Share

Bab 26

Auteur: Maya sabir
last update Date de publication: 2026-05-02 10:25:28

Bunker yang awalnya merupakan simbol perlindungan, kini terasa seperti peti mati mewah bagi Aara. Hari demi hari berlalu tanpa perubahan hanya ada dinding dingin, pendar lampu yang statis, dan obsesi Dante yang semakin mencekik.

Pagi itu, saat Dante mencoba menyuapinya sesendok bu
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 26

    Bunker yang awalnya merupakan simbol perlindungan, kini terasa seperti peti mati mewah bagi Aara. Hari demi hari berlalu tanpa perubahan hanya ada dinding dingin, pendar lampu yang statis, dan obsesi Dante yang semakin mencekik. Pagi itu, saat Dante mencoba menyuapinya sesendok bubur gandum dengan penuh kelembutan yang memuakkan, Aara memalingkan wajahnya. Tangannya yang masih terbelenggu borgol sutra ke tangan Dante bergetar hebat. "Makanlah, manisku. Kau butuh tenaga," bujuk Dante, suaranya halus namun menyimpan otoritas yang tak terbantahkan.

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 25

    Hari ketujuh seharusnya menjadi hari pembebasan, namun fajar yang menyingsing di Mansion Valerius justru membawa atmosfer yang lebih berat. Dante tidak beranjak dari sisi Aara. Pria itu terbangun dengan tatapan yang langsung mengunci sosok istrinya, seolah-olah jika ia berkedip satu kali saja, bayangan mawar kering dari Italia itu akan menjadi kenyataan. "Dante, hari ini adalah hari ketujuh," bisik Aara sambil mengusap rahang tegas suaminya yang kini mulai ditumbuhi janggut tipis. "Sesuai janjimu, aku ingin melihat mawar-mawar di taman bawah. Aku ingin menghirup udara segar yang asli." Dante terdiam lama. Jemarin

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 24

    Hari kelima dimulai dengan keheningan yang menyesakkan namun terasa manis. Dante tidak lagi mengizinkan cahaya matahari masuk secara alami; ia memerintahkan penutupan gorden otomatis agar Aara tidak terbangun karena silau. Di mata Dante, matahari pun tidak punya hak untuk mengganggu tidur istrinya. Saat Aara membuka mata, ia menemukan Dante sedang duduk bersila di sampingnya, tidak lagi memegang laptop atau dokumen bisnis. Di tangannya terdapat sebuah nampan kecil berisi minyak aromaterapi dan handuk hangat. "Aku membatalkan semua rapat hari ini," ucap Dante pelan, suaranya parau kar

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 23

    Hari ketiga "penahanan" dimulai dengan suasana yang lebih tenang namun tetap dengan pengawasan yang mencekam. Dante tidak hanya memindahkan kantornya, ia benar-benar membangun benteng di dalam kamar itu. Pagi ini, suara ketukan di pintu kembali terdengar. Marco masuk dengan membawa sebuah nampan berisi sarapan mewah, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di belakangnya dua pelayan wanita yang membawa tumpukan majalah, tablet baru, dan beberapa katalog perhiasan. "Tuan, ini pesanan Anda untuk Nyonya," ujar Marco, matanya tetap menunduk ke lantai, tidak berani melirik ke arah ranjang di mana Dante sedang memeluk pinggang Aara dengan posesif.

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 22

    Lantai atas mansion Valerius malam itu hanya dipenuhi oleh suara langkah kaki Dante yang berat dan gerutuan posesifnya yang belum mereda. Begitu sampai di depan pintu kamar utama, Dante menendang pintu hingga terbuka dan menutupnya kembali dengan bantingan keras yang mengguncang bingkai foto di dinding. "Dante! Turunkan aku! Ini konyol!" seru Aara sambil memukul-mukul punggung suaminya. Dante mengabaikannya. Ia menjatuhkan Aara dengan hati-hati ke atas tempat tidur king size mereka, namun segera mengurung tubuh istrinya itu dengan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Aara. Napasnya masih menderu, dan sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak menyala oleh api protektif yang gila. "Konyol? Kau bilang konyol?!" Dante mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. "Satu jam aku tidak tahu kau ada di mana, Aara. Satu jam aku membayangkan kau disiksa, diculik, atau... atau tewas di pinggir jalan! Dan kau menyebut kekhawatiranku konyol?!" Aara tertegun mel

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 21

    Setibanya kembali di mansion Valerius setelah drama di Italia, suasana yang biasanya kaku dan penuh kedisiplinan militer mendadak berubah drastis. Dante Valerius, pria yang dijuluki "Iblis dari Barat" karena kekejamannya, kini tampak seperti pria yang benar-benar berbeda. Pagi itu, di ruang makan utama, Marco dan Sasha berdiri mematung di sudut ruangan. Mata mereka terbelalak melihat pemandangan yang mustahil. Dante, yang biasanya duduk tegak dengan koran bisnis dan kopi hitam pekat, kini sedang sibuk mengupas kulit buah anggur satu per satu untuk disuapkan ke mulut Aara. "Dante, aku bisa melakukannya sendiri," protes Aara dengan pipi merona merah. "Diamlah, Sayang. Tanganmu terlalu berharga untuk sekadar mengupas buah," gumam Dante tanpa mengalihkan pandangan dari istrinya. Ia kemudian mengecup telapak tangan Aara dengan lembut, tepat di depan mata para pengawalnya. Marco berdehem pelan, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Tuan Besar, laporan mengenai pengiriman logistik di S

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 12

    Di mansion Valerius, keheningan pasca penculikan itu meledak menjadi badai murka. Dante terbangun beberapa saat kemudian setelah dr. Adrian menyuntikkan stimulan ke pembuluh darahnya. Namun, yang bangkit dari lantai itu bukan lagi Dante yang tenang; ia adalah iblis yang kehilangan benderanya. "SH

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 10

    Di atas halaman mansion, pertarungan antara Dante dan El Carnicero telah berubah menjadi tarian kematian yang brutal. Dante memuntahkan peluru dari senapan mesin beratnya, namun Algojo itu bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi pria seukurannya, berlindung di balik pilar beton sambil

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 11

    Keheningan di kamar itu terasa begitu pekat, hingga suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu. Dante mematung. Tangan yang tadi terulur untuk membelai Aara menggantung di udara, perlahan mengepal hingga buku-bukunya memutih. Aura di sekitar Dante berubah seketika. Jika tadi ia adala

  • Cinta Semalam Sang Mafia   BB 7

    Dante terengah, darah mulai merembes dari luka barunya. Ia menatap Aara, lalu menatap pistol kustomnya yang kini kosong. Di depannya, dalam balutan asap dan bayangan, berdiri sesosok pria raksasa dengan mantel bulu gelap dan topeng serigala perak. Robert Tiger. Robert melangkah maju, memegang seb

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status