LOGINSemenjak sup jahe buatan Anggun menyelamatkan Azura dari sakit kepala, dan sandwich yang menyembuhkan asam lambungnya, pelan-pelan Azura mengizinkan wanita itu menyentuh dapurnya tanpa harus bertanya lebih dulu seperti yang kerap ia dilakukan.Tiap kali alkohol merusak kesadarannya, diam-diam Azura merindukan sup jahe itu. Azura berusaha membuat sendiri dengan takaran dan rempah yang dianggap sama, tapi rasanya tetap berbeda. Pun dengan sandwichnya, Azura seperti ketagihan. Hari itu ia tak pernah lupa. Tanpa sadar masakan Anggun telah mendapat tempat tersendiri dalam hati Azura, walau sikap pria itu masih dingin, tapi jarak yang selama ini diciptakan, seolah terkikis kepercayaan.Suara dering ponsel, membuat Azura terhentak dari lamunannya. Ia tenggelam dalam nikmatnya sup jahe Anggun.Saat layar ponsel menyala, nama Erika terpampang nyata. Azura tidak menerima panggilan itu, ia abaikan tanpa bicara. Namun, membuat alis Anggun bertaut penuh tanya. Apakah Erika yang tertulis dalam laya
Alih-alih bahagia atas hasil diagnosa, perasaan Anggun justru mengalami dilema kuat. Jiwanya melayang jauh, seolah mengundang fantasi liar. Sebuah intuisi larangan menghinggap dalam dada. Anggun ingin bercinta, dengan begitu ia bisa hamil dan memiliki anak. Bukankah hasil pemeriksaannya menyatakan demikian? Tapi, kepada siapa Anggun bercinta? pada suaminya yang seperti es di kutub utara kah? atau bersama Diki, si pria brengsek yang baru saja mendapat karma? Anggap saja usia Anggun masih muda, produktif, kuat, dan segar. Satu tahun setelah cerai dari Azura pun tak membuat usianya maju menjadi lima puluh tahun. Namun, bukan ini poinnya. Memulai hubungan baru bersama orang asing tidaklah mudah. Butu proses perkenalan yang cukup panjang. Jelas waktunya tidak singkat seperti judul lagu 'pacar lima langkah' karya almarhumah. Memikirkan semua itu membuat pikiran Anggun terjebak, pandangannya kosong, hingga kakinya mengayun pelan tak tentu arah. Anggun telah berada di tengah jalan, nyaris
Anggun baru saja menapakkan kaki dari ambang pintu masuk klinik, tapi ia telah disuguhkan dengan pemandangan mengejutkan. Wanita itu melihat Diki dan Erika keluar dari ruang dokter kandungan dengan cara tak wajar.Rona wajah keduanya tak bersahabat, seperti tengah beradu di atas ring tinju: merah, tegas, dan sangar. Anggun tidak bermaksud menguping, tapi nalurinya seolah menuntun ia untuk selangkah lebih dekat. Anggun bersembunyi sejenak, tak ingin dilihat oleh mantan pacarnya itu. Ia berdiri di balik tembok pinggir tangga, tak jauh dari pintu masuk.Kali ini Diki bersikap lebih agresif. Ia menarik paksa Erika yang sedang memeriksakan kehamilannya. Wanita itu berencana menggugurkan anak yanag dikandungnya."Lepas!" seru Erika pelan sambil menghempas tangan Diki, tapi nadanya penuh penekanan. Ia memalingkan wajah sembari mengeraskan rahang, seperti ada rasa jijik bercampur muak. Erika menyilangkan kedua tangan ke atas dada, membuat tertutup perutnya yang mulai kentara.Hari ini Erika b
Azura bangun pukul sembilan pagi. Ia terbangun dengan kepala berdenyut seperti dihantam benda tajam. Aroma alkohol masih samar di napasnya, dan cahaya pagi terasa terlalu terang untuk matanya yang berat.Tubuh Azura terasa seperti karung pasir, mulut kering, dan ingatan tentang malam tadi hanya potongan-potongan kabur yang membuatnya semakin sakit kepala.Kini Azura bangkit, memegang pelipisnya yang berdenyut, mencoba mengingat bagaimana ia bisa pulang, sementara matahari pagi seolah menertawakan keadaannya.Tak lama mata Azura tertuju pada sebuah nampan berisi cangkir dan sepiring sandwich. Tanpa pikir panjang, Azura mengambil cangkir itu, lalu memperhatikan isinya.Dahi Azura mengerut, ia mencium aroma isi cangkir itu. Azura tahu, itu bukanlah teh, melainkan jahe bercampur gula merah. Tanpa ragu ia meminum sup jahe itu hingga membasahi kerongkongannya.Begitu ditelan, mata Azura sedikit membeliak, seperti baru saja tersentuh sesuatu yang membuat perasaannya menghangat. Ia suka denga
Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, dan waktunya Anggun pulang. Ia mematikan komputer, lalu merapikan seragamnya, beberapa dokumen yang sedikit acak di atas meja, lalu meraih tas selempangnya yang sengaja di gantung pada sudut kiri kursi kerjan."Pak, saya permisi," ucap Anggun kepada Hery."Hmm," sahut Hery datar, tapi tidak dingin.Untuk pertama kali dalama karirnya, Anggun pulang tengah malam. Walau akhir tahun, wanita itu tidak pernah sampai melewatkan waktu malam di kantor.Anggun memesan taksi online melalui ponselnya, dan hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit taksi itu datang."Perumahan 1 park homes, ya, Pak," kata Anggun kepada supir setelah duduk ke dalam mobil."Baik, Nona."Hari itu Anggun benar-benar lelah, ia merasa pegal di seluruh badan, terutama bagian bawah perut. Seharian duduk membuat pinggangnya terasa mau lepas.Anggun menurunkan kaca mobil, ia bersandar ke sisi pintu, lalu sedikit mengeluarkan kepala, menghirup udara malam. Aromanya sed
Waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam, tetapi Anggun masih sibuk dengan segudang aktifitasnya di kantor. Berjibaku dengan laporan rekening koran tiga orang nasabah berbeda, tapi datang dari instansi yang sama.Mata Anggun menyapu baris demi baris isi rekening koran itu. Memastikan semuanya tanpa cela. Sesekali Anggun meneguk kopi latte buatannya untuk menghilangkan rasa kantuk yang mulai nakal."Sudah berapa?" tanya Hery begitu masuk ruangan Anggun."Baru dua ratus," jawab Anggun singkat tanpa memandang Hery. Matanya terlalu sibuk mengamati komputernya."Dua ratus? ini sedikit lagi sudah jam delapan, Anggun. Mengapa kau lamban sekali?" sarkas Hery sedikit menekan. Dalam hati Hery mulai muncul keresahan. Ia menghampiri Anggun, tanpa mengintimidasi, tanpa menyakiti, tapi sikapnya cukup mencubit perasaan Anggun."Tadi sistem sedang gangguan, Pak. Saya tidak bisa memeriksa rekening atas nama Dewa Permana. Entah karena kesalahan pengisian kartu identitas atau apa, sampai di







