Elara no longer believed in love after an embarrassing scandal happened in her senior high school days. When her mother asked her to marry her friend's son to bear an heir for them in exchange for paying for her father's heart disease treatment, she slightly hesitated but eventually accepted it. In her mind, she would marry that man, and after she gave birth to an heir for them, she would get a divorce and live by herself again. But on their wedding day, she was surprised to see that her husband-to-be was none other than Alexander Reed, her long-time crush who had shattered her heart into pieces in front of their schoolmates. How could she face the man who hurt her and now thinks of her as a gold digger? Would love grow in their hearts, or would the prejudice to each other tear them apart?
view moreAku tak menyangka akan seburuk ini. Jika ada yang salah dalam langkahku. Aku mohon maafkan. Ini sudah jadi jalanku. Tak tahu apa harus diteruskan. Apa harus kuhentikan langkahku ini?
"Tidak malu kamu?""Apa sih, Bu?""Tetangga mengira kamu radikal. Senang kamu dibilang teroris?""Memang salahku apa? Aku juga yang pakai. Sama sekali aku tak mencelakai orang. Aku pakai cadar untukku.""Kamu tidak lihat di berita. Ramai tentang teroris.""Itu hanya oknum. Mereka hanya sebagian aliran sesat. Tidak semuanya begitu!""Ibu malu kalau jalan sama kamu.""Kalau Ibu malu, ya sudah. Aku juga tidak ada merugikan orang.""Sebaiknya kamu pikir lagi kalau mau pakai.""Astaghfirullah."Dia ibu tiriku. Aku sudah dari kecil diasuh olehnya. Ayahku saat ini bekerja dinas ke luar kota.***Ini sekelumit kisah ku di masa lalu. Aku hidup bersama ibu tiri. Ibu tiriku yang mengatur semuanya. Uang sekolah pun, ia yang pegang. Sehingga untuk keperluanku, selalu minta padanya. Aku meminta uang kiriman ayah padanya. Ia hanya berikan sekedarnya. Pernah diberikannya tak cukup sama sekali. Terpaksa aku mengirit dan memakai keperluanku seadanya. Bahkan, untuk membeli pembalut aku harus bilang. Tak segampang itu mendapatkan hati ibu tiriku.Pernah satu waktu kutelepon ayah. Aku minta dikirimkan saja uangnya. Sehingga aku membuat ATM sendiri agar bisa ditransfer. Saat itu aku baru lulus sekolah. KTP pun aku baru buat."Ayah, kirimkan saja aku uang. Sekarang aku sudah punya ATM.""Yah, kirimkan rekeningmu. Memang kenapa dengan ibu? Bukannya ayah sudah titip ke dia?""Aku segan minta padanya. Ia sering sibuk dengan usaha katering. Bagian untukku ayah kirimkan saja lewat ATM!""Ya. Sudah dulu Ayah mau kerja.""Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam."Akhirnya aku minta pada ayah. Aku mengatakan semuanya. Syukurlah ayah mau mengirimkannya. Ayah memang sering dinas keluar kota. Dia adalah seorang pegawai negeri. Namun tempatnya bekerja, jauh dari tempat tinggal. Jadi aku harus hidup dengan ibu tiri. Ayah dan ibu tiriku tidak mempunyai anak. Mereka hanya punya aku semata wayang. Ibu kandungku sudah 16 tahun meninggal. Ia meninggal karena sakit leukemia. Saat aku usia dua tahun, ia meninggal.Sebagai muslimah, aku selalu menjalankan ibadah. Namun, aku belum mengenakan hijab. Aku salat, belum mengenakan hijab. Layaknya identitasku sebagai seorang muslimah tak terlihat. Setiap kali aku memasuki mesjid untuk salat. Tapi, aku tak kenakan kerudung. Orang-orang yang berkerudung heran melihatku. Temanku yang berhijab tak masalah. Mereka mengharapkan aku berhijab. Aku harus memantapkan hati untuk berhijab."Tazkiyah kamu sangat cantik." Puji temanku saat kami bercermin.Aku menyisir rambutku yang terurai panjang. Rambutku sedikit ikal, selalu kurapikan."Makasih, Dhea. Kamu juga cantik. Wanita soleha, hehe.""Kalau kamu pakai hijab. Aku yakin kamu tambah cantik.""Yah, do'akan aku dapat hidayah. Biar aku jadi muslimah yang seutuhnya.""Amin."***Aku baru saja mendaftar di universitas. Ayah menyuruhku mengambil jurusan ekonomi. Ia ingin aku melanjutkan seperti dia. Sebenarnya aku sangat ingin mengambil jurusan Bahasa asing. Tapi, ayah ingin yang berbeda.Setelah selesai dari kampus, aku pulang. Aku belum bisa menggunakan kendaraan. Sehingga ayah belum membelikanku kendaraan. Jadi untuk sementara, aku pergi menggunakan bis kota. Kadang Dhea mengantarkanku ke rumah. Ia sekalian main ke rumahku.Hari ini aku naik bis kota. Setelah sampai, aku menyusuri jalan ke rumah. Akhirnya aku tiba di depan rumah. Aku langsung membuka pintu pagar. Kulihat ibu tiriku sudah pulang. Tampaknya ia tak terlalu sibuk hari ini."Assalamu'alaikum!"Tak ada jawaban, mungkin ibu tiriku sedang sibuk. Pintu rumah tak terkunci. Tapi ada bi Kusma di rumah. Ia pembantu di rumah. Sejak aku kecil, ia sudah bekerja disini."Hei!""Ibu."Tiba-tiba ibu tiriku menegurku. Mukanya tampak sangat masam. Aku tak tahu apa yang terjadi? Namun aku tetap menyalaminya."Assalamu'alaikum, Bu.""Wa'alaikumsalam. Kamu itu tukang ngadu yah!""Ada apa, Bu?""Pura-pura gak tahu lagi. Kamu ngadu soal keuangan yah. Bilang gak dapat jatah. Padahal kukasih terus kamu uang. Sampai jatahku saja seharusnya lebih, jadi dikit. Semua gara-gara kamu!""Maaf, Bu. Aku hanya butuh uang banyak. Apalagi aku harus daftar kuliah. Uang dari Ibu kurang.""Pantas saja kamu jarang minta uang. Rupanya diam-diam kamu minta!""Tapi aku memang butuh, Bu.""Sudahlah. Mulai sekarang, kamu jangan minta transfer lagi. Biar aku saja yang kasih!""Tapi Bu..""Gak usah membantah. Jadi anak itu yang nurut. Usaha kateringku jadi terhambat gara-gara kamu!""Yah, Bu."Aku merasa cobaanku kian berat. Mungkinkah karena ibadahku yang kurang. Ujian datang silih berganti. Seandainya kukenakan hijab, akankah merubah semua?Tuhan tolong aku. Aku percaya engkau akan memberikan hidayah padaku. Akan kututup diri ini. Semoga jalan ini sebenarnya untukku berubah. Aku akan hijrah. Merubah penampilanku. Kalau tidak salah, dulu ibuku berkerudung. Mendiang ibu kandungku banyak jilbab. Tapi aku tak tahu dimana simpanannya. Lebih baik kutanyakan bi Kusma. Ia sudah lama bekerja disini. Sebelum aku lahir, ia sudah bekerja disini."Bi!""Yah ada apa, Neng?"Aku hendak menanyakan hijab dengannya. Semoga ada untukku kenakan.Aku sangat ingin berhijab. Lalu, kucoba mencari bekas kerudung ibuku dulu. Bibi Kusma memberitahu tempat menyimpannya. Hijabnya tersimpan rapi dalam lemari. Namun lemari itu sudah berdebu."Ini hijabnya, Neng. Sebenarnya hijab bu Aliana banyak. Tapi ini sudah sedikit berkurang.""Kenapa Bi? Rusak terus dibuang yah?""Gak.""Dikasih buat keluarganya, dibawa nenek?""Bukan. Semua barang bu Aliana tersimpan rapi. Semua barangnya yang bagus, diambil bu Rafika."Aku terkejut mendengar pernyataan bibi Kusma. Rupanya ibu tiriku mengambil barang ibu. Seharusnya itu jadi milikku. Mungkin diambilnya karena aku masih kecil. Menurutnya aku tak bisa pakai. Namun sekarang aku sudah besar. Alangkah baiknya ibu tiriku memberikannya. Akhirnya kuambil semua yang masih layak pakai. Meskipun modelnya sudah jadul. Aku sangat bahagia bisa pakai barang ibuku. Lalu kucoba kenakan kerudungnya. Aku merasa sangat nyaman. Seolah ibuku ada bersamaku saat ini."Cantik Neng Tazkiyah!" Puji Bibi Kusma padaku."Makasi, Bi.""Neng Kiah mirip sekali dengan bu Aliana. Wajahnya putih bersih. Pakai kerudung jadi tambah berseri.""Aku benar mirip ibu yah, Bi?""Iya, mirip sekali Neng."Mendengar bibi Kusma bicara, aku terharu. Rasa rinduku semakin bertambah pada ibu. Dalam benakku berkata, "aku akan sepertimu ibu. Engkau perempuan soleha. Kau selalu kudo'akan."Kemudian aku melipat semuanya. Lalu kubawa keluar. Aku hendak mencucinya."Sini biar Bibi bantu, Neng. Nanti sekalian Bibi cucikan, yah.""Gak usah, Bi. Biar aku saja!""Loh kenapa?""Ini baju peninggalan ibu. Aku ingin mencuci pakaiannya. Sekalipun aku belum pernah berbakti padanya.""Neng Kiah sabar yah. Ibu Neng Kiah sudah merasa bahagia. Dia bahagia karena bisa melahirkan Neng Kiah. Menurutnya, Neng adalah anugerah terindah yang Allah berikan.""Makasih, Bi sudah mengingatkanku tentang ibu.""Yah, Neng."Aku tambah terharu mendengar bibi Kusma bicara. Ternyata ibuku adalah wanita terbaik. Aku semakin ingin berjuang bertemu ibu. Semoga kelak, aku bertemu dengannya di Jannah.ElaraKabadong kumatok ako sa pintuan ng opisina ni Alexander. Bakit kaya niya ako ipinapatawag? Para magpasalamat dahil ibinigay ko sa kanya ang kalayaan niya noon? Dahil sa wakas ay nagawa na nitong pakasalan ang babaeng totoong mahal nang hindi ako inaalala."Come in," narinig kong sabi ni Alexander mula sa loob ng opisina nito.Huminga ako ng malalim at kinompose ang sarili bago ko binuksan ang pintuan at pumasok sa loob. Nakita ko siyang nakaupo sa swivel chair at abala sa pagbabasa ng kung anong papeles na hawak nito."Yes, Sir? Ipinapatawag mo raw ako. What can I do for you?" agad na tanong ko kay Alexander sa pinaka-propesyunal na tono nang lumapit ako sa kanya. Sa halip na sagutin ang tanong ko sa kanya ay ipinagpatuloy lamang ni Alexander ang ginagawa nito na para bang hindi niya ako narinig. Nakaramdam ako ng inis ngunit hindi ko lamang ipinahalata. Obvious namang nais niya akong pahirapan."So you just recently joined the company." Sa wakas ay kinausap din ako ni Alexand
ElaraMabilis akong nagyuko ng ulo nang malapit na si Alexander sa kinatatayuan ko. Hindi ko alam kung nakita na ba niya ako o hindi. Dalangin ko na sana ay hindi niya ako napansin. Ngunit hindi dininig ang dasal ko dahil biglang huminto sa tapat ko si Alexander pati na rin ang assistant nitong kasama. Napilitan tuloy akong mag-angat ng mukha at sinalubong ang kanyang tingin.Blangko. Iyon ang ekspresyon na nasa mukha ni Alexander habang nakatingin sa akin. Hindi ko nakita na nagulat siya o kahit ano pa mang reaksiyon mula sa kanya. Para lamang siyang nakatingin sa taong hindi niya kilala."What are you doing, Elara? Greet our new CEO," mariing utos sa akin ni Ms. Agot. Nakatingin lang kasi ako sa mga mata ni Alexander at hindi nagsasalita."Ahm, welcome to FD Group, Mr. Reed," bati ko sa kanya in a very professional tone. Hindi mahahalata ng kahit na sino na kilala ko ang lalaking kaharap ko.Ilang segundong nakatitig lamang sa akin si Alexander ngunit hindi nagsasalita. Iniiwas ko t
ElaraIto ang unang araw ko sa FD Group bilang isa sa kanilang bagong hired na senior designer. Maganda naman ang puwesto na nilagyan nila ng magiging mesa ko dahil malapit sa glass window. Kapag gusto kong ipahinga ang mga mata at kamay ko ay puwede akong tumingin sa labas ng bintana kung saan makikita ko sa ibaba ang napakagandang man-made garden. Nasa eight floor ang kinaroroonan ko at ang man-made garden ay nasa seventh floor lamang.Maayos naman ang pakikitungo sa akin ng mga katrabaho ko. Pero siyempre, hindi maiiwasan na may mga taong mukhang inis sa'yo kahit na wala ka namang ginagawang masama sa kanila. Nang ipinakilala ako kasi kanina ay nakita ko ang pagtaas ng kilay ng team manager namin at isang junior designer na kasama nito. Nagkibit ng balikat na lamang ako at hindi pinagtuunan ng pansin ang dalawang iyon. Unang araw ko pa lamang sa trabaho kaya hindi puwedeng makipagbanggaan agad ako sa kanila. Masisira ang record ko sa kompanya.Kung tutuusin ay hindi lang dapat i
ElaraNagkatinginan kami ni George nang makita namin na nasa loob din pala ng restaurant na pinasukan namin sina Isabella at Alexander. Napakaliit talaga ng mundo. Sa Canada ay ilang beses kaming muntikan nang magkita ni Alexander sa mga kumpetisyon na pareho naming sinalihan ni Isabella.Bilang CEO ng kompanyang pinagtatrabahuhan ni Isabella ay sinasamahan nito ang huli para suportahan lalo pa at dinadala ng babae ang pangalan ng kompanya bilang representative nito. Hindi pa kami nagkakaharap ni Alexander dahil agad akong uniiwas kapag nasa malapit siya sa akin. Pero si Isabella ay dalawang beses pa lamang kaming nagkakaharap at nakapag-usap. Hindi naman nito nakikilala ang boses ko at natatakpan ng maskara ang kalahati kong mukha kaya hindi niya alam na ang palaging tumatalo sa kanya sa mga international competition na si Olivia at ang ex-wife ni Alexander ay iisa. Kapag nalaman niya ang katotohanang iyon ay natitiyak kong hindi niya ito matatanggap."Mom? I said kamukha ko ang la
ElaraHindi ko na mabilang kung ilang beses na akong humugot ng malalim na buntong-hininga magmula nang sumakay kami ng eroplano mula Canada papuntang Pilipinas. Paglapag naman ng eroplano sa international airport ay hindi ko maiwasan ang makaramdam ng halo-halong emosyon. Narito na ulit ako sa bansa kung saan maraming masasaya at masasakit na mga alaala akong naiwan bago ako nangibang bansa.Marami kaming masasayang alaala ni Liam na magkasama na kailanman ay hindi ko makakalimutan. At siyempre, hindi ko rin malilimutan ang masasakit na nangyari sa akin. Ang pagkamatay ng mga magulang ko, ang panloloko sa akin ni Alexander at ang pagkamatay ng best friend ko.Biglang nag-ulap ang aking mga mata nang maalala ko ang mga magulang ko at si Liam. Kahit mahigit anim na taon na ang nakakalipas ay sariwa pa rin ang sakit na dulot ng kanilang pagkawala. Mayamaya lamang ay namalisbis na sa aking pisngi ang mga luha na pinipigilan kong lumabas. Mabilis akong nagpahid ng luha bago pa man ito ma
Elara6 years later,"The winner for this year's International Fashion Designer Competition is none other than the mysterious woman! Olivia!" masayang pag-aanounced ng host sa sodonym na ginagamit ko. Umugong nag malakas na palakpakan at hiyawan mula sa audience na pinaghalo-halo ng iba't ibang lahi. "Congratulations for the five years consecutive winner for this competition, Olivia. Please come up to the stage to receive your trophy and other awards." Nakangiting umakyat ako sa stage at tinanggap ang aking parangal. Nagbigay rin ako ng maikling speech ng pasasalamat para sa mga audience at hurado na naniwalang ako ang karapat-dapat na mag-uwi ng trophy bilang winner sa taong ito.Pinalitan ko ang dating sodonym ko ng Olivia. Ginawa ko ito bilang kasama sa pagbabagong buhay ko sa Canada. Six years ago ay namatay si Liam. Binangga ng ten wheeler truck ang kotse ng best friend ko. Idineklara ng doktor na dead on arrival na ito.Halos gumuho ang mundo ko nang mawala ang kaisa-isang tao
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Mga Comments