LOGINSenja perlahan surut, membiarkan langit kehilangan warna dan cahayanya, sementara gemerlap lampu mulai menghiasi berbagai bangunan di sekitarnya. Di tengah lanskap yang berangsur gelap, mansion keluarga Hemilton berdiri megah dengan pencahayaan yang menonjolkan kemewahan arsitekturnya. Malam ini kediaman keluarga berpengaruh tersebut menjadi pusat pertemuan kalangan elite yang berkumpul untuk menghadiri pesta.Cahaya lampu menyebar di sepanjang sudut tempat itu, berpendar hingga pantulannya di permukaan danau menyerupai kunang-kunang yang menari di antara gelapnya malam.Para perempuan tampil dalam balutan gaun eksklusif dengan potongan yang dirancang sempurna untuk masing-masing pemakainya. Di antara begitu banyak orang yang berkumpul, nyaris tidak ada satu pun yang mengenakan pakaian sama, semuanya tidak dapat ditemukan dengan mudah di kalangan masyarakat pada umumnya. Setiap detail mencerminkan selera, kemewahan, dan status sosial yang tidak perlu dipamerkan secara berlebihan.Eks
Jika dilihat dari potongan jass yang Mante kenakan, Lilian menyadari bahwa itu bukan stelan formal kerja, melainkan pesta.Pesta?Sekarang Lilian ingat, ini adalah malam yang disebutkan Celestine maupun Cassius bahwa keluarga besar Mante mengadakan pesta. Lantas, apa yang membawa Mante datang menemuinya?Apakah Mante datang untuk memberitahu Lilian, atau mengajaknya pergi bersama meski itu basa-basi karena kenyataanya Lilian tidak bisa pergi kemanapun..Tapi, bagaimana jika ternyata Mante sama sekali tidak berniat memberitahu apapun, sama seperti kejadian-kejadian sebelumnya… dia biarkan Lilian tampak seperti orang bodoh ditengah orang-orang yang memperhatikannya.Mante melangkah tanpa suara, ada kehati-hatian disetiap geraknya yang semakin mendekatkan dia pada Lilian.Menyaksikannya berpakaian pasien tengah duduk lemah diranjang, rasa sakit yang Mante terima masih sama besarnya seperti kemarin malam. Sulit untuk Mante terima kebenaran bahwa dia gagal menjaga Lilian..Sama halnya den
Lilian menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, dia perhatikan perawat yang kembali datang untuk memeriksa kondisinya setelah beberapa jam lamanya sadar.Kelopak matanya terlihat merah bengkak, bulu matanya yang lentik itu masih basah karena sempat menangis di kamar mandi memandangi cermin dengan wajah yang babak belur akibat kekerasan yang sempat diterima.Selama ini.. Lilian selalu berpikir bahwa tamparan adalah kekerasan yang paling ekstrim ia terima.Namun kejadian kemarin telah mengubah cara pandangnya, ternyata ada kekerasan yang jauh lebih mengerikan sampai melampaui batas-batas logikanya.Tak pernah terlintas dalam benak Lilian bahwa seseorang akan meracuninya dengan begitu kejam, memperlakukannya layaknya hama yang harus dimusnahkan agar tak lagi mengganggu. Akan tetapi, tragedi itu tidak berhenti pada upaya merenggut nyawanya. Kini, ketika ia masih harus menanggung akibat dari perbuatan tersebut, orang yang seharusnya dimintai pertanggungjawaban justru telah meninggal den
Setelah sekian lama berada dalam hutan, satu persatu kuda keluar di bawah langit yang mulai bercahaya keemasan menandakan bahwa sore akan segera tiba.Semua orang masih tampak sangat berantusias meski sudah kelelahan dan beristirahat di tempat peristirahatan.Disaat orang-orang yang ikut berburu tengah menghitung poin pecapaian mereka, Mante yang datang hanya membawa peluru kosong, memutuskan duduk sejenak di kursi untuk melepas lelahnya yang sejak kemarin sore tidak memiliki waktu untuk beristirahat.Sepanjang acara berlangsung Mante tampil seperti biasa, dia singkirkan sejenak segala hal yang bergelut dalam pikiran dan perasaannya. Dengan sopan Mante tanggapi setiap tamunya yang mengajak bicara, dia pertimbangkan setiap hal yang memiliki urusan bisnis dengan keluarganya.Ditengah istirahatnya, Shwan bergerak cepat menghampiri, pria itu membungkuk sopan dan membisikan sesuatu di telinga Mante. “Lima belas menit yang lalu, Nick memberi saya kabar, nona Lilian telah sadarkan diri.”Ket
Perihnya napas yang memenuhi dada sedikit demi sedikit membangunkan Lilian dari ketidak sadaran, tubuhnya yang lain mulai merasakan sakit dan bibirnya yang pucat mulai mengeluarkan racauan diantara rintihan.Bulu mata Lilian gemetar tidak mampu terbuka, tangannya kaku membeku tidak mampu digerakan sedikitpun, namun.. pendengarannya bergemuruh dibayang-bayangi suara mengerikan tembakan dan kata-kata buruk yang terakhir kali dia dengar sebelum kesadarannya menghilang.Sakit itu terus mendera dalam waktu yang panjang, perih didada mulai menjalar ke dalam perut sampai buatnya seperti sedang disayat-sayat.Kerasnya jantung Lilian yang berdetak berkejaran dengan napasnya yang tersendat-sendat kesulitan mengendalikan kecemasan.Saat Napas Lilian akhirnya mulai setabil, gadis itu akhirnya membuka mata dan melihat keadaan sekitar berkali-kali, menyaksaikan beberapa orang berpakaian dokter tengah mengajaknya bicara.. namun suara mereka tidak bisa Lilian dengar akibat bayang-bayang suara tembaka
Di bawah bentangan langit biru nan cerah, sejumlah perempuan berkumpul di sekeliling meja-meja bundar dengan taplak sutra putih yang menjuntai anggun. Percakapan mengalir di antara cangkir-cangkir porselen dan sajian yang tertata rapi, sesekali diselingi tawa lembut yang menandakan betapa mereka menikmati jamuan teh siang itu.Kendati hanya berupa pertemuan minum teh, suasananya jauh dari kesan santai. Para perempuan itu hadir dalam balutan gaun-gaun elegan yang pantas dikenakan di sebuah jamuan resmi, dengan setiap potongan kain, perhiasan, dan aksesori yang menjadi penegas garis keturunan serta kedudukan yang mereka sandang.Dengan sepatu mahal mereka injak rumput liar dihiasi bunga-bunga jacaranda yang berguguran, dengan fascinator maupun picture hat mereka berliindung dari riaknya cahaya yang menerobos pohon jacaranda yang tengah bermekaran memancarakan warna ungu kebiuran yang sejuk. Semilir angin menyusup di antara pepohonan jacaranda, membawa wangi bunga yang samar sebelum ber
“Keadaannya baik-baik saja meski ada beberapa luka dan memar. Setelah nanti teman Anda bangun, baiknya mandi air dingin untuk membantu mengurangi nyeri dari benturan dan pembengkakan. Untuk mengetahui apakah ada cedera, Anda harus membawanya ke rumah sakit,” ucap seorang dokter sambil meletakan tab
Kendaraan bergerak cepat ditengah kegelapan malam, sambil menyetir Lilian berkali-kali melihat dan menyentuh ujung hidung pria yang tidak sengaja dia tabrak, memastikan kondisinya yang kini tidak sadarkan diri masih bernapas. Perasaan Lilian bercampur aduk, takut dan cemas menjadi satu, tidak t
Sakit menusuk ke dalam ulu hati, menyaksikan pria yang Lilian harapkan akan menjadi penjaganya, justru dengan tenang membiarkan teman-temannya bicara buruk. Mengapa Sean terkesan tidak peduli padanya? Meski semua orang tahunya mereka kekasih yang dijodohkan. Sean punya hati nurani yang bisa dia
Saat matahari mulai tenggelam membawa cahayanya di langit, Mante kembali ke tempat dimana dia tinggalkan kudanya. Penampilan Mante telah berubah kotor penuh debu, ada darah segar yang menghiasi wajahnya dari cipratan hewan buruan yang telah dia habisi. Dengan langkah gontai dan suara napas kasar,







