Share

Paranoid

Author: de Banyantree
last update publish date: 2026-05-07 21:37:32

Aster menatap nanar ke arah tangga yang menuju lantai atas. Pikirannya berperang antara rasa bersalah karena telah membentak Aruni dan ketakutan yang terus menggerogoti logikanya. Ia bangkit, meninggalkan meja makan dengan sisa sup yang benar-benar sudah dingin dan berlemak, persis seperti suasana hatinya.

​Langkahnya terasa berat saat menaiki satu per satu anak tangga kayu jati itu. Begitu sampai di depan pintu kamar utama, Aster ragu. Ia memutar knop pintu dengan gerakan sangat perlahan, nyar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Pulang

    Mobil Raka berhenti tepat di depan gerbang besar rumah Aruni. Hari sudah beranjak malam, dan lampu jalanan menyorotkan bayangan panjang di atas aspal.​"Terima kasih untuk hari ini, Rak. Benar-benar hari yang melelahkan tapi luar biasa," kata Aruni sambil melepas sabuk pengaman.​Raka tersenyum dari balik kemudi, ekspresinya hangat. "Sama-sama. Ingat, CEO, istirahatlah. Besok kita punya agenda besar untuk kampanye transparan itu. Jangan memikirkan Aster dulu, oke?"​Aruni mengangguk, lalu melangkah keluar. Ia sempat melambaikan tangan sebelum Raka memutar balik mobilnya. Begitu ia memasuki pekarangan, suasana sunyi menyambutnya. Rumah itu tampak megah, namun malam ini terasa begitu dingin dan hampa. Lampu-lampu kristal di ruang tamu tidak dinyalakan, hanya ada beberapa lampu sorot kecil yang menerangi koridor utama.​Gelap, pikirnya. Aster tidak ada di rumah.​Aruni berjalan pelan menuju kamar Abam. Pintu kamarnya sedikit terbuka, dan dari celah itu ia bisa melihat lampu tidur berwarn

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Test

    ​Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar Aruni. Tidak ada suara alarm yang melengking paksa, karena Aruni sudah terjaga bahkan sebelum jarum jam menunjukkan pukul tujuh. Ia merasa segar, sebuah sensasi yang sudah lama absen dari rutinitasnya.​Tepat pukul sembilan, klakson mobil Raka terdengar di depan pagar. Aruni segera meraih tasnya, memastikan dokumen strateginya tersusun rapi. Saat ia masuk ke kursi penumpang, aroma kopi americano memenuhi kabin mobil Raka.​"Tepat waktu. Nice," sapa Raka tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Ia terlihat rapi dengan kemeja biru muda yang digulung sampai siku. "Sudah siap buat 'tes' hari ini?"​Aruni menyesap kopi yang disodorkan Raka. "Tes apa? Tes mental atau tes operasional?"​"Keduanya," jawab Raka santai. "Kita bakal bertemu orang-orang yang dulu mungkin meremehkan Aruni Glow karena mereka pikir kamu cuma 'istri Aster'. Hari ini, mereka bakal tahu kalau kamu adalah CEO yang bicara dengan data, bukan dengan koneksi suami."​Arun

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Langkah awal

    ​Langkah Aruni terasa ringan, meski dadanya masih menyisakan sisa-sisa debu emosi dari percakapannya dengan Aster. Ia tidak segera memanggil taksi daring. Ia memilih berjalan kaki menuju halte terdekat, membiarkan angin malam Jakarta yang lembap menyapu wajahnya.​"Rapuh, ya?" gumamnya pelan, mengulang judul bab kehidupan yang sedang ia jalani di dalam kepalanya sendiri. "Lucu sekali. Selama ini aku pikir akulah yang rapuh, ternyata suamiku pun punya retakan yang sama dalamnya."​Ponsel di tasnya bergetar lagi. Bukan Aster, melainkan Raka. Sebuah pesan singkat masuk: Jangan lupa, besok jam 9 pagi kita ke kantor distributor. Jangan begadang mikirin masa lalu, Aruni. Fokus ke masa depan.​Aruni tersenyum. Raka adalah tipe orang yang tidak perlu banyak bicara untuk memberikan rasa aman. Ia tidak menawarkan janji manis, tapi ia memberikan kepastian logis.​Tiba-tiba, sebuah mobil sedan perak berhenti tepat di samping trotoar tempat Aruni berjalan. Kaca jendela turun, menampakkan wajah Rak

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Persimpangan

    Raka berjalan di samping Aruni menuju parkiran, langkah mereka serempak. Aruni masih merasakan sisa-sisa adrenalin yang bergejolak di dadanya. Tangannya yang memegang tas sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa ia bisa—dan mampu—menutup pintu bagi Aster.​"Kamu tadi keren banget," celetuk Raka, memecah keheningan saat mereka sampai di dekat mobil Raka.​Aruni tersenyum tipis, kali ini senyumnya lebih tulus. "Keren? Aku merasa lebih seperti sedang berakting di drama Korea kelas dua. Tapi, entahlah, Rak. Aku capek. Capek harus pura-pura kalau semuanya baik-baik saja."​Raka bersandar pada badan mobilnya, menatap Aruni dengan pandangan teduh. "Kamu nggak harus pura-pura. Kamu tahu kan, di dunia kedokteran, luka yang dibiarkan terus menerus tanpa dibersihkan bakal infeksi? Begitu juga perasaanmu."​"Dan kamu sedang menawarkan diri jadi antiseptiknya?" tanya Aruni dengan nada bercanda, berusaha mencairkan suasana yang mulai berat.​"Aku cuma teman

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Investor

    Minggu-minggu setelah pengakuan itu, rumah mereka benar-benar menjadi ruang hampa. Aster mencoba segala cara—mulai dari memesankan makanan favorit Aruni, hingga sengaja pulang lebih awal—tetapi Aruni selalu memiliki kesibukan "mendadak". Jika tidak ada revisi laporan praktikum, maka ada seminar yang harus dihadiri. Aruni tidak marah, ia hanya... tidak ada.​Namun, di balik sikap dingin yang ia tunjukkan pada Aster, badai lain justru menghantam dunianya yang lain: Aruni Glow.​Siang itu, di kantin kampus, Aruni duduk dengan laptop yang menyala. Matanya memicing menatap grafik penjualan bulan ini yang terjun bebas. Laporan dari kepala toko Aruni Glow di ponselnya membuat tengkuknya meremang.​"Penjualan turun 40 persen, Run? Angka ini tidak masuk akal," suara bariton yang familiar memecah konsentrasi Aruni.​Aruni menoleh, mendapati Raka Bumi sudah berdiri di sampingnya dengan nampan berisi kopi. Kini Raka sudah mulai akrab dengan Aruni.​"Aku juga tidak tahu, Rak. Padahal stok aman, so

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Diam

    ​Malam itu, rumah mereka yang megah terasa seperti sebuah museum. Dingin, sunyi, dan tak berpenghuni meski Aruni dan Aster berada di bawah atap yang sama.​Aruni memilih untuk menghabiskan waktu di ruang keluarga, duduk di sofa dengan buku kedokteran yang sebenarnya tidak ia baca sama sekali. Matanya menatap halaman yang sama selama dua jam. Ketika Aster masuk ke ruangan dengan wajah lelah dan kemeja yang berantakan, Aruni bahkan tidak menoleh. Ia sengaja memfokuskan pandangannya pada paragraf tentang prosedur bedah minor, seolah-olah itu adalah hal terpenting di dunia.​Aster berdiri di ambang pintu, ragu-ragu. Ia memegang dua gelas cokelat hangat. Kebiasaan lama mereka saat sedang penat.​"Run," panggil Aster pelan. Suaranya serak.​Aruni membalik halaman buku dengan tenang. "Hm?"​"Aku... aku buatkan cokelat hangat. Seperti yang kamu suka." Aster melangkah mendekat, meletakkan gelas itu di meja tepat di depan Aruni.​Aruni menutup bukunya dengan pelan, meletakkannya di samping, lal

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Terperangkap

    Aruni berdiri terpaku di ambang pintu, menyaksikan mobil Papa menghilang di balik gerbang. Hatinya mencelos. Seolah-olah separuh jiwanya ikut pergi bersama mobil itu. Saat ia berbalik, Tante Gina sudah berdiri tegak di hadapannya, senyum manisnya lenyap tak bersisa. Wajahnya kini terlihat kaku, den

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Awal kepahitan

    PoV Aruni Enam bulan yang lalu, sebelum kejadian. Aruni melirik jam dinding, pukul tujuh malam. Sudah saatnya Papa pulang, atau setidaknya begitu janjinya. Sejak kepergian Mama sepuluh tahun lalu, rumah besar ini terasa hampa. Sepi. Hanya ada Aruni dan beberapa asisten rumah tangga yang setia men

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Ini hukuman

    Keheningan mencekam kini menyelimuti kamar tamu itu. Bau tembakau dari rokok Aster bercampur dengan aroma antiseptik yang tajam dari peralatan bedah di tangannya. Aruni bisa merasakan napas berat Aster di atas kepalanya. Dia memaksa bergerak, agar bisa melepaskan diri dari tangan kedua pria bawa

  • Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku   Tuduhan

    "Kau tidak akan selamat, saat Aster kembali. Dia tak akan membiarkan kau hidup!" Teriak Nyonya Gina pada Aruni. Yang masih duduk bersimpuh. Menangis sambil mendekap putra dari Jeny, yang baru saja meninggal dunia. Akibat kecelakaan, malam tadi. Hatinya masih kalut dan tak bisa menerima kenyata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status