ANMELDENSemangat Dimas dan Yiran!
118Zhou Yiran mengusap rambut lebat Tirza Gazala, yang tengah terlelap dalam pelukannya. Zhou Yiran takjub dengan perkembangan bayi berusia 5 bulan lebih itu, yang badannya makin montok dan padat. Paras Tirza yang mengadopsi wajah kedua orang tuanya secara berimbang, membuat tampilannya cantik. Ditambah rambut hitam lebat yang diwarisinya dari Syuja, serta kulit putih bersih turunan dari Jane, menjadikan gadis kecil itu mirip boneka. "Mama, aku mau Dedek kayak Tirza," rengek Zayd, yang menyebabkan Vanetta tertegun. "Mama belum selesai kerja, Kang. Paling cepat, akhir tahun ini Mama baru bisa hamil," jelas Vanetta dengan lugas. Dia dan Wirya sudah sepakat, untuk menerangkan jawaban dari berbagai pertanyaan kiddos, yang kebanyakan ajaib dan di luar perkiraan. "Nanti, adiknya dari A-ma," sela Avreen. Zayd memandangi sang tante. "Anak Tante, cowok atau cewek?" tanyanya. "Belum tahu, Kang. Bulan depan baru bisa kelihatan jenis kelaminnya," sahut Zhou Yiran. "Aku mau cewek." "Ehm,
117Hari berganti. Dimas dan Zhou Yiran serta Bajradaka bersaudara, telah kembali ke Jakarta. Mereka melanjutkan aktivitas masing-masing, dan akan berjumpa kembali menjelang senja. Zhou Yiran terperangah, seusai membaca pesan di grup GPCI, yang berisikan jadwal acara berbuka puasa yang telah penuh, hingga H-5 menuju hari raya.Zhou Yiran meringis ketika membaca jadwal yang hampir sama, yang dikirimkan Dimas. Zhou Yiran membalas pesan itu dengan tambahan centang hijau di banyak nama, sedangkan sisanya dikosongkan. Tidak berselang lama, Dimas menelepon dan Zhou Yiran menerangkan daftar buka puasa bersama dari GPCI, yang beberapa namanya bentrok dengan jadwal para bos atasan Dimas. "Aku nggak bisa nggak datang, Ran. Mereka semuanya komisaris Tambahan PDP," ungkap Dimas dari seberang telepon. "Kita berpencar, Bang. Supaya bisa didatangi semua," jawab Zhou Yiran. "Istri yang lain pun sama. Mereka juga menghadiri acara yang berbeda dengan suaminya," lanjutnya. "Hmm, ya. Kamu benar. Tap
116Minggu berganti menjadi bulan. Tibalah waktu yang ditunggu umat muslim di seluruh dunia. Yakni bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan.Zhou Yiran sangat antusias untuk menunaikan ibadah puasa pertamanya. Walaupun tidak bisa berpuasa penuh akibat rasa mual yang masih dirasakannya, tetapi Zhou Yiran bertekad untuk melaksanakan puasa, semampunya.Hari terakhir sebelum puasa, Zhou Yiran ikut kelompok Bajradaka bersaudara yang hendak mengunjungi orang tua mereka di Bekasi. Selain mereka, Jauhari, Yusuf, dan banyak ajudan lain yang juga orang tuanya bermukim di Bekasi, turut dalam konvoi banyak kendaraan menuju kota itu. Setibanya di sana, Zhou Yiran dan Depika bergegas membantu Dinanti, yang tengah sibuk memasak banyak hidangan, guna acara sahur pertama esok subuh. Sementara Dimas, Darian, dan Ardiawan, membantu Darmawan membersihkan seisi rumah. Dimas yang mengangkut vacum cleaner besar dari rumahnya, fokus membersihkan area ruang tamu, ruang tengah dan ruang makan. Matahari
115Ketukan pintu kamar pada dini hari itu, mengejutkan Zhou Yiran. Dia menajamkan pendengaran, sebelum bangkit berdiri dan jalan terhuyung-huyung ke lawang. Zhou Yiran membuka kunci, lalu menarik gagang untuk melihat orang di luar."Abang, kenapa pulang? Katanya mau nginap?" tanya Zhou Yiran. Akan tetapi, Dimas tidak menyahut, melainkan menarik tangan kanan istrinya untuk keluar dari kamar, dan menuju ruang tengah kediaman Wirya, di mana Zhou Yiran menginap. Langkah keduanya berhenti di dekat kursi, dan Dimas mengajak istrinya duduk. Luthfiandi mengulurkan kotak makanan beraroma harum, yang menerbitkan rasa lapar di perut Zhou Yiran. "Martabak telur. Aku memang kepengen ini," cakap Zhou Yiran sembari mengambil potongan tepi kanan. "Abang beli banyak banget. Buat siapa?" tanyanya sebelum menyuapkan makanan ke mulut. "Bukan aku yang beli, tapi Bang Ari. Buat seisi rumah ini," jelas Dimas di sela-sela mengunyah. "Dia ada meeting besok, jam 10, jadinya nggak nginap. Aku ikut pulang a
114*Grup GUNZ Indonesia, China, dan Australia* Cheung Chyou Jaden : Selamat, @Dimas. Bryan : Alhamdulilah. Ponakanku bertambah. Varten : Congratulations, @Dimas dan Yiran. Zheung To Mu : Aku kalah lagi dari Dimas. Baskara : Salah sendiri, @To Mu. Sudah bulukan baru nikah. Orlando : Selamat, @Dimas. Semoga Yiran dan calon bayi selalu sehat. Chou Hao-ran : @Dimas. Kalau anakmu perempuan, kita besanan.Heru : Hao-ran, motong jalur! Russel : Aku mau besanan, tapi istri aja belum punya. Han Lionell : Anakku semuanya cowok. Nunggu bayi perempuan lahir, kok, lama, ya?Hadrian : Anakmu sudah 3, @Lionell. Cukup segitu. Nicholas : Anak Lionell sudah 3? Aku baru 1.Xie Benton : Koko Lionell rajin nyetor sperma. 5 tahun nikah, anaknya sudah 3.Tio : Aku salah planning. Kalau nggak, anakku mungkin ada 4.Tarendra : Aku sudah punya 2. Mau nambah lagi, tapi istriku nggak mau. Cheung Jianzhen Rui : Aku masih berjuang. Ethan Janitra : Aku masih belum laku. Keven : Ethan kelibas para ajud
113Pagi itu, Dimas dan Zhou Yiran telah berada di ruang praktik Dokter Syafri. Meskipun tidak ada pendarahan lanjutan, tetapi pasangan itu menuruti saran Benigno, guna mengecek kondisi rahim Zhou Yiran, dengan USG. Dinas memandangi layar besar di dinding ruangan. Dia penasaran dengan isi percakapan Dokter Syafri bersama Benigno, yang menggunakan bahasa medis. Kala kedua dokter itu sama-sama tersenyum, Dimas makin penasaran. Dia menunggu keduanya usai berbincang, sambil mengamati Zhou Yiran yang perutnya tengah dibersihkan perawat, dari gel dingin. "Selamat, Dimas dan Yiran. Kalian akan jadi orang tua," cakap Dokter Syafri, sesaat setelah pasangan muda itu duduk di kursi seberang meja.Sudut bibir Dinas menciptakan senyuman. "Alhamdulillah. Lega aku," tukasnya. Dimas menggenggam jemari kiri istrinya yang tengah mengerjapkan mata. "Kamu beneran jadi A-ma," bisiknya, sebelum mendaratkan kecupan di pipi sang istri.Zhou Yiran tersenyum malu-malu. "Ehm, Dok, sudah berapa minggu hamilny
42"Kenapa kamu memukulku!" bentak Zhou Dingbang sambil mengusap belakang kepalanya yang sakit. "Koko, Bodoh!" umpat Zhou Serena. "Gara-gara perbuatan Koko, kita kehilangan 25% saham, dan juga harus mengganti kerugian mereka!" hardiknya sembari menatap tajam kokonya. "Jangan menyalahkanku. Ini ku
40Dimas mengeraskan rahang, setelah mendengar cerita Zhou Yiran yang mendapatkan informasi dari Zhou Yongrui. Dimas mengecek jam dinding untuk mengecek perbedaan waktu dengan Foshan, kemudian dia menelepon Yusuf.Seusai menjawab salam pria itu, Dimas meminta Yusuf untuk memasang speaker. Supaya uc
39Suara ribut dari luar menjadikan Dimas terbangun. Sebab khawatir ada kejadian buruk, Dimas segera bangkit dari kasur dan jalan ke pintu. Dia membuka lawang, lalu mendekati jendela besar guna melihat penyebab keributan tadi.Dimas menghela napas lega, karena ternyata itu hanyalah kesibukan orang
38 Pagi itu, ruang tunggu khusus penumpang pesawat pribadi dan carteran, dipenuhi banyak orang dengan berbagai tampilan.Isakan terdengar di se-antero ruangan, karena para pengantar merasa sedih harus melepas anggota keluarga masing-masing, yang hendak menunaikan tugas. Zhou Yiran mengerjapkan ma







