로그인“Mama ... bajunya bagus.” Sherly bertepuk tangan kecil melihat ibunya yang pagi itu sudah berdiri rapi dengan seragam barunya. “Mama jadi cantik.” Shiren tersenyum lebar. Ia merapikan kerah seragamnya, lalu berputar pelan di depan putrinya. “Iya, dong. Sekarang Mama udah naik jabatan. Jadi seragamnya juga beda.” Sherly mengangguk kagum. “Lebih bagus daripada yang dulu.” “Ya harus, dong,” sahut Shiren dengan nada bangga. “Sekarang Mama udah bukan office girl lagi.” Bocah itu tersenyum semakin lebar. “Berarti gaji Mama banyak?” Shiren terkekeh pelan, lalu berjongkok hingga sejajar dengan tinggi putrinya. “Iya. Kenapa memangnya? Kamu mau dibeliin apa?” Sherly mengerucutkan bibir, berpikir cukup lama. Matanya kemudian berbinar. “Sherly mau Papa pulang.” Senyum di wajah Shiren perlahan menghilang. “Papa?” “Iya.” Sherly mengangguk polos. “Sekarang Papa juga udah kerja lagi, kan? Terus Mama juga udah kerja yang bagus. Jadi Papa gak usah capek-capek kerja terus. Papa bisa tinggal
Sasqia baru saja selesai membersihkan diri di suite baru yang disiapkan Kaelix. Begitu keluar dari kamar mandi, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sunyi. Tak ada sosok suaminya. “Mas ...?” panggilnya pelan. Rambut panjangnya masih setengah basah, beberapa helainya menempel di pipi. Bathrobe putih yang dikenakannya membungkus tubuh mungilnya dengan rapi. Tak lama kemudian pintu suite terbuka. Kaelix melangkah masuk dengan wajah setenang biasanya. “Mas dari mana?” tanya Sasqia sambil menghampirinya. “Dari luar,” jawab Kaelix singkat. Ia berjalan melewati sang istri menuju sofa, lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. “Sebentar lagi makan malam. Kita makan di kamar saja.” Sasqia mengangguk kecil. “Iya, Mas.” Ia kemudian membuka koper, mengambil pakaian bersih, lalu duduk di depan meja rias. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Kaelix melalui pantulan cermin. Sementara itu, Kaelix duduk tenang di sofa. Tatapannya sesekali mengikuti setiap gerakan sang istri yang
Sasqia mengerjap pelan. Perlahan, ia membuka matanya. Tubuhnya masih terasa lemas setelah aktivitas intim beberapa saat sebelumnya. Saat kesadarannya kembali sepenuhnya, ia mendapati dirinya telah berbaring nyaman di atas ranjang hotel, terselimuti selimut tebal. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Dari kejauhan terdengar suara Kaelix yang sedang berbicara melalui telepon. “Saya membutuhkan kamar suite yang lebih luas,” ucap pria itu dengan nada tenang namun tegas. “Pastikan kamar mandinya memiliki bathtub berukuran besar.” Ada jeda sejenak. “Lima menit lagi saya akan pindah ke sana bersama istri saya setelah dia bangun.” “Baik, Pak. Kami akan segera menyiapkannya.” Panggilan pun berakhir. Kaelix memasukkan ponselnya ke saku bathrobe putih yang dikenakannya. Saat berbalik, ia mendapati Sasqia sudah membuka mata. Tatapan mereka bertemu. “Kamu sudah bangun?” Sasqia mengangguk pelan. “Iya, Mas.” Ia mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk. Namun baru sedikit bergerak,
“Kael ....” Tristan membuka suara lebih dulu. Senyum tipis terulas di bibirnya, seolah kemunculan sang kakak benar-benar di luar dugaannya. “Kamu ada perjalanan bisnis ke Tokyo?” Tak ada jawaban. Kaelix hanya menatap adiknya dengan sorot mata dingin yang sulit diartikan. “Saya satu penerbangan dengan Sasqia,” lanjut Tristan tenang. “Dan menginap di hotel yang sama, bersama kru yang lain juga. Kamu jangan salah paham.” Keheningan kembali menguasai lorong. Sasqia yang berdiri di samping mereka hanya mampu meremas jemarinya sendiri. Jantungnya berdetak semakin cepat. “Mas ... saya masuk duluan, ya.” Suaranya pelan, nyaris berbisik. Tanpa menunggu jawaban, ia segera memutar tubuh dan berjalan menuju kamarnya. Ia bahkan tak sanggup menatap wajah suaminya. Masalah pil kontrasepsi saja belum selesai. Kini Kaelix justru memergokinya berada di hotel yang sama dengan Tristan, bahkan sedang mengobrol berdua di depan kamar. Walaupun tak ada yang terjadi, tetap saja, pemandangan itu muda
“Masih belum ada balasan dari asistennya Kak Kael?” tanya Viona sambil menyilangkan kedua kaki. Asistennya kembali melirik layar ponsel. “Belum ada, Bu.” Sudut bibir Viona terangkat tipis. “Bagus. Setidaknya pesannya udah dibaca.” Ia menyandarkan tubuh ke kursi. “Kebetulan banget ketemu mereka di bandara. Tepat waktu pula buat motret.” Ia terkekeh pelan. “Sekarang tinggal tunggu Kak Kael lihat fotonya.” Sang asisten tampak ragu. “Tapi, Bu ... bagaimana kalau Pak Arlan tidak menyampaikan foto itu kepada Tuan Kaelix? Sedangkan Ibu juga meminta saya mengirim tanpa penjelasan apa pun.” Viona tersenyum penuh keyakinan. “Justru itu tujuannya. Foto tanpa penjelasan jauh lebih berbahaya. Orang akan membuat kesimpulannya sendiri.” Ia memainkan gelas di hadapannya. “Dan aku yakin ... Arlan pasti nunjukin. Mustahil dia menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan istri atasannya.” Asisten itu mengangguk pelan. “Kalau pun berhasil ... mereka tetap tidak bisa bercerai secara agama, Bu. Di
Pagi itu Arlan baru saja tiba di kediaman Kaelix untuk menjemput atasannya berangkat ke kantor. Begitu mobil berhenti di halaman depan, ia segera turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang. “Selamat pagi, Pak.” Kaelix mengangguk tipis. “Pagi.” Tanpa banyak bicara, pria itu masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Arlan menyusul duduk di kursi penumpang depan, tepat di samping sopir. Tak lama kemudian, mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Suasana di dalam kabin begitu hening. Hanya terdengar suara pendingin udara dan mesin mobil yang berjalan stabil. Ting. Ponsel Arlan tiba-tiba bergetar. Ia mengernyit ketika melihat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Isinya hanya satu foto. Arlan membuka foto itu, seketika dahinya berkerut. “Apa ...?” gumamnya pelan. Di dalam foto itu tampak seorang wanita berseragam pramugari berjalan berdampingan dengan seorang pilot. Wajah keduanya terlihat jelas. Sasqia, dan Tristan. Foto itu tampak diambil dari kejauhan, seolah
“Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael
“Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s
“Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya







