FAZER LOGINWilliam mengembuskan napas panjang, melonggarkan otot-otot bahunya yang sejak tadi menegang. Ia menoleh ke arah ruang tengah, memperhatikan Arlan yang sedang sibuk menyusun robot dinosaurus barunya di atas karpet. Bocah itu tampak begitu larut dalam dunianya, memamerkan senyum polos tanpa beban yang selama ini selalu ingin William lindungi dari bayang-bayang hitam keluarga utama."Aku menghabiskan sepanjang malam memetakan pertahanan digital untuk menghancurkan proyek Distrik Barat jika dia berani menyentuh kalian," kata William jujur, suaranya merendah, terdengar parau di telinga Sasha. "Aku bersiap untuk skenario terburuk, Sha. Dan sekarang... dia datang dan memotong semua kabel peledak yang kupasang dengan surat ini. Ini membuatku merasa konyol."Sasha tersenyum tipis, sebuah binar kehangatan yang sempat hilang semalam kini kembali sepenuhnya di matanya. Ia menggeser duduknya, merapat ke sisi William hingga lengan mereka bersentuhan. "Itu artinya kamu tidak perlu menjadi monster
William menerima surat itu dengan tangan yang sedikit kaku. Kepalanya berputar cepat, menganalisis setiap kemungkinan jebakan. Sifat keras kepalanya menuntutnya untuk mendeteksi kebohongan, tetapi semua dokumen di depan matanya adalah legal, valid, dan secara instan menyelesaikan semua ancaman finansial yang ia takutkan semalam. Aditama benar-benar sedang melucuti senjatanya sendiri untuk menunjukkan iktikad baik.Sasha melangkah mendekat, meletakkan tangannya di atas bahu William. Sentuhan itu tidak lagi dingin; itu adalah bentuk dukungan emosional yang sangat dibutuhkan William saat ini. "Terima kasih, Pak Hendra. Sampaikan salam kami kepada Beliau," kata Sasha, mengambil alih situasi sebelum ego William merusak segalanya.Setelah Hendra berpamitan dan mobil sedan itu menghilang dari pandangan, keheningan kembali menguasai ruang tamu. Arlan sudah berlari ke ruang tengah, asyik dengan mainan barunya.William duduk di sofa, membuka surat tulisan tangan ayahnya.“William, anakku yang k
Pagi hari berikutnya bergulir tanpa menyisakan jejak badai emosi yang berkecamuk di atas sofa beberapa jam lalu. Ketika sinar matahari pertama menembus gorden kamar utama, William terbangun dengan posisi Sasha yang masih meringkuk di dalam dekapannya. Sisa keintiman semalam meninggalkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya udara pagi. Sasha membuka mata perlahan, menatap William tanpa kata-kata tajam seperti kemarin. Ada sebuah pemahaman bisu di antara mereka; dinding es itu belum sepenuhnya mencair, namun fondasinya telah kembali kokoh.Namun, kedamaian domestik itu tidak bertahan lama. Pukul sembilan pagi, sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat dikenal oleh William itu berhenti di depan pagar rumah mereka.William yang sedang menyeduh kopi di dapur langsung menegang saat mendengar suara deru mesin tersebut. Tangannya berhenti mengaduk. Sifat waspada dan keras kepalanya langsung bangkit ke permukaan. Ia melangkah menuju jendela depan, matanya menyipit tajam. Dari dalam mobi
William membiarkan tangannya diam di tempatnya, tidak mencoba mengejar atau memaksakan sentuhan yang baru saja ditolak Sasha. Penolakan itu dingin, senyap, namun getarannya terasa begitu kuat di atas kasur yang sama.Di antara mereka berdua, Arlan mendengkur halus. Tangan kecil bocah itu memegang ujung kaus William, sementara kakinya menempel pada paha Sasha. Anak itu menjadi satu-satunya jembatan hidup di atas jurang pemisah yang sengaja mereka bangun malam ini.William menoleh ke samping, menatap ubun-ubun Arlan, lalu beralih pada siluet punggung Sasha yang masih melengkung kaku. Sisi keras kepala William bergolak lagi. Ada bagian dari dirinya yang ingin bangkit, kembali ke ruang kerja, dan menenggelamkan diri dalam baris-baris kode Aegis sampai pagi. Mengapa dia harus bertahan di ranjang ini jika kehadirannya hanya dianggap sebagai gangguan? Dia tidak terbiasa diabaikan seperti ini. Di kampus, kata-katanya didengar. Di dunia digital, perintahnya mutlak.Namun, setiap kali egonya me
Malam kian merambat larut, melampaui pelataran sunyi dan menyisakan deru kipas laptop yang berputar konstan di atas meja kerja William. Baris-baris kode hijau dan putih terus bergulir di layar, merefleksikan perang tak kasat mata yang sedang ia bangun dari balik dinding rumahnya sendiri. Setiap ketukan taktis jemarinya di atas papan ketik adalah bentuk perlawanan, penolakan mutlak untuk merunduk pada takdir yang coba didekte oleh ayahnya.Bagi William, melunakkan sikap malam ini terasa seperti sebuah kekalahan total. Jika ia menyerah pada rasa bersalahnya kepada Sasha sekarang, ia merasa bagian dari benteng pertahanannya akan runtuh, menyisakan celah yang bisa dimanfaatkan Aditama untuk mengobrak-abrik privasi yang selama sepuluh tahun ini ia bangun dengan susah payah.Sifat keras kepalanya menuntut satu hal: ia harus kuat, mandiri, dan tak tertembus, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan kehangatan di ranjang utamanya untuk sementara waktu.Saat jam digital di sudut layar menun
"Sasha, dengar dulu..." William mencoba melangkah maju, tangannya terulur refleks untuk menenangkan. Namun, melihat sorot mata Sasha yang mengeras, ia menahan diri. Jarak dua langkah di antara mereka terasa seperti jurang yang menganga lebar. William menurunkan tangannya, membiarkan helaan napas berat lolos dari bibirnya. Ia memilih tidak membela diri lebih jauh, sadar bahwa setiap kalimat pembenaran hanya akan menyiram bensin ke dalam api amarah istrinya.Sasha tidak berniat memberikan panggung bagi William untuk bersilat lidah. Menghadapi sikap diam William, kemarahannya justru terasa semakin solid, membeku menjadi dinding es yang tebal."Aku tidak butuh penjelasanmu, William. Simpan saja semua teori dan logikamu untuk kelas kuliahmu besok pagi," lanjut Sasha, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang nyaris pecah menjadi tangisan, namun ia menolak terlihat lemah. "Malam ini, kamu sukses membuktikan satu hal. Kamu benci Aditama, tapi kamu memperlakukan orang yang mencintaimu deng
"Sasha! Ngapain kamu melamun di situ? Tamu penting Papa sebentar lagi datang!"Suara melengking Ibu Tirinya, Linda, memecah lamunan Sasha. Wanita paruh baya itu turun dari tangga dengan gaun warna emas yang terlalu mencolok dan perhiasan imitasi yang berlebihan di leher dan pergelangan tangannya. D
Clarissa merangkak naik ke kasur lagi, mendekatkan wajahnya ke wajah Raka."Buat dia terlihat kotor, Raka. Buat dia terlihat seperti pelacur yang nggak punya etika. Papa itu orang kuno. Kalau dia tahu putrinya 'rusak', dia bakal coret nama Sasha dari daftar ahli waris seketika. Dan usaha Papa ... b
Musik EDM yang memekakkan telinga Raka di club malam. Ia duduk di sudut bar yang remang, mencengkeram gelas vodka-nya seolah ingin meremukkannya."Sialan," umpat Raka, menenggak habis minumannya. Pikirannya dipenuhi bayangan Sasha. Gadis itu semakin sulit dikendalikan. Dulu, Sasha adalah boneka pen
"Pak... William..." desah Sasha terputus-putus, suaranya serak."Bukan," William mempercepat temponya, menumbuk titik sensitif Sasha tanpa belas kasihan. "Sebut saya seperti yang seharusnya."Sasha menggeleng, air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan keringat. Logikanya berteriak untuk berhen







