เข้าสู่ระบบSuasana di peraduan utama Paviliun Mawar berangsur hening setelah langkah dokter istana menghilang di balik pintu. Keheningan malam yang merayap kini terasa semakin berat, bersaing dengan helaan napas pendek dan hangat dari si kembar yang berbaring di tengah ranjang besar.Kenneth mematung di tepi ranjang. Pria yang biasanya tak kenal rasa takut itu hanya bisa menatap dua bungkus obat di meja dan wajah mungil anak-anak nya yang merona panas. Guratan cemas di dahinya terpahat amat dalam."Kemari lah, Tuan." Panggil Rosalynd lembut. Wanita itu mengusap lembut dahi Rosalie dengan kain basah yang hangat, kemudian menoleh menatap suaminya yang masih membeku. "Anak-anak membutuhkan kita di dekat mereka."Kenneth menghela napas berat dan membuang jauh-jauh keangkuhannya. Ia memutari ranjang, melepas jubah luarnya dan berbaring pelan di samping Valerius. Tangan besarnya dengan sangat hati-hati menyusup ke bawah tubuh mungil Valerius, merengkuh pangeran kecil itu ke dalam dekapannya.Valerius
Kebahagian dan tawa renyah yang memenuhi Paviliun Mawar sepanjang pagi perlahan berubah menjadi keheningan yang tak biasa ketika sore menjelang. Di ruang tengah Paviliun, si kembar yang biasanya aktif merangkak dan mengejar bola kain, kini tampak lunglai. Rosalie berbaring menyandar di pangkuan Rosalynd, netranya yang biasanya berbinar, terlihat sayu dan kemerahan. Sementara, Valerius berbaring telungkup di atas karpet empuk, menolak disentuh dan terus menerus merengek halus. "Sayang, Rosalie. Makan sup nya ya. Sedikit lagi. Hemthhh?" bujuk Rosalynd lembut sambil menyodorkan sendok kecil. Namun, Rosalie menggeleng lemah dan makin menyembunyikan wajahnya di perut ibunya. Kenneth yang baru saja menyelesaikan koordinasi singkat dengan Caelan masuk ke ruangan. Alis tebal nya seketika bertaut melihat suasana yang tadinya riuh, mendadak redup. Ia berlutut di samping Valerius dan mengusap punggung kecil putranya. "Ada apa dengan Jagoan ayah. Kenapa mendadak lemas begini." selidik Kennet
Suara gedoran di pintu kamar peraduan utama semakin nyaring, diselingi dengan tawa renyah dua balita uang saling berebut untuk meminta perhatian."Ayah—Ibu! Buka! Buka!" pekik Valerius tak sabar. Kenneth yang hanya mengenakan jubah katun longgar berjalan melangkah lebar mendekati pintu. Begitu pintu dibuka, dua badan mungil itu langsung merangsek masuk tanpa ragu."A—Ayah!" Rosalie melangkah tiga kali dengan kaku sebelum akhirnya melemparkan tubuh kecilnya ke depan.Kenneth spontan berlutut dan menangkap tubuh mungil putrinya dan mengangkat nya tinggi-tinggi hingga Rosalie tertawa terbahak-bahak. Sementara itu, Valerius langseng memeluk paha kekar Kenneth erat dan menepuk-nepuk kain jubah ayahnya sambi menengadah dengan mata bulatnya yang berbinar."Ba! I—i—Na—ik!" oceh Valerius cadel.Kenneth terkekeh rendah. Suara tawa hangat yang hanya bisa di dengar di dalam paviliun Mawar. Ia merengkuh Valerius dengan lengan kirinya, sehingga kedua anak kembarnya kini berada dalam dekapannya."K
Rosalynd menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenneth yang naik turun secara teratur. Jemarinya bergerak tanpa sadar melukis pola acak di atas kulit suaminya. Lengan kekar Kenneth melingkar posesif di pinggang Rosalynd dan menarik wanita itu untuk semakin dekat seolah tak ingin menciptakan jarak diantara keduanya. "Kenapa belum tidur?" tanya Kenneth rendah dan memecah keheningan malam di antara mereka. Suara nya serak namun penuh dengan kehangatan murni. Ia menunduk dan kembali mengecup puncak kepala Rosalynd. Rosalynd sedikit mendongak dan menatap garis wajah tegas suaminya yang diterangi dengan pendar samar. "Belum. Saya tiba-tiba mempunyai beberapa pemikiran. Rasanya begitu damai. Apa ada hal yang akan terjadi di balik ketenangan ini?" Kenneth menaikkan satu alisnya dan menatap manik mata istrinya dengan lekat-lekat. "Ketakutan apa itu, Sayang?" "Ketakutan kalau kedamaian seperti ini biasanya dapat hilang kapan saja," akui Rosalynd dengan jujur. Ia menyuarakan rasa cemas seora
Sinar matahari senja mulai membiaskan warna merah keemasan yang cantik di atas permukaan Danau Mutiara. Angin sore berhembus sedikit lebih kencang dan membawa udara dingin yang menusuk kulit. Kenneth yang sedang berbaring di atas rumput melirik ke arah dua anak kembarnya. Perutnya yang dijadikan area panjat tebing mini mendadak sepi. Di samping kanan, Valerius sudah tersungkur telungkup dengan bokong gembul nya menungging ke atas, terlelap nyenyak sambil menggenggam rumput. Sementara di sisi kiri, Rosalie menguap tebal, matanya yang bulat perlahan didatangi rasa kantuk yang berat setelah puas melangkah di rumput. Rosalynd terkekeh pelan ketika melihat pemandangan. "Sepertinya dua prajurit kecil Anda sudah kehabisan tenaga, Tuan." "Kerja bagus untuk alam," sahut Kenneth rendah sambil bangkit dari duduknya perlahan supaya tidak membangunkan Valerius. "Udara luar memang obat paling ampuh untuk membuat mereka tertidur cepat." Dengan sigap, Kenneth merengkuh Valerius yang telungkup di
Di dalam kereta kuda yang melaju tanpa ornamen megah, namun dilapisi pelindung tinggi dan meluncur pelan meninggalkan batas benteng luar Istana Barat.Di dalam kereta, suasana begitu hangat. Kenneth sengaja melepas jubah kebesarannya dan hanya mengenakan kemeja katun longgar berwarna hitam tanpa dasi atau pin kerajaan. Di sebelahnya, Rosalynd tampak anggun dan segar dengan gaun kain linen simpel berwarna krem."Ini kita benar-benar keluar istana hanya berempat, Kenneth?" tanya Rosalynd sambil menatap keluar jendela kereta, menikmati pemandangan perbukitan hijau yang membentang luas.Kenneth tersenyum tipis, merengkuh pinggang Rosalynd dan menariknya semakin rapat. "Tentu saja. Caelan dan beberapa pasukan berjaga dari jarak jauh di balik pepohonan. Hari ini, tidak ada Kaisar dan permaisuri. Hanya ada kita berempat."Di sisi lain, di karpet empuk. Valerius dan Rosalie sibuk menepuk-nepuk jendela kayu sambil mengoceh gembira."Puuu! Burung!" seru Valerius menunjuk seekor burung kawari ya
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu







