ログイン“Mama telah mengundang seseorang untuk makan malam bersama kita,” ucap Ibu Arinia sambil menata beberapa peralatan piring di atas meja.
Gariel dan Natalia yang baru saja tiba, saling berpandang dengan wajah kebingungan.
“Siapa yang akan makan malam bersama kita, Ma?”
“Seorang yang akan aku perkenalkan pada kalian berdua.
“Oh ya? Apakah aku kenal orangnya?” tanya Natalia ikut nimbrung sambil meraih sebuah gelas dan mengisinya dengan air putih. Lalu dengan santai, dia duduk dan mulai meneguk air putih dalam gelasnya.
“Tidak, kalian tidak mengenalnya sama sekali, tapi orang yang mama undang, akan membawa perubahan dalam keluarga kita.”
Gabriel mengangkat alisnya mengharapkan penjelasan yang lebih lagi, tapi kata-kata yang keluar dari bibir Ibu Ariani, sang mama, membuat Gabriel dan Natalia langsung terdiam.
“Mama dan papa sudah sangat merindukan cucu, dan kami tidak tahu sampai kapan kalian membuat mama dan papa menunggu kedatangan cucu dalam keluarga ini.”
Pak Ronald, papa dari Gabriel, ikut memandang mereka berdua dengan pandangan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
“Natalia,” bisik Gabriel sambil ikut duduk di samping istrinya menyenggol kaki sang istri dari bawah meja.
Natalia hanya memandang Gabriel dengan sinar mata masa bodoh. Baginya, ucapan ibu Ariani seperti angin lalu saja.
“Apa yang sebenarnya kalian tunggu?” cecar mama geram.
“Natalia masih ingin mengejar mimpi dan cita-citanya, Ma,” terang Gabriel mencoba untuk santai.
Entah sudah berapa kali dia menggunakan alasan itu setiap kali mama dan papanya menanyakan hal itu kepadanya.
Natalia, istri Gabriel adalah seorang wanita yang cantik, modis dan memiliki tubuh yang indah. Dia juga adalah seorang perancang gaun pengantin dan gaun-gaun trendi masa kini.
Karirnya sedang naik daun. Dia memang sudah mewanti-wanti Gabriel dari sejak awal pria itu melamarnya.
Baginya, anak bukanlah tujuan utama dalam sebuah pernikahan. Karir dan mimpinya adalah hal yang terpenting baginya saat ini.
“Karir dan cita-cita bisa kalian kejar kapan saja, tapi anak tidak bisa kalian dapatkan kapan saja.”
Natalia tetap terdiam sambil menatap piring kosong di depannya
“Natalia, kamu jawab dong pertanyaan mama,” desak Gabriel.
Natalia memutar bola matanya dan melengos. Sepertinya dia sengaja melakukan hal itu karena itu adalah topik yang paling dia benci.
“Kami akan mencoba lagi, Ma,” ucap Gabriel dengan setengah senyum.
“Sampai berapa lama kalian akan mencoba? Sampai mama dan papa sudah tidak eksis lagi di dunia ini?”
“Ma!” sentak Gabriel sedikit emosi.
Tentu saja dia tidak mau kehilangan mereka sebelum bisa membahagiakan mereka.
Gabriel dan Natalia sudah menikah selama lima tahun, dan bukan masalah mereka tidak mencoba selama ini, atau pun alat-alat reproduksi mereka tidak berfungsi.
Natalia sendiri pun tidak mau membahas masalah ini. Setiap kali Gabriel mencoba mengungkit topik ini, maka akan berakhir dengan pertengkaran di antara mereka.
Dia selalu mengatakan kalau tubuhnya terlalu indah dan berharga untuk dirusak oleh kehamilan dan persalinan. Setelah melahirkan, tentu ia akan mengalami perubahan kadar hormon yang cukup drastis sehingga akan mempengaruhi fisiknya.
Belum lagi harus terbangun tengah malam karena rengekan bayi. Baginya, anak-anak adalah makhluk mengerikan yang bisa menyedot seluruh energinya seketika dan bla, bla, bla. Itu semua adalah alasan Natalia selama ini.
Selain itu, Natalia sangat menjaga bentuk tubuhnya. Dia bahkan menjadi model untuk gaun-gaun pengantin rancangannya sendiri. Beberapa bulan yang lalu, dia memenangkan sebuah perlombaan rancangan gaun pengantin terbaik. Tapi Natalia belum puas.
Sebelum rancangannya diakui oleh dunia internasional, maka perjalanan karirnya belum sukses. Ambisi dan tekadnya sangat tinggi. Overdosis malah.
“Mama sudah kasih kalian waktu selama dua tahun penuh. DUA TAHUN,” ulang mama.
“Tapi apa yang kalian berikan? Hanyalah janji kosong.”
Glek! Dengan susah payah Gabriel menelan salivanya.
Dia sangat mencintai Natalia dan dia tidak ingin memaksakan kehendaknya pada wanita yang sangat dicintai itu.
“Gabriel, Natalia! Mama dan papa sudah tidak mau menunggu lagi. Jalan satu-satunya adalah dengan meminta wanita lain untuk memberikan cucu bagi keluarga ini.”
“Hah? Apa, Pa?” tanya Gabriel kaget seakan-akan ucapan papa tidak jelas baginya.
Dia menoleh ke arah Natalia, dan anehnya tidak bereaksi sama sekali, seakan-akan ucapan Papa hanya sebuah iklan susu bayi di layar televisi. Iklan televisi yang paling dibenci Natalia karena itu hanya mengingatkan dia akan tuntutan dari kedua orang tua Gabriel.
“Apa kurang jelas apa yang papa ucapkan tadi?”
Baru saja Gabriel hendak menjawab, Natalia akhirnya buka suara juga.
“Sudah sangat jelas, Pa. Kami akan pikirkan hal itu.”
Gabriel menatap Natalia dengan pandangan aneh. Biasanya seorang istri akan meraung-raung dan tidak terima kalau akan diduakan. Tapi kenapa dia malah menanggapinya seperti itu adalah masalah sepele?
“Lihat tuh, Gabriel! Sepertinya Natalia sudah setuju tentang hal ini,” cetus mama dengan senyum sumringah.
“Tidak! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menduakan Natalia,” ucap Gabriel tegas.
Natalia tersenyum miring melihat reaksi Gabriel. Dia seakan menikmati drama keluarga yang terjadi saat itu.
Dengan anggun, dia meraih kembali gelas yang berisi air dingin di depannya dan meneguknya pelan.
Tentu saja dia tetap bersikap tenang. Natalia tahu bahwa Gabriel sangat mencintainya.
“Kalian setuju atau tidak, mama dan papa sudah mempersiapkan seorang wanita untuk menggantikan tugas Natalia. Dia yang akan memberikan cucu di keluarga ini.”
Gabriel mencoba menahan diri untuk tidak loncat dari tempat duduknya.
“Mama dan papa tidak bisa bertindak tanpa persetujuan aku dan Natalia.”
Tangan Gabriel gemetar karena hawa panas yang mendidih di rongga dadanya. Sampai mati pun, dia tidak akan pernah mengkhianati Natalia.
“Terlambat! Wanita itu sedang dalam perjalanan ke sini. Mama mengundangnya untuk makan malam bersama kita. Sebentar lagi dia akan tiba.”
Ucapan mama membuat emosi Gabriel semakin memuncak.
Dia mengatupkan mulutnya agar tidak mengeluarkan kata-kata kotor pada kedua orang yang sangat dihormatinya.
“Natalia dan aku tidak setuju.”
Gabriel memandang Natalia untuk mendapatkan sedikit dukungan. Namun, dia malah menunduk dan menghindari tatapan Gabriel.
‘Kenapa hari ini semua orang-orang seperti tidak berpihak kepadaku?’
“Ayo pulang!” ujar Gabriel sambil mengulurkan tangan ke arah Natalia.
‘Dari pada aku marah lalu menyakiti hati mama dan papa, mending aku pergi sini dan menenangkan hatiku yang panas,’ batin Gabriel.
Natalia menyambut uluran tangan suaminya dan berdiri. Tubuhnya yang indah mengikuti langkah kaki panjang Gabriel
“Maaf, Ma, Pa. Kami menolak semua rencana ini.”
Dengan tergesa-gesa, Gabriel menarik Natalia dari hadapan mereka.
“Baiklah! Kalau kalian keras kepala, maka semua fasilitas dan perusahaan yang kalian kelola selama ini, akan mama tarik semua.”
Kata-kata mama, sontak menghentikan langkah kaki mereka berdua.
Natalia menatap suaminya dengan kening berkerut. Dia berpura-pura merapatkan gandengan tangannya di lengan Gabriel dan berbisik pelan.
‘Katakan sesuatu yang bisa membuat mereka tenang.’
Seperti kerbau dicucuk hidung, Gabriel menuruti perintah Natalia.
“Beri kami waktu, Ma. Lagi pula kami berdua masih muda dan masih mempunyai banyak kesemp…”
“Kalian berdua memang masih muda, tapi kami berdua yang sudah tidak muda lagi,” potong mama sarkas.
Gabriel melonggarkan dasinya yang sekarang terasa seperti mencekik lehernya. Sehari-hari bekerja sebagai CEO menuntutnya untuk selalu berpakaian rapi. Natalia selalu memilihkan pakaian dan dasi yang cocok untuknya..
Wanita itu sangat mengutamakan penampilan. Baginya, penilaian orang akan penampilan dan pakaian yang mereka kenakan adalah segala-galanya.
Ting-tong!
Bunyi bel pintu depan seakan menghentikan putaran waktu.
“Akhirnya orang yang mama tunggu datang juga.”
Mama bergegas menuju pintu depan dan membukakan pintu untuk tamu yang tak diundang.
“Ayo, masuk!” Terdengar suara mama yang begitu riang seolah yang datang adalah tamu agung atau seorang putri raja.
Gabriel berdiri dengan gelisah dan dia bisa rasakan ketegangan Natalia dalam genggaman tangannya.
Mereka berdua berdiri sambil memandang pada satu titik yang sama. Koridor masuk.
***
Kukuatkan hatiku untuk menerima undangan makan malam dari keluarga Angkasa. Hari ini aku akan dikenalkan pada pasangan suami istri yang mana aku akan menhasilkan anak untuk mereka.
'Hah! Kesialan apa yang telah menimpaku sehingga aku terjebak dalam situasi ini?'
Kutekan bel pintu di depanku dan menunggu seseorang yang akan membukakan pintu bagiku. Namun, seandainya aku punya pilihan lain, maka aku memilih untuk kabur dari situasi ini.
"Hello, Nona Grace!" sapa Ibu Ariani dengan senyuman lebar. Terlihat sekali wanita paruh baya itu begitu senang dengan kedatanganku.
"Hello, Ibu Ariani!" sapaku seadanya.
"Ayo masuk."
Aku mengangguk singgat dan berjalan di sampingnya.
Dari ruang tamu, Aku bisa melihat dua pasang mata yang menatapku tajam seakan ingin mengusirku dari hadapan mereka.
Aku ragu, tapi akhiirnya kembali kuputuskan untuk mengikuti langkah kaki Ibu Ariani ke dalam ruang tamu yang sangat mewah.
“Hello semua,” sapaku pelan.
Pria di depanku, menatapku sinis dan merangkul mesra wanita cantik yang ada di samping. Dengan sengaja dia menunjukkan padaku kemesraan mereka berdua.
‘Apakah mereka pasangan suami istri yang akan diperkenalkan padaku?’
“Gabriel, Natalia! Perkenalkan, ini Grace Anjelita. Dia wanita yang mama maksud tadi.”
Bersambung…
"Banyak orang di dunia ini yang mencoba mengambil apa yang bukan hak mereka, Natalia," jawab Gabriel santai, membelokkan setir memasuki gerbang besi kokoh yang menjulang tinggi di area rumah utama."Memangnya kamu punya musuh yang ingin ambil milikmu?" tanya Natalia dengan wajah pucat."Setiap orang pasti punya musuh, mau sebaik apa pun orang tersebut, tetap akan ada orang yang tak suka padanya.""Iya, aku tahu. Tapi kamu kan orang baik.""Natalia, bukan masalah baik atau jahatnya, tapi orang-orang yang bertindak di luar batas biasanya lupa diri.""Lupa diri?""Yep, lupa diri bahwa sekali perbuatan busuk mereka terungkap, mereka tidak akan menyisakan apa pun selain kehancuran untuk diri mereka sendiri."Natalia menelan ludah dengan susah payah. Rahangnya mengeras.'Apakah dia sedang menyindirku? Tidak. Tidak mungkin. Dia tidak tahu apa-apa,' batin Natalia berusaha menenangkan gejolak panik di dadanya.Natalia memilih untuk tidak membahas lebih lanjut karena takut salah bicara yang akan
Gabriel tidak membuang waktu. Dendam yang mulai merasuki dadanya tidak diluapkan lewat amukan membabi-buta, melainkan diubah menjadi tindakan dingin dengan langkah yang tepat. Dengan tangan gemetar ia meraih ponsel pribadinya di atas meja rias, lalu menghubungi kepala pengawal kepercayaannya, yang ditugaskan untuk menjaga Grace."Perketat penjagaan di kediaman Grace detik ini juga," perintah Gabriel dingin, suaranya pelan, tapi sarat ancaman yang sanggup meremukkan siapa saja yang telah berkhianat padanya. Pokoknya kali ini Gabriel akan mempertaruhkan apa pun untuk keselamatan Grace dan anak kembarnya."Baik, Tuan. Akan kami laksanakan.""Tambahkan personel terbaik di bagian dalam rumah dan halaman belakang. Jangan biarkan siapa pun, tanpa terkecuali, mendekati lokasi itu tanpa izin langsung dariku.""Baik, Tuan. Kami mengerti. Penjagaan tingkat atas langsung diaktifkan," sahut suara tegas di seberang telepon."Oh, ya, satu hal lagi. Pantau semua pergerakan jaringan di luar kantor. J
Gabriel membolak-balik ponsel jadul itu di tangannya."Hmm, coba aku lihat isinya," gumam Gabriel masih dengan wajah penuh tanda tanya. Layar ponsel berdesain usang itu mendadak menyala terang, memutus keheningan walk-in closet. Benda di genggaman Gabriel ternyata adalah ponsel sekali pakai—jenis ponsel burner murahan yang murni hanya berfungsi untuk panggilan suara dan pesan singkat tanpa koneksi internet.Gabriel memicingkan mata. Jarinya menekan tombol navigasi untuk membuka folder pesan, tapi layar sederhana itu mendadak menampilkan permintaan PIN Code."Ah, ada-ada saja. Ponsel jadul kayak gini, masa minta pin code segala," gerutu Gabriel sambil berdecak rendah. Otaknya berputar cepat menerka kombinasi angka yang mungkin digunakan istrinya. Gabriel mencoba memasukkan empat digit tanggal pernikahan mereka.Klik.Ponsel itu terbuka seketika. Mata Gabriel menjelajahi deretan pesan singkat di kotak masuk dan kotak keluar. Namun, satu pesan lama di folder pesan terkirim langsung memb
"Loh, ke mana ponsel kecilku?" bisik Natalia sambil mencari benda itu, tapi apa yang dicarinya tidak ditemukannya sampai di sudut tas terdalam. "Astaga! Aku kan ganti tas tadi pagi." Natalia langsung menepuk jidatnya. "Apa aku pulang aja ya?" Natalia berjalan mondar-mandir sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk ke rumah dulu sebelum Gabriel menjemputnya. *** Sementara di kantor Gabriel, pria itu memandang layar komputer dengan tatapan kosong. Dari pagi dia sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Lengannya yang terluka masih berdenyut sakit. Gabriel memutuskan untuk menemui sekretarisnya. "Tolong kirim daftar schedule rapat hari ini?" perintah Gabriel. Entah kenapa, dia ingin pulang lebih cepat hari ini, bukan untuk menjemput Natalia, tapi dia ingin melakukan sesuatu untuk Grace. "Baik, Pak. Saya cek dulu» Sekretaris itu segera memeriksa catatannya. «Dari jadwal yang ada, hanya tersisa dua rapat lagi yang harus Bapak hadiri. Satunya setelah makan siang, dan satunya lagi
Natalia menyentuh dada Jason yang masih naik-turun memburu, lalu mendorong tubuh pria itu pelan tapi tegas."Bangun, Jason. Sudah cukup," ujar Natalia dengan suara yang mendadak berubah dingin dan tanpa emosi.Jason mengerjap lambat, mendongak menatap Natalia dengan raut wajah kebingungan. Kehangatan yang baru saja mereka bagi seolah menguap dalam hitungan detik."Natalia? Ada apa? Kamu …""Rapikan pakaianmu," potong Natalia singkat. Ia menegakkan tubuhnya, duduk di tepi meja marmer lalu menurunkan roknya yang tersingkap. Jemarinya yang lentik bergerak gesit membenahi blousenya, seolah merapikan kembali topeng kesempurnaan yang sempat terlepas.Jason berdiri kaku di samping meja."Rapikan celanamu," sentak Natalia kesal. "Jangan sampai orang masuk ke sini dan salah sangka.""Hah?" celetuk Jason bingung. Namun, dia melakukan apa yang diucapkan Seleba. Dengan cepat dia membetulkan letak celananya dan menarik risleting dengan raut wajah yang tersinggung."Natalia, aku pikir setelah apa ya
Pergulatan panas di atas meja itu berlangsung tanpa ampun. Suara gesekan kain, napas yang memburu, dan desahan pasrah Natalia saling bersahutan memecah keheningan ruang kerja yang tertutup rapat."J-Jason ... ahh! Ini terlalu ..." jerit Natalia tertahan, jemarinya beralih mencengkeram kencang bahu jas Jason saat gerakan pria itu kian liar."Nikmati, Natalia. Kamu menyukainya, bukan?" bisik Jason serak. Ia mendongak sejenak, menatap wajah Natalia yang memerah sempurna dengan deru napas yang tak beraturan."Lihat dirimu. Tubuhmu tidak bisa berbohong padaku. Kamu ingin dimanja dan disentuh seperti ini. Diperlakukan seperti Ratu. Aku akan melayanimu kapan saja kamu pengin dimanja, Natalia."Natalia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, tidak sanggup membalas kata-kata Jason. Rasa nikmat yang membakar menyapu bersih seluruh akal sehatnya, menggantikan ingatannya tentang Gabriel dengan sentuhan nyata pria yang sedang berlutut di hadapannya ini.Jason kembali membenamkan wajahnya, melancar
“Ma, terima kasih sudah mau ikut sesi terapi lagi hari ini,” ucapku sambil membetulkan letak selimut di tubuh mama.” Wanita paruh baya yang telah melahirkanku ke dalam dunia ini, tersenyum lembut dan menatapku dengan sinar mata yang ceria. “Sama-sama, sayang. Mama senang sekali karena kamu menemani
“Sekarang kamu sudah sibuk dengan wanita sialan itu. Apa sih yang kamu cari dari dia, Gabriel?"“Natalia, Grace bukan wanita sialan, dan dia sedang hamil muda, anak itu adalah darah dagingku, cucu dari keluarga kita.”Natalia mendengus kesal, menahan amarah, matanya memerah, tapi dia menolak menangis.
Natalia mengernyitkan keningnya penasaran setelah mendengar penjelasan Bik Sumi. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya dan mengatakan bahwa Gabriel telah membohonginya. Ditambah lagi, Grace tidak sempat sarapan tadi pagi, dari sekarang Gabriel membawa pulang sarapan kesukaannya. Rasanya kebetulan ini
Aku membuka kelopak mataku yang masih terasa berat, rupanya pagi yang mendung membuatku ingin kembali ke dunia mimpi. Suara gemericik hujan di luar terdengar samar dari dalam kamarku yang cukup luas dan rapi. Tanganku menutupi mulutku yang menguap lebar, seakan mencoba mengusir rasa kantuk yang ada.







