ANMELDENDinikahi, tapi tak dicintai. Itulah aku! Mas Dewa, suamiku itu, terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya sejak awal pernikahan. Walaupun aku dinikahi, hatinya terikat untuk perempuan lain. Aku adalah ratu dalam istana pernikahan bersamanya, tetapi mahkota itu diberikan untuk perempuan lain. Tidak apa-apa, akan kubalas keangkuhan Mas Dewa dengan elegan karena aku ini adalah istri pilihan orang tuanya ….
Mehr anzeigen_ ¡Largo de aquí! No quiero verte ni ahora ni nunca _ dijo llorando mirando a través de la ventana _ ¿Acaso eres estúpida o te haces? Te dije que te largaras, no te quiero, ni en mi casa, ni en mi vida, llegaste a mi existencia solo para destrozarla, antes era feliz y un hombre completo y no a medias, por tu culpa estaré postrado en esta maldita silla de ruedas para siempre.
_ Dime de frente lo que estás diciendo, y no mirando a través de la ventana, quiero ver tus ojos mientras nos destrozas el corazón a cada uno de nosotros, todo por una terquedad tuya.
Él apretó sus manos en la silla de ruedas, se dio la vuelta y me miró con todo el odio que podía sentir hacia mí, desconocía por completo aquellos ojos que una vez me miraron con el amor más puro del mundo.
_ Quiero que te largues, no te quiero, ni en mi casa, ni en mi vida, llegaste a mi para desgraciarme, tenía una mujer muy hermosa a mi lado y me dejó gracias a ti, eres y serás lo peor que me ha pasado.
_ Muy bien _ dije derramando la primera lágrima _ pero quiero que sepas que te amo, así como eres, y respecto a la mujer hermosa que tenías a tu lado, te digo que no te amaba a como yo te amo, si yo hubiera sido ella, jamás me hubiese ido de tu lado, eres injusto pero te amé con tus virtudes y defectos, ame cada parte de ti, sin condiciones ni restricciones.
Di la vuelta y salí de la habitación, no pensaba permanecer en esta casa ni un solo minuto más. Aquí tuve momentos amargos como la hiel, pero también fui feliz a más no poder, amaba a ese hombre, sin embargo no pensaba suplicarle que me dejara quedarme a su lado, eso sería lo único que no haría.
Empaque mis cosas y una vez que estuvo todo listo, tomé mis maletas, al llegar a su cuarto para despedirme de él, mire que su hermana quién había presenciado todo, le estaba reclamando por lo que me había dicho, ellos al verme se quedaron callados.
_ Ya me voy, no volverán a saber nada de mí, gracias por todo.
_ No te vayas _ me dijo su hermana _ al menos espera un momento siquiera.
Yo le sonreí y tomé mis maletas, y me fui, pasé por donde él, guardando la pequeña esperanza de que cambiara de parecer pero eso se extinguió por completo. Al salir de la casa, la nieve nubló mi vista, tendría que caminar al menos un kilómetro para poder llegar a la civilización y tomar un taxi que me llevase a mi casa, de donde nunca debí haber salido.
Él
Tenía el corazón roto, pero a la misma vez había un odio inmenso naciendo en mis adentros, tenía una vida plena sin embargo eso se fue al demonio con ese maldito accidente, la mujer que amaba me abandonó debido a esto, y lo que conocí algún día solamente es un efímero recuerdo.
_ No debiste tratarla así, sabes que la amas, pero el odio que cargas te impide verlo.
Mi hermana me dejó para ir a verla, es cierto que amaba a esa mujer, pero cuando llegó ella a mi vida la amé como nunca lo había hecho…
Mataku mendadak terbuka ketika mendengar pengumuman olahraga dari masjid. Sigap aku beringsut seraya mengusap-ngusap mata. Berkali-kali kututup mulut karena menguap. Di saat sedang enak-enaknya istirahat, harus terbangun untuk mengikuti kegiatan. Ah, nikmatnya menjadi istri tentara.Segera kulihat jam di ponsel, ternyata telah memasuki waktu asar. Segera kutunaikan salat empat rakaat tersebut, lalu bersiap-siap pergi ke kompi. Tak lama kemudian, ponselku berdering tanda pesan masuk.[Jangan lupa olahraga di kompi]Isi pesan dari Dewa. Ya, suamiku itu belum pulang kantor karena harus lembur lagi. Maklum, Dewa saat ini sedang BP di Staf Pers sehingga sedikit sibuk mengurusi data personil di batalyon ini.Setelah membaca, segera kukirim pesan balasan. [Oke, ini lagi siap-siap]Kemudian, pesanku hanya dibalas dengan emoticon jempol.Setelah semua beres, aku keluar dan mengenakan sepatu. Tampak tetangga berlalu-lalang di jalan mengenakan seragam olahraga, termasuk tetangga sebelahku. Rupan
"Kamu kenapa, sih? Ketawa aja, nanti dikira kita ngapain lagi," kata Dewa sambil menatapku heran."Itu, lho. Aku ingat Bu Dar. Lucu banget, ya, dia." Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Eh, apa iya dia satu kompi dengan kita?"Dewa mengangguk, lalu gantian tertawa. "Kenapa?" "Males aja ketemu dia lagi. Dia pasti bakal resek sama aku. Tau gak, tadi pertemuan dia bertengkar sama Bu Soni gara-gara air minum. Kalau gak ingat dia senior, mungkin udah aku siram pake air Bu Dar," sahutku seraya memberi tahu kejadian saat pertemuan tadi."Gak boleh gitu. Biarin aja dia berkembang. Intinya bukan kita yang duluan." Lagi-lagi Dewa menasihatiku. Ya, suamiku itu tidak suka jika aku ingin membalas perbuatan jahat orang."Eh, si Abang Ganjen tadi ngomong apa aja di luar? Dia gak main mata lagi sama kamu, kan?" Dewa segera mengalihkan pembicaraan.Aku langsung memasang wajah memelas. "Ya ampun, Om Ferdi itu kasian banget. Ternyata dia itu sakit saraf. Kamu juga, sih, kenapa gak kasih tau aku."Wajah De
Spontan kutowel lengan tetanggaku itu. "Ah, Bu Soni malah ngeledek saya." Kemudian, aku segera pamit pulang karena teringat Dewa yang sedang makan di rumah."Makasih, ya, Tante Dewa.""Sama-sama, Bu Son." Kemudian, aku keluar dari rumah Bu Soni.Ketika di luar, kusempatkan menoleh ke arah sebelah. Tampak Om Ferdi sedang duduk di teras. Kali ini dia diam, tidak menyapaku lagi. Seketika aku merasa iba. Selama ini telah salah sangka padanya, padahal dia sedang sakit.Aku pun bergegas melompat tembok pembatas antara rumahku dan rumah Bu Soni. Begitu hendak masuk, suara Bu Dar mengejutkanku."Wah, yang ditunjuk jadi pengurus cabang. Gak ada acara makan-makan gitu?" celetuk Bu Dar dari teras rumahnya. Sepertinya dia baru saja pulang.Aku seketika menahan langkah dan berdiri di depan pintu seraya tersenyum ke arah tetangga kepoku itu."Siapa yang mau diangkat jadi pengurus cabang, Bulek?" tanya Om Ferdi."Siapa lagi kalau bukan tetangga kita yang cantik itu." Lagi-lagi Bu Dar menimpali sambi
Tepat jam setengah delapan malam, Dewa pun pulang. Kulihat wajahnya tampak berminyak. Pakaian yang pagi tadi dikenakan telah berubah menjadi kusut. Sepertinya suamiku itu benar-benar sibuk di kantor."Udah pulang?" Kusodorkan tangan seraya mendekatkan kening.Dewa seketika menyambar keningku. Kemudian, aku bergegas ke dapur seraya mengambilkannya air minum. Setelah itu, aku kembali memberikan pada suamiku. Dia Kun segera meneguk air minum hingga tandas."Kamu tadi pulang jam berapa?" tanya Dewa sambil memelukku dan menuntun masuk kamar."Pas magrib tadi. Aku udah masak lho.""Masak apa?" Dewa memandangiku lekat."Masak tongseng sapi," jawabku sambil terkekeh."Kok malah ketawa?" Dewa masih memandangku intens."Soalnya gak tau enak apa enggak." Aku bergegas ke dapur dan menyiapkan makan malam.Tak berselang lama, Dewa menghampiriku. Dia membuka tudung saji, sementara tangan kanannya melingkar di pundakku. Kemudian, kuambil piring dan meletakkan nasi serta tongseng.Selajutnya, Dewa dud
Sontak Dewa melompat ke arahku. "Eh, jangan. Jangan. Ya udah aku beliin, tapi tunggu aku mandi dulu." Dia langsung beranjak ke kamar mandi. Seketika aku tertawa puas. Pokoknya akan terus kukerjai dia selama masih memperlakukanku tidak baik. Setelah cukup lama menunggu, Dewa keluar dari kamar mandi
Setelah pintu mobil mewah bergeser menutup, Pak Sopir melaju pelan. Kulihat Nindi masih mematung di sana. Sepertinya dia sangat kesal. Rencana bulan madunya bersama Dewa tergerus sia-sia. Sementara Dewa duduk manis mengenakan kacamata hitam sambil memainkan ponsel. Dia fokus pada benda di tangannya
Setelah melakukan penerbangan kurang lebih satu jam lima puluh lima menit, kami tiba di Bandar Udara Ngurah Rai, Bali. Ketika turun dari pesawat, Dewa justru menggandeng Nindi. Mereka sama sekali tak memedulikanku. Dalam hatiku sangat sakit, tapi tak ingin menampakkan pada mereka. Akan kuhadapi perm
"Sakit tau!" Dewa langsung membungkam mulutku. "Jangan berisik, nanti Mami dengar." Kemudian, dia melepaskan tangannya. "Iya, tapi sakit banget." Aku meringis kesakitan sambil memegangi lengan. "Halah, manja. Cuma dicubit gitu aja sakit." Dewa bangkit dan menuju sofa di ujung kamar. Dia kembali a






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen