Home / Romansa / Crush Sang Kapten Basket / Reva yang Terlalu Posesif

Share

Reva yang Terlalu Posesif

Author: Singacala ID
last update Petsa ng paglalathala: 2025-06-01 22:34:40

Pagi itu, sekolah seperti biasa ramai. Koridor dipenuhi siswa berlalu-lalang, suara tawa bersahutan, dan aroma dari kantin mulai menyeruak di udara.

Namun bagi Alina, hari ini terasa berbeda.

Bukan karena ulangan biologi dan bahasa Inggris yang katanya bakal susah, atau tugas sejarah yang menumpuk, tapi karena hatinya masih menggantung pada percakapan singkat kemarin dengan Kevin.

“Ternyata kamu lebih dari yang terlihat.”

Kalimat itu terus terngiang. Bahkan saat ia sedang mengisi air di botol minum sekolahnya, pipinya kembali merona saat teringat bagaimana Kevin menatapnya.

“Alin, kamu tuh kenapa sih? Senyum-senyum sendiri dari tadi,” Seruni menyikut pelan.

Alina hanya menggeleng, canggung. “Nggak apa-apa Run, cuma lagi ingat sesuatu aja.”

“Kemarin kamu bareng Kevin. Hari ini senyum terus. Aku mulai yakin kamu nggak cuma suka baca, tapi juga suka berimajinasi,” Seruni tertawa geli.

Alina ikut tertawa. “Iya deh, iya. Tapi serius, dia ternyata nggak se-cuek yang aku kira. Ada sisi dia yang lebih manusiawi.”

“Tapi jangan terlalu berharap, ya. Apalagi…” Seruni melirik ke arah lorong kelas sebelah. “Ada Reva.”

Alina mengernyit. “Maksud kamu?”

“Reva, geng lantai dua. Cewek paling populer. Suka banget sama Kevin. Walau Kevin nggak pernah ngasih lampu hijau, tapi dia selalu bertingkah posesif.”

Alina menelan ludah dan hatinya sedikit menciut.

Jam Istirahat – Komunitas Perpustakaan

Setiap hari Rabu, komunitas pecinta perpustakaan mengadakan sesi baca bersama di ruang baca utama. Rak-rak tinggi dengan buku-buku klasik jadi saksi bisu keheningan penuh makna. Alina duduk di pojok ruangan, ditemani seorang anggota baru bernama Tari, seorang gadis berkacamata bulat dan pecinta sastra Jepang.

“Kamu suka puisi juga, Lin?” tanya Tari.

“Suka banget. Aku dulu sering ikut lomba cipta puisi di Bandung,” jawab Alina sambil menunjuk buku kumpulan puisi milik Sapardi Djoko Damono.

“Wah! Harusnya kamu gabung sesi puisi sore nanti!”

Alina tersenyum. “Mau sih, tapi kadang aku juga suka nyelip-nyelip ngelirik ke lapangan basket.”

Tari tertawa. “Semua cewek di sekolah ini pasti pernah melakukan itu.”

Alina pun ikut tertawa. Namun di balik canda mereka, ada satu sosok yang memperhatikan dari pintu kaca, Reva.

Di kantin, Reva duduk bersama gengnya. Ia mengaduk jus stroberinya dengan pelan, tapi sorot matanya tajam.

“Dia suka baca, kan?” tanya Reva sambil menatap Della.

Della mengangguk.

“Dan sekarang gabung komunitas membaca di perpustakaan?”

“Yup. Tepat bersamaan dengan extra tim basket.”

Reva tersenyum tipis. “Kita buat dia sibuk sama bukunya. Sibuk sampai lupa sama Kevin.”

Mitha menaikkan alis. “Maksudmu?”

“Bantu aku. Kita buat dia nggak nyaman di sana. Tapi pelan-pelan dan secara halus. Supaya dia pergi dengan sendirinya.”

Vani bersiul. “Operasi sabotase dimulai, nih.”

Sore Hari – Lapangan Basket

Alina berdiri di koridor lantai dua, mengintip ke bawah. Lapangan basket ramai oleh para pemain. Suara sepatu yang menghantam lantai, peluit pelatih, dan sorak-sorai teman-teman yang menonton membuat suasana hidup.

Dan di tengah semuanya, Kevin.

Dengan kepala dibalut handuk kecil, ia memberi instruksi pada timnya. Gerakannya lincah, penuh fokus.

Alina hanya tersenyum melihatnya dari kejauhan.

Namun…

“Aduh, kamu ternyata stalker juga ya?” suara di belakangnya mengejutkan.

Alina menoleh cepat. Reva berdiri di belakang nya, dengan tangan menyilang dan senyum setengah mengejek.

“Aku cuma lihat sebentar…” jawab Alina gugup.

Reva melangkah mendekat. “Kevin tuh bukan orang yang gampang didekati. Apalagi buat cewek-cewek polos kayak kamu.”

Alina meneguk ludah. “Aku nggak.....”

“Denger ya, Alina,” bisik Reva. “Kamu harus hati-hati. Karena kalau nggak, sekolah ini bisa jadi nggak seindah yang kamu bayangkan.”

Sebelum Alina sempat menjawab, Reva sudah berjalan menjauh. Meninggalkan aroma parfum menyengat dan rasa was-was di hati Alina.

Keesokan Harinya – di Kelas

Saat Alina duduk di bangkunya, ia menemukan kertas kecil di dalam buku catatan yang ia tinggal kemarin sore di perpustakaan.

“Kamu mungkin pintar. Tapi ini bukan di Bandung, ini Jakarta. Hati-hati kalau mau melangkah.”

Tulisan itu tak ada nama. Tapi Alina tahu betul itu bukan dari Seruni. Dan hanya satu orang yang bisa menulis dengan tinta merah tebal seperti itu.

Reva.

Di Lapangan Basket – Sore Hari

Kevin sedang sendirian merapikan bola-bola ke dalam keranjang saat Alina lewat tak sengaja.

“Mau bantuin?” tanya Alina memberanikan diri.

Kevin menoleh, lalu mengangguk pelan. “Boleh.”

Keduanya mengumpulkan bola diam-diam. Tak banyak bicara. Tapi setiap gerakan terasa bermakna.

“Kamu kelihatan capek,” kata Alina.

“Biasa. Anak-anak belum fokus,” jawab Kevin sambil menarik napas panjang. “Tapi aku senang kamu suka baca. Jarang ada yang kayak gitu.”

Alina tersenyum. “Kamu tahu aku suka baca?”

Kevin menoleh. “Aku lihat kamu di perpustakaan. Dan… aku tahu kamu follow akun I*******m-ku.”

Alina membeku.

Kevin tertawa pelan. “Nggak apa-apa kok. Aku suka kalau ada yang tertarik sama sisi lain ku dan bukan cuma karena basket.”

Alina membalas senyum itu dengan hangat dan ujur.

Namun dari kejauhan, Reva melihat mereka. Dan ekspresinya bukan lagi cemburu. Tapi penuh tekad.

“Kalau Alina pikir ini baru permulaan, dia salah besar,” bisiknya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Crush Sang Kapten Basket   Alina dan Penyesalannya

    Sudah hampir dua minggu sejak Helena datang menemui Alina di depan gerbang sekolah. Dua minggu sejak Alina mengetahui seluruh kebenaran. Dua minggu pula sejak ia mengetahui bahwa Kevin berada ribuan kilometer jauhnya di Amerika Serikat.Namun luka di hatinya belum juga sembuh. Justru semakin hari terasa semakin dalam.Pagi itu Alina kembali duduk di bangku kelasnya. Tatapannya kosong mengarah ke papan tulis. Guru matematika sedang menjelaskan rumus fungsi kuadrat dengan penuh semangat. Biasanya, Alina adalah siswi yang selalu paling cepat memahami pelajaran. Ia sering menjadi orang pertama yang menjawab pertanyaan guru. Namun hari itu suara guru hanya terdengar seperti angin yang berlalu. Pikirannya sama sekali tidak berada di dalam kelas."Alina." Suara guru membuat seluruh kelas menoleh.Alina baru tersadar."Iya... Bu?""Coba kerjakan soal nomor tiga."Alina berdiri perlahan. Ia menatap soal di papan tulis. Biasanya soal seperti itu dapat ia selesaikan dalam hitungan menit.Namun

  • Crush Sang Kapten Basket   Maaf Yang Tak Pernah Tersampaikan

    Sore itu langit Jakarta diselimuti awan kelabu. Alina pulang dari sekolah dengan langkah yang jauh lebih lambat daripada biasanya. Sejak bertemu Helena di depan gerbang sekolah tadi siang, pikirannya seolah berhenti bekerja. Kata-kata gadis itu terus berputar di kepalanya."Om Kevin sudah berangkat ke Amerika...""Om Kevin sebenarnya ingin berpamitan..."Kalimat-kalimat itu menusuk hatinya berkali-kali.Seruni yang berjalan di sampingnya beberapa kali mencoba menghibur, tetapi Alina hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan."Lin... kamu yakin nggak apa-apa pulang sendiri?"Alina mengangguk pelan."Aku cuma pengen sendiri dulu, Run."Seruni menghela napas."Kalau butuh teman, telepon aku kapan aja.""Makasih..."Mobil ayah Alina sudah menunggu di seberang jalan. Seperti biasa, ayahnya turun membuka pintu untuk putrinya."Capek, Lin?"Alina hanya mengangguk sambil masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ayahnya sesekal

  • Crush Sang Kapten Basket   Kepergian Kevin Tanpa Pamit

    Hari-hari setelah pertengkaran itu berjalan begitu lambat bagi Alina. Sudah lebih dari seminggu sejak ia mengabaikan semua telepon dan pesan dari Kevin. Sejak hari itu pula, Kevin seolah benar-benar menghilang dari kehidupannya. Tak ada lagi sosok tinggi yang berdiri di depan kelas juga di gerbang sekolah sambil menunggunya datang. Tak ada lagi langkah kaki yang sengaja menghampirinya saat jam istirahat. Tak ada lagi pesan singkat berisi ucapan selamat pagi ataupun pertanyaan sederhana seperti, "Sudah sarapan?" Bahkan akun media sosial Kevin pun mendadak sepi tak ada unggahan baru, tak ada story, dan tak ada aktivitas sama sekali. Semuanya terasa membeku. Awalnya Alina berpikir Kevin hanya sedang menghormati permintaannya agar tidak mengganggunya untuk sementara waktu. Namun hari demi hari berlalu, Kevin benar-benar lenyap. Di sekolah, suasana pun terasa berbeda. Lapangan basket masih ramai seperti biasa. Suara bola memantul masih terdengar setiap sore. Tetapi tak ada lagi suara la

  • Crush Sang Kapten Basket   Libur Yang Usai dan Hati Yang Hancur

    Hari berlibur keluarga Alina nampaknya telah usai. Senja di Puncak perlahan memudar, menyisakan cahaya jingga di balik perkebunan teh yang terhampar luas. Mobil keluarga Alina meluncur pelan melewati jalan menurun yang berliku, sesekali terjebak macet panjang. Klakson bersahut-sahutan, lampu-lampu kendaraan menyalakan jalur gelap yang makin sesak.Di kursi belakang, Alina duduk bersandar di jendela dengan earphone terpasang, tapi lagu yang ia putar sama sekali tak menenangkan hatinya. Pikirannya masih penuh dengan satu wajah yaitu Kevin. Sosok itu muncul berkali-kali, silih berganti dengan bayangan Kevin yang tersenyum sambil merangkul seorang perempuan di pinggir lapangan basket, sebagaimana ia lihat di story WhatsApp senior OSIS kemarin.“Lin, kamu lapar? Mau kita cari makan dulu sebelum sampai Jakarta?” suara ayahnya terdengar dari kursi depan, memecah lamunan.Alina melepas salah satu earphone-nya. “Nggak, Yah. Alina nggak lapar,” jawabnya singkat.Ibu nya yang duduk di samping ay

  • Crush Sang Kapten Basket   Kevin Bersama Siapa

    Keesokan harinya, mereka kembali menelusuri kebun teh yang menghampar luas. Kali ini ke arah yang berbeda dari hari kemarin. Udara pagi menjelang siang di Puncak terasa segar, semilir angin membawa aroma daun teh yang baru dipetik. Alina berjalan di samping ibunya, sementara ayahnya seperti kemarin sibuk mengambil foto pemandangan dengan ponselnya. Mereka bertiga menapaki jalan setapak di antara kebun teh, matahari menyinari lembah hijau yang seakan tak berujung. “Indah banget ya, Yah,” kata Alina sambil menatap hamparan daun hijau yang berbaris rapi. “Iya, Lin. Ini tempat yang paling Ayah suka kalau mau menenangkan pikiran,” jawab ayahnya, senyum lega menghiasi wajahnya. Setelah cukup jauh berjalan, mereka menemukan sebuah saung kayu kecil di pinggir kebun. Mereka duduk berteduh di sana, menikmati hembusan angin yang menyejukkan. Ibunya mengeluarkan bekal camilan, sementara ayahnya merebahkan diri sambil menutup mata. Alina duduk sedikit menjauh, ponsel di tangannya ia nyalakan.

  • Crush Sang Kapten Basket   Liburan Ke Puncak

    Setelah makan malam selesai dan meja dirapikan, Kevin berdiri sambil membawa tas ranselnya. “Om, Tante, terima kasih banyak sudah mengizinkan saya makan malam di sini. Maaf merepotkan.” Ia menunduk dengan sopan. Ibunya Alina tersenyum ramah. “Ah, nggak usah sungkan begitu, Vin. Datang lagi aja kapan-kapan, rumah ini selalu terbuka buat kamu.” Kevin mengangguk. “Siap, Tante.” Alina yang berdiri di sampingnya, hanya bisa menatap canggung. Pipinya masih merah, apalagi sejak tadi Kevin terus mendapat pujian dari ayahnya. Kevin lalu menyalami ayah Alina. “Terima kasih juga, Om.” Ayah Alina menggenggam tangan Kevin erat, sambil menatapnya serius. “Vin… saya seneng ada teman yang bisa nemenin Alina. Jaga dia baik-baik ya kalau lagi di luar.” Kevin sempat terkejut dengan tatapan ayahnya yang hangat tapi tegas. Ia mengangguk mantap. “Siap, Om. Saya akan jaga Alina.” Mendengar itu, Alina hampir tersedak napasnya sendiri. “Yaah! Ayah…” protesnya dengan wajah memerah, tangannya mencub

  • Crush Sang Kapten Basket   Serangan Reva dan Perlindungan dari Kevin

    Pagi itu suasana sekolah terasa berbeda. Bisik-bisik mulai terdengar di sepanjang koridor. “Eh, itu yang namanya Alina, kan?” “Iya, yang katanya merebut Kevin dari Reva…” “Muka sih polos, tapi kelakuan ternyata manuver ya?” Alina berjalan perlahan di antara kerumunan. Kepalanya tertunduk. Di

  • Crush Sang Kapten Basket   Berjalan Berdampingan dengan Kevin

    Langit malam di Jakarta begitu tenang. Di kamar yang rapi dan penuh dengan rak buku, Alina duduk bersila di tempat tidur dengan lampu belajar menyala temaram. Ponselnya berada dalam genggaman, awalnya ia hanya berniat membuka I*******m untuk mencari akun komunitas pecinta buku yang sempat direkomend

  • Crush Sang Kapten Basket   Cemburu Yang Tak Perlu

    Pagi itu matahari bersinar cerah. Langit biru membentang tanpa awan, seolah menjadi pertanda baik untuk hari yang baru. Alina melangkah keluar dari mobil ayahnya dengan semangat membuncah. Seperti biasa ia memilih turun beberapa meter sebelum gerbang sekolah, tak ingin menarik perhatian. Namun lan

  • Crush Sang Kapten Basket   Ikut Ekskul Komunitas Membaca

    Hari itu, langit Jakarta tampak biasa saja. Tapi bagi Alina, hari itu terasa seperti lembar baru. Setelah percakapan singkat di kantin bersama Kevin, pikirannya tidak berhenti memutar ulang tiap detik momen itu. Senyum Kevin sang kapten basket. Tatapan dan cara dia bilang: "Kalau ada yang ganggu kam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status