LOGINVivienne, seorang sekretaris yang bekerja untuk seorang CEO terkenal dan tampan bernama Xavier. Xavier dikenal sebagai pemimpin yang sangat sukses, tetapi juga memiliki reputasi sebagai pria misterius dan kejam. Vivienne adalah wanita yang sangat baik dan ceria, namun dia membawa beban berat dalam hidupnya yang tidak diketahui banyak orang. Ternyata, Xavier adalah sosok yang memiliki kaitan dengan tragedi masa lalu Vivienne, suatu insiden yang mengubah hidupnya secara permanen. Seiring berjalannya waktu, Vivienne mulai merasakan hubungan yang lebih dalam dengan Xavier, meskipun dia tahu bahwa pria ini tidak hanya memiliki kekuasaan, tetapi juga rahasia besar yang mungkin bisa merusak hidupnya. Ternyata, pertemuan mereka di dunia kerja bukanlah kebetulan, dan Vivienne menyadari bahwa Xavier terlibat dalam masa lalunya lebih dalam daripada yang ia kira. Kini, Vivienne harus memilih apakah dia akan menghadapi masa lalunya dan mencari cara untuk melakukan pembalasan terhadap dendamnya atau melanjutkan hidupnya tanpa membongkar kebenaran yang kelam. ================================ Copyright by STRAWBERRYCANDY @strawberrycandyxx
View MoreBeberapa hari kemudian.Situasi mulai terlihat lebih tenang di permukaan. Tidak ada lagi ancaman langsung, tidak ada kejadian mencurigakan. Tapi Vivienne tahu, itu bukan berarti semuanya benar-benar selesai.Pagi itu, ia duduk di ruang tamu, membaca sesuatu di tablet. Fokusnya setengah-setengah seperti biasa. Langkah kaki terdengar.Vivienne tidak langsung menoleh. "Kamu pulang lebih cepat hari ini."Xavier tidak langsung menjawab. Ia berhenti beberapa langkah dari Vivienne. "Aku sengaja."Vivienne mengangkat pandangan. "Kenapa?"Xavier menatapnya sebentar, lalu berkata tanpa basa-basi, "Kita keluar malam ini."Vivienne mengernyit. "Keluar?""Kencan." Satu kata, langsung membuat Vivienne benar-benar berhenti bergerak. "Apa?"Xavier tetap tenang. "Kencan."Seolah itu hal paling normal.Vivienne menatapnya tidak percaya. "Kamu serius?""Iya.""Setelah semua ini?""Iya." Jawaban Xavier tetap datar, tapi jelas tidak main-main.Vivienne berdiri perlahan. "Kamu tiba-tiba bilang begitu tanpa
Pagi datang pelan. Cahaya matahari masuk dari celah tirai dan mengenai wajah Vivienne. Ia terbangun dengan kepala masih terasa berat. Beberapa detik ia hanya diam, lalu ingatan semalam muncul satu per satu. Gudang. Tembakan. Xavier. Vivienne langsung duduk. Napasnya sedikit cepat, tapi suasana di sekitarnya tenang. Tidak ada suara apa pun. Ia melihat sekeliling kamar yang masih terasa asing. Di sampingnya ada jaket milik Xavier yang sudah dilipat rapi. Ia sempat menyentuhnya sebentar, lalu menarik tangannya kembali. Tok tok tok.. Vivienne menegang. "Vivienne." Suara Xavier terdengar dari luar. Vivienne bangkit dan berjalan ke pintu. Ia membuka perlahan. Xavier berdiri di depan pintu dengan wajah biasa saja. Di tangannya ada nampan berisi sarapan. "Aku masuk," katanya singkat. Vivienne tidak menjawab, tapi membuka pintu lebih lebar. Xavier masuk dan meletakkan nampan di meja dekat jendela. Ada roti dan kopi hangat. "Makan dulu," ucapnya. Vivienne masih berdiri. "Kena
Daniel melihat semuanya. Dari dalam mobil yang terparkir beberapa meter dari pintu masuk parkiran bawah, matanya tak pernah lepas dari sosok Vivienne yang dibawa paksa masuk ke dalam kendaraan hitam. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras. Daniel segera meraih ponselnya dan menekan satu nomor yang sudah ia hafal di luar kepala."Dia diculik," ucapnya begitu sambungan terhubung. Hening singkat di seberang sana."Ikuti mereka dan pastikan dia hidup," suara Xavier akhirnya terdengar, suarahnya tedengar marah."Baik" jawab Daniel singkat.Telepon terputus. Daniel menyalakan mesin dan menjaga jarak saat mobil Catherine melaju keluar dari area gedung. Lampu kota memantul di kaca depan saat ia mengikuti mereka, cukup dekat untuk tidak kehilangan jejak, cukup jauh untuk tidak menimbulkan kecurigaan.Mobil hitam itu berbelok dua kali, lalu masuk ke kawasan industri yang nyaris mati. Gudang-gudang tua berdiri sunyi, lampu jalan jarang menyala. Daniel menurunkan kecepatan. Ia mengenali pola
POV Vivienne Hari-hari berlalu seperti saat awal aku memasuki perusahaan ini. Namun, perasaan yang kurasakan tak lagi sama seperti dulu, saat sebelum Xavier masuk. Aku mencoba untuk tidak peduli dengan keberadaannya sekarang, tetapi hatiku kerap bertanya-tanya tentang dirinya. Dimana dia berada dan bagaimana keadaannya kini? Apakah dia baik-baik saja? Semua pertanyaan itu hanya kupendam dalam diam. Aku memilih untuk kembali fokus pada tujuan awalku, menemukan kebenaran tentang orang tuaku. Kini aku harus berpikir lebih hati-hati. Ruang gerakku semakin terbatas, dan aku mulai merasa ada seseorang yang mencurigai tindakanku saat mencoba mengakses berkas-berkas penting di perusahaan ini. Keheningan kembali menyelimuti ruang arsip. Aku menghela napas pelan, mencoba menenangkan detak jantungku yang belum juga stabil. Tiba-tiba, ponselku bergetar. Satu kali. Lalu berhenti. Aku melirik layar. Nomor tidak dikenal. Alisku berkerut. Jam di sudut layar menunjukkan hampir tengah malam. S
Malam semakin larut, kehiningan begitu terasa menyelimuti rumah itu. Vivienne duduk diam diruang tamu sendirian. Setelah obrolan singkat di ruang makan, Xavier langsung beranjak dari tempat makan dan bekata pelan. "Saya akan kembali keruangan kerja, terima kasih atas makanannya. Kau bisa kembali k
Pagi itu, kantor sudah mulai sibuk. Suara keyboard berdenting, telepon berdering, namun langkah wanita itu begitu lesu dan pelan. Matanya sembab, wajahnya pucat. Vivienne, Semalam ia tidak tidur. Hatinya seperti disayat pisau yang tajam ia melihat kekasihnya makan malam bersama wanita lain dengan
Minggu sore itu terasa tenang bagi Vivienne. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia bisa bangun tanpa alarm, bersantai di tempat tidur sambil menonton serial favorit, dan menikmati secangkir teh hangat dari balkon apartemennya. Namun ketenangan itu tak bertahan lama.tiba-tibaBRRRRTT... BRRRRTT.
Pagi itu, Vivienne sedang bekerja seperti biasa bekerja di ruangannya.Namun tiba-tiba datang seorang wanita cantik dan anggun, datang mendekat dan melangkah masuk dengan percaya diri.Wanita tersebut mengatakan ingin bertemu Xavier. Catherine dengan senyum tipis berkata"Aku ingin bertemu dengan X












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.