Beranda / Romansa / DI BAWAH KENDALI ASISTEN MANAGER / Bab 6: Ketika Kendali Rio Mulai Goyah

Share

Bab 6: Ketika Kendali Rio Mulai Goyah

Penulis: Ginazara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-10 07:12:37

Lima hari sejak insiden "tunangan pura-pura" dan makan siang rahasia di van, kehidupan Anya kembali didominasi oleh kecepatan dan ketelitian yang diminta Rio. Rio semakin keras dalam pekerjaan, seolah mencoba menutupi fakta bahwa ia pernah menunjukkan kehangatan.

"Laporan bulanan untuk Direktur Utama harus rampung dan diperiksa ulang tiga kali sebelum jam empat sore," Rio memerintahkan pagi itu. "Saya tidak mau ada kesalahan ketik, apalagi kesalahan data. Ini menentukan anggaran kita tahun depan."

Anya sibuk memproses data saat ia mendengar percakapan yang tidak mengenakkan dari kubikel sebelah. Beberapa staf senior terlihat tegang.

"Kabarnya Pak Kusuma (salah satu direktur senior) terus menekan Rio agar mundur dari proyek Sentosa Plaza," bisik seorang staf, Dina.

"Kenapa? Proyek itu kan akan membawa keuntungan terbesar?" tanya rekan lainnya.

"Justru itu. Ada yang ingin menjatuhkan Rio. Mereka bilang cara kerjanya terlalu ekstrem, bahkan untuk Artha Yudhistira. Rio terlalu banyak memegang kendali," jawab Dina.

Anya menyadari, Rio bukan hanya tiran bagi bawahannya, tapi juga target empuk bagi pesaingnya di level direksi. Ia bekerja di bawah tekanan yang jauh lebih besar daripada yang ia tunjukkan.

Pukul 15:00, Anya sudah menyelesaikan laporannya. Rio sedang berada di rapat tertutup dengan Direktur Keuangan. Anya meletakkan laporan tebal itu di meja Rio.

Saat itu, ponsel pribadi Rio berdering di dalam laci mejanya. Itu adalah pelanggaran protokol Rio tidak pernah membiarkan notifikasi ponselnya menyala, apalagi saat rapat. Karena takut itu adalah panggilan darurat yang penting, Anya ragu sejenak, lalu teringat kendali Rio: ia harus memprediksi kebutuhan Rio. Jika itu penting, Rio akan marah karena Anya tidak mengangkatnya.

Anya membuka laci. Telepon itu berkedip-kedip menampilkan nama: Ibunda.

Ia menekan tombol diam, tetapi kemudian melihat serangkaian pesan masuk dari nomor yang sama. Pesan itu tidak terkunci karena Rio mungkin lupa mengaturnya.

Isi pesannya tidak profesional, melainkan pribadi dan penuh tekanan:

> Ibunda: Kapan kamu akan pulang? Ayahmu sakit lagi dan pengobatan ini sangat mahal. Bisakah kamu minta kenaikan gaji? Kamu bekerja terlalu keras di bawah orang-orang itu.

> Ibunda: Kita butuh uang untuk biaya operasi, Rio. Kamu harus mengorbankan proyek itu jika perlu. Keluarga lebih penting.

>

Jantung Anya mencelos. Rio yang dingin dan perfeksionis ternyata membawa beban keluarga yang berat. Kesempurnaan kerjanya mungkin bukan ambisi semata, melainkan kebutuhan mendesak untuk menopang keluarganya.

Anya segera menutup laci itu, tangannya gemetar. Ia baru saja melihat ke dalam celah terdalam perisai Rio.

Lima belas menit kemudian, Rio kembali dari rapat. Wajahnya tampak lebih tegang, seolah baru saja menelan pil pahit.

"Ada yang mencari saya?" tanya Rio, suaranya lelah.

"Tidak, Pak. Hanya ada satu panggilan dari nomor pribadi. Sudah saya bisukan," jawab Anya, berusaha terdengar datar.

Rio mengangguk, lalu menunjuk laporan di mejanya. "Coba bacakan poin-poin pentingnya. Saya tidak punya energi untuk membaca semuanya sekarang."

Anya mulai membacakan ringkasan laporan keuangan, menjelaskan anomali dan alasan di baliknya dengan suara yang tenang.

Saat ia sedang membaca data tentang biaya operasional, Rio tiba-tiba memijat pelipisnya.

"Kepala saya sakit. Saya sudah seharian bernegosiasi tentang proyek yang coba digagalkan Direktur Kusuma," Rio mengeluh, nadanya tidak lagi seperti atasan, melainkan seperti rekan kerja yang sedang berbagi beban.

Anya segera bangkit, tidak meminta izin. Ia pergi ke pantry, mengambil segelas air hangat, dan mengeluarkan kantong teh chamomile yang ia bawa sendiri (ia sudah belajar bahwa Rio tidak menyukai aroma teh kantor).

Ia kembali dan meletakkan teh itu di depan Rio.

"Pak Rio, ambillah istirahat sebentar. Teh ini akan membantu," kata Anya lembut.

Rio menatap teh itu, lalu menatap Anya. Matanya sedikit melembut, ada kehangatan yang kembali muncul di wajahnya.

"Anda memprediksi kebutuhan saya lagi," kata Rio, tersenyum kecil, kali ini bukan senyum kemenangan yang licik, melainkan senyum kelelahan yang tulus. "Tapi bagaimana Anda tahu saya butuh teh chamomile?"

"Saya tidak tahu," jawab Anya jujur. "Tapi saya tahu Anda sakit kepala, dan Anda menghindari kopi sore ini. Teh herbal lebih baik."

Rio mengambil cangkir itu dan menyesap tehnya. Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka.

"Mengapa Direktur Kusuma mencoba menggagalkan proyek itu, Pak?" tanya Anya, memancing Rio untuk berbagi informasi, meskipun itu berisiko melanggar batas.

Rio menghela napas panjang. "Karena dia melihatnya sebagai ancaman. Saya terlalu muda, terlalu sukses, terlalu independen. Mereka ingin saya kembali ke bawah kendali mereka, sehingga mereka bisa memaksakan agenda mereka sendiri."

Rio berbicara tentang politik kantor, tentang intrik para direktur yang mencoba memanipulasi keputusannya. Untuk pertama kalinya, Anya melihat Rio bukan sebagai tiran, melainkan sebagai korban yang berjuang sendirian di puncak.

Saat Rio berbicara, ia secara naluriah mengambil tangan Anya yang ada di meja—hanya sebentar, hanya memegangnya dengan ibu jarinya—seolah mencari jangkar di tengah badai.

Anya merasa jantungnya melonjak. Kontak singkat itu, meskipun mungkin tidak disadari oleh Rio dalam kelelahan, terasa begitu intim.

"Terima kasih," bisik Rio, melepaskan tangan Anya, tapi matanya masih menatap mata Anya. "Hanya Anda yang bisa mendengar keluhan ini tanpa menghakimi."

Anya merasakan ikatan baru terbentuk, ikatan yang jauh lebih kuat daripada kontrak kerja. Mereka bukan lagi hanya Asisten Manajer dan Magang. Mereka adalah dua orang yang berbagi rahasia, dan Anya tahu, ia tidak akan bisa lagi melihat Rio sebagai pria yang sepenuhnya dingin.

"Saya akan ada di sini, Pak Rio. Sampai kontrak magang saya selesai," janji Anya, matanya memancarkan dukungan.

Rio mengangguk, kembali fokus, tapi ada kehangatan baru di udara yang belum pernah ada sebelumnya. Kendali Rio mungkin mutlak di kantor, tetapi di bawah kendali itu, kerentanannya justru menarik Anya semakin dekat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • DI BAWAH KENDALI ASISTEN MANAGER   Bab 38: Puing-Puing dan Pengusiran

    Keheningan di tempat itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan kemarahan mana pun. Rio berdiri terpaku, menatap punggung Anya yang bergetar hebat. Di depannya, Sari masih memegang alat tes kehamilan itu dengan dagu terangkat, sebuah gestur kemenangan yang salah alamat."Anya... aku..." Rio mencoba melangkah, tapi lidahnya kelu. Segala retorika bisnis dan ketegasannya sebagai CEO menguap begitu saja.Anya berbalik perlahan. Tidak ada teriakan. Hanya air mata yang mengalir deras di wajahnya yang pucat. Ia menatap Rio seolah pria itu adalah orang asing yang baru saja masuk ke rumahnya."Berapa kali, Rio?" suara Anya serak, nyaris berbisik.Rio menunduk, tak berani menatap mata istrinya. "Anya, maafkan aku... aku khilaf... aku...""Aku tanya BERAPA KALI?!" teriak Anya, kali ini suaranya pecah, memenuhi ruangan sempit itu.Rio terpejam erat. "Aku tidak tahu... aku tidak menghitungnya."Jawaban itu seperti belati yang diputar di jantung Anya. Ia tertawa getir, tawa yang penuh dengan kep

  • DI BAWAH KENDALI ASISTEN MANAGER   Bab 37: Aroma yang Tak Asing

    Setelah keberangkatan Rio ke kantor, suasana apartemen terasa hampa. Anya duduk di kursi goyang sambil menyusui bayinya, namun matanya terus tertuju pada pintu paviliun yang tertutup rapat.Sari tidak langsung berangkat. Ia beralasan ingin membereskan kamarnya dulu.Sekitar tiga puluh menit kemudian, Sari keluar. Ia sudah rapi dengan kemeja putih dan rok span yang membalut tubuhnya dengan apik. Namun, saat ia melewati Anya, sebuah aroma menyengat indra penciuman Anya.Bukan parfum vanilla Sari yang biasanya. Tapi aroma parfum kayu cendana dan citrus—aroma yang sangat spesifik milik Rio.Anya tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Mungkin hanya karena mereka tadi di dalam mobil yang sama? pikirnya mencoba logis. Tapi mereka belum berangkat. Rio sudah pergi satu jam yang lalu."Sar," panggil Anya pelan.Sari menoleh, tersenyum santun. "Iya, Bu?""Kamu pakai parfum suamiku?"Pertanyaan itu tajam, namun diucapkan dengan nada datar. Sari tidak terlihat panik. Ia justru tertaw

  • DI BAWAH KENDALI ASISTEN MANAGER   Bab 36: Garis yang Melampaui Batas

    tempat itu terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang melelahkan. Di siang hari, semua tampak tertata. Rio adalah suami yang perhatian, Anya adalah istri yang sedang berjuang pulih, dan Sari adalah asisten yang sangat tahu diri. Namun, saat malam tiba dan lampu-lampu rumah mulai dipadamkan, kegelapan menjadi saksi bisu atas garis yang telah dilampaui.Anya tertidur lebih awal karena pengaruh vitamin dan kelelahan setelah seharian mengurus bayinya. Rio berbaring di sampingnya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Ia merasa terjebak dalam rasa bersalah, namun di saat yang sama, ia merasakan kekosongan yang aneh—sebuah dahaga akan ketenangan yang tidak ia dapatkan di tengah tuntutan hidupnya.Pelan, sangat pelan, Rio menyibak selimutnya. Ia melirik Anya yang bernapas teratur, lalu bangkit dari tempat tidur tanpa suara.Pertemuan di PaviliunLantai kayu paviliun samping tidak berderit saat Rio memasukinya. Pintu kamar Sari tidak terkunci. Di dalam, hanya ada caha

  • DI BAWAH KENDALI ASISTEN MANAGER   Bab 36: Retakan yang Diberi Nama Perhatian

    Malam turun pelan di apartemen itu.Lampu kamar Anya redup. Obat membuat napasnya teratur, terlalu tenang untuk seorang perempuan yang dulu selalu terjaga mengurus segalanya sendiri. Rio berdiri lama di ambang pintu, memastikan istrinya benar-benar tertidur, lalu menutup pintu perlahan, seolah takut suara engsel bisa membangunkan rasa bersalahnya.Di dapur, Sari sedang mencuci botol susu.“Bapak belum makan,” katanya tanpa menoleh.Rio menghela napas. “Gak lapar.”“Kalau Bapak jatuh sakit, siapa yang urus semua?” Nada itu terdengar seperti perhatian. Dan Rio membiarkannya terdengar seperti itu.Ia duduk di kursi. Menyandarkan punggung. Mengusap wajah dengan kedua tangan.“Sari…” ucapnya pelan. “Kadang aku ngerasa gagal.”Sari berhenti mencuci. Kali ini ia menoleh.“Gagal kenapa?”“Sebagai suami. Sebagai ayah.” Rio tertawa pahit. “Semua orang bilang aku kuat. CEO. Pemimpin. Tapi di rumah sendiri… aku gak tahu harus ngapain.”Sari mendekat, duduk di seberangnya. Jarak mereka terlalu dek

  • DI BAWAH KENDALI ASISTEN MANAGER   Bab 35: Serigala di Dalam Rumah

    Kepulangan mereka dari desa seharusnya menjadi awal yang hangat fase baru sebagai keluarga kecil yang utuh. Namun takdir memilih jalan lain.Beberapa hari setelah melahirkan, kondisi Anya justru menurun. Pendarahan yang tak kunjung berhenti, nyeri hebat di perut, dan pusing yang datang tiba-tiba memaksanya kembali ke rumah sakit. Diagnosis dokter membuat Rio terdiam lama: komplikasi pasca melahirkan. Anya harus bedrest total. Tidak boleh kelelahan. Tidak boleh stres.Anya hanya bisa berbaring, memandangi langit-langit kamar dengan bayi yang sesekali menangis di sisinya. Perasaan bersalah menggerogoti dadanya, pada bayinya, pada rumah yang tak lagi ia urus, dan terutama pada Rio.Rio mencoba kuat. Ia bolak-balik kantor rumah sakit apartemen dengan mata yang semakin cekung. Hingga suatu malam, saat Anya terbangun karena nyeri dan melihat Rio tertidur di sofa dengan laptop masih menyala, ia tahu suaminya juga hampir runtuh.“Mas…” suara Anya lirih.Rio terbangun, langsung mendekat. “Kena

  • DI BAWAH KENDALI ASISTEN MANAGER   Bab 35: Permata Desa yang Ambisius

    Hari terakhir di desa seharusnya menjadi hari yang tenang, namun suasana pagi itu sedikit berbeda. Saat Rio sedang membantu Ibu Anya merapikan halaman, seorang wanita tetangga datang bersama anak gadisnya yang tampak sangat menonjol. Gadis itu bernama Sari. Ia memiliki kecantikan khas desa yang polos namun matanya memancarkan ambisi yang besar. Ia mengenakan pakaian yang sedikit lebih ketat dibandingkan gadis desa lainnya. "Nak Rio, ini Sari, anak saya. Dia baru saja lulus sarjana manajemen di kota, tapi belum dapat kerja tetap. Apa tidak ada posisi untuknya di kantor Bapak?" tanya ibunya penuh harap. Rio, yang sedang memegang cangkul, menatap Sari sekilas secara profesional. "Kami selalu membuka lowongan, tapi prosedurnya tetap melalui HRD." Sari melangkah maju, memberikan senyum yang sangat manis, terlalu manis. "Saya siap belajar apa saja, Pak Rio. Jadi asisten pribadi pun saya mau, supaya bisa belajar langsung dari orang sehebat Bapak." Anya, yang baru keluar dari pintu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status