แชร์

BAB 15 Terbaring

ผู้เขียน: Pritca Ruby
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-07 00:19:49

Beberapa hari berlalu semuanya berjalan baik-baik saja tanpa ada masalah yang berarti bagi Aleta. Sekarang tiba waktunya Aleta kembali ke rumah Antonio untuk menjalankan janjinya sebelum diizinkan untuk keluar dari rumah itu. Berat rasanya menginjakan kaki di rumah megah itu, begitu sesak meskipun terbebas dari polusi udara.

"Kenapa siang sekali?" sapaan pertama yang ia dapatkan dari Hans yang seolah telah menunggunya di teras rumah.

"Aku ketinggalan bus pertama, jadi harus menunggu bus selanju
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 62 Firasat di Tengah Puing

    Pagi menerpa kediaman Antonio dengan pendar cahaya keemasan yang dingin. Asap mesiu yang semalam memenuhi udara kini berganti dengan aroma disinfektan dan tanah basah. Tim pembersih bekerja dalam hening yang disiplin, memoles kembali lantai marmer yang ternoda dan mengganti panel-panel kaca yang pecah akibat pertempuran sengit semalam.Di dalam kamar utama, Aleta duduk di tepi peraduan. Gaun tidurnya telah berganti dengan pakaian kasual yang rapi, namun garis lengkung di bawah matanya menunjukkan betapa ia tak menyentuh lelap sedikit pun. Tatapannya tertuju pada jemarinya sendiri yang bertengger di atas pangkuan, cincin berlian platinum dari Antonio memantulkan pendar tipis mentari pagi.Pintu kamar terbuka pelan. Antonio melangkah masuk membawa sebuah cangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul halus. Pria itu telah membersihkan diri dan mengenakan kemeja hitam bersih, walau binar kelelahan dan ketegangan di matanya tak sepenuhnya bisa disembunyikan."Minumlah sedikit," suara bera

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 61 Pembalasan di Garis Depan

    Asap mesiu tebal membubung di atas pekarangan depan kediaman, membiaskan pendar merah dari lampu darurat yang terus meraung. Suara dentuman tembakan dan denting selongsong peluru yang jatuh beradu di atas lantai batu menjadi simfoni mengerikan di tengah pekatnya malam. Antonio melangkah menembus asap, tubuh tegapnya bergerak dengan presisi mematikan khas seorang penguasa yang terbiasa hidup di antara garis hidup dan mati.Setiap tembakan yang dilepaskan Antonio dari pistol custom-nya selalu menembus target dengan dingin dan tanpa ampun. Tiga pasukan bayaran Helena yang mencoba menerobos area selasar roboh dalam hitungan detik sebelum sempat menarik pelatuk senjata mereka.Hans bergerak sejajar di sisi kirinya, memimpin barikade puluhan pengawal pribadi terbaik yang terus menekan balik pergerakan musuh. Pasukan Helena yang sebelumnya mengira akan mendapatkan serangan mendadak yang mudah, kini justru terdesak mundur saat menyadari mereka sedang berhadapan langsung dengan murka sang peng

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 60 Pertumpahan Darah di Garis Depan

    Suara tembakan beruntun bergaung membentur dinding-dinding batu kediaman, disusul dentuman keras yang menggetarkan kaca-kaca jendela ruang kerja. Suasana hangat di dalam rumah megah itu seketika sirna, berganti menjadi medan perang yang mencekam di bawah pendar lampu darurat berwarna merah darah.Aleta tersentak kaget, refleks menjerit pelan seraya menutup kedua telinganya. Tubuhnya gemetar hebat akibat trauma suara tembakan yang mendadak bangkit kembali di dalam ingatan masa lalunya.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Antonio langsung menarik Aleta ke dalam dekapannya, melindunginya dengan tubuh tegapnya sendiri. Pria mafia itu menarik pistol dari balik jasnya, mengarahkan moncong senjata ke arah pintu dengan posisi siaga mutlak."Hans! Amankan jalur evakuasi bawah tanah!" titah Antonio dengan suara menggelegar tenang, dominasinya tak sedikit pun goyah meski ketegangan membakar ruangan."Siap, Tuan! Pasukan perimeter luar sedang menahan serangan musuh di gerbang barat!" balas Hans ser

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 59 Badai di Bawah Malam Merah

    Malam merayap pekat di atas kediaman Antonio. Udara dingin yang menusuk tak sanggup mendinginkan ketegangan yang merayap di setiap sudut lorong marmer. Setelah percakapan penuh rahasia di rumah kaca pagi tadi, atmosfer di antara Antonio dan Aleta berubah menjadi canggung dan penuh tekanan. Aleta memilih berdiam diri di kamar utama, menatap pendar lampu kota di balik jendela besar dengan pikiran yang berkecamuk hebat, sementara Antonio mengurung diri di ruang kerja pribadinya bersama Hans.Di dalam ruang kerja yang remang, dokumen-dokumen tua bertumpuk di atas meja kayu mahoni. Hans berdiri tegap di hadapan Antonio dengan wajah pucat dan pelipis yang dibasahi keringat dingin."Tuan," suara Hans terdengar amat tegang, nyaris berbisik. "Tim kita di kota seberang diserang."Antonio, yang sedang menggenggam gelas wiski, mendadak membeku. Manik mata hitamnya berkilat mematikan saat mendongak menatap tangan kanannya. "Diserang?""Orang-orang Helena bergerak jauh lebih cepat dan brutal dari y

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 58 Bayangan di Balik Nama

    Ketegangan di dalam rumah kaca itu makin pekat, menghimpit dada Aleta hingga terasa sesak. Angin pagi yang berhembus menembus celah ventilasi tak mampu mendinginkan kehangatan udara yang mendadak membeku oleh kedinginan sikap Antonio.Aleta menatap pria di hadapannya dengan tatapan penuh kebingungan. Kalimat Antonio yang berjanji akan melindunginya dari "siapa pun" bukannya memberi rasa tenang, melainkan justru menyulut badai pertanyaan besar di dalam kepalanya. Mengapa pencarian identitas ibu kandungnya sendiri tiba-tiba berubah menjadi urusan keamanan yang begitu menakutkan?"Antonio..." panggil Aleta dengan suara bergetar. Ia menepis pelan tangan Antonio yang merengkuh bahunya, menuntut jarak agar ia bisa menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria itu. "Apa maksud ucapanmu tadi? Kenapa kamu menyuruh Hans mengamankan arsip itu dari ibumu? Dan... siapa sebenarnya Sofia Vance?"Antonio diam membisu. Rahangnya mengetat keras, mengunci rapat-rapat deretan giginya. Pria mafia yang bias

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 57 Perburuan Rahasia

    Di dalam kediaman mewahnya yang dingin, Helena berdiri di balik meja kerja kayu mahoni yang megah. Asap tipis dari rokok aromatik merayap pelan di udara, mengalun di sekitar wajahnya yang kaku dan penuh kedengkian. Di hadapannya, seorang pria bersetelan serba hitam menunduk hormat seraya meletakkan sebuah map cokelat tebal berstempel rahasia."Apakah ini informasi yang aku minta?" suara Helena menggelegar tenang namun sarat akan intonasi tajam yang menuntut."Benar, Nyonya Helena," jawab detektif swasta itu dengan nada rendah. "Tim kami berhasil membongkar arsip lama di rumah sakit kota seberang yang sempat terkunci selama dua dekade. Kami menemukan dokumen kelahiran Aleta."Helena menyambar map cokelat itu dengan gerakan cepat. Jemarinya yang dihiasi cincin permata membuka lembaran-lembaran kertas kusam di dalamnya. Begitu matanya meneliti baris demi baris tulisan tangan di lembaran utama, langkah napas Helena mendadak terhenti sejenak. Manik matanya membelalak lebar, membaca sebuah

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 3 Playing Victim

    "Tolong .... Tolong ...."Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 6 Malam Panjang

    "Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 5 Kesalahan

    Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa t

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 4 Tawanan

    Roy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status