."Seolah itu hal paling normal.Vivienne menatapnya tidak percaya. "Kamu serius?""Iya.""Setelah semua ini?""Iya." Jawaban Xavier tetap datar, tapi jelas tidak main-main.Vivienne berdiri perlahan. "Kamu tiba-tiba bilang begitu tanpa

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Chapter 27 - Kesepakatan

    Pagi datang pelan. Cahaya matahari masuk dari celah tirai dan mengenai wajah Vivienne. Ia terbangun dengan kepala masih terasa berat. Beberapa detik ia hanya diam, lalu ingatan semalam muncul satu per satu. Gudang. Tembakan. Xavier. Vivienne langsung duduk. Napasnya sedikit cepat, tapi suasana di sekitarnya tenang. Tidak ada suara apa pun. Ia melihat sekeliling kamar yang masih terasa asing. Di sampingnya ada jaket milik Xavier yang sudah dilipat rapi. Ia sempat menyentuhnya sebentar, lalu menarik tangannya kembali. Tok tok tok.. Vivienne menegang. "Vivienne." Suara Xavier terdengar dari luar. Vivienne bangkit dan berjalan ke pintu. Ia membuka perlahan. Xavier berdiri di depan pintu dengan wajah biasa saja. Di tangannya ada nampan berisi sarapan. "Aku masuk," katanya singkat. Vivienne tidak menjawab, tapi membuka pintu lebih lebar. Xavier masuk dan meletakkan nampan di meja dekat jendela. Ada roti dan kopi hangat. "Makan dulu," ucapnya. Vivienne masih berdiri. "Kena

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Chapter 26 - Penyelamatan

    Daniel melihat semuanya. Dari dalam mobil yang terparkir beberapa meter dari pintu masuk parkiran bawah, matanya tak pernah lepas dari sosok Vivienne yang dibawa paksa masuk ke dalam kendaraan hitam. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras. Daniel segera meraih ponselnya dan menekan satu nomor yang sudah ia hafal di luar kepala."Dia diculik," ucapnya begitu sambungan terhubung. Hening singkat di seberang sana."Ikuti mereka dan pastikan dia hidup," suara Xavier akhirnya terdengar, suarahnya tedengar marah."Baik" jawab Daniel singkat.Telepon terputus. Daniel menyalakan mesin dan menjaga jarak saat mobil Catherine melaju keluar dari area gedung. Lampu kota memantul di kaca depan saat ia mengikuti mereka, cukup dekat untuk tidak kehilangan jejak, cukup jauh untuk tidak menimbulkan kecurigaan.Mobil hitam itu berbelok dua kali, lalu masuk ke kawasan industri yang nyaris mati. Gudang-gudang tua berdiri sunyi, lampu jalan jarang menyala. Daniel menurunkan kecepatan. Ia mengenali pola

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Chapter 25 - Kebenaran

    POV Vivienne Hari-hari berlalu seperti saat awal aku memasuki perusahaan ini. Namun, perasaan yang kurasakan tak lagi sama seperti dulu, saat sebelum Xavier masuk. Aku mencoba untuk tidak peduli dengan keberadaannya sekarang, tetapi hatiku kerap bertanya-tanya tentang dirinya. Dimana dia berada dan bagaimana keadaannya kini? Apakah dia baik-baik saja? Semua pertanyaan itu hanya kupendam dalam diam. Aku memilih untuk kembali fokus pada tujuan awalku, menemukan kebenaran tentang orang tuaku. Kini aku harus berpikir lebih hati-hati. Ruang gerakku semakin terbatas, dan aku mulai merasa ada seseorang yang mencurigai tindakanku saat mencoba mengakses berkas-berkas penting di perusahaan ini. Keheningan kembali menyelimuti ruang arsip. Aku menghela napas pelan, mencoba menenangkan detak jantungku yang belum juga stabil. Tiba-tiba, ponselku bergetar. Satu kali. Lalu berhenti. Aku melirik layar. Nomor tidak dikenal. Alisku berkerut. Jam di sudut layar menunjukkan hampir tengah malam. S

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Chapter 24 - Menghindar

    POV XavierHari-hari berlalu begitu cepat. Aku menatap ponselku dengan ragu. Layarnya menyala, menampilkan namamu yang sudah terlalu lama tidak ku sentuh. Jemariku menggantung di atas layar, seolah satu gerakan kecil saja bisa mengubah sesuatu atau justru memperburuk semuanya.Aku ingin menulis banyak hal.Aku ingin menjelaskan.Aku ingin mengatakan bahwa diamku bukan karena aku pergi.Tapi setiap kata terasa berbahaya.Aku tahu, sekali aku menghubungimu, aku akan menarik perhatian yang selama ini ku coba alihkan. Dan aku tidak siap membayar harga itu jika artinya kamu harus menanggungnya.Jadi aku menunggu.Menunggu waktu yang tepat, menunggu situasi yang lebih aman, menunggu sampai aku yakin bahwa langkahku tidak akan menyeretmu lebih dalam ke dalam dunia yang seharusnya tidak pernah kamu masuki.Aku menarik napas pelan, lalu menggeser layar.Bukan namamu yang kupilih.Aku menekan nomor lain.Daniel.Nada sambung terdengar sekali... dua kali... lalu suara yang kukenal menjawab."Ya

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Chapter 23 - Permainan Dimulai

    Hari itu berjalan tenang. Terlalu tenang.Vivienne bangun lebih pagi dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menerangi apartemen kecilnya dengan cara yang hampir menenangkan. Ia membuat kopi, bersiap kerja, dan menatap bayangannya sendiri di cermin lebih lama dari yang seharusnya.Tidak ada yang berubah. Setidaknya, begitu kelihatannya. Setelah percakapan singkatnya dengan Xavier tadi malam, Xavier langsung pulang tanpa mengatakan hal penting lainnya. Hal itu membuatnya merasa akan ada hal besar yang terjadi, namun dia mencoba menepis pikirannya karena dia yakin Xavier tidak akan membuatnya mengalami hal sulit.Di perjalanan menuju kantor, kota bergerak seperti biasa. Klakson bersahutan, pejalan kaki terburu-buru, dan papan reklame berganti wajah tanpa peduli siapa yang sedang merasa gelisah di balik kemudi mobil.Namun sejak pagi, Vivienne merasa seperti sedang berjalan di lantai tipis, dimana satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh.**Di kantor, rutinitas men

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Chapter 6 - Bertemu Kembali

    Malam semakin larut, kehiningan begitu terasa menyelimuti rumah itu. Vivienne duduk diam diruang tamu sendirian. Setelah obrolan singkat di ruang makan, Xavier langsung beranjak dari tempat makan dan bekata pelan. "Saya akan kembali keruangan kerja, terima kasih atas makanannya. Kau bisa kembali k

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Chapter 5 - Perasaan Yang Mengganggu

    Pagi itu, kantor sudah mulai sibuk. Suara keyboard berdenting, telepon berdering, namun langkah wanita itu begitu lesu dan pelan. Matanya sembab, wajahnya pucat. Vivienne, Semalam ia tidak tidur. Hatinya seperti disayat pisau yang tajam ia melihat kekasihnya makan malam bersama wanita lain dengan

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Prolog

    Di bawah selimut yang hangat dengan suara gemercik hujan membawa aroma tanah basah yang memberi keheningan di rumah itu. Vivienne duduk diam diujung kasur dengan matanya menyusuri setiap inci ruangan, seakan ingin menangkap sesuatu yang telah hilang. 12 tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu

  • Cinta Dalam Bayangan Dendam   Chapter 1 - Hari Yang Mengubah Segalanya

    Pagi mulai datang, disebuah apartemen mungil. Sinar matahari menembus tirai tipis, membelai wajah wanita cantik yang masih terlelap di ranjangnya. Wanita itu Vivienne, terbangun dengan senyuman. Ia menghirup udara pagi, merasa bersyukur atas hari baru. Saat bangun, matanya tertuju pada foto kedua

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status