Share

Bab 68. Demi Apapun

Author: Wening
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-15 21:55:17

Fadhil berjibaku dengan urusan rumah dan dapur. Seperti hari biasa untuk menghindari keributan dengan istrinya, lelaki tiga puluh lima tahun itu rela melakukan semua hal pekerjaan rumah. Dari membersihkan dan merapikan juga mengisi meja makan dengan hidangan yang tak terlalu buruk rasanya di lidah meski tak terbilang enak.

“Bu Siti, saya pergi dulu ya, nanti kalau Arjuna mau disuapi sudah ada bening di rumah tinggal ambil aja,” kata Fadhil saat kembali mengintip putranya yang telah tertidur Seh
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 164. Harus Bekerja Keras

    Pagi itu terasa berbeda.Tidak ada keajaiban yang turun dari langit. Tidak ada masalah yang mendadak hilang begitu saja. Hutang-hutang kehidupan masih menunggu diselesaikan. Luka yang ditinggalkan masa lalu juga belum sepenuhnya sembuh.Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Fadhil bangun tanpa perasaan ingin lari dari kenyataan.Ia duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi. Udara pagi terasa sejuk. Dari dalam rumah terdengar suara Zubaidah menyiapkan sarapan dan sesekali menegur Arjuna yang sedang berlarian.Suasana sederhana itu membuat Fadhil tersenyum.Mungkin inilah yang disebut kesempatan kedua. Bukan untuk mengulang hidup.Melainkan untuk memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki."Melamun lagi?" Suara Zubaidah membuat Fadhil menoleh.Wanita itu meletakkan sepiring pisang goreng di meja."Kali ini tidak.""Lalu?""Aku sedang membuat daftar pekerjaan." Zubaidah tertawa kecil."Pekerjaan rumah?""Kalau cuma rumah, mungkin tidak akan cukup sampai siang." Fadh

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 163. Kita Bukan Orang Baik

    Zubaidah masih duduk di samping Fadhil dan malam semakin larut. Tangannya belum melepaskan genggaman suaminya. Entah sejak kapan, tetapi tangisnya telah mereda. Yang tersisa hanyalah rasa sesak dan malu yang terus berputar di dalam dada.Selama ini ia selalu merasa sebagai pihak yang paling terluka, tersakiti dan paling menderita.Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia melihat luka yang dipikul Fadhil selama ini. Luka yang bahkan tidak pernah ia tanyakan."Kau membenciku?" tanya Zubaidah pelan.Fadhil tersenyum tipis.Kalimat itu mengingatkannya pada masa-masa awal pernikahan mereka. Saat Zubaidah masih sering bertanya hal yang sama setiap kali mereka bertengkar."Tidak.""Benarkah?""Kalau aku membencimu, aku tidak akan masih duduk di sini." Zubaidah kembali menunduk."Aku sudah menghancurkan terlalu banyak hal." Fadhil menghela nafas panjang."Kita.""Hah?""Kita yang menghancurkan terlalu banyak hal." Zubaidah mengangkat kepala."Tidak semuanya salahmu.""Tapi...""Aku juga pun

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 162. Karena Wanita Sepertimu

    Fadhil duduk di teras belakang sambil memandangi halaman yang mulai gelap. Secangkir kopi di tangan sudah mulai dingin, tetapi tak sedikit pun menarik perhatiannya.Malam itu rumah terasa begitu sunyi.Arjuna sudah tidur lebih awal setelah makan tadi. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari kebun samping rumah.Zubaidah keluar membawa sepiring pisang goreng dan meletakkannya di meja kecil di antara mereka.“Aku bikin kesukaanmu.” Fadhil hanya mengangguk.Tidak ada senyum. Tidak ada ucapan terima kasih seperti biasanya. Sikap itu membuat Zubaidah semakin gelisah.“Apa kau masih marah?”Pertanyaan itu akhirnya keluar setelah beberapa menit mereka terdiam.Fadhil tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Lebih mirip seseorang yang mendengar sesuatu yang ironis.“Menurutmu aku marah?”“Kalau tidak marah kenapa seperti ini terus?” Fadhil mengusap wajahnya pelan.“Aku capek, Zubaidah.” Kalimat sederhana itu membuat wanita di sampingnya terdiam.“Aku benar-benar capek.”“Kau selalu bilang begitu

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 161. Bukan Level Yang Sama

    Sambil menyiapkan makan malam, Zubaidah terus berpikir bagaimana caranya memulai percakapan dengan suaminya kembali. Bagaimanapun masalah rumah tangga harus diselesaikan. Bagaimanapun caranya. Termasuk gantian merendahkan ego di hadapan suami.Pisau di tangannya bergerak pelan memotong wortel. Sesekali ia melirik pintu dapur, berharap Fadhil melongok atau bertanya, “Apa perlu dibantu?” seperti dulu. Zubaidah menghembuskan napas panjang.Jika dipikir-pikir lagi, apa yang selama ini diperjuangkannya?Sarah sudah pergi. Tidak lagi merebut perhatian suaminya setiap hari. Bahkan hubungan Fadhil dan Sarah sekarang bukan lagi tentang rasa tapi tanggung jawab pada anak-anak mereka. Bukankah itu yang selama ini ia inginkan?Namun anehnya, kemenangan itu tidak pernah terasa seperti kemenangan. Ia justru kehilangan ketenangan yang dulu mati-matian ingin dipertahankan.Pikirannya melayang pada beberapa wanita yang pernah membuatnya cemburu.Sarah, Bu Mona bahkan Bu Nur, karena mendapatkan perhat

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 160. Tak Menghina Lagi

    Zubaidah pulang ke rumah dengan langkah gontai.Matanya masih sembab memerah akibat menangis lama di rumah adiknya.Anak dan suaminya belum pulang. Untuk mengisi waktu senggang, dirinya mulai menyibukkan diri membereskan semua hal di rumah. Dalam hati ia berjanji akan berubah pelan-pelan. Menguasai emosi yang semakin mudah meledak, menghentikan kebiasaan berprasangka buruk pada semua orang, dan tidak lagi terburu-buru menunjukkan pada dunia betapa menderitanya dirinya.Bayangan interaksi Sarah dan Fadhil saat hari kunjungan anak, hubungan harmonis Fadhil dan Bu Mona saat mereka tak sengaja bertemu di mal, membuatnya berpikir. Kenapa semua orang tampak mampu berinteraksi dengan wajar sementara dirinya sendiri selalu saja terjebak dalam salah paham dan salah sikap?Setiap perkataan yang pernah ia lontarkan untuk merendahkan suaminya satu demi satu muncul dalam ingatan. Saat itu semua terasa benar. Semua terasa pantas diucapkan. Namun kini, ketika mengingatnya kembali, kata-kata itu terd

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 159. Tak Lagi Demi Anak

    “Tak Semua orang berpikir picik sepertimu, kak.”Zubaidah memandang adiknya dengan sorot mata tajam dan semburat kesedihan yang membuat Laras tak tega terus memojokkannya.“Kak, meski kita tak selalu bertemu, bukan berarti aku tak tahu bagaimana sepak terjang mu selama ini. Jujur jadi adik dan sebagai wanita aku malu, kak.” Zubaidah diam sambil memegang botol minumannya dengan erat.“Kakak sudah berhasil menguasai suami sepenuhnya dan menyingkirkan Sarah. Untuk hal ini, anggap buklan salahmu sepenuhnya tapi Mas Fadhil andil banyak. Aku bersyukur sahabatku terbebas dari manusia toksik seperti kalian.” Zubaidah menahan napas mendengar ungkapan pedas Laras tentangnya tapi tak menyela.“Kau Ingat, Kak? Rezeki suami adalah rezeki istri dan keluarganya. Setelah hanya bersamamu Mas Fadhil jatuh parah ekonominya, dan sebagai istri apa yang kau lakukan? Marah dan menjatuhkan habis harga diri suami karena tak ikhlas uang pribadi terpakai.”“Kau ingin menguliti ku habis-habisan kali ini Laras?”

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 29. Taman Bermain

    Suasana meja makan begitu sepi. Hanya suara denting sendok mereka bertiga saja yang terdengar. Kepala keluarga itu berkali-kali melirik anak dan istrinya seperti ingin tahu sesuatu tapi tak menanyakan apapun sampai satu persatu meletakkan kembali sendok dan garpu telungkup di piring lalu mendorongn

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 28. Haruskah Aku Menjauh?

    Asap rokok mengepul di balkon lantai tiga, rumah Dokter Wirawan. Meski tak sampai menghabiskan berbatang-batang rokok, lelaki yang kesehariannya itu kalem dan sangat menjaga kesehatannya itu mulai terbatuk-batuk. Dengan suara grusak-grusuk menarik perhatian nyonya rumah. Mendapat laporan bahwa putr

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 27. Cukupkan Tangismu

    ‘Berangkatlah lebih dulu, aku dijemput temanku.’Pria tampan dalam audi putih itu mendesah kecewa. Begitupun dirinya tak bisa memaksakan kehendak hati untuk menyanding sebentar saja wanita yang sangat didambanya. Pelan tapi pasti tangannya bergerak dan kendaraannya pun berputar lalu bergerak menjau

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 26. Kau Tak Sendiri

    Malam ini sangat sepi dan dingin meski AC belum dinyalakan. Penanda waktu di dinding baru menunjukkan angka 7 malam ini, tetapi mata Sarah rasanya enggan terbuka. Seharian sibuk ke sana ke mari membuat tubuhnya lelah dan ingin segera menyerah pada bantal. Tapi setelah berbaring isi kepalanya mala

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status