로그인“Kaia masih di apartemen Mas Jarvis, Mi. Dia masih siap-siap,” ujar Kaia melalui sambungan telepon.Wanita paruh baya itu akhirnya menelepon karena Kaia tak kunjung membalas pesannya. Bagaimana mungkin ia sempat membalas jika sejak tadi sibuk mengais kesabarannya untuk menghadapi Mika, yang pagi ini benar-benar luar biasa.“It’s okay, santai saja. Jangan lupa sarapan, ya, Sayang. Kebetulan Mami juga ada urusan di sekitar sini. Mungkin setengah jam lagi selesai.”“Baik, Mi. Kaia tutup, ya.”“Iya, Sayang.” Suara Mami Jana terdengar hangat. Namun, sesaat sebelum sambungan terputus, ia kembali berseru, “Eh, iya! Mami punya berita baik. Nanti Mami sampaikan langsung di lokasi, ya, Sayang.”“Iya, Mami.”Sambungan telepon pun terputus.Kaia mengembuskan napas panjang. Kini ia duduk di sofa ruang tamu apartemen tunangannya sendiri, tapi rasanya tak lebih dari seorang tamu. Sementara itu, perempuan lain tengah menikmati sarapannya di pantry, seolah-olah sudah menjadi bagian dari kehidupan peng
Kaia tak pernah berkonfrontasi secara terang-terangan dengan Mika, meski perempuan itu selalu hadir di antara dirinya dan Jarvis selama tiga tahun pertunangan mereka.Kaia memilih diam dan cenderung mengalah. Pertama, karena Jarvis selalu menekankan bahwa Mika sudah lebih dulu hadir dalam hidupnya, sementara Kaia hanyalah perempuan yang ditunjuk keluarga untuk menjadi tunangannya. Kedua, karena Mika tidak tinggal sekota dengan mereka dan tidak pernah muncul secara terang-terangan. Meski begitu, beberapa kali mereka tetap bertemu karena Jarvis kerap memaksa Kaia menjadi tameng di hadapan ibunya setiap kali Mika kebetulan datang ke pusat kota.Namun, pagi ini rasanya Kaia sudah tak sanggup lagi bersabar. Terlebih, Mika terus-menerus menguji batas kesabarannya.“Masa kamu nggak paham, sih, Kai, kalau Jarvis nggak bisa dipaksa begini? Kalian, kan, udah tunangan selama tiga tahun.” Suara Mika terdengar mendayu-dayu, khas dirinya.Perempuan itu duduk dengan kaki terlipat di sofa apartemen J
“Menikah? Maaf aku udah gak minat lagi.”Kaia memungkas dengan datar. Tangannya kini sudah meraih gagang pintu hendak keluar.“Kenapa? Bukannya itu impian kamu sejak remaja? Sekarang saya berusaha mewujudkannya, kamu malah bilang nggak minat?” Jarvis menanggapi dengan nada sarat provokasi.Kaia menghela napas pelan. Ia tidak ingin meladeni Jarvis lebih jauh. Pekerjaannya masih menumpuk dan ia tidak punya energi untuk berdebat dengan pria itu lagi.“Karena ada pria lain?”Tuduhan itu membuat Kaia spontan berbalik. Tatapannya langsung menghujam Jarvis, tak kalah tajam.“Aku bukan kamu,” sahutnya datar.“Dan nggak ada pria lain,” tegas Kaia. Ia sempat melirik Jarvis dengan tatapan jengah sebelum kembali memalingkan wajah ke arah jendela.Jarvis mendecih pelan.“Lalu, apa yang membuat kamu begitu yakin ingin mengakhiri semuanya dan menolak menikah dengan saya?”“Capek.”Hanya satu kata. Singkat, tanpa penjelasan lebih lanjut.Jarvis justru terkekeh hambar. “Kamu yang sejak awal setuju dan
Kaia tak tahu apa yang merasuki Jarvis semalam hingga pria itu bisa begitu lugas menyampaikan keinginannya untuk menikahi Kaia dalam waktu tiga bulan di hadapan keluarga Tandiono.Pernikahan adalah hal yang selama ini selalu Jarvis undur. Padahal, sejak awal, kedua keluarga telah merencanakan pernikahan mereka berlangsung setahun setelah pertunangan.Namun, ketika waktunya tiba, Jarvis menggunakan karier Kaia di Lumora yang sedang di puncak sebagai alasan untuk menunda. Ia berdalih tak ingin pernikahan mengganggu perkembangan karier perempuan itu.Setahun berlalu, alasan baru kembali muncul. Kali ini, kepindahannya ke Lumora. Jarvis bersikeras ingin lebih dulu memantapkan posisinya sebagai CEO. Bagaimanapun, ia baru setahun bergabung dengan Lumora dan langsung menduduki kursi pimpinan. Tentu masih banyak sentimen negatif yang harus ia hadapi.Padahal, alasan paling mendasarnya sederhana: Mikaela Ayumi.Kaia yang dulu begitu bodoh menerima semua penundaan itu begitu saja. Ia terus membe
Setelah mendapat penanganan dan menjalani observasi selama beberapa saat, Kaia diperbolehkan pulang. Kondisinya dinilai tidak mengkhawatirkan. Ia hanya diminta menghindari makanan atau bahan yang dapat memicu alerginya.“Kai yakin nih lutut kamu nggak apa-apa?” Tama memastikan begitu Kaia keluar dari IGD.“Nggak, kok. Tadi kan cuma hampir keserempet, Mas. Bukan keserempet beneran,” jawab Kaia meyakinkan.Sedari tadi Jarvis berdiri di belakang Kaia, menyaksikan percakapan itu dalam diam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Namun, Kaia bisa menebak bahwa sebentar lagi pria itu akan meledak begitu mereka hanya berdua. Entah karena Kaia meninggalkan acara, atau karena alerginya tiba-tiba kambuh dan merepotkan banyak orang.Sungguh, ia tidak ingin pulang satu mobil dengan Jarvis.“Mas, minta tolong boleh? Bisa anterin aku pulang?” pinta Kaia tiba-tiba kepada TamaSeketika, rahang Jarvis mengeras.“Sure. Ayo, aku antar pulang,” sahut Tama tanpa banyak bertanya.Ia kemudian menoleh kepada Ja
Jarvis betul-betul membawa Mika ke acara keluarga mereka. Acara makan untuk perayaan salah satu kerabat Jarvis yang anaknya diterima di Universitas ternama di Amerika. Bertempat di sebuah restoran eksklusif yang sengaja di-booking untuk keluarga Tandiono.Begitu memasuki ruangan, mereka langsung disambut beberapa anggota keluarga Tandiono. Kaia berusaha tersenyum seperti biasa, menyapa satu per satu kerabat yang menghampiri mereka.Lalu, perhatian orang-orang beralih kepada Mika.Mika tersenyum ramah, memperkenalkan diri, lalu ikut berbincang dengan keluarga Jarvis.Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang mencurigakan.Setidaknya, bagi mereka yang tidak mengetahui apa-apa.Beberapa kerabat tampak antusias mendengar cerita Mika tentang masa kuliah dengan Jarvis dan kehidupannya sekarang. Pujian atas pencapaian dan bakatnya pun tak sedikit dilontarkan.Mika menanggapinya dengan rendah hati, sesekali diselingi tawa kecil. Dalam waktu singkat, ia berhasil membaur dengan keluarga Jarvis seolah







