Home / Romansa / Dari Dingin Menjadi Obsesi / Semua Karena Sup Jahe

Share

Semua Karena Sup Jahe

Author: Suharni
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-27 20:24:35

Semenjak sup jahe buatan Anggun menyelamatkan Azura dari sakit kepala, dan sandwich yang menyembuhkan asam lambungnya, pelan-pelan Azura mengizinkan wanita itu menyentuh dapurnya tanpa harus bertanya lebih dulu seperti yang kerap ia dilakukan.

Tiap kali alkohol merusak kesadarannya, diam-diam Azura merindukan sup jahe itu. Azura berusaha membuat sendiri dengan takaran dan rempah yang dianggap sama, tapi rasanya tetap berbeda. Pun dengan sandwichnya, Azura seperti ketagihan. Hari itu ia tak pern
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kamu Masih Saja Cemburu?

    Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Suamiku Bos Sahabatku

    Malam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Ketika Azura Cemburu.

    Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Melangkah Bersama

    Pagi datang tanpa peringatan. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar dengan warna keemasan yang terlalu jujur untuk diabaikan.Anggun terbangun lebih dulu. Namun, Ia tidak langsung bergerak. Ada keheningan yang terasa berbeda saat itu, tetapi bukan sepi, melainkan penuh sisa-sisa kehangatan.Sementara Azura masih tertidur di sisinya. Wajahnya tampak lebih dewa saat tidur. Garis-garis tegas yang biasanya menjadi tameng, kini melunak.Lalu Anggun menatapnya lama, seperti sedang membaca ulang sebuah keputusan yang telah ia ambil semalam, keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.Anggun merasakan kehangatan di dadanya… lalu perlahan mengencang. Bersamaan dengan itu, kedua sudut bibir Anggun tertarik tipis, membentuk senyuman bahagia di sana.Dalam benak Anggun, semalam terasa nyata. Pagi ini pun nyata, tetapi justru di sanalah ketakutan mulai tumbuh.Ya, sejenak ketakutan tumbuh di hatinya. Bukan karena kontrak yang telah diingkar, melainkan pada kehi

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Malam yang Indah

    Malam itu tidak datang dengan tergesa. Lampu-lampu kota di balik jendela hanya menjadi latar buram ketika Anggun berdiri diam di tengah kamar, seolah sedang menimbang ulang seluruh hidupnya. Ada begitu banyak ketakutan yang pernah menahannya. Dimulai dari usia, status, masa lalu, kontrak yang mengikat tanpa rasa. Namun kini, semuanya berdiri berhadapan dengan satu perasaan yang tak lagi bisa ia abaikan.Sementara Azura berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Tatapan matanya lembut, berbeda dari tatapan dingin yang biasa ia layangkan di dunia luar. Saat ini tidak ada tuntutan di sana. Tidak ada pula paksaan.Tak lama Anggun menoleh, menatap pria itu lama, seolah ingin menghafal wajahnya, wajah seseorang yang sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi malam ini terasa jauh lebih dewasa dengan caranya mencintai.“Apa kamu masih ragu?” tanya Azura pelan.“Iya... aku takut kalau perasaan ini hanya singgah sebentar, lalu pergi diam-diam. Aku juga takut kalau set

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Saat Azura Membaca Vonis Dokter Tanpa Sengaja

    Kertas itu tidak seharusnya ada di sana. Azura tahu benda tipis itu begitu matanya menangkap lembaran putih yang tergeletak di meja makan, terselip di antara tablet vitamin dan map berisi dokumen perusahaan yang semestinya ia bawa ke ruang kerja. Tulisan dokter tercetak rapi, dingin, dan terlalu klinis untuk berada di ruang yang seharusnya hangat.Reflek Azura berhenti melangkah. Lalu tangannya terulur tanpa sadar, lantas berhenti di udara, seolah memberi dirinya sendiri waktu untuk berpikir ulang. Namun, rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam mendadak muncul, lebih personal mengalahkan kehati-hatian.Azura pun membacanya. Awalnya satu baris, lalu baris berikutnya. Kemudian masuk pada baris kalimat yang membuat dadanya mengeras.Diagnosis: tanda penuaan dini pada sistem reproduksi dan hormonal.Reflek Azura menghela napas pelan. Bukan marah, bukan kecewa. Yang datang justru pemahaman yang terlambat. Lalu menyusul potongan-potongan memori sikap Anggun yang selama ini ia anggap se

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Aira Permana

    Hari itu matahari berada tepat di atas kepala. Sinarnya begitu menyengat, seolah menegaskan betapa panasnya dunia di tahun ini. Ada seorang wanita cantik, usianya sekitar tiga puluh lima tahun, tengah duduk santai bersama rekan yang kerab dipanggilnya sahabat. Hubungan itu begitu dekat, sampai mere

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Surat Kontrak Kerja

    Di ruang itu, Anggun dan Azura makan tanpa bicara. Hanya suara denting sendok yang saling bersahutan. Anggun masih tetap gugup, tapi berusaha mengendalikan diri sebisa mungkin. Ia tidak ingin membuat kekacauan lagi dan lagi. Anggun memilih ayam goreng tepung dan salad sayur sebagai menu makan malam

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Sabun Mandi Cair

    "Ini mengapa tidak hilang juga?" gumam Anggun mulai panik.Sejak tadi Anggun sibuk menggilas seprei, membersihkan bercak darah yang tertinggal. Sudah hampir setengah jam jarinya meremas, menggosok, serta membasuh kain berwarna putih itu. Sayang tidak membuahkan hasil.Anggun berencana keluar kamar,

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Bercak Darah

    Azura menggaruk kasar belakang kepalanya, lalu menghela napas berat. Dia tidak sengaja membiarkan Anggun sendirian. Hari ini terlalu banyak yang diurus. Mulai dari persiapan dokumen kerjasama, dokumen keuangan, bagi hasil, jumlah investor, serta modal usaha, dan lain sebagainya. Tak tanggung-tanggu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status