เข้าสู่ระบบPOV Carissa.Setelah sarapan, aku sudah nggak sabar ingin keluar dan lihat-lihat vila ini lebih jauh. Begitu melangkah keluar, pemandangan yang sambut aku langsung buat aku terpukau.Semuanya begitu indah. Vila itu dikelilingi berbagai macam tanaman dan bunga yang tertata rapi. Dengan antusias aku jalan mendekat untuk lihat itu lebih jelas.Sejak tinggal di vila Keluarga Madison, aku memang mulai suka tanaman. Aku rasa kebiasaan itu menurun dari Moira. Aku bahkan kenali hampir semua nama tanaman yang tumbuh di sini. Dan aku tahu betul, semuanya bukan tanaman murah. Jelas sekali dirawat dengan sangat baik.Sedikit lebih jauh, mataku menangkap sebuah kolam renang besar. Bahkan ukurannya jauh lebih luas dibanding kolam di vila utama.“Kamu suka tempat ini, sayang?” tanya Gabriel hangat.Aku noleh ke dia lalu tersenyum lebar.“Tentu saja. Tempat ini indah sekali, Gabriel. Semoga nanti kita bisa bawa anak-anak ke sini juga. Mereka pasti akan suka,” kataku sambil terus tersenyum.“Tenang saj
POV Carissa.“Kamu basah sekali, sayang .… Sini,” bisiknya lirih di sana.Setelah itu dia bantu aku turun dari meja wastafel lalu putar tubuhku membelakanginya. Lututku hampir gemetar karena apa yang baru saja dia lakukan ke aku.Gabriel posisikan aku menghadap ke depan lalu bungkukkan tubuhku perlahan. Kedua tanganku cengkeram tepi wastafel untuk tahan diri. Dia pegang pinggangku erat sebelum gesekkan dirinya ke tubuhku yang sudah begitu siap terima dia.Mataku nyaris terpejam sepenuhnya karena kenikmatan yang sudah lebih dulu menguasai tubuhku. Aku memekik saat dia dorong masuk seluruhnya dalam satu hentakan panjang.“Astaga, rasanya luar biasa, sayang,” geramnya dengan suara serak di belakangku sambil terus bergerak tanpa kehilangan ritme.Sensasinya buat mataku hampir benar-benar berputar ke belakang.Aku bisa rasakan jelas betapa keras dan penuh dirinya setiap kali hantam tubuhku dari belakang. Suara basah pertemuan tubuh kita penuhi kamar mandi. Tubuhku yang terlalu siap justru b
POV Carissa.“Aku mau buang air besar dulu, Gabriel. Jadi, bisa kasih aku waktu sebentar?” kataku pelan.Aku bisa lihat jelas dia sedang tahan tawa. Gabriel kecup bibirku singkat sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi. Aku segera hembuskan napas panjang lega.Baru saat itu aku sadar air di bathtub sudah mengalir penuh. Pasti Gabriel yang nyalakan itu tadi. Senyum kecil langsung terbit di bibirku. Pas sekali, aku memang ingin berendam.Aku kembali meringis saat rasakan perih menusuk ketika gunakan toilet. Rasanya seperti ada iritasi di sana. Saat aku lihat, mataku langsung membelalak, kulitku memerah dan sedikit bengkak. Rasanya benar-benar seperti Gabriel baru saja renggut keperawananku lagi.Tapi aku rasa itu wajar. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali kita bersama seperti itu.Setelah selesai, aku perlahan berdiri lalu jalan menuju bathtub. Airnya sudah pas penuhi bak mandi, buat aku bisa langsung masuk tanpa perlu tunggu lagi.Aku matikan kerannya lalu celupkan tangan untuk cek
POV Carissa.“A-ahh, Gabriel .…” erangku lirih begitu rasakan dirinya masuk ke dalam tubuhku.Awalnya terasa sedikit sakit, mungkin karena sudah terlalu lama, namun perlahan rasa itu berubah jadi kenikmatan yang nggak mampu aku jelaskan dengan kata-kata. Gelombang demi gelombang gairah menyapu tubuhku saat aku sesuaikan diri terima setiap inci dirinya di setiap dorongan yang dia berikan.“Aahh … sayangku … aku cinta kamu .…” desah Gabriel dengan suara serak tanpa hentikan gerakannya.Aku mengerang begitu keras, dan kali ini aku nggak berniat tahan itu lagi. Tubuhku ternyata sangat kangen dengan Gabriel lebih dari yang ingin aku akui. Aku cinta dia, dan dengan sepenuh hati aku rela serahkan diriku lagi ke dia.“Carissa … sayangku, Carissa … ahh .…” gumamnya di sela ciuman yang terus dia hujamkan di bibirku, sementara kedua tangannya jelajahi setiap lekuk tubuhku seolah nggak ingin lewatkan apa pun.Nggak lama kemudian, aku mulai rasakan sesuatu mengumpul di dalam tubuhku, kita sama-sama
POV Carissa.Saat melirik ke arah Gabriel, aku dapati pria itu berdiri membelakangiku sambil nikmati pemandangan di luar. Aku baru sadar dia hanya kenakan celana boxer dan kaus tipis. Garis tubuhnya terlihat begitu jelas hingga buat senyumku semakin melebar. Perlahan aku turun dari tempat tidur.Aku jalan dekati dia dari belakang lalu lingkarkan kedua tangan di pinggangnya. Gabriel sedikit terkejut dengan tindakanku itu.“Wow, tempat ini indah sekali,” bisikku sambil tersenyum di punggungnya.Aku lepaskan pelukan itu lalu berpindah ke depannya. Aku mendongak menatap matanya sambil tersenyum, kedua lenganku melingkar di lehernya. Aku berjinjit perlahan lalu cium bibirnya.Aku tahu Gabriel terkejut.Selama kita bersama, aku nggak pernah jadi pihak yang memulai lebih dulu. Aku selalu terlalu malu untuk lakukan itu. Gabriel sempat terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya kedua tangannya temukan pinggangku dan angkat tubuhku. Dia balas ciumanku.Kita tenggelam semakin dalam di dalamnya. Gab
POV Carissa.“Aku akan buktikan ke kamu seberapa besar cintaku, Carissa. Aku janji, aku nggak akan biarkan siapa pun sakitin kamu seperti ini lagi.” Gabriel lepaskan pelukan kita, lalu perlahan menatap lurus ke mataku.Dia genggam kedua tanganku dan tempelkan itu di dadanya. Aku menatapnya bingung. Air mataku masih terus mengalir.“Bisa nggak kamu rasakan detak jantungku? Semua ini berdetak hanya untuk kamu, Sayang. Kamu adalah nyawaku. Hanya kamu yang pernah buat aku rasakan perasaan seperti ini. Percaya ke aku. Aku sangat cinta kamu, Carissa. Tolong kembali ke aku,” ucapnya lembut. Dan saat kata-kata itu keluar dari bibirnya, tangisku justru semakin pecah. Ada kebahagiaan yang begitu besar di dalam dadaku hingga sulit aku ungkapkan dengan kata-kata.“Aku juga sangat cinta kamu, Gabriel!” jawabku sambil nangis, mataku dipenuhi air mata.Aku kembali peluk dia dengan erat. Aku juga ingin bahagia bersama orang yang aku cintai. Aku sangat kangen Gabriel. Kangen dengan pelukannya. Kangen d







