MasukPersiapan pernikahan yang tinggal menghitung hari sudah mencapai sembilan puluh persen. Kesibukan di kediaman Antonio berada di puncaknya. Setiap sudut aula utama didekorasi dengan rangkaian bunga mawar putih langka dan sentuhan gandum keemasan—sebuah konsep elegan yang dirancang penuh ketelitian oleh Aleta sendiri.Pagi itu, Aleta sedang berdiri di tengah aula, mengawasi para penata bunga yang merangkai hiasan di pilar-pilar marmer. Wajahnya berseri-seri, memancarkan kedamaian dan kebahagiaan seorang calon pengantin yang siap menyongsong hidup baru.Namun, ketenangan itu seketika terusik saat pintu jati raksasa di serambi depan terbuka lebar.Langkah kaki bersepatu hak tinggi beradu nyaring dengan lantai marmer. Helena melangkah masuk dengan gaun keanggotaan aristokrat berwarna biru dongker yang dingin, memancarkan keangkuhan yang tak berkurang sedikit pun. Di sampingnya, berjalan seorang wanita muda yang amat memukau—Giselle.Giselle mengenakan terusan vanila berbahan sutra mahal, r
Suara pecahnya porselen mahal memecah keheningan rumah klasik Eropa milik Helena. Helena berdiri di tengah ruang tamu yang luas, menatap pintu jati yang baru saja tertutup rapat oleh kepergian Antonio dan Aleta. Dadanya kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak. Tangannya yang dipenuhi cincin berlian gemetar hebat akibat penghinaan yang baru saja dilayangkan oleh putra tunggalnya sendiri."Kurang ajar... Benar-benar anak tidak tahu diri!" desis Helena, suaranya bergetar penuh kemurkaan.Bagi Helena, restu keluarga adalah syarat mutlak, sebuah simbol kendali yang selama ini selalu ia pegang. Ia tidak akan pernah membiarkan Antonio—anak yang seharusnya menjadi kunci kejayaan dan kekuasaan trah keluarga mereka—menikahi seorang wanita tanpa silsilah, tanpa latar belakang, dan tanpa nilai tawar di dunia kelas atas.Lebih dari itu, Helena telah menyusun rencana besar yang telah ia rancang sejak bertahun-tahun lalu. Sebuah rencana perjodohan yang tidak boleh gagal.Helena melangkah ce
Hari pernikahan yang kian mendekat membawa atmosfer baru di kediaman Antonio. Kesibukan persiapan terasa di mana-mana, namun di balik kesempurnaan itu, ada satu tanggung jawab yang membuat rahang Antonio mengeras setiap kali mengingatnya. Mau tidak mau, ia harus membawa Aleta menemui ibunya—satu-satunya anggota keluarga kandung Antonio yang masih hidup di dunia ini.Seumur hidupnya berada di dekat Antonio, Aleta sama sekali tidak pernah mendengar pria itu menyinggung soal keluarga. Rasa penasaran itu akhirnya memuncak saat Antonio memintanya bersiap untuk berkunjung."Antonio..." panggil Aleta pelan, melangkah mendekati meja kerja pria itu. "Sebenarnya... seperti apa keluargamu? Kenapa selama ini kamu tidak pernah menceritakan ibumu padaku?"Antonio yang sedang menyesap wiski tanpa es mendadak membeku. Pandangannya yang menatap keluar jendela seketika mengelam. Sebuah peristiwa pahit di masa lalunya—ketika sang ibu, Helena, memprioritaskan ambisi, harta, dan nama baik keluarga di atas
Angin siang berhembus pelan, menerbangkan helai-helai rambut Aleta saat ia berdiri di tepi halaman panti asuhan yang sedang dibangun. Gelak tawa anak-anak yang berlarian mengejar bola plastik bergaung riang, memecah keheningan lokasi konstruksi. Di sampingnya, Antonio berdiri tegap, sebelah tangannya berada di dalam saku celana bahan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Aleta yang terasa dingin.Aleta memperhatikan sesosok anak perempuan kecil yang sedang dipeluk hangat oleh salah satu pengurus panti. Binar kebahagiaan di mata anak itu memicu kerinduan samar yang selama bertahun-tahun selalu ia kubur dalam-dalam di dasar hatinya."Kamu memikirkan sesuatu?" suara berat Antonio memecah lamunan Aleta, lembut dan sarat akan perhatian.Aleta menoleh, tersenyum tipis seraya menghela napas panjang. Matanya kembali menatap anak-anak yang sedang bermain sebelum akhirnya tertunduk menatap tanah."Aku cuma... mendadak teringat pada orang tuaku, Antonio," bisik Aleta pelan, suaranya
Mentari pagi memancarkan pendar keemasan yang menembus celah gorden sutra di kamar utama. Di atas peraduan yang empuk, Aleta perlahan membuka matanya. Rasa hangat menyelimuti tubuhnya, berasal dari lengan tegap Antonio yang melingkar posesif di pinggangnya. Jemari tangan kiri Aleta terangkat perlahan ke udara, menatap pendar silau dari cincin berlian platinum yang kini melingkar indah di jari manisnya—sebuah bukti nyata bahwa peristiwa di bukit semalam bukanlah sekadar bunga tidur.Aleta tersenyum tipis, merasakan desiran hangat yang meluap di dadanya. Pria yang dulu sangat ia takuti dan benci, kini menjadi sosok yang paling ia harapkan hadir di setiap helaan napasnya."Suka dengan cincinnya?" suara berat dan serak khas bangun tidur bergaung di dekat telinganya.Aleta menoleh sedikit, mendapati Antonio sedang menatapnya dengan manik mata hitam yang teduh dan penuh pemujaan. Antonio mengecup bahu terbuka Aleta dengan lembut, sebelum akhirnya menarik tubuh wanitanya makin rapat ke dalam
Malam berhias ribuan bintang menyelimuti bukit tertinggi di pinggiran kota—sebuah bukit privat milik Antonio yang menyajikan pemandangan lanskap kota dengan pendar lampu-lampu indah di bawahnya. Angin malam berhembus lembut, membawa hawa sejuk yang menyegarkan.Aleta melangkah perlahan menaiki tangga batu berukir dengan gaun malam berbahan sutra lembut berwarna putih gading. Tangannya digenggam erat oleh Antonio yang mengenakan tuksedo hitam sempurna, menuntun langkah wanita itu dengan kelembutan yang amat protektif.Aleta sempat dibuat bingung saat Antonio memintanya bersiap dan membawanya berkendara cukup jauh tanpa memberitahukan tujuan mereka. Namun, rasa penasaran itu seketika sirna begitu kaki Aleta menyentuh puncak bukit.Mata Aleta membelalak lebar, jemarinya menutup mulutnya yang sedikit terbuka akibat rasa terpukau yang teramat sangat. Air mata keharuan seketika merebak di pelupuk matanya.Di atas padang rumput yang hijau, ribuan lampu fairy lights bergantungan melingkupi se
"Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya
Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa t
Matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh bulan sabit yang seolah tersenyum meskipun tidak ada taburan bintang yang ikut menghiasi langit yang gelap."Bahkan bulan saja masih mampu tersenyum walaupun dia sendirian di langit yang gelap itu," gumam Aleta yang hendak menutup jendela tetapi s
"Mana uangnya?"Aleta menghela nafas panjang. "Aku baru saja sampai ke rumah, yang kamu tanyakan hanya uang. Seharian aku bekerja di ladang gandum, bahkan kamu tidak tanya selelah apa seharian aku di sana setiap hari tanpa libur.""Kamu baru bekerja satu tahun saja, lagaknya seperti sudah menghidup







